Pengalaman di Asrama Realino

Bambang Triguno

.

bambang-trigunoMenceriterakan pengalaman selama di asrama realino pada saat ini, tidaklah mudah. Apa yang terjadi dan saya alami telah lewat lebih dari 40 tahun. Di samping itu, bila saya masih ingat peristiwanya, urutan cerita  peristiwa yang satu dengan yang lain tidak dapat saya susun secara  tepat lagi. Kalau seandainya saya mempunyai buku harian,  pasti saya  akan dapat menyusun cerita yang lebih urut dan lengkap, akan tetapi sayangnya saya tidak pernah berhasil mengisi buku harian tanpa terputus dan berhasil menyimpannya dengan baik. Oleh karena itu apa yang dapat saya ceritakan adalah potongan-potongan  peristiwa yang paling memberi kesan pada saya atau kesan dari suatu  peristiwa yang peristiwanya sendiri tidak dapat saya ceriterakan secara tepat lagi

Pengalaman  dan kesan ini mempunyai arti bagi saya  selama ini.Saya berharap, pengalaman dan kesan ini  bila  dirangkai dengan pengalaman dan kesan orang lain yang pernah  tinggal di asrama  akan memberi  arti  yang lebih besar lagi bagi saya dan bagi orang lain yang turut “sharing” dan juga memberi arti kepada orang yang mendengar cerita ini.
Sejak kecil saya memang mempunyai keinginan untuk mempunyai pengalaman hidup di asrama. Keinginan ini muncul pada saat saya masih di SMP. Kakak-kakak saya  dan banyak   teman saya  masuk  SMP berasrama dan tinggal di asrama. Pada waktu di SMA saya tidak tinggal di asrama tetapi hampir  tiap hari belajar di asrama, bersama-sama dengan teman-teman yang tinggal di asrama.

Pada waktu saya masih di SMA saya sudah mendengar yang namanya Romo Beek, tetapi belum mengenalnya. Saya juga sudah beberapa kali berkunjung ke Asrama Realino di Mrican  karena  kakak yang telah lebih dulu tinggal di asrama  ini. Bayangan saya tentang asrama  pada waktu itu adalah bahwa orang yang tinggal di asrama mempunyai banyak teman dan dapat melakukan bermacam-macam kegiatan yang menyenangkan karena asrama menyediakan kemudahan untuk itu.

Keinginan punya banyak teman ini juga yang antara lain mendorong saya ingin  tinggal  di asrama. Oleh karena itu, setelah saya lulus SMA  dan  begitu diterima  menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada, saya langsung datang ke Realino mencari Romo Beek. Pada waktu saya datang  di asrama  Romo sedang nonton mahasiswa-mahasiswa yang sedang main volley di lapangan voley villa I. Saya langsung menyela, memperkenalkan diri dan mengatakan ingin menghadap Romo. Saya langsung diajak ke Romo ke kamar kerjanya.  Saya juga langsung mengatakan pada Romo bahwa saya ingin masuk Asrama Realino. Saya kemudian mengisi formulir yang disodorkan pada saya dan Romo mencatat-catat  sesuatu  yang saya tidak tahu apa. Akan tetapi kesan saya, semuanya berjalan lancar dan seingat saya, saya  langsung diterima saat itu dan harus sudah  masuk asrama bulan berikutnya.

.

Masuk asrama diplonco

Di asrama, perploncoan untuk mahasiswa penghuni baru tidak ada. Akan tetapi ada tradisi mahasiswa baru harus memperkenalkan diri pada kakak-kakak penghuni lama. Perkenalan dilakukan dengan mendatangi setiap kamar untuk memperkenalan diri kepada penghuni kamar itu dan meminta tanda tangan sebagai bukti bahwa sudah berkenalan dengan kakak penguhuni itu. Bermacam- macam pengalaman dalam perkenalan dengan mengunjungi kamar demi kamar itu, mulai dari bertemu dengan penghuni lama yang baik hati dan ramah sampai yang seram  dan yang susah dicari atau yang acuh tak acuh.

Saya agak beruntung karena  periode perkenalan  di asrama ini, berbarengan dengan periode perploncoan PMKRI dan perploncoan UGM sehingga saya merasa proses perkenalan  di asrama, di PMKRI dan di kampus menjadi lebih lancar. Di asrama ada banyak mahasiswa fakultas ekonomi yang senior. Senior-senior ini diantaranya anggota panitya perploncoan. Sedang kami mahasiswa baru fakultas ekonomi yang diplonco ada enam orang. Adanya senior-senior seasrama ini menguntungkan kami yang diplonco.

Tampaknya kami sering “dilindungi” dan diberi “dispensasi” agar dapat pulang pada waktunya.  Sementara itu”perploncoan” cah anyar  di asrama  dari waktu kewaktu berubah dan cara cah anyar menanggapi  perkenalan juga berbeda-beda .

Perploncoan terhadap cah anyar yang masuk asrama kemudian, tidak pada awal tahun akademik, kadang-kadang lebih “kejam”  karena cah anyar yang kebetulan datangnya lebih dahulu menjadi “sok senior” dan ikut “memplonco”. Saya pernah mengalami “diplonco” oleh cah anyar yang datang di asrama satu bulan  lebih awal dari saya. Pada waktu itu cah anyar tadi saya kira memang senior. Setelah satu bulan lewat hubungan  pura-pura  cah anyar dan penghuni lama sudah tidak ada lagi, yang ada  semuanya teman.

.

Teman satu kamar

Pada waktu saya datang untuk mulai tinggal di asrama ternyata pimpinan asrama telah ganti. Romo Beek diganti  Romo Wignyoprasetyo dan saya melapor ke beliau. Saya menjadi  cah anyar, ditempatkan di suatu kamar di Villa II menghadap arah kolam renang Komplek Kolombo yang pada waktu itu sedang dibangun (sekarang kolam renang itu telah hilang dan menjadi sebagian  dari Hotel Yogya Plaza).

“Bapak buah” dan “kakak buah” saya  keduanya dari PTPG Sanata Dharma tetapi dari jurusan yang berbeda .Bapak buah saya di Jurusan Bahasa Inggris sedang kakak buah saya di Jurusan Ilmu Pasti dan Alam  Semula saya mengira teman  sekamar saya itu sukar diajak bercanda, karena  keduanya tampak sangat rajin belajar, agak pendiam dan keduanya tampak  kurang aktif dalam kegiatan diluar kegiatan belajar. Tetapi kemudian setelah makin kenal kesan itu hilang.

Selama tinggal di asrama saya telah 4 kali pindah kamar  dan baru pada pindah kamar yang ke 4 saya menjadi bapak buah, yang artinya tidak lagi tidur di tempat tidur susun. Saya senang karena tempat tidur tunggal lebih mudah dibebaskan dari kutu busuk yang pada masa itu merajalela.  Pada kamar yang keempat ini rupanya pengurus asrama dan Romo kurang teliti dalam menentukan  penghuni kamar, karena pada suatu waktu anak buah saya adalah mahasiswa yang berasal dari satu daerah bahkan satu kampung, sehingga kamar itu penghuninya kurang bhineka seperti semestinya. Akan tetapi “kesalahan” ini ternyata menjadi “blessing in disguised” bagi saya, karena beberapa tahun kemudian bekas anak buah itu, yang sering dijenguk oleh adiknya di asrama, menjadi kakak ipar saya.

Saya merasa tidak mempunyai  hambatan sama sekali dalam bergaul dengan teman sekamar atau teman lain seasrama ,yang  berasal dari asal daerah, suku dan bidang studi  yang berbeda , baik pada waktu saya masih mempunyai status menjadi anak buah, kakak buah atau bapak buah. Saya  suka “nongkrong” atau  membuat “geng” dengan teman tetangga kamar  atau dari kamar yang tidak  bersebelahan.

Kami  kadang-kadang melakukan “diskusi” berlebihan  alias ngobrol di kamar atau di gang depan kamar yang membuat  mereka  yang selalu serius belajar menjadi terganggu.. Kecenderungan saya menjadi “anak gaul” yang suka “nongkrong” dan “ngegeng” berjalan terus, bahkan juga pada waktu  sudah menjadi bapak buah. “Terlalu banyak bergaul” ini yang kemudian saya rasakan sebagai “penghambat” belajar

.

Olah raga

Asrama Realino pada waktu itu  (juga pada waktu kemudian) merupakan asrama mahasiswa yang mempunyai sarana olahraga yang sangat  lengkap. Fasilitas ini memanjakan mereka yang suka olah raga,  karena  dapat melakukan  berbagai  jenis olah raga  dengan biaya yang murah. Di Realino saya dapat melakukan olah raga tennis yang sejak lama saya inginkan. Tetapi di asrama saya tidak bisa main base ball, karena tidak tersedia peralatannya dan peminatnya hanya ada satu dua orang saja. Padahal, cabang  ini merupakan satu-satunya cabang olahraga yang saya menjadi anggota tim inti sekolah.

Meskipun  saya masuk tim inti Realino hanya  untuk cabang basket ball  dan volley ball, tetapi saya mengikuti hampir semua cabang olahraga yang ada. Saya  senang berolahraga, karena saya berharap olahraga dapat membuat  badan daya yang tinggi kurus  dan tidak terlalu sehat  menjadi cekatan dan membentuk tubuh menjadi  atletis . Akibatnya tiada pagi dan sore hari terutama menjelang musim pertandingan  tanpa  kegiatan olah raga. Akibat sampingannya,  mengantuk waktu beajar,  bel  bangun tidur pagi hari kurang terdengar  atau  tertangkap kering oleh Romo yang suka berkeliling di pagi hari setelah bel berbunyi. Memang, badan saya menjadi sehat, tetapi menjadi mempunyai tubuh atletis, tidak.

Olah raga tennis menarik saya karena saya anggap olahraga tersebut sebagai olah raga bergengsi. Tetapi di Realino olah raga tennis mempunyai daya tarik lain lagi. Meskipun hanya  menggunakan raket asrama  yang talinya kendor atau raket pinjaman, olahraga itu dapat digunakan untuk jual tampang dan melirik mahasiswi Sanata Dharma yang setiap pagi  melewati jalan di luar pagar lapangan tennis.

Dalam olah raga ini saya pernah mencatat menjadi juara dan mendapatkan piagam. pada turnamen tenis memperingati Dies Asrama Realino, meskipun  hal ini bisa terjadi antara lain karena  juara  sesungguhnya tidak ikut pertandingan dan hanya menjadi panitya. Saya menang  karena saya menerapkan strategi membunuh lawan yang mati sendiri. karena bola menyangkut di net atau keluar akibat lawan  terlalu bernafsu dalam memukul bola enak .

Modal permainan saya hanyalah nafas panjang, rajin mengejar bola kesana kemari, mengembalikan bola asal  masuk, tidak memukul bola dengan keras agar tidak keluar atau menyangkut di net. Teman saya Sugiarto, anak bandel tetapi yang kemudian pernah menjadi pengurus asrama, mengatakan saya ulet. Pengalaman ini, dalam perjalanan hidup saya, beberapa kali membuat  saya terpaksa menjadi ulet karena  saya pernah disebut ulet.

.

Bermain musik

Saya pencinta lagu-lagu pop barat dan selalu mengikuti perkembangan lagu-lagu yang menjadi hits dari waktu ke waktu terutama melalui radio Australia. Setiap ada lagu baru saya selalu mencoba mencari  lirik lagu itu. Biasanya lirik lagu itu saya peroleh dari teman yang kebetulan membeli stensilan lagu-lagu baru yang diterbitkan dan  dijual oleh toko piringan hitam Tan Yam An.

Hampir semua penghuni asrama  suka menyanyi . Kamar mandi di pagi hari dan sore hari merupakan “tempat latihan”, “ajang kompetisi” dan “tempat audisi”. Di tempat itu minat dan bakat penyanyi dapat ditelusuri karena penyanyi-penyanyi disitu  bersikap spontan dan natural. Para penyanyi ini ada yang menyukai lagu-lagu pop barat, pop Indonesia, keroncong, lagu melayu dan bahkan lagu anak-anak. Jadi kalau ada alumni  Realino kemudian muncul menjadi “penyanyi handal” berkat latihan di karaoke (tidak di kamar mandi lagi) , bila ditengok kebelakang memang  bakatnya  telah tampak pada  waktu ia masih tinggal di asrama.

Realino pada waktu itu belum mempunyai band karena belum tersedia alat-alat  musik untuk perlengkapan  band.  Keterbatasan ini  mendorong beberapa teman membentuk “vocal group”, dan saya bergabung dalam group itu,  menyanyikan lagu-lagu untuk berduet,  trio atau kadang-kadang kuartet. Lagu-lagu jenis ini umumnya adalah folksongs yang dinyanyikan oleh penyanyi atau  kelompok penyanyi terkenal pada waktu itu seperti Harry Belafonte, The Everly Brothers, The Kingston Trio dan The Brothers Four.

Lagu-lagu The Beatles dan The Beegees belum lahir  pada waktu itu. Jadi, kalau lagu country, lagu rakyat dan balada yang hanya diiringi satu gitar gaya orang ngamen muncul menjadi fenomena baru  di Indonesia  sejak  1980an  sampai sekarang, itu  tidak baru bagi Realino karena lagu-lagu aliran itu  telah sejak lama ada dan  dinyanyikan di asrama.

Keterbatasan tersedianya alat-alat musik untuk band juga mendorong beberapa teman membuat gitar dan gitar bas sendiri dan dalam uji coba pentas di pesta Asrama Sri Derma alat musik buatan sendiri itu terbukti cukup canggih tidak kalah dengan gitar buatan Solo atau Hofner buatan Jerman.

Realino akhirnya mempunyai band lengkap setelah Romo Stolk dan Romo Willenborg secara bergantian membawa oleh-oleh alat-alat musik  untuk band.  Alat-alat musik untuk band yang dimiliki Realino termasuk alat-alat musik yang langka pada waktu itu ,karena relatif mahal harganya atau susah di dapat ,seperti trompet, saxophone, mandolin dan banjo.

Berbeda dengan peralatan musik untuk  band,  Realino mempunyi peralatan musik klasik yang cukup lengkap. Romo Willenborg  yang juga pemain cello sangat aktif  mendorong mahasiswa untuk mau ikut  belajar memainkan alat musik klasik dengan menyediakan guru professional  dari sekolah musik untuk biola dan  Romo Willenborg sendiri  untuk cello, tanpa  dipungut bayaran sama sekali, bahkan, alat musik dipinjami

Saya sendiri mengikuti latihan main biola  dan kemudian ikut bergabung dalam orkes gesek asrama yang anggota-anggotanya  antara lain juga beberapa mahasiswi Asrama Stella Duce (sekarang Asrama Syantikara). Anggota Orkes Gesek Realino juga bergabung dalam orkes simfoni yang dipimpin oleh Romo Smits van Waesberge mengiringi Koor Exultate yang selalu menggelar concerto natale pada setiap bulan Desember.

Romo Willenborg  juga memimpin Paduan Suara Asrama Realino yang dipergelarkan pada berbagai  peristiwa  penting seperti Dies Asrama Realino atau perayaan Hari Kemerdekaan. Jadi bila hanya  pada baru-baru ini masyarakat mulai mengapresiasi musik klasik, yang dianggap dapat membuat halus perasaan dan meningkatkan kepekekaan, dengan menghadiri  pergelaran twilight orchestra atau konser musik klasik lain yang tiketnya dijual mahal, mahasiswa Asrama Realino sudah jauh lebih dahulu melakukannya.

.

Belajar

Belajar merupakan tugas pokok mahasiswa dan kegiatan lain merupakan penunjang dan penyeimbang. Oleh karena itu aturan penggunaan waktu di asrama juga ditujukan  untuk mencapai tujuan tadi. Bila mahasiswa mentaati semua aturan dan jadual yang ditentukan sebenarnya tidak ada alasan untuk sampai tidak lulus ujian, meskipun jam-jam di luar jam belajar  digunakan semua  untuk mengikuti kegiatan lain. Tetapi masalahnya justru banyak mahasiswa yang menggunakan  waktu secara tidak semestinya dan tidak seimbang, artinya aktivitas diluar belajar yang juga memakan waktu dan tenaga lebih diutamakan.

Saya termasuk mahasiswa yang menggunakan waktu belajar  secara kurang seimbang dan kurang penuh tadi. Saya mengikuti hampir semua kegiatan cabang olah raga  dan semua kegiatan seni, dengan pembenaran bahwa dalam kegiatan-kegiatan itu perlu ada orang yang aktif, disamping kegiatan itu sendiri  bermanfaat. Saya kurang menyadari bahwa bila semua  kegiatan  diikuti akan  mengakibatkan sisa tenaga  yang tersedia untuk belajar kurang. Hasilnya, judicium ujian pada akhir tahun pertama, saya tidak lulus dan harus mengulang ujian lagi setelah 4 bulan. Hasil ini membuat saya agak shock.

Sebelum menjadi mahasiswa saya merasa tidak pernah mengalami kesulitan dalam belajar dan selalu mendapatkan nilai ujian yang baik. Masalah yang yang menambah repot lagi adalah mulai diterapkannya sistem semester yang antara lain yang menentukan adanya mata kuliah prasyarat yang harus lulus lebih dahulu untuk dapat mengambil mata kuliah tertentu. Sejak itu lulus saya selalu tertinggal dan makin lama makin jauh dari teman-teman saya seangkatan.

Di asrama ada kegiatan yang sangat melengkapi kegiatan belajar, yaitu Realino Discussion Club dan Realino English Club. Tetapi justru saya tidak menjadi anggota REC dan dalam kegiatan RDC saya tidak proaktif. RDC melatih mahasiswa melakukan diskusi ilmiah dengan benar. Secara bergantian mahasiswa dilatih menjadi penyaji masalah yang harus ditulisnya lebih dahulu, menjadi pembahas atau penyanggah masalah yang ajukan oleh penyaji dan menjadi moderator atau pengatur diskusi agar efektif dan efisien atau menjadi peserta aktif  dalam suatu diskusi. Meskipun mahasiswa wajib mengikuti kegiatan RDC untuk suatu periode waktu tertentu, tetapi kegiatan ini dipandang oleh sebagian mahasiswa sebagai beban tambahan karena antara lain pembicara harus mempersiapkan makalah. Di samping itu, diskusinya juga  memang   membosankan karena  topiknya sering dipaksakan  dan prosesnya sering tidak menarik, tanpa menyadari bahwa kegiatan yang dilakukan memang suatu proses belajar yang harus dilalui.

Sementara itu, yang saya lihat tanpa saya masuk menjadi anggotanya, REC tidak sekedar melatih mahasiswa berbahasa Inggris aktif agar  menjadi fasih tetapi juga menjadi terbiasa bergaul dengan komunitas berbahasa Inggris. REC dalam acara-acaranya banyak diselingi kegiatan rekreatif seperti party yang disi dengan acara menyanyikan folksongs, line dance  untuk memperingati hari-hari tertentu  seperti acara valentine day. Jadi, kalau sekarang di acara TV ada Dansa yo dansa atau  di acara Country Road ada line dance, acara itu bukan hal yang baru bagi alumni asrama Realino karena hal itu telah biasa dilakukan lebih dari 40 tahun yang lalu.

Untuk olah rohani di Asrama Realino untuk mahasiswa yang beragama Katolik ada  Maria  Kongregasi dan Realino Gospel Study. Saya selalu ikut dalam kegiatan  Kongregasi Maria dan  untuk beberapa waktu ikut dalam Gospel Study . Kegiatan yang terakhir ini dipimpin oleh RomoWillenborg dan memang kurang banyak pesertanya.. Di Kapel Realino setiap hari ada Misa Kudus. Tidak setiap hari Misa  dihadiri penuh oleh mahasiswa .Saya sendiri ada kalanya rajin mengikuti Misa Kudus setiap hari,  tetapi pada beberapa waktu yang lain  tidak menghadiri meskipun tidak harus pergi kuliah ataupun melakukan kegiatan olah raga pagi. Melihat gejala Kapel kosong atau mahsiswa tertentu tidak atau jarang tampak Broeder Van Zon dengan sifat ke “ibu”annya selalu menanyakan mengapa dan  mengingatkan kembali pentingnya berdoa disamping belajar.

.

Melanggar peraturan

Peraturan Asrama diterapkan secara ketat. Penyimpangan atau kekecualian dari peraturan juga ditentukan secara rinci. Untuk menghadapi suatu keadaan tertentu yang membahayakan “moral” atau “persatuan dan kesatuan” warga asrama kadang-kadang Romo mengeluaran aturan khusus tentunya setelah melakukan konsultasi dengan “kabinet” nya , yaitu Ketua dan Wakil Ketua Villa Utara dan Villa Selatan.

Mahasiswa asrama Realino suka  “berburu” durian atau nangka ke desa utara Realino karena harganya jauh lebih murah dibandingkan seandainya beli di pasar Demangan. Sampai seberapa jauh desa itu dari asrama  ke utara saya lupa, tetapi desa tempat berburu itu  sampai ada di sebelah utara Selokan Mataram. Pada suatu waktu beberapa mahasiswa tiba-tiba saja mendapatkan “pemasok” istimewa, yang mungkin karena memberi harga murah tetapi juga ternyata pemasok itu adalah  wanita desa yang  menurut ukuran orang desa berwajah cantik. Pemasok ini sering berhenti di pinggir jalan di pojok asrama dengan membawa dagangannya.  Tiba-tiba saja pada suatu hari seluruh warga asrama di kumpulkan dan Romo Pemimpin yang pada waktu itu adalah Romo Wignyoprasetyo mengeluarkan “maklumat” yang berisi bahwa “ semua mahahiswa warga asrama Realino dilarang bergaul dengan wanita yang bernama Yu Tari. Mungkin  ada mahasiswa yang karena ingin mendapatkan harga durian atau nangka yang lebih murah sampai berani dan mau mendatangi rumahnya.

Salah satu pelanggaran yang dinilai sebagai pelanggaran berat adalah bila mahasiswa tidak pulang dan tidur diluar asrama  tanpa mendapatkan ijin dari Romo sebelumya. Saya pernah pulang ke rumah orang tua, karena keasyikan nampang sebagai mahasiswa dan bertemu kawan-kawan lama di desa saya terlambat pulang ke asrama sesuai batas waktu yang diijinkan. Atas keterlambatan ini saya mendapat teguran yang keras dari Romo.

Saya pernah melakukan pelanggaran yang sebenarnya dapat dikategorikan pelanggaran berat tetapi tidak mendapat hukuman. Pada suatu hari saya bersama seorang teman asrama diundang menghadiri pesta ulang tahun teman mahasiswi di jalan Ngupasan. Acaranya demikian asyik, bercha-cha ria, sampai lupa bahwa kami harus tidak boleh terlambat pulang ke  asrama. Pada waktu ingat, sudah terlambat, mau kembali ke asrama waktu itu juga atau sampai acaranya selesai tetap melanggar peraturan dan akan dimarahi. Kami memutuskan untuk meneruskan mengikuti acara, soal bagaimana nanti  memberikan alasan  terlambat kepada Romo Teuwisse akan dipikirkan dalam perjalanan pulang.

Kami pulang naik becak dan sampai di asrama sudah sekitar jam satu malam. Pada waktu itu kamar saya  sudah pindah di villa utara. Setelah sampai di depan jendela kamar tidur Romo tiba-tiba kami teringat Romo Teuwisse itu sangat keras, agak sakit-sakitan dan cepat tidur. Kami pernah kenal dengan Romo sewaktu kami masih di SMA dan  Romo pada waktu itu adalah guru dan  kepala sekolah. Tiba-tiba pula kami melihat pohon yang dahannya  bengkok kearah balkon bagian utara villa utara dekat kawat penangkal petir. Kami memutuskan untuk memanjat pohon itu saja, melompati balkon, berjingkat-jingkat memasuki kamar. Kami tidak dihukum, karena tidak ketahuan sampai  Romo Teuwisse diganti Romo Stolk.

Pelanggaran “berat” lain yang pernah saya lakukan adalah saya tidak pulang dan tidur di luar tanpa mendapat ijin lebih dahulu.  Pada suatu hari saya dengan seorang teman pergi bersepeda berziarah ke Sendang Sono.  Kami berangkat pagi hari dan seperti biasa sore hari sudah akan dapat tiba kembali di asrama. Akan tetapi dalam perjalanan pulang  lewat Muntilan tiba-tiba datang hujan yang sangat lebat. Kami mencoba berteduh sebentar mengharapkan hujan segera berhenti. Tetapi setelah sekian waktu hujan tidak reda, kami memutuskan meneruskan perjalanan pulang. Kami tidak membawa jas hujan dan karenanya semua yang ada pada kami basah kuyup. Sementara itu hujan bukannya reda tetapi bahkan makin deras dan jarak pandang menjadi sangat pendek  sehingga kalau kami nekad meneruskan perjalanan akan sangat berbahaya. Kami terpaksa memutuskan untuk singgah di rumah teman di Medari. Kami “dipaksa” menginap dan pagi harinya baru pulang ke asrama memakai sarung dan baju pinjaman, tanpa pakaian dalam Apa yang terjadi kalau sampai sarung yang kami pakai lepas karena gerakan mengayuh sepeda, tentu bisa gawat. Atas pelanggaran berat ini kami tidak dihukum karena “force majeur”.
.

Apa yang saya peroleh

Dari segi mencapai tujuan belajar formal, tinggal di Asrama Realino sebagai sarana untuk mencapai tujuan, saya gagal dan “dihambat” oleh Realino karena saya sudah tinggal 5 tahun  di asrama, tetapi saya belum lulus sesuai harapan. Meskipun, seandainya saya tidak tinggal di  Realino saya juga belum tentu bisa lulus pada waktunya bahkan mungkin dapat tertinggal lebih lama lagi. Tetapi dari segi -segi yang lain, Realino memberi banyak sekali.

Pengalaman selama tinggal di asrama memberi arti  dan kesan yang membekali perjalanan hidup saya selanjutnya termasuk dorongan  semangat untuk menyelesaikan studi strata satu dan menebus kesalahan dalam belajar dengan  akhirnya dapat menyelesaikan studi  program  strata tiga. Dorongan menjadi ulet (“ndableg”}, seperti pada saat saya main tennis, selalu timbul manakala saya  mengalami putus asa karena ada masalah yang sulit dipecahkan.

Dalam bergaul di tengah masyarakat saya menempatkan diri sebagaimana saya menempatkan diri dalam bergaul di Asrama Realino, karena   apa yang terjadi dan saya alami kemudian di masyarakat  banyak yang pernah saya lihat dan terjadi di asrama. Tidak boleh dipungkiri ,bahwa apa yang saya lakukan, bagaimana saya memandang persoalan dan bagaimana saya bersikap itu bukan  karena saya pernah tinggal di Realino saja, tetapi  karena banyak faktor. Tetapi yang jelas saya merasa mempunyai keluarga besar dan tetap merasa tinggal di tengah-tengah keluarga itu dan saya merasa selalu dapat berkomunikasi dengan anggota keluarga yang lain seperti layaknya dalam keluarga, dan keluarga itu adalah Keluaraga Besar Realino.
.

Penutup

Pengalaman yang dapat saya ungkapkan ini hanya sebagian kecil dari seluruh pengalaman selama tinggal di asrama. Pengalaman-pengalaman lain ini bila direnungkan kembali juga mempunyai arti dan memberi  inspirasi. Bahkan mungkin, pengalaman di asrama bila dapat saya tulis lengkap dengan memasukkan  “kisah cinta”, “kisah patah  hati” dan kisah-kisah yang lain mungkin dapat menjadi  “novel”, yang bila dicetak siapa tahu dapat menjadi best seller. Namun sementara, paling  tidak tulisan ini merupakan sharing saya pada pertemuan ini. Terima kasih.

.

  • Bambang Triguno adalah alumni Realino Angkatan 1959
  • Naskah ini disampaikan pada Reuni 2004 di Bandungan, Semarang
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s