Nilai-nilai dalam spirit Realino

R. Djokomoeljanto (1955)

.

profKenangan  akan asrama Realino selalu membangkitkan satu perasaan yang aneh, satu nostalgia akan perioda dimana kita semua, dalam usia yang masih muda, diberikan fasilitas, kesempatan, suasana, kegiatan kegiatan yang rasanya berperan besar dalam perkembangan kita masing masing. Perkembangan tentu tidak dapat dilihat dari perkembangan fisik saja, tetapi justru perkembangan individu secara menyeluruh. Hal ini kita rasakan justru di saat kita sudah keluar dari asrama Realino (pada waktu itu…) dan sekarang berpuluh tahun sesudahnya.

Hubungan antar Realinowan tidak terbatas pada kelompok tahun, kelompok disiplin, tetapi ternyata lebih luas lagi, karena didasari oleh pengalaman kebersamaan dan kedekatan  sewaktu kita berada di asrama Realino, antara 3-5 tahun (perkecualian adalah mbah Darto…?). Dari manakah rasa ini muncul? Pasti ada sesuatu yang dinamis yang masih menggerakkan kita semua. Sebut saja : spirit –semangat- jiwa Realino.

.

Sapientia et Virtus

Seingat saya waktu saya untuk pertama kalinya menginjak asrama Realino di jalan Code tahun 1955, konsep ini belum terumuskan sebagai mana sekarang  Kadang saya bertanya pada diri sendiri, kapankah SV ini mulai digunakan? (ternyata tg 18 Juli lalu saya dikoreksi oleh mas J Soetarto, bahwa di Code sudah ada namun belum disebarluaskan ke penghuni).

Jadi meskipun konsep ini sudah ada pada pendirinya, romo J Beek, tetapi belum dikomunikasikan secara tegas kepada para penghuni. Fakta yang mendukung kesimpulan bahwa idee Sapientia et Virtus sudah ada pada para penyelenggara asrama ialah kenyataan bahwa trali asrama Realino, sejak dibangunnya sudah menggunakan ornamen bertuliskan SV. Agaknya RDC-lah yang membuka serta menyebarluaskan semangat ini. Corpsgeest terbina dengan yel-yel Realino. Yel kita memang bertuah… mampu menggerakkan semangat penghuninya.  Marilah kita dalami sedikit makna semboyan – motto kita.

Saya berusaha mencari arti harfiah kata kata di atas dari beberapa kamus. Sapientia  berarti kebijakan, pandai, mahir, selalu menggunakan akal-budi, suatu keutamaan yang menyebabkan seorang menjalankan fungsinya dengan baik, misalnya untuk mampu mengenal kebenaran Dalam bahasa Belanda kebijakan diterjemahkan sebagai knap, ervarend, bedachtzaam, sedangkan Virtus yang berarti  kebajikan, mendatangkan keselamatan, keuntungan, goedheid, deugd. Virtue (English)  adalah “formal moral goodness of character and behaviour (among the good characters are loyalty, courage and truthfulness)” Bagi seorang ahli filsafat keterangan di atas pasti masih kurang dan akan dibahas lebih lanjut, namun bagi saya rasanya cukup untuk memberikan pengertian yang mendorong ke satu perbuatan.

Dengan demikian Sapientia mengandung unsur keutamaan, mahir, selalu menggunakan akal budi, mampu mengenal kebenaran, berpengalaman (‘ervarend’), bedachtzaam, selalu menimbang-nimbang. Virtus mengandung unsur baik, jujur, loyal, berani, ‘goedheid, deugd, virtue’.  Marilah kita lengkapi bersama dalam pertemuan ini sifat apakah yang dapat dan sebaiknya diturunkan (derived) dari kata Sapientia et Virtus ini, yang dapat kita sampaikan kepada anak – cucu – kenalan serta lingkungan kita. Sapientia et Virtus adalah kebijakan dan kebajikan.

Dalam pertemuan di Cipanas Januari 2004 yang lalu dik J Hardanto menulis dan mengulas Sapientia et Virtus dan mengatakan bahwa  “pandangan hidup Sapientia et Virtus adalah tawaran nilai/value untuk hidup dengan baik, penuh kebijakan dan kebajikan, baik sebelum, selama maupun sesudah kita menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi“ Ternyata nilai nilai ini memang universal dan dapat diterapkan bagi setiap orang dan apabila diterapkan akan membawa ketenangan serta ketenteraman. Pandangan diatas ternyata tidak dengan sendirinya akan terjadi, harus selalu diusahakan oleh yang berpandangan ini, dengan proses yang up and down. Kita masih untung karena kita tanpa sadar telah mengalami diproses dengan “pandangan hidup SV” tadi selama 3-5 tahun dengan fasilitas, tatanan hidup yang terprogram bagi semua penghuni yang pluralistik dalam segala hal. Mampu menerima perbedaan sebenarnya merupakan keutamaan dan memberi rasa damai

Proses terstruktur untuk mencapai mewujudkan ide Sapientia et Virtus di asrama Realino

Semangat dan tawaran sikap hidup SV tidak hanya digembar-gemborkan saja namun agaknya telah dirancang serta diproseskan pada kita semua dengan sangat teliti. Tinjauan retrospektif ini merupakan renungan saya akan proses yang telah kita alami bersama. Marilah kita tengok kembali apakah  benar kita telah diproses?

  1. Disiplin : pergi atau pulang asrama selalu harus diberitahukan, lebih kalau akan datang terlambat. Kita dilatih untuk disiplin, jujur terhadap orang lain maupun diri sendiri, membuat rencana kapan pulang, dilatih membuat perhitungan akan waktu dengan hasil: terlambat atau tidak
  2. Susunan hierarki : adanya blok I dan blok II (Utara dan Selatan) mengingatkan bahwa meskipun dalam satu asrama, pembagian domain, pembagian tugas masing masing penting. Blok I meskipun berdiri sendiri masih harus tergantung dengan blok II dan sebaliknya (bayangkan diskusi, volley, kapel, ketua asrama berada di blok I) namun latihan musik, latihan tari srampang dua belas, ruang makan di blok II –atau antar dua blok II. Kerja sama satu dengan lain.
  3. Masing masing blok mempunyai ketua blok yang seakan mewakili, komunitas tertentu, sehingga mampu ‘menyuarakan’ dan ‘mewakili’ blok tersebut. Iapun berkamar dibawah berdampingan dengan romo ketua blok. Pola keterwakilan, pola demokrasi telah diawali di sana.
  4. Susunan kamar dengan ketua kamar: ‘bapak-buah’ dan ‘anak-buah’, yang silih berganti, mulai dari anak buah yang kemudian naik-pangkat menjadi ‘bapak-buah’ adalah gambaran dari menggambarkan bagaimana kita harus menghormati pimpinan siapapun ia, diharapkan mampu bekerja sama , dalam kelompok kecil. Setiap penghuni sebagian besar telah mengalami struktur berjenjang dari anak buah terbawah, tengah dan akhirnya sebagai bapak buah.
  5. Fasilitas hidup mandiri seperti mencuci dan menyeterika sendiri, membuat mahasiswa bisa belajar hidup di masyarakat.
  6. Pluralitas suku, agama, daerah agaknya telah dirancang sewaktu tes penerimaan seorang untuk menjadi penghuni asrama hingga tujuan untuk membuat semua mampu hidup berdampingan dalam perbedaan dapat dinikmati bersama,
  7. Kegiatan yang bermacam macam memberi peluang bakat untuk berkembang: klub renang, klub sepak bola, klub tennis, klub diskusi, klub musik klasik, klub volley, klub musik gereja, pertemuan dan kegiatan bersama dengan mahasiswi asrama putri Panti Rapih memproses kita dalam hubungan antar manusia dan  sosial.
  8. Idee SV memang harus disebarkan dan penyebaran ini diproses secara pasti dengan membatasi lama huniannya di asrama.
  9. Perpustakaan yang lumayan membantu, memberi kebiasaan calon ilmuwan untuk mengakses sumber pustaka untuk meningkatkan ilmunya.
  10. dan banyak lagi yang dapat dikorek satu persatu. (marilah kita bersama mengisi….. (dalam pertemuan Bandungan ini)

.

Nilai nilai serta implikasinya dalam kehidupan sehari hari.

Sering kita dengar slogan pola hidup yang muluk muluk namun tidak terlaksana dalam hidupnya sehari hari. NATO katanya, “no action talk only.“ Dalam keadaan demikian sudah barang tentu bukan prinsip nilainya yang salah melainkan pelaksananya yang kurang mampu menterjemahkan dalam kehdupan sehari hari.

Hal ini sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal dan eksternal. Nilai yang baik perlu diawali dengan ‘internalisasi nilai’ untuk membangkitkan niat sebelum tindakan terjadi, apalagi untuk membuatnya menjadi perilaku yaitu pola hidup, kebiasaan hidup sehari hari. Problem yang kita hadapi ialah populasi kita makin sedikit, namun kita masih ada waktu untuk memberikan pengalaman kita ini kepada anak – keluarga – teman mungkin tanpa embel embel Realino, meskipun tetap disampaikan sebagai tawaran Sapientia et Virtus.
.

Pengalaman pribadi

Pengalaman penegakan disiplin telah kami alami waktu masa perplocoan di jalan Code. Di malam hari plonco harus oleh raga, saya berada di deret paling belakang. Saya olahraga seenaknya karena menurut pandangan saya tidak seorangpun melihat saya, e-eee… ternyata romo Beek dari jauh mengawasi saya….konangan juga bahwa tidak disiplin  Jadi tugas memang harus dijalankan ‘dengan’ atau ‘tanpa pengawasan siapa pun’ Hati nuranilah yang harus bicara.

Perpustakaan merupakan ajang bagi saya untuk bekerja keras melayani kepentingan umum. Selain harus disiplin karena mengatur denda bagi peminjam yang terlambat  mengembalikan buku (inipun bentuk penegakan disiplin) belajar menguasai ± 10000 buku yang ada padahal dari disiplin ilmu lain. Yang paling sulit ialah mengatur waktu: belajar – mengatur denda – mengembalikan buku di tempatnya – manghafal tempat buku text fakultas lain. Selama dua tahun 1956 – 1957 saya memang menjadi ‘abdi perpustakaan’ tanpa pembantu lain. Belajar membagi waktu secara efisien.

Tidak mudah saya sebagai dirigent mencari waktu mengatur teman untuk latihan koor ‘Gregorian’ untuk misa kapel, juga mencari waktu untuk les cello pada romo Willenborg.

Meskipun waktu hanya tersisa 30 menit antara selesi kuliah dan praktikum di kompleks Kedokteran Ngasem, saya menyempatkan pulang ke Goden dengan bersepeda. 20 menit pulang pergi dan 10 menit makan di refter. Untung masih selalu ada makanan, sebab penghuni asrama selalu memikirkan penghuni lain yang belum makan. Kegiatan ini melatih saya untuk disiplin, berhemat dan berolah raga.

.

Akir kata

Dengan tulisan singkat di atas saya ingin mengungkapkan bahwa nilai nilai yang tersirat dengan slogan asrama Realino, Sapientia et Virtus, merupakan motto hidup yang amat relevan dilaksanakan dalam hidup sehari-hari, sebab merupakan sesuatu yang bersifat universal. Dari telaah ini saya merasakan bahwa kita semua, sadar atau tidak, telah mengalami proses yang telah dirancang dengan baik sekali untuk mewujudkan slogan tadi. Tentu saya merasa bersyukur kepada asrama Realino dan teman teman semua yang sebenarnya karena bersama merekalah saya terproses, dan tanpa mereka proses tidak akan terjadi.

Problem sakarang ialah bagaimana kita mampu mewariskan motto yang kita yakini telah membentuk pribadi kita masing masing kepada anak – keluarga – teman yang tidak pernah mengalami proses tersebut. Semoga kita mampu menjadi penggerak perubahan.

.

  • Prof. DR. Dr. Djokomulyanto, alumni Realino 1955 tinggal di Semarang.
  • Naskah ini dipresentasikan pada Reuni 2004 di Bandungan, Semarang
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s