Bisnis Mikro Tahan Krismon

Oleh : Soetanto Hadinoto
.

sutantoKrisis moneter (krismon) yang mulai terjadi pada tahun 1997 telah berdampak luas pada seluruh sendi perekonomian Indonesia. Bank Rakyat Indonesia (BRI) sejak awal telah memiliki komitmen membantu rakyat melalui dukungan pada sektor usaha kecil dan menengah (UKM). Sektor ini dianggap mempunyai peranan yang sangat strategis dalam struktur perekonomian nasional dan umumnya tidak tergantung pada bahan baku impor.

Berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik (BPS) jumlah UKM pada tahun 2000 sebanyak 39,04 juta unit atau 99% dari total unit usaha. Kontribusi UKM pada Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 56,7%, sedangkan dari sisi ekspor menyumbang 14,7%. Di Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan, proporsi pengusaha kecil dan menengahnya sekitar 95-98% dengan peranannya terhadap ekspor sekitar 50%.

Pengalaman BRI mengelola kredit kecil, mikro, dan menengah selama lebih dari satu abad (106 tahun) menunjukkan bahwa:

  • Tingkat kemacetan kredit relatif kecil. Untuk bisnis mikro tunggakan kredit / portofolio status sebanyak 3% (1999), 2,5% (2000), dan 2,1% (2001).
  • Pemberian kredit kepada UKM mendorong penyebaran risiko. Dengan nilai nominal kredit yang kecil, memungkinkan bank untuk memperbanyak jumlah nasabahnya. Dengan demikian pemberian kredit tidak terkonsentrasi pada satu kelompok atau sektor saja.

Suku bunga kredit pada tingkat bunga pasar bagi usaha kecil bukan masalah sehingga memungkinkan pendapatan bunga yang cukup tinggi.

Pengalaman penulis menunjukkan bahwa kunci sukses kredit UKM adalah ketersediaan dana kredit pada saat yang tepat dengan jumlah dan sasaran yang juga tepat. Selain itu, prosedur kredit juga harus sederhana.

Sebagai bankir profesional, penulis tetap berpendapat bahwa dalam pengucuran kredit UKM tetap perlu kehatihatian (prudential) sesuai dengan UU Perbankan No. 7/ 1992. Di samping itu, masalah pembinaan dan pengawasan terhadap para nasabah juga tetap harus dilakukan, sebagaimana untuk kredit kepada usaha menengah / besar.

Dengan persyaratan di atas maka pengembangan kredit UKM makin banyak. Beberapa bank yang dulunya menjadi bank corporate, kini telah mengubah visinya menjadi bank retail dan microbanking. Hal ini tercermin pada pertumbuhan kredit usaha kecil dibanding pertumbuhan kredit secara keseluruhan. Pada periode Desember 2000 sampai dengan November 2001 Kredit Usaha Kecil tumbuh sebesar 16,8 %, sedangkan kredit secara keseluruhan hanya tumbuh 4,4 %.

Perlu dicatat pula bahwa bank-bank yang masih sehat (survive) sebagian besar adalah bank kecil atau bank besar yang pemberian kreditnya diarahkan kepada kredit usaha kecil, mikro, dan menengah. Bank Perkreditan Rakyat (BPR) umumnya mempunyai kinerja yang baik dan sehat sehingga dikenal dengan julukan “small is beautiful” (kecil tetapi kinerjanya baik).

Krisis ekonomi memperlihatkan kemampuan bertahan kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah (UKM). Kelompok usaha ini mampu bekerja dengan agendanya sendiri. Sedikitnya 40 juta penduduk Indonesia terlibat dalam kelompok usaha ini. Sekitar 39 juta atau 97% di antaranya adalah UKM dengan omzet di bawah Rp 5 juta per tahun. Meski omzetnya kecil, namun UKM menyumbang 63% dari seluruh produk domestik bruto (PDB) per tahun. Ini potensi ekonomi nasional yang luar biasa.

Menurut Prof. Dr. Didik Rachbini, BRI adalah miniatur dari sistem ekonomi politik Indonesia yang sesungguhnya. Sistem perkreditannya menggambarkan paradoks besar dan kecil, yang antagonis dan kontroversial, seperti paradoks sistem ekonomi politik nasional. Oleh karena itu, mempelajari perkreditan BRI juga berarti menemukan keadaan faktual. Usaha yang besar atau korporasi sebagian kurang menunjukkan performance yang baik. Demikian pula yang terjadi pada bank-bank besar di Indonesia. Usaha menengah dan kecil masih menunjukkan tingkat pengembalian yang baik. Kredit Umum Pedesaan (KUPEDES) menunjukkan hasil usaha dan tingkat pengembalian yang baik, rata-rata tunggakan kredit (bad debt) 2 %.
.

Sutanto Hadinoto adalah Alumnus Realino 1961.
Artikel dikutip dari buku “50 tahun Realino”
Iklan

One Reply to “Bisnis Mikro Tahan Krismon”

  1. semestinya ada kesepakatan dari semua bank yang menyalurkan kredit mikro mengenai besaran suku bunga.karena pada kenyataannya suku bunga kredit mikro masih relatif tinggi.malah dibandingkan dengan kredit konsumtif bunganya lebih kecil.namanya juga usaha kecil/mikro,tentunya peruntukannya adalah sebagai modal usaha.jika untuk modal usaha saja bunganya relatif tinggi,tentunya debitur akan merasa terbebani dengan angsuran yang tinggi.apalagi beberapa bank juga mematok tenor/jangka waktu pengembalian yang hanya 3 tahun?!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s