Kredit Tanpa Bunga…

Kredit Tanpa Bunga untuk si Miskin

Wahyu Dramastuti, Sinar Harapan, Jumat 25 Mei 2007

.

JAKARTA – Penampilannya selalu rapi dan suka mengenakan baju batik. Bicaranya lugas dan penuh data. Namun tugasnya keluar-masuk pedesaan, lembah, gunung, pesisir, hanya untuk mencari masyarakat yang patut ditolong.Kemudian masyarakat itu dihubungkannya dengan lembaga yang dapat memberikan bantuan, sampai akhirnya masyarakat itu mampu hidup mandiri.

Dialah Bambang Ismawan, Pendiri dan Ketua Bina Swadaya, sebuah lembaga yang punya misi membangkitkan keberdayaan masyarakat miskin dan terpinggirkan dalam aspek sosial-ekonomi. Karyanya bagaikan pepatah Jawa sepi ing pamrih, rame ing gawe (terus bekerja tanpa pamrih).

Begitu jelinya Bambang bersama Bina Swadaya-nya. Ia menemukan sebuah koperasi di pedesaan Bengkulu yang jauh dari liputan media massa dan membuat sekelompok masyarakat di sana keluar dari jeratan rentenir. Ia juga menemukan kelompok usaha bersama di Dusun Sindet, Bantul, Yogyakarta, yang membantu para anggotanya menata kembali kehidupan perekonomian mereka pascagempa.

“Saya trenyuh pada masalah kemiskinan. Apa betul, orang miskin itu tidak punya apa-apa? Ternyata tidak, orang miskin itu punya meskipun sedikit. Nah, kalau mereka bergabung, mereka bisa menolong diri mereka sendiri,” kata Bambang yang juga merintis pendirian Bank Pembangunan Rakyat (BPR) Bina Swadaya.

BPR Bina Swadaya memberikan kredit tanpa agunan kepada usaha mikro. Cicilannya setiap bulan dengan bunga sangat rendah, 1-3% setahun. Ini pun masih tanpa penalti jika cicilan menunggak. Syaratnya, peminjam harus membentuk kelompok terdiri dari 5-10 orang. Tujuannya, agar pinjaman itu ditanggung renteng, sehingga kalau ada yang menunggak anggota lainnya menalanginya.

Bagi kelompok yang baru berdiri, pinjaman diberikan baru pada bulan keempat, itu pun masih tanpa bunga. Bunga baru akan diterapkan kemudian, secara bertahap.
Menurut pengalaman, mereka yang menunggak selama ini hanya karena sedang tertimpa musibah, itu pun kemudian ditalangi oleh anggota kelompoknya. Maka Bambang Ismawan berpendapat, sebetulnya pengusaha mikro tidak membutuhkan bunga rendah karena usahanya untung. Yang mereka butuhkan hanya akses ke lembaga peminjam.

Maka, ia heran mengapa bank menerapkan syarat yang sulit untuk memberikan kredit bagi usaha mikro. Semestinya antara masyarakat, pemerintah, dan bank saling percaya. “Mengapa selama ini tidak jalan? Karena masyarakat menggantungkan pada atas (pemerintah-red). Padahal ketika semua orang menyerahkan pada atas dan atas tidak jalan, semuanya hancur,” tegasnya.

Itulah sebabnya, Bambang mengajak semua pihak berbuat sesuatu. Rakyat jangan hanya berteriak agar pejabat pemerintahan mundur, dan pemerintah serta organisasi juga harus memfasilitasi rakyat.

Lalu Bambang mencontohkan, ada petani yang tidak berpendidikan tinggi, tanahnya hanya sedikit, tetapi memiliki semangat dan terampil. Di dalam kelompoknya, mereka melakukan proses belajar-mengajar. “Petani tidak belajar dari profesor, tapi dari tetangga. Petani itulah yang kami fasilitasi,” jelasnya.

Jadi Penghubung

Selain penyaluran kredit, Bina Swadaya juga memberikan pendampingan, pelatihan, dan menghubungkan usaha mikro dengan lembaga pemerintah, seperti Bappenas, Perkebunan, BKKBN, serta perusahaan swasta besar, seperti Coca Cola dan Carrefour.

Bina Swadaya memfokuskan pada pengembangan ekonomi rakyat, terutama pada usaha mikro, karena 99,97% unit usaha di Indonesia merupakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Adapun spirit yang memotivasi Bambang dan Bina Swadaya-nya adalah tujuan kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu memberdayakan rakyat. Tetapi setelah merdeka, ternyata pemerintah tidak mampu memberdayakan rakyat; cita-cita ini masih sebatas retorika yang dibicarakan lewat seminar-seminar.

Bambang menyamakan para elite di Indonesia dengan elite di Bangladesh. Sama-sama gampang menyerah pada pemberdayaan masyarakat dan sibuk dengan urusan masing-masing. Sialnya, masyarakat melihat kekuasaan sebagai segala-galanya sehingga menggantungkan diri pada pemerintah.

Bambang Ismawan lahir di Lamongan, Jawa Timur, 7 Maret 1938. Pernikahannya dengan Silvia Maria membuahkan dua putera, Ervo Ismawan (almarhum) dan Irsa Ismawan. Ia ikut merintis Bina Swadaya yang didirikan oleh Ikatan Petani Pancasila pada 24 Mei 1967, yang semula bernama Yayasan Sosial Tani Membangun.

Dalam ulang tahun ke-40 Bina Swadaya pada tahun 2007 ini, Bina Swadaya memberikan penghargaan Kusala Swadaya bagi individu dan kelompok yang memiliki kontribusi dalam pemberdayaan masyarakat, serta kepada media massa dan wartawan yang berpihak pada pemberantasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat.

Sayangnya, sejarah Indonesia penuh dengan kisah-kisah heroisme politik, sehingga tak mampu lagi menampung kisah heroisme pemberdayaan masyarakat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s