Peduli Sesama….

Peduli Sesama, Kunci Membangun Dunia

.
Oleh : Drs. Bambang Ismawan, MS.

.

bbismawanMemasuki abad 21, sangat wajar bila warga di jagat ini gelisah. Melongok sekilas ke abad 20, yang disebut abad paling kejam oleh Kofi Annan, akan membuat miris. Puluhan juta manusia, musnah ditelan dua perang dunia. Sebanyak 1,5 milyar umat manusia harus meratapi hidupnya, akibat didera kemiskinan. Di lain sisi, kesenjangan ekonomi yang ekstrim, membuat suasana makin mencekam. Dan, tiba-tiba di penghujung abad, dunia bergolak kembali. Konflik yang paling sulit dinalar, pertentangan antar-etnis dan agama, meledak.

Abad 20 adalah mimpi buruk. Sumpah serapah, gemeletuk gigi, dan jerit tangis anak manusia, mengiringi jagat yang telah berumur ini. Lalu menggelantung pertanyaan besar di sanubari, seiring makin rentanya jagat, apakah justru akan makin terkoyak? Apakah abad 21, yang baru kita masuki ini, adalah mimpi yang jauh lebih buruk? Apakah tragedi yang tak pernah terbayangkan, ditabraknya gedung WTC oleh pesawat penumpang, merupakan lonceng nyaring pertanda bakal makin buruknya nasib jagat? Bergejolak rasa akibat ketidakrelaan dunia akan makin terkoyak, mendorong warga seantero jagat bertemu. Berbagai pihak yang bergabung bersama dalam aliansi untuk dunia yang bhineka, bersatu dan bertanggung jawab, berkumpul. Atas undangan Yayasan Leopold Charles Meyer, saya mengikuti World Citizens Assembly di Lille Perancis, yang dilaksanakan 2 – 10 Desember 2001 tersebut. Acara itu dihadiri 400 orang peserta berasal dari 125 negara.

Terhadap visi dunia yang bhineka, bersatu dan bertanggung jawab, ke-400 peserta dibagi dalam 20 sosio profesional: Guru & Akademisi, Agama dan Budaya, Pengusaha, Wartawan, Pemuda, Wanita, Petani, Nelayan, Buruh, Lembaga Keuangan, Pemerintah Lokal, Militer, LSM, Pekerja Sosial, Sektor Kesehatan, dan lain-lain. Pembahasan dalam kelompok-kelompok sosio profesional, mengarah pada perumusan tematis terhadap masalah-masalah yang dihadapi jagat.

Hasil dari lokakarya tematis berupa 17 strategi penanggulangan berbagai masalah, yang lebih lanjut dibahas pada workshop regional. Dalam hal ini, dunia dibagi dalam 20 regio. Lalu, melalui 3 workshop (masingmasing 2 hari), World Citizens Assembly berhasil menyepakati Charter on Human Responsibilities serta mengkristalkan berbagai rumusan strategi menghadapi masalah-masalah Biosphere: Governence, Socio Economy, dan Representation.

.

Pilar Ketiga

Di dunia, selama ini dikenal dua pilar penyangga yang disepakati menjadi “penopang” terhadap tantangan universal. The Universal Declaration of Human Right memusatkan penghargaan pada hak-hak individual, sedangkan The Charter of United Nations berfokus pada perdamaian dan pembangunan bangsa-bangsa. Kedua pilar tersebut merupakan kerangka yang memungkinkan kemajuan-kemajuan dalam kerjasama international.

Namun, sejak lima puluh tahun terakhir, perubahan-perubahan radikal melanda dunia. Umat manusia saat ini, dihadang berbagai tantangan baru. Kedua pilar itu, dirasakan tak dapat mampu lebih lama lagi menghadapi beragam masalah. Baik pada saat kini, maupun masa yang akan datang.

Gagasan tentang “pilar ketiga”, yaitu Earth Charter (Piagam Bumi) yang berpusat pada hubungan antarmanusia dan biosphere (bumi dan atmosfir), pertama kali dimunculkan dalam Konferensi Dunia di Stockholm tahun 1972. Piagam itu dikembangkan lagi pada Earth Summit tahun 1992 di Rio de Janeiro. Namun, pertemuan tersebut tidak menghasilkan Earth Charter, sebab berbagai negara tak dapat mencapai konsensus tentang rumusan-rumusan yang sungguh mampu menjawab berbagai tantangan.

Sejak itu, muncul banyak draft dari berbagai sumber dalam masyarakat warga (civil society) internasional. Hal itu dipacu keyakinan yang dirasakan secara luas, “pilar ketiga” saat ini lebih dibutuhkan dan mendesak dari sebelumnya. Karena banyaknya inisiatif, aliansi ini kemudian membuat draft kolektif pada satu Piagam. Proses membuat kerangka Piagam, dilakukan berulang-ulang berdasarkan dua sisi kepentingan, yaitu kesatuan dan keragaman. Hal itu dimaksudkan sebagai landasan umum bagi program aksi yang menghargai perbedaan budaya, bahasa, ekonomi, politik, dan geografis.

Tentu saja hal ini menuntut skema timbal balik yang terbuka, untuk titik temu yang bersifat progresif. Pada periode 1995 – 1998 berbagai lokakarya diselenggarakan di Afrika, Asia, Amerika Latin, dan Eropa oleh Andre’ Levesque serta tim-nya. Mereka bertujuan merangkum nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang disaring dari kenyataan hidup sehari-hari, yang dialami di masyarakat yang berbeda-beda. Hasilnya adalah rumusan pertama dari Charter pada tahun 1999.

Dari tahun 1999 sampai akhir 2000, draft Charter (Piagam) diuji coba secara luas di berbagai profesi clan kegiatan masyarakat, dengan sistem budaya yang berbeda-beda. Sementara itu, kelompok-kelompok kerja Aliansi yang luas, kemudian merumuskan berbagai tuntutan yang berhubungan dengan tantangan-tantangan abad 21 dalam bidang kegiatan mereka.

Reaksi terhadap draft Charter 1999 serta rumusan berbagai tuntutan, membawa pada keputusan tahun 2001, untuk membuat draft akhir sebuah Piagam yang memasukkan keduanya. Hal itu lalu disebut “Piagam Manusia Bertanggung Jawab” (Charter on Human Responsibilities). Masalahnya, apakah “tanggung jawab” merupakan konsep yang universal? Hal itu bisa dijawab, antara ya dan tidak.

Sebagai konsep yang berkenaan dengan moral, pemikiran tentang tanggung jawab ditemukan di antara semua kelompok manusia. Namun demikian, ada perbedaan-perbedaan tentang cara tanggungjawab dilaksanakan. Dalam beberapa masyarakat, tanggung jawab dibebankan pada seseorang oleh suatu kelompok, daripada diambil seseorang atas inisiatifnya sendiri. Konsekuensinya, dalam menjelaskan cara seseorang menggunakan tanggung jawab, mungkin berbeda-beda dalam praktek.

Dalam krisis umat manusia saat ini, perbedaan-perbedaan harus diatasi. Dengan sikap bangsa-bangsa yang menerima gagasan tentang “hak-hak manusia”, pandangan tentang “tanggung jawab manusia” tiba saatnya untuk diterima. Kerja sama dan aturan global, memang diperlukan untuk kemungkinan menguniversalkan gagasan-gagasan khusus, serta prinsip-prinsip yang datangnya dari manapun namun dipandang bermanfaat bagi semua manusia.

Krisis sosial dan lingkungan saat ini memperlihatkan, apa yang dipertaruhkan adalah sebuah anugerah besar, yaitu kehidupan. Kehidupan tidak diciptakan oleh manusia. Manusia hanya bisa berpartisipasi dalam kehidupan. Kehidupan adalah misteri yang merangkai semua yang hidup, yang menghidupkan dirinya sendiri secara alami dan saling menghidupi dengan yang lain. Di tengah-tengah keanekaragaman, manusia mempunyai tanggung jawab untuk melindungi hak untuk hidup.

Piagam yang dinyatakan atas kesadaran ini, bersifat “universal”. Dalam arti kata yang sebenarnya, yaitu menyentuh segala yang ada, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Piagam ini mendukung sesuatu di luar pemahaman dan rekayasa manusia, serta umat manusia secara keseluruhan bertanggung jawab.

Yang melekat dalam tanggung jawab dasar ini adalah, kebutuhan untuk menciptakan dan menyediakan ruang bagi orang lain dalam bentuk-bentuk kehidupan lainnya. Seberapa besar ruang dan bagaimana tanggung jawab tersebut dibagi, akan bervariasi dari satu konteks ke konteks lainnya. Namun di manapun, mereka menunjukkan bagian yang integral dari hak untuk hidup. Pandangan ini memberikan inspirasi adanya tuntutan tentang sebuah Piagam Manusia Bertanggung Jawab, dengan prinsip sebagai berikut.

  1. Menegakkan keadilan harus menjadi bagian dalam mencari kedamaian.
  2. Melindungi kebebasan dan keluhuran sendiri berarti mencari kebebasan dan keluhuran untuk orang lain.
  3. Keputusan yang diambil untuk kebutuhan-kebutuhan dan prioritas-prioritas jangka pendek harus mengantisipasi dan memperhitungkan pengaruh jangka panjang, dan bila tidak bisa, keputusan itu harus menentukan sikap yang bijaksana dan tindakan pencegahan.
  4. Kepuasan untuk kebutuhan-kebutuhan manusia harus diimbangi dengan pemeliharaan lingkungan alam.
  5. Dalam mengejar kesejahteraan ekonomi harus memperhatikan pembagian yang sama atas kekayaan; mekanisme-mekanisme pasar harus diatur untuk kesejahteraan dan pengembangan semua manusia.
  6. Pengembangan fisik, riset, dan inovasi harus mendukung pengembangan manusia dan pemeliharaan bumi.
  7. Dalam mengusahakan persatuan untuk menghadapi tantangan-tantangan di masa depan, potensi menumbuhkan kembali dan memperbaharui keragaman budaya harus dipelihara.

.

Indonesian Citizens Assembly?

Masalah-masalah yang dibahas di Lille, sangat relevan dengan yang dihadapi Indonesia. Dalam kurun waktu 10 tahun ini, utamanya 4 tahun terakhir ketika Indonesia mengalami krisis multidimensi, berbagai pemikiran diungkapkan melalui berbagai forum diskusi, seminar serta demonstrasi. Kesemuanya itu, mencoba melengkapi dengan lebih rinci “milestone sejarah” 1908, 1928, dan 1945. Namun sayang, semuanya tak cukup terkonsolidasikan secara baik.

Nyatanya di era reformasi ini, mekanisme pengambilan keputusan berpusat di tangan partai-partai politik. Proses pengambilan keputusan di badan-badan resmi seperti DPR dan MPR, mempertontonkan usaha saling tarik menarik, pertarungan antar-kelompok kepentingan yang sempit. Sebuah “pertunjukan” yang membuat gerah, sebab melupakan Indonesia secara keseluruhan.

Kalau masyarakat dunia membutuhkan pilax ke-3, yaitu dunia yang bhineka, bersatu, dan bertanggung jawab, yang ditelurkan dalam World Citizens Assembly, rasanya Indonesia juga memerlukan hal yang sama. Indonesia perlu mengadakan Majelis Masyarakat Warga Indonesia (Indonesian Citizens Assembly). Sedikitnya 300 orang dari 30 Propinsi (masing-masing sedikitnya 10 orang) yang mewakili berbagai profesi, perlu berkumpul merumuskan pemikiran-pemikiran Indonesia abad 21. Berbagai pemikiran itu, didasarkan sepenuhnya atas penghayatan terhadap azas Bhinneka Tunggal Ika, menjadikan Indonesia kuat dan bertanggung jawab.

Majelis ini bersidang secara periodik, misalnya lima tahun sekali menjelang Pemilu, yang hasil-hasilnya dapat menjadi acuan bagi sidang-sidang MPR, DPR dan lainlain. Berbagai keputusan tersebut memang tak mempunyai kekuatan yuridis untuk memaksakan, tetapi mempunyai kekuatan moral. Oleh karena itu, pemrakarsa dari aliansi harus dipilih di antara mereka yang mempunyai moral tinggi.

Kira-kira tujuan majelis tersebut adalah:

  1. Membangun visi dan nilai-nilai Indonesia ke depan yang lebih rinci, lebih modern, dan lebih bertanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa.
  2. Membangun network antar-sesama masyarakat warga (citizen, civil society) untuk memperkokoh rentang jaring komunikasi nasional dan global (kesiapan globalisasi).
  3. Merupakan forum saling asah, asih, dan asuh tingkat nasional, secara lugas dan bebas. Lugas karena dijiwai semangat bertanggungjawab terhadap Indonesia dan bebas karena tanpa keterikatan langsung dengan primordial, ideologi, aliran (partai) politik.

.

Tantangan bagi Forsino

“Sapientia et Virtus” adalah semboyan yang mempunyai kekuatan magis bagi warga Realino. la diteriakkan dengan tangan terkepal penuh semangat, seperti para pejuang memekikkan “merdeka!” di zaman revolusi. Sapientia berarti kebijakan yang bersumber pada nurani beriman, sedangkan Virtus yang berarti kebajikan adalah tekad kuat untuk mengutamakan pengabdian kepada Tuhan dan sesama, di atas kepentingan sendiri.

Makna semboyan itu, tak jauh berbeda dengan prinsip Charter on Human Responsibilities yang dihasilkan dalam World Citizens Assembly, yaitu peduli terhadap sesama dan bertanggung jawab. Lalu, siapakah sesama itu? Selama ini, sesama yang sangat kita pedulikan adalah keluarga, pimpinan, rekan sekerja, relasi bisnis, teman-teman seagama dan mungkin juga bukan seagama.

Itu benar sekali dan perlu dipertahankan, seperti siapa pun dituntut demikian. Namun, sebagai warga Realino, yang “terpilih” mencicipi pendidikan tinggi dan mengalami pendidikan serta pergaulan khusus di Realino, arti “sesama kita” harus dipahami melampaui yang biasa tersebut. “Sesama kita”, secara khusus adalah mereka yang membutuhkan uluran tangan dan solidaritas kita, yaitu mereka yang tertindas dan miskin. Sebab kalau tidak, jangan-jangan secara tak sadar kita telah dan sedang ikut menindas, serta menjadikan sebagian warga masyarakat justru makin sulit lepas dari himpitan kemiskinan.

Lalu apakah yang akan dilakukan warga Realino, sebagai warga bertanggung jawab, untuk memancarkan kebajikan kepada sesama kita? Lima puluh tahun sudah umur Realino kini, dari segi fisik Asrama Realino telah ditutup, namun nilai-nilai Realino telah tertanam dalam sanubari setiap insan yang pernah bergumul di dalamnya. Pertanyaannya kemudian, apakah kita akan terus melestarikan nilai-nilai itu?

Apa yang bisa dilakukan warga Realino, sebagai komunitas dan individu, dalam mengaplikasikan rasa tanggung jawab terhadap sesama manusia dan lingkungan kehidupannya, dengan semangat kebijakan dan kebajikan? Inilah tantangan kita bersama. Mudah-mudahan, pertanyaan tersebut dapat dijawab dalam peringatan ulang tahun ini. Selamat Ulang Tahun Realino, Sapientia et Virtus!

.

Bambang Ismawan adalah Alumnus Realino 1957
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s