Gen Sosial, Gen Romantis,…

Gen Sosial, Gen Romantis dan Gen Moral

Eko Raharjo

.

Pernah menyelidik lebih lanjut mengapa kita, para Realinowan, meskipun sesama laki-laki, suka gaul, bersosialisasi, kangen-kangenan, guyonan, suka menyenangkan satu sama lain? Jelas ini ada hubungannya dengan kita dulu pernah tinggal dalam satu asrama dengan suatu sistem yang mendukung terjalinnya keakraban, persahabatan, toleransi, dst. Dan terutama di saat situasi kebangsaan Indonesia yang sedemikian kacau dan tegang, maka kerinduan akan suatu hubungan persahabatan tanpa disertai segala macam curiga dan purbasangka semakin terasa. Namun, jangan terburu-buru menkredit diri sendiri secara berlebih-lebihan sebab perilaku sosial ternyata sudah ada blue-printnya dalam kromosom kita yang merupakan warisan turun temurun dari nenek moyang kita.

Ternyata tidak cuma bangsa manusia yang punya gen sosial ini, bangsa binatang, bahkan yang tingkat rendah seperti lalat, cacing dan bakteri pun memilikinya. Bangsa bakteri ini juga suka bergaul, bergerombol dan berkoloni. Guyonan pada bangsa cacing, malah saya saksikan secara langsung sehari-hari, sebab kebetulan riset kami menggunakan Caenorhabditis elegans, cacing gilik dengan panjang 1 mm. Kaum laki-laki dari cacing C elegans, strain hawaiian ini, kalau dicampur dalam satu piring agar, wah kelakuan mereka ini persis seperti kelakuan anak-anak Realino; pada bergerombol, gaul sana, gaul sini, bergantolan satu sama lain, berjalan berputar-putar, pokoknya berakting silly-lah. Dan berani sumpah, lewat dissection microscope, sepertinya saya melihat Bang Elyas Ginting dikerumuni oleh banyak teman-temannya (mungkin sedang main kartu atau karambol hehehe…).

Kalau semua mahluk hidup mempunyai gen sosial yang membuat mereka suka berteman dan suka menyenangkan satu sama lain, mengapa dunia ini malah dipenuhi oleh permusuhan, diskriminasi, kanibalisme (manusia memakan binatang), dst? Rupanya perilaku sosial gawan ini punya keterbatasan, cuma berlaku pada sesama jenis, yakni mereka yang sudah saling mengenal satu sama lain. Terhadap jenis asing yang tak dikenal, mereka berlaku lain. Bangsa tikus (Mus musculus) memiliki penciuman khusus yang bisa mengenali bau tikus lain apakah termasuk dalam kelompoknya atau tidak, dan juga bisa membedakan jenis kelaminnya. Terhadap jenis asing, tikus jantan punya sikap yang tegas, yakni bila sesama jantan, serang!, bila betina, kawini!.

Saya kira ini menjelaskan kelakuan anak-anak Realino, mengapa pada pesta dansa kita hanya mengundang jenis betina saja. Perilaku dari nenek moyang kita tsb masih terwariskan dan hardwired dalam benak kita. Di balik rasionalisasi bahwa ruang rekreasi Villa Selatan tidak bisa menampung banyak tamu, rupanya di lubuk kromosom kita sudah tertulis suatu instruksi bahwa kita mesti membasmi anak-anak Dharmaputra dan semua laki-laki dari asrama putra lainnya, dan mengawini anak-anak Ratnaningsih (dan tentu saja anak-anak Syantikara/Stella Duce) dan semua wanita dari asrama putri lain, termasuk asrama-asrama Putri kecil seperti Cakra Kembang, Mekar, dan bahkan sampai anak-anak dari kos-kosannya Pak Daliyo. Rupanya ikatan sosial, seks dan reproduksi sudah saling bertaut satu sama lain jauh sebelum munculnya celebrities seperti Miss. Hawa dan Mr. Adam. Species manusia bukanlah penemunya melainkan sekedar pewarisnya.

Dan jangan terburu pula menyombong bahwa kita anak Realino adalah yang paling jagoan dalam soal courting (menggaet) cewek. Kaum cowok dari bangsa lalat (Drosophila melanogaster) juga punya teknik-teknik canggih dalam menggaet lawan jenis. Pertama, mereka mengundang lalat-lalat cewek untuk rame-rame ziarah ke Sendang Sono…oh maaf keliru, ini kan cara dari anak-anak Realino hehe… Drosophila cowok mendekati ceweknya secara elegan yakni dengan memberi tabik salam dengan bersentuhan tangan, kemudian mulai menggosok-gosokan sayapnya untuk tarik suara (dalam kasusnya bang Marpaung lagu yang dinyanyikan adalah “Sinanggar Tulo”) dan disertai pula gerakan dansa yang tak kalah keren dari gaya Jitter Bug-nya mas Gufron. Baru-baru ini scientist telah menemukan Gen Romantis tsb yakni yang disebut “fruitless”. Bila pada lalat jantan gen ini dimutasikan, maka mereka tak bisa memproduksi protein fruitless yang akan berakibat lenyapnya nafsu mengejar-kejar lalat betina.

Bagaimana dengan moralitas? Bukankah ini privilege yang cuma dimiliki oleh bangsa manusia? Ternyata tidak!. Dari hasil eksperimen diketahui bahwa bangsa tikus juga mempunyai emphaty dan solidaritas satu sama lain. Dua tikus ditaruh dalam satu kandang. Setiap kali satu tikus makan makanan yang diberikan, tikus yang lain disetrum (teriak-teriak kesakitan). Pada akhirnya tikus yang dapat makanan tsb tidak mau lagi menyentuh makanannya. Ini serupa dengan kepahlawanan dari John McCain (calon presiden USA dari Republikan) ketika menjadi tawanan perang di Vietnam, dimana ia hanya mau dibebaskan dengan syarat semua tawanan perang USA juga dibebaskan. Saya setuju perbuatan ini disebut sebagai perbuatan kepahlawanan, namun saya ragu bila ini bisa disimpulkan sebagai kehebatan dari patriotisme ala Amerika atau dari agama yang dianutnya, sebab tikus yang tidak memiliki warga negara Amerika dan tak beragama juga punya moral dan sikap kepahlawanan seperti itu.

Bagaimana sikap McCain terhadap tawanan perang lain, misalnya tawanan perang Irak yang disiksa di Guantanamo? Hehehe…. Jelas McCain tidak memasukkan mereka dalam domain standar moralitas yang sama. Namun tentu saja kita tidak bisa menyalahkan McCain pribadi, sebab memang seperti itulah moralitas manusia, yang bersumber dari warisan moral yang sama dengan moral tikus, moral cacing, moral amoeba, moral H5N1, etc. KIta bangsa Indonesia menangis ketika Aceh dilanda tsunami dan secara spontan mengulurkan bantuan, apakah kita berbuat sama ketika New Orleans dihajar oleh hurricane Katrina? Bukankah setiap saat di Afrika selalu ada anak-anak yang kelaparan? kok kita alumni Realino tetap saja bisa gembira ria berreuni sambil memesan makanan yang lezat di Rumah Makan Bu Endang?

Ternyata moralitas kita masih selalu dibatasi sejauh kemampuan dari persepsi indira kemanusiaan kita. Jarak yang jauh yang membuat kita tidak bisa melihat, mendengar, merasai secara langsung, moralitas kita sulit menjangkaunya. Orang-orang yang tidak kita kenal, yang bukan dari sanak saudara, bangsa, atau yang diluar golongan, kelompok atau alumni sendiri yang tidak mempunyai ikatan emosi juga berada di luar jangkauan moralitas kita. Kenyataan ini mengigatkan saya kepada teori moralitas dari David Hume yang kalah populer dari teori moralitas dari the “Great” Kant dimana lebih berlandaskan pada rasionalitas. Menurut Hume, emosi merupakan motif utama dari perbuatan manusia. Ini didukung oleh kenyataan bahwa otak manusia yang memproduksi emosi adalah merupakan bagian otak yang paling tua yang sudah becokol kokoh dan sentral.di dalam benak kita.

Ini bukan berarti saya menolak teori moralitas dari Immanuel Kant. Namun saya ingin menekankan bahwa bila kita hanya tersilaukan dengan “kemuliaan” dari teori Kant, maka dengan mudah kita mengingkari kesejatian manusia sesungguhnya dan dari mana asal-usulnya. Akibatnya, kita ini suka membuat ajaran-ajaran atau lebih buruk lagi aturan-aturan yang mengambang di awang-awang, yang tak ada pijakan kemanusiaannya sama sekali.  Akibatnya, peraturan tsb tidak pernah dijalankan sama sekali. Kemudaian kita terheran-heran sendiri mengapa masyarakat manusia jatuh pada situasi korupsi, denial, dan kemunafikan. BTW, apakah ada gen korupsi, gen denial dan gen kemunafikan? Mungkin saja.
.

Sapientia et Virtus
Eko Raharjo’78
Iklan

4 Replies to “Gen Sosial, Gen Romantis,…”

  1. Mas ER,
    Tulisan berbobot dg penyajian yang uenak. Membuka wawasan yg sangat manusiawi. Seyogyanya di ‘kilp’ utk dibukukan dengan tulisan2 lain, spt yg Anda kirim kepada saya re: RUU pornografi.

    Bravo ! Mtr nwn.

    Salam,
    Thy

  2. Mas FBK dan Mas Teddy (kalau tidak keberatan saya ingin memanggil semua eks warga Realino terutama yang lebih tua sebagai mas, sebab kalau pak kok rasanya jauh sekali, seperti kepada pak Camat, pak Bupati, pak Mentri, dst).

    Wah saya tidak tahu apakah saya qualified untuk memberikan introduction of behaviorism theory atau teori apapun. Yang saya tulis adalah yang saya pikirkan. Dari pada membebani pikiran maka sebaiknya saya tuangkan dalam tulisan dan syukur-syukur bila bisa memancing diskusi. Sebab semua tulisan saya, adalah sekedar “draft” artinya pemikiran yang belum selesai. Oleh karena itu bila ada diskusi maka saya akan lebih bisa menjelaskan maksud saya yang mungkin kurang jelas atau malah mengesankan kearah yang berbeda dari yang saya maksudkan. Dan yang lebih penting bagi saya adalah saya bisa juga belajar dari pandangan orang lain.

    Situasi Forsino semakin menggembirakan hati karena semakin banyaknya eks warga Realino yang bergabung. Kita dulu tidak mengira bahwa warga dari angkatan 1950 an sampai angkatan yang paling muda bisa berkumpul dalam satu forum, meskipun secara virtual.

  3. Mas Eko,

    Saya membaca tulisan anda sehubungan dengan research anda mengenai cacing dengan penuh perhatian. It looks you are having fun. Belum lama ini saya melihat hasil research mengenai behavior dari macam-macam jenis kera (monkey) yang di cover TV (Nature). Sangat menarik sekali ada sejenis kera di Afrika (lupa nama ?) yang lain sekali dari jenis kera-kera yang lain. Kera-kera ini sangat peaceful, hidup mengelompok dan saling membantu mengasuh anak-anaknya, demikian pula cari makan sama-sama.

    Mereka tidak aggressive seperti kera-kera yang lain yang sangat territorial dan bisa membunuh kera-kera yang bukan jenisnya. Menurut scientist yang menyelidiki kera-kera tersebut, kebiasaan kera-kera ini yang paling menonjol adalah mereka senang sekali kawin / bersanggama tiap hari at any time dengan partner yang mana saja.

    Tidak ada yang cemburu dan perkelahian dengan anggota-anggota yang lain. Karena semuanya adalah milik bersama, tingkat sosial dan toleransinya makin tinggi. Ini adalah contoh bahwa masih banyak ciptaan Tuhan didunia ini, yang belum kita ketahui rahasianya.

    Salam S e V

    Teddy S. Theryo, P.E.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s