RDC mengenai Nasionalisme

Saya sertakan disini sebuah tulisan yang menarik untuk bacaan teman2, semoga bisa memberi inspirasi tentang SeV dalam pembinaan karakter nasional. Beliau seorang mualaf dgn latar belakang yang berbeda sebelumnya. Tulisan2 beliau dapat diunduh dari www.suarapembaruan.com.

.

Ad Maiorem Dei Gloriam,

S. Hariman Wibisono

.

Nasionalisme

Ratna Megawangi Ph.D

.

The true citizenship is to protect the flag from dishonor to make it the emblem of a nation that is known to all nations as true and honest and honorable. And we should forever forget that old phrase, my country, right or wrong, my country (Mark Twain).

Suatu saat dalam sebuah seminar di Jakarta, saya pernah “diserang” oleh seseorang yang duduk dalam satu panel karena saya telah berbicara negatif tentang Indonesia. Saya berbicara tentang kualitas SDM Indonesia yang masih tertinggal jauh, tentang kualitas moral Indonesia yang terkenal korupnya, tentang angka kriminalitas, termasuk juga kualitas pendidikan di Indonesia.

Komentar yang dilontarkan kira-kira berbunyi, “Mengapa kita tidak mencintai bangsa sendiri? Di mana rasa nasionalisme kita kalau kita terus mengkritik Indonesia?” Untung saja beliau tidak mempersilakan saya untuk meninggalkan Tanah Air secara baik-baik seperti yang diungkapkan Presiden Megawati ketika jumpa pers di Kairo, Mesir.

“Jangan mencari makan, tidur, dan bertempat tinggal di Indonesia, tetapi Indonesia dijelek-jelekkan.” Presiden Megawati saat itu mengajak masyarakat untuk bangga menjadi bangsa Indonesia. “Salah atau benar itu adalah negara saya, jangan itu dijembreng-jembrengin“, persis seperti pepatah right or wrong, my country.

Kalau yang dimaksud rasa nasionalisme adalah mempunyai rasa kebanggaan terhadap suatu negara, benar atau salah, saya yakin Mark Twain, seperti yang diungkapkan di atas, akan mengatakan bahwa ia tidak mempunyai rasa nasionalisme seperti yang dimaksud. Karena ia kerap mengkritik pemerintahan Amerika, terutama kebijakan Philippine-American War pada awal abad ke-20. Tetapi kalau ditanya apakah ia mencintai negaranya, saya yakin pasti ia akan berkata, “amat sangat”.

Sepanjang hidupnya ia terus membuat karya-karya gemilang, yakni Huckleberry Finn, Tom Sawyer, dan lain-lain yang sampai sekarang masih terus dibaca di seluruh dunia. Simone Weil mengatakan bahwa cinta terhadap negara bentuknya ada dua, yang mungkin keduanya tidak saling berhubungan. Pertama adalah cinta yang mengandung unsur kebanggaan akan kejayaan dan kebesaran suatu negara. Rasa kebanggaan terhadap suatu negara karena kejayaannya, bisa menimbulkan kesombongan yang membuat dada sesak, persis seperti ketika kita sedang membangga-banggakan diri sendiri, termasuk berbangga diri dengan apa yang kita cintai.

Rasa nasionalisme, kebanggaan, ini akan membuat mata tertutup terhadap kekurangan diri dan segala yang kita miliki sehingga menimbulkan rasa marah kepada siapa saja yang mengkritik objek yang kita banggakan. Mungkin rasa nasionalisme, right or wrong, my country, adalah jenis cinta yang mengandung unsur kebanggaan sehingga negara tidak akan pernah salah. Sentimen nasionalisme seperti ini adalah negatif karena bisa mengarah pada sifat xenophobia, yaitu menganggap bangsanya sebagai bangsa terbesar di dunia.

Saya mempunyai kawan yang begitu bangga menjadi orang Amerika. Baginya Amerika adalah negara yang paling konsisten dalam menerapkan freedom and democracy, tidak ada satu pun negara di dunia yang lebih bermoral dari AS. Suatu saat saya menanyakan tentang perasaannya terhadap kematian 6.000 orang Irak yang tidak berdosa karena invasi AS ke Irak. Jawabannya, “America’s role for good in the world far outweighs the pain it has caused (peran Amerika untuk kebaikan di dunia jauh melebihi penderitaan yang diakibatkannya).” Persis seperti Madeline Albright ketika memberikan komentar tentang akibat sanksi Amerika atas Irak selama 12 tahun yang telah menyebabkan lebih dari satu juta anak dan wanita meninggal dunia karena kekurangan pangan dan obat-obatan, dengan pernyataan “Its worth the price”. Contoh lain nasionalisme yang menjadi xenophobia dan membawa derita kemanusiaan adalah pada zaman Hitler.

Nasionalisme negatif adalah bentuk lain dari pemujaan (berhala) terhadap negara. Bahayanya adalah sifat kesombongan dan merasa bangsa besar akan tertanam menjadi kebiasaan, seperti pepatah “habit of the heart”. Sehingga sifat bangga dan sombong ini akan termanifestasi dalam bentuk apa saja, termasuk pemujaan kepada suku, ras, dan agama. Kebanggaan ini sifatnya eksklusif, tidak bisa ditransfer kepada kelompok lain, sehingga dapat menjadikan hati tidak sensitif terhadap penderitaan orang lain yang bukan kelompoknya, seperti halnya para pemimpin AS yang tidak mempunyai rasa simpati terhadap penderitaan berkepanjangan rakyat Irak karena embargo AS dan invasinya.

Kita tahu bagaimana mengerikannya tragedi di Sampit, Ambon, dan Poso akibat rasa xenophobia yang intinya mirip dengan manifestasi nasionalisme negatif. Jenis cinta kedua adalah mencintai negara sebagai sesuatu yang patut dikasihani karena negara adalah sebuah fakta keduniaan, tidak langgeng, tidak sempurna, dan bisa musnah, seperti hilangnya Kerajaan Romawi yang pernah menjadi superpower. Jenis cinta ini tidak membuat seseorang menjadi angkuh atau merasa diri, bangsa/suku/agama, terbesar, atau paling benar. Tetapi akan membuat manusia rendah hati karena kita tahu objek yang kita cintai adalah sebagai sesuatu yang tidak sempurna, dan ini akan membuat mata kita terbuka akan segala kelemahan dan kekurangannya.

Menerima kekurangan atau memberikan kritik kepada objek yang kita cintai adalah manifestasi dari cinta yang berasal dari rasa kerendahhatian, bukan dari rasa kebanggaan. Mencintai negara dengan cara ini adalah semangat nasionalisme positif sehingga dapat menimbulkan rasa empati dan menggerakkan hati untuk berbuat sesuatu kepada negara, menjaga kehormatan negara, dan mengkritiknya apabila negara salah arah. Kalau rasa nasionalisme negatif sering menimbulkan semangat patriotisme “ingin menang”, atau kemarahan apabila negaranya dikritik, semangat nasionalisme positif akan menimbulkan rasa solidaritas persaudaraan murni.

Rasa persaudaraan ini bersifat inklusif karena semangat cinta, kerendahhatian (compassion), dapat ditransfer ke semua arah, seperti halnya sinar matahari yang tidak pernah pilih kasih, sehingga kita akan merasakan penderitaan orang lain walaupun berbeda bangsa, suku, atau agama.

Jadi, mengkritik Indonesia bisa merupakan manifestasi dari rasa kecintaan yang besar pada negeri ini. Negeri ini sedang sakit dan mengalami cobaan yang amat berat sehingga memerlukan manusia-manusia yang terpanggil untuk berbuat sesuatu untuk menolong negeri ini. Hanya mereka yang hatinya penuh compassion, akan terpanggil untuk berbuat sesuatu tanpa pamrih agar negeri ini menjadi lebih baik dan selalu menjaga kehormatan negaranya dengan selalu menjaga kehormatan dirinya.

Ungkapan compassion yang murni kepada sebuah negeri yang sedang menderita dapat diibaratkan melihat Ibu Pertiwi dalam sebuah syair lagu, “Kini Ibu sedang lara, merintih dan berdoa.”

Jesus juga pernah bersedih ketika menengok ke Kota Jerusalem, dan berkata, “Oh, Jerusalem. Jerusalem,” seperti berkata kepada orang yang sedang menderita. Nasionalisme positif seperti inilah yang akan menumbuhkan semangat kebenaran (spirit of truth) karena dapat membuat hati terbiasa untuk menjadi rendah hati, compassion, empati, dan spirit persaudaraan murni, yaitu sifat-sifat yang membuat Ibu Pertiwi aman, damai, dan sentosa. Selamat ulang tahun yang ke-58, Indonesia!

.

Last modified: 8/8/03

Iklan

2 Replies to “RDC mengenai Nasionalisme”

  1. Mas Hariman Wibisono,

    Anda mengatakan penulis Ratna Megawangi, PhD seorang mualaf. Menurut gaya bahasa dan cara penulisan artikelnya sepertinya penulis adalah Ratna Megawangi isteri menteri Sofyan Djalil. Apakah ada Ratna Megawangi yang lain yang mualaf? Perkiraan saya penulis adalah seorang muslimat sejak lahir.

    Mengenai rasa nasionalisme, saya punya pengalaman sbb:
    Saya tidak hanya sekali meragukan rasa nasionalisme saya. Ketika kecil umur 5 – 6 tahun tetangga rumah sebelah adalah keluarga Belanda. Saya kepingin sekali diperlakukan seperti anak Belanda. Tuan de Wolf memanggil anaknya dengan cara bersiul, anaknya kemudian menyahut dengan teriakan sambil berlari. Saya di rumah tidak boleh berteriak, harus tidak urakan. Beda sekali didikan di rumah saya dengan di rumah tuan de Wolf.

    Saya nyatakan kepada mbok-pengasuh saya, mengapa bapak saya tidak bersiul bila memanggil saya. Jawaban mbok saya:”Karena keluarga kita beragama Islam, tuan de Wolf orang kafir, memanggil anaknya seperti memanggil anjingnya”. Hubungan saya sangat rapat dengan mbok saya. Saya lebih senang makan makanan eropa yang dibungkus dengan kertas halus, kertas timah dibandingkan dengan makanan nogosari yang dibungkus daun pisang. Kemudian setelah usia SMP, saya pernah berpikiran, bila saja Indonesia masih berupa Nederlands Indie tentu saya sekolah di HBS bukan SMP. Pernah juga saya tanyakan kepada kakak saya sulung apakah saya ini tidak berjiwa nasionalis. Jawaban kakak saya: “Kita semua berjiwa nasionalis sebab Bapak kita seorang muslim, tidak ada muslim yang tidak nasionalis”.

    Dalam membaca buku cerita saya memang lebih senang membaca suasana Indonesia seperti yang ada pada buku “Di Kampung”, Di dalam dan di luar kampung”, “Matahari Terbit” dibandingkan dengan membaca “Teman-temanku di Eropa”.

    Di tahun 1973 saya belajar di Universiteit van Amsterdam. Tahun 1974 ada World Cup. Ketika ada pertandingan yang melibatkan kesebelasan Australia melawan suatu kesebelasan tangguh, saya menjagoi Australia. Teman saya orang Belanda menertawai saya sambil berkata: “Menjagoi koq kesebelasan underdog”. Saya jadi sadar bahwa menjagoi itu ya harus yang nalar, harusnya menjagoi kesebelasan yang tangguh.

    Saya menjadi mengerti alam pikiran saya, saya menjagoi Australia oleh karena Australia lebih dekat dengan tanah air Indonesia.

    Perasaan untuk memihak sering didasari pikiran yang tidak nalar. Perasaan nasionalis ataupun humanis tidak boleh dibiarkan bebas tanpa didasari penalaran yang benar.

    Salam
    RDD

  2. Saya kok sependapat dengan tulisannya ibu Megawangi ini, Nasionalisme itu jangan diartikan sempit. Kalau kita bersikap demikian, negara kita tidak akan maju-maju. Terus lari ditempat. Kesalahan anak bangsa ditutup-tutupi, karena nasionaisme tinggi. Itu tidak betul.

    Karena dengan demikian kita tidak akan bebas dari pemimpin2 yang korup, yang bodoh, yang malas dan lain sebagainya. Sekedar demi yang dikatakan nasionalisme.
    Selain itu nasionalisme bisa berubah-rubah juga. Melihat Amerika Serikat yang merupakan negara federal. Orang Alaska akan dianggap Nasionalis kalau membela Alaska atau USA?

    Coba dibandingkan lagi Uni Eropa sekarang dan Negara Belanda dulu. Orang Belanda kan dikatakan nasionalis kalau membela Negeri Belanda atau membela Eropa? Padahal kepentingan Belanda dan Eropa belum tentu sama. Pasti pada suatu saat ada benturan2. Nah kalau begitu yang dikatakan nasionalis bagi orang Belanda itu yang kaya apa? Saya boleh saja keliru, namun kita memang harus lebih berpikir terbuka dan humanis.

    FBK.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s