RDC mengenai Wanita

Wanita Penggoda? Atau Laki-Laki in Denial?
oleh: Eko Raharjo

.

Kaum laki-laki mesti bersyukur bahwa wanita adalah mahluk penggoda, sebab ini berarti kaum laki-laki punya kesempatan untuk menikah dengan sesama manusia. Andaikata wanita adalah mahluk yang acuh tak acuh, yang tak perduli sama sekali dengan kaum laki-laki, kemungkinannya banyak kaum laki-laki yang menikah dengan daun pintu (hanya karena daun pintu punya lubang kunci). Lebih buruk lagi kalau laki-laki keliru menikah dengan species lain sehingga berakibat bangsa manusia di masa depan serupa mahluk dengan kepala manusia dan tubuh kuda, dan tidak lagi disebut sebagai Homo Sapiensis melainkan Homo Aswo-tomiensis.

Banyak kaum laki-laki yang tidak menyadari hakekat dirinya, bahwa mereka sesungguhnya adalah mahluk wanita “on drug”, yakni testosteron. Stimulasi hormon testosteron yang terjadi sejak masih dalam kandungan ini membuat clitoris yang mungil menjadi menonjol besar serupa phallus dan disebut penis; lubang vagina menjadi menutup, labia minora berubah menjadi pelapis batang zakar dan labia mayora menjadi bungkus scrotum. Tentu saja ini bukan suatu hal yang buruk. Sebaliknya ini membuat kelamin laki-laki dan wanita merupakan suatu pasangan yang serasi yang tersimbolkan dalam pertemuan antara Lingga dan Yoni yang menghasilkan ramuan kehidupan.

Lebih lanjut, proses maskulinisasi oleh testosteron ini tidak cuma terjadi pada alat kelamin saja, melainkan juga pada otak. Oleh karena itu otak laki-laki juga tidak sama dengan otak wanita. Ego laki-laki umumnya jauh lebih besar dan menonjol dari wanita. Laki-laki akan berbuat apa saja untuk menjaga gengsinya. Laki-laki menciptakan ide yang besar-besar. Laki-laki tergila-gila dengan kekuasaan. Laki-laki miskin empati. Laki-laki suka berperang dan saling membunuh. Laki-laki tak kenal belas kasihan. Laki-laki melakukan genocide, pembunuhan massal. Laki-laki menghendaki drama yang berdarah. Laki-laki tega menghukum ibu sendiri.

Hasrat seksual kaum laki-laki itu sudah inherent ada di otak mereka. Oleh karena itu, rangsangan dari luar seperti melihat gambar porno ataupun tubuh wanita yang berpakaian sexy tidaklah mutlak diperlukan. Seorang laki-laki yang berada dalam kamar mandi seorang diri, yang cuma ditemani oleh coro dan kecoak, pun bisa bangkit hasrat seksualnya. Dengan kata lain, tidak ada pihak lain yang bertanggung jawab terhadap bangkitnya hasrat seksual laki-laki selain dirinya sendiri. UU Pornografi yang disetujui oleh DPR mencerminkan kerancuan pemahaman wakil rakyat terhadap seksualitas bangsa manusia. Menyetujui UU ini sama artinya dengan membodohi dan menipu diri sendiri.

Pejantan pada species binatang juga punya hasrat seksual yang kuat, namun cuma muncul pada masa kawin saja. Misalnya mating season untuk Elk (sejenis kijang di Kanada) adalah pada bulan September-November. Pada masa ini, para pejantan elk bertingkah laku galak dan mudah tersinggung. Anjing juga punya mating season (mongso mareng) dimana pada masa ini mereka bertingkah laku aneh, seperti kawin di depan umum dan menjadi tontonan anak-anak kampung. Namun di luar mating season, anjing adalah mahluk yang sweet and adorable, men’s best friend. Kaum pejantan bangsa manusia tidaklah begitu, mereka tidak mengenal lagi mongso mareng, mating season. Hasrat seksual mereka ini tak ada batasan waktu, bisa muncul kapan saja, dari Januari sampai Desember, dari Suro sampai Besar, dari Senin Kliwon sampai Minggu Wage, dan dari Subuh sampai Subuh. Laki-laki merupakan mahluk hidup yang in the mode of mating season all the time.

Jika kaum laki-laki adalah mahluk yang tumbuh oleh pengaruh testosteron, kaum wanita adalah Jalmo Manungso by default. Janin wanita tidak terangsang oleh drug (testosteron) sehingga wanita lahir dengan clitoris yang tetap kecil dengan vagina tetap terbuka sebagai passage bagi kelahiran generasi baru. Uterus wanita tetap berfungsi sebagai gua garba, tempat pengeram ideal untuk pertumbuhan bayi manusia. Otak kaum wanita tidak pula terekspose oleh testosteron. Oleh karena itu, mereka punya pemikiran dan cita-cita kehidupan yang berbeda dengan kaum laki-laki. Ketika anak laki-laki bermain perang-perangan dengan senapan, atau sedang asyik menyiksa, memreteli tubuh capung atau semut, anak wanita pada bermain dengan boneka memerankan suatu kehidupan keluarga yang bahagia, dimana semua anggota saling peduli dan menyayang satu sama lain, dengan kucing dan anjing piaraan, dan rumah yang dihias dengan bunga-bunga.

Ketika pubertas datang, otak dan genital laki-laki kembali dibanjiri oleh testosteron. Ini membuat mereka bagaikan warriors dengan senapan yang senantiasa terkokang yang sewaktu-waktu bisa melibas siapa dan apa saja asalkan punya lobang atau menyerupai lobang. Luckily, Haleluyah, Alhamdulilah, ada mahluk hidup yang disebut wanita, yang adalah species manusia juga, yang merupakan ’empu’ dalam hal berumah tangga, yang ahli dalam hal merawat dan mendidik anak, sehingga hasrat dan syahwat laki-laki ini menjadi tersucikan dan terhormat. Seandainya di dunia ini tak ada wanita-wanita yang sangat attractive yang bisa diajak dating, nonton bioskop, makan malam di warung sate Samirono, dan berakhir di pelaminan sebagai istri dan ibu dari anak-anak, maka yang ada didunia ini hanyalah pemandangan yang pathetic, seperti anak-anak asrama mhs Realino yang terpuruk di kamar mandi dan menyesali “oh God, what have I done…? hari ini aku sudah masturbasi dua kali… kendati menu yang disuguhkan di refter asrama cuma tempe….”

Adalah memprihatinkan setelah ratusan ribu tahun tinggal di bumi, mahluk manusia masih saja melakukan denial terhadap hasrat seksual mereka. Kaum Adam masih saja suka menyalahkan kaum Hawa atas kegagalan mereka dalam mengkontrol syahwat mereka, kendati mereka sendiri, secara pribadi, secara berulang-ulang, mengalami kebangkitan syahwat dalam situasi seperti rapat Senat Mahasiswa, di rapat pleno DPR, dalam acara pengajian, Bibel Study, Retreat Rohani, dst, yakni situasi yang tak ada hubungannya dengan dandanan sexy kaum wanita atau bioskop, DVD, Internet Porno. Kasus pedofilia di pondok-pondok Pesantren, di Vihara Budha, dan yang paling memuakkan yang terjadi di Keuskupan Boston yang memakan korban ratusan anak-anak, dimana ada seorang clergy Katolik yang memangsa sampai 40 anak lebih yang kebanyakan adalah para Putra Altar juga tidak melibatkan sedikit pun dengan rangsangan seksualitas wanita atau Pornografi dari bioskop atau internet. Kasus Syekh Puji, yakni Kyai dari Ambarawa yang secara despicable memangsa anak-anak adalah contoh khas dimana kaum laki-laki melakukan denial terhadap masalah kontrol seksual mereka dan yang secara picik menutupinya dengan otoritas agama.

.

Sapientia et Virtus
Eko Raharjo’78

.

.

Tanggapan dr. R. Darmanto Djojohadibroto

.

Sangat menarik uraian mas Eko Raharjo tentang telaah kehidupan seks, saya menyokong kebenaran uraiannya. Setelah membacanya timbul niat saya untuk menyampaikan pengalaman saya pribadi dalam mendapatkan pendidikan seks dan bagaimana seharusnya seorang laki-laki berperilaku. Arahan yang sangat menentukan adalah arahan yang saya dapat di kepanduan sesuai dengan  petunjuk Baden-Powell (BP).

Inilah petunjuk dari BP pada bukunya Scouting for Boys (buku untuk pandu-pandu yang berumur antara 12-17 tahun):

  • Kehidupan seks manusia tidak sama dengan kehidupan seks hewan yang tidak memerlukan pendidikan, pada hewan tidak dikenal hubungan seks abnormal.
  • Hubungan heteroseksual yang tidak sehat adalah hubungan heteroseksual yang tidak dalam ikatan suami-isteri, free-sex dan perzinahan.

.

Cara Baden-Powell memberikan pendidikan seks:

  • Mula-mula saya (BP) ceritakan bagaimana tumbuh-tumbuhan, ikan dan binatang berkembang biak. Lalu cerita di bawah ini saya ceritakan pada anak-anak. Cerita ini menarik mereka seperti telah menarik saya waktu saya dengar pertamakalinya.
  • BP menceritakan bahwa dalam masing-masing anak laki-laki tumbuh benih yang akan menjadi anaknya. Benih itu diturunkan dari nenek-moyang kepadanya. Nenek-moyang menerimanya dari Tuhan. Kewajiban seorang anak ialah menjaga benih itu hingga ia kawin dan menyerahkannya kepada isterinya untuk dipertumbuhkan. Atas kehormatannya ia tidak boleh lupa akan kewajiban ini dan membuang-buang benih ini sebelumnya.
  • Akan ada godaan-godaan dalam bermacam bentuk yang menganjurkan anak berbuat demikian atau demikian, tetapi bagaimanapun juga ia harus kuat melawan godaan-godaan tadi.

.

Kemudian BP memberikan nasehatnya:

  • Jangan membuang-buang waktumu dengan seorang anak gadis yang sekiranya tidak menyenangkan ibumu atau saudaramu perempuan, kalau mereka melihat kamu dengan gadis itu.
  • Janganlah bercinta-cintaan dengan seorang gadis manapun, kecuali kalau maksudmu hendak mengawininya.
  • Janganlah mengawini seorang gadis, kecuali kalau kamu sanggup mencarikan nafkah baginya dan beberapa anak.

Waktu saya berusia belasan tahun, godaan-godaan yang saya temui tidak sebanyak godaan-godaan yang ditemui remaja sekarang ini. Bagian terbesar dari godaan ini disebarkan oleh media komunikasi. Adalah kewajiban orang dewasa untuk melindungi para remaja dari godaan. Salah satu upaya melawan godaan adalah Undang-undang pornografi yang diarahkan kepada media komunikasi. Adat-istiadat dan kebudayaan daerah bukan godaan sehingga tidak menjadi tujuan undang-undang pornografi.

Sayang sekali cara-cara BP mendidik remaja pernah tidak disukai oleh Pemerintah RI. Kepanduan dibubarkan, BP dianggap sebagai seorang pedofili. Dasar-dasar pendidikan kepanduan bertumpu kepada kehormatan pribadi anak. Ditekankan agar anak selalu menjaga kehormatannya.

Cobalah renungkan cara pendidikan ini (benar tidaknya) dengan membayangkan masa remaja kita, bukankah kita semua pernah mengalami usia remaja.

.

Salam
RDD

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s