Selasa Kapindo

Dari Buletin Kabar No. 3 Th. 1, Nov. 1991 dapat kita simak, bahwa pada awal-awal berdirinya Forsino, para alumni cukup rajin mengadakan pertemuan bulanan yang diberi nama “Selasa Kapindo.” Notulensi berikut ini mungkin bisa membangkitkan kembali semangat untuk mengaktifkan lagi pertemuan-pertemuan rutin/insidentil di daerah masing-masing.
.

Rapat rutin Forsino pasca reuni telah berlangsung dengan sukses sebanyak 6 kali. Sejak rapat yang pertama tanggal 14 Mei 1991 sampai yang terakhir tanggal 8 Oktober 1991, Forsino masih tetap tegar melaksanakan mission yang telah kita sepakati bersama waktu reuni dulu. Mudah-mudahan berkat doa kita bersama, Forsino akan selalu “MAJU TERUS – PANTANG MUNDUR – RAWE-RAWE RANTAS, MALANG-MALANG PUTUNG”. (Kalau ada lampu merah, ya berhenti to, mas. Nanti kena tilang! Red).

.

Rapat Agustus

Cukup meriah rapat tanggal 13 Agustus 1991, karena bertepatan dengan terbitnya KABAR nomor khusus, yang secara lengkap menyajikan laporan tentang Malam Penutupan Asrama dan Penurunan Bendera Realino yang berlangsung di Gejayan, Yogya, 30 Juni 1991.

Dua orang sesepuh kita, masing-masing Mas Sudharmono “Sangkil” dan Mas A.Y. Rajino, yang sudah agak lama tidak pernah muncul karena kesibukan masing-masing, terlebih-lebih Mas Rajino yang bermukim di Bogor, ternyata malam itu muncul dengan wajah cukup cerah.

Suasana gembira itu bertambah semarak lagi dengan munculnya wajah-wajah “langka”, seperti Mas Ferry Widagda, Mas Oratmangun, Mas Made Suartha yang malam itu rupanya lagi mendapat angin baik. Wajah-wajah lama rasanya tidak perlu disebut lagi, karena mereka memang pendukung setia “Rapat Selasa Kapindo” di Jl. Gunung Sahari III/7. Karena peserta “mbludag”, maka boss “Bina Swadaya”, Mas Bambang Ismawan, meminjamkan ruang yang lebih besar. Tengkiyu, boss!

Seperti biasa “Ayatollah” Mas Sismadi memimpin rapat dengan semangat tinggi. Selesai mengucapkan salam “Sapientia” plus sedikit basa-basi ala Realino, dia langsung mengimbau rapat agar menunda dulu pembicaraan tentang dua masalah sampai waktu yang akan ditentukan kemudian: masalah konsep anggaran dasar dan susunan pengurus Forsino. Setujuuuuuuuu!!!!!!

Untuk pertama kalinya rapat rutin dihadiri anggota dari Forsino Cabang Yogyakarta, Mas Blasius Agus T. (’88). (Datang jauh-jauh dari Yogya, pasti ada udang galah raksasa ngumpet di balik kerikil kecil. Red.). Benar saja! Kawan-kawan dari Yogya punya rencana, tetapi modal tidak ada. Rencananya adalah menggelar suatu pameran busana dan malam musik. Komersial sifatnya. Artinya: cari untung. Modal yang diperlukan Rp. 2 juta.

Bicara soal fulus, Mas Sis seperti tersentak. Ingat bahwa kas Forsino sudah waktunya diisi lagi. Dengan gaya seorang “jeksa” (ajek meksa – selalu memaksa), ia mendesak agar para anggota membayar iuran sekaligus Rp. 50 ribu untuk jangka waktu satu tahun. Seperti disihir, semua hadirin mencapai mufakat. (Mungkin benar juga ucapan Mas Pardjono, bahwa “sapientia” itu berasal dari kata Jawa “sapi”, binatang yang penurut, dan “virtus” berasal dari kata Latin “vir”, yang berarti “orang laki-laki”, makhluk yang pintar ngibuli lawan jenisnya. Jadi, seorang anggota Forsino di dalam forum-forum terbuka selalu “monat-manut” saja, tetapi di rumah untuk mencapai tujuannya, ia harus pandai-pandai membujuk isteri. Red.).

Suasana “potus” terulang kembali. Sambil ngopi dan makan lemper bergemalah suara pro-kontra mengenai provek kawan-kawan dari Yogya. Akhirnya suara pro yang menang. Dibentuklah tim khusus dengan project officernya Alas Yan. Tugasnya mengkalkulasi untung ruginya dan harus sudah slap melaporkan hasilnya dalam rapat “Selasa kapindo” bulan September.

(Namun sebelum itu rencana Yogya itu sudah ditorpedo oleh Mas Ferry Widagda. Alasannya: Pusat Forsino ada di Jakarta, jadi Yogya tidak boleh “ngendas-endasi” atau mendahului. Lagi pula titik berat kegiatan Forsino terletak pada bidang studi, bukan seni. Jadi gebrakan pertama harus berupa seminar, bukan pameran busana).

Dan terbentuklah tim seminar yang diketuai oleh Mas Ferry Widagda, dibantu oleh Mas Oratmangun. Diperbincangkan pula thema seminar yang sekiranya tepat. Mas Bambang Ismawan menyarankan soal pembangunan pedesaan. Mas Wisjnusudigbio, Mas Made Suartha dan Mas Steve menyinggung masalah yang berkaitan dengan kesehatan. Mas Titus Kurniadi pandangannya agak Realino sentris. Ia mengusulkan supaya topik seminar difokuskan pada keberhasilan Realino dalam menerapkan kebinekaan. Rapat menyerahkan segalanya kepada tim seminar.

Gagasan yang dikemukakan dalam rapat kemudian terasa agak menyengat. Mata sebagian peserta yang sudah memerah karena mengantuk — maklum sebagian meninggalkan rumah sejak pagi — melek lagi, ketika mereka mendengar usulan tentang sebuah “mega project” (untuk ukuran organisasi pemula semacam Forsino. Red.).

Boss Nusa Tours, Mas Steve Setiadji, menawarkan sebuah pulau berdanau (lagoon), terletak di kawasan Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, yang masih perawan. Menurut alas Steve, yang spesialis pariwisata itu, prospeknya cukup cerah. Modal pertama tidak besar. “Hanya” kira-kira setengah milyar rupiah. Jika dikelola secara profesional, wah…… nantinya Forsino tidak perlu repot-repot memikirkan cari dana ngalor-ngidul. Tahu beres!

Akhirnya semua oka-oke saja. Dan terbentuklah tint pariwisata yang diketuai oleh Mas Steve, dibantu oleh Mas Naryoko, Mas Adhiprabawa, Mas Djoko Sujono, Mas Made Suartha dan Mas Yan. (Mas Yan ini memang allround, kepakai di mana-mana. Sayang tidak ada honornya ya, Mas! Red.). Bulan September ditunggu hasil surveinya.

Setelah diiming-iming dengan “mega project”, terakhir peserta rapat mendapat “hidangan” lagi berupa proyek Bank Perkreditan Rakyat (BPR), yang disajikan oleh Mas Bambang Ismawan. Menurut Mas Bambang, sesuai dengan rencana pemerintah untuk menggalakkan “bank mindedness” di kalangan masyarakat pedesaan, maka proyek BPR cukup cerah masa depannya dan tidak memerlukan modal besar. Cukup sekitar Rp. 100 juta saja pada awalnya.

Tidak lupa diungkapkannya pengalaman LSM Bina Swadaya yang sudah mengelola BPR di beberapa tempat dan ternyata berhasil. Jika sekiranya Forsino berminat, Bina Swadaya bersedia membantu menunjukkan tempat-tempat yang sekiranya menguntungkan, seperti misalnya di beberapa desa di daerah Lampung.

Ibarat ikan yang lagi kelaparan, maka secepat kilat mereka langsung menyambar umpan yang ditebar Mas Bambang. Dan tanpa banyak komentar disetujuilah usulan itu secara aklamasi dan ditunjuklah Mas Rajino untuk memimpin tim BPR. Hasil laporan tim ditunggu pada rapat rutin bulan September.

.

Rapat September

Sebelum rapat dimulai, Mas Pardjono, yang absen pada rapat bulan Agustus karena bertugas ke Irian Jaya, muncul membawa “mijn bediende”nya (istilah Mas Pardjono sendiri lho! Red.). Mungkin karena takut pulang sendiri sehabis mengantar Mas Pardjono ke dokter, terpaksalah mBak Atiek Soepardjono — si “mijn bediende” tadi — ikut menghadiri rapat Forsino sebagai “peninjau”. Ibu-ibu lain boleh tanya kepada mBak Atiek mengenai segala tingkahpolah para peserta rapat “Selasa kapindo” itu. Atau kapankapan ikut hadir saja dong!

Kejutan terjadi. Anggota tertua Forsino petang itu hadir. Beliau tidak lain adalah Rama Stolk yang kini sudah hijrah ke Jakarta, tinggal di Jl. Bangunan Barat 10, Kampung Ambon, Jakarta Timur. Dengan demikian sekarang dalam rapat-rapat rutin Mas Sismadi sudah tidak dapat lagi membanggakan diri sebagai anggota tertua.

Berbeda dengan rapat bulan Agustus yang hadirinnya mbludag, rapat rutin kali ini hanya dihadiri oleh sedikit anggota. Banyak yang absen. Malah tokoh-tokoh yang diharapkan akan menyampaikan laporan mereka juga tidak muncul, yakni Mas Rajino dari tim BPR dan Mas Ferry dari tim seminar. Juga Mas Sangkil, Mas Made dan Mas Oratmangun tidak tampak batang hidung mereka. Tetapi Mas Sukardi, yang sudah beberapa kali absen, tampak hadir dan bersemangat sekali dalam menyampaikan sumbangansumbangan pemikirannya.

Mas Yan sebagai ketua tim impresario melaporkan bahwa uang sebesar Rp. 1,2 juta akan segera dikirim ke Yogya. Menurut kalkulasinya, proyek itu menguntungkan. Langsung tembak saja! ‘ringgal tunggu laporan tentang kesiapan anggota tim dari Forsino Yogya.

Tim pariwisata muncul dengan laporan paling lengkap. Peta situasi pulau yang bakal digarap berukuran 100 x 50 cm2 digelar dihadapan hadirin. Mas Djoko memberikan penjelasan rinci, sementara ketua tim, Mas Steve, kelihatan manggut-manggut sambil mengulum senyum. Demikian juga anggota-anggota tim lainnya.

Sehubungan dengan absennya Mas Rajino maka laporan dari tim BPR terpaksa ditunda dulu. Memang tim ini kurang sekali peminatnya, sehingga Mas Rajino mungkin harus bekerja sendiri. Coba, kalau lokasi proyeknya di Jakarta atau di kota-kota besar lainnya……. wah!

Mengenai tim seminar Mas Marthin Sumual menyampaikan pesan dari Mas Ferry bahwa usahanya macet, tidak dapat diteruskan dan sekaligus ia menyerahkan kembali mandatnya kepada rapat.

Mas Sismadi dengan dibantu oleh Mas Bambang Ismawan terpaksa celingak-celinguk, mencari-cari siapa-siapa yang masih belum kebagian posisi di salah satu tim. Rupanya mereka menemukan dan sepakat menunjuk kelompok KABAR sebagai pelaksana tim seminar. Tentu saja KABAR siap menerima tugas sambil “merekrut” dan langsung mendaulat Mas Titus Kurniadi sebagai ketua tim. Rapat setuju.

.

Rapat Oktober

Mantan “menteri keuangan reuni”, Mas Bagio Wijanarko datang paling awal bersama Mas Djatmoko Hadi (’72) pada rapat “Selasa kapindo” Oktober. Dia juga didaulat untuk menjadi bendahara Forsino sambil menunggu terbentuknya pengurus yang beneran. Begitu muncul dia terus sibuk menagihi piutang-piutang dari para anggota, baik berupa iuran maupun iklan-iklan untuk A&SR yang belum pada dibayar. Lumayan juga hasilnya.

Dalam rapat tersebut Mas Bambang Ismawan mengumumkan bahwa rencana pertemuan di Lembah Pinus tanggal 12 Oktober ditunda sampai memperoleh tempat yang biayanya terjangkau oleh semua warga Forsino. (Teristimewa terjangkau oleh anggota-anggota “Kelompok Pemulung”, seperti Mas Pardjono, Mas Syukri, Mas Imam Santosa dan sebagainya. Red.). Tempat baru yang diincar adalah Wisma Kinasih, kepunyaan Pak Radius Prawiro, yang terletak di Caringin, Bogor. Acaranya tetap: sambil berekreasi membicarakan derap langkah Forsino selanjutnya.

Kemudian rapat berturut-turut mendengarkan laporan dari tim impresario dan tim pariwisata. Mas Yan melaporkan bahwa uang sejumlah Rp. 1,2 juta sudah dikirimkan ke Forsino Yogya. (Wah, kalau dibelikan soto Kadipiro bisa dapat sak blumbang itu. Red.). Kabar selanjutnya tentu menjadi tanggung jawab Mas Agus cs.

Tim pariwisata yang tampil sangat prima sudah siap dengan semacam “makalah” dalam bentuk buku. Judulnya: Blue Lagoon an Island Hide away. Di dalamnya terinci semua data-data lengkap mengenai proyek raksasa itu. Dan Mas Djoko Sujono akan menulis laporan khusus mengenai hal itu untuk KABAR nomor ini.

Ternyata Mas Rajino, penanggungjawab tim BPR, masih belum muncul juga dari Bogor. Terpaksa laporan tentang BPR ditunggu sampai pertemuan November ini.

Dengan nada suara berat yang cukup meyakinkan, ketua tim seminar, Mas Titus, tampil mempertanggungjawabkan hasil kerjanya. Sebelumnya oleh tim telah disepakati untuk mengangkat masalah “pajak warisan” yang pernah dilontarkan oleh bankir Mochtar Riadi (LIPPO) dalam suatu diskusi panel di Universitas Satya Wacana, Salatiga, beberapa waktu yang lalu, sebagai tema seminar.

Ternyata kontak dengan Mochtar Riadi tidak dapat dilakukan, walaupun Mas Bambang Ismawan sudah berusaha menghubunginya lewat fax. Begitu juga usaha mBak Atiek Soepardjono lewat salah seorang bekas muridnya, yang kini menjadi menantu bankir itu, gagal pula karena yang bersangkutan ternyata sedang berada di luar negeri. Akhirnya usaha mBak Atiek terputus juga, karena tanggal 22 September la harus berangkat ke Amerika Serikat, “mbediendeni” Mas Pardjono yang bertugas ke sana. (Bertugas atau melakukan “tari tempurung” alias “ngubengake bathok” seperti biasanya? Red.)

Selanjutnya Mas Titus sudah siap dengan topik lainnya yang menyangkut upaya tiap orang dalam “Menyongsong usia lanjut”. Rapat menyetujui tema ini dan dengan suara bulat menyetujui penambahan anggota tim dengan Mas Adhiprabowo, Mas Yan (lagi-lagi Mas Yan! Untung pro Deo! Red.) dan seorang pendatang baru, Mas F. Suseno (’56). Pengalaman Mas Suseno sebagai sekjen GAIKINDO sekarang ini diharapkan akan memperlancar gerak langkah tim selanjutnya, yang merencanakan seminar itu sekitar akhir November mendatang. Menurut Mas Suseno, ia datang ke Gunung Sahari, karena “diculik” oleh Mas Tjahjono.

Sebelum rapat usai, dicapai kesepakatan bahwa KABAR nomor berikutnya akan terbit awal November. Insya Allah!

Iklan

One Reply to “Selasa Kapindo”

  1. sapientia et virtus

    sebenarnya banyak alumni realino yang berada di jakarta tapi mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing bagaimana kalau kita kumpul-kumpul atau reuni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s