Rintik hujan pun membasahi bumi Realino

“Sentimental Journey”:
Oleh A.K. Syuhri Hadjat
.
Romo Stolk pesan wanti-wanti agar 60 buku “Apa & Siapa Realino” dibawa oleh rombongan “Sentimental journey” yang berangkat dari Jakarta Sabtu 29 Juni dengan KA Fajar Utama. Ini semacam instruksi yang diterima oleh asisten editor Bung Susapto dari Mas Bambang Ismawan yang waktu itu lagi berseminar di Kaliurang (dengan embah-embah penjual pecel di Telaga Puteri atau mas-mas penjual sate di Telaga Nirmala? Di Kaliurang waktu itu tidak ada satu seminar pun! Red.).

Sebenarnya dalam soal buku ini tidak ada kesulitan, karena pihak percetakan sudah menjanjikan 500 buah buku pasti siap hari Jumat 28 Juni. Yang menjadi persoalan: berapa buah buku mesti kami bawa ke Yogya? Karena kami tidak tahu persis berapa orang yang kira-kira akan bersedia datang bersusah payah, hanya sekedar untuk menyaksikan upacara penurunan Bendera Pusaka Realino, yang sudah berumur hampir 40 tahun itu.

Karena waktu sudah begitu mendesak, sedangkan persiapan sudah harus dimulai (mengepak, membawa dari percetakan di Cijantung yang jalannya selalu macet dan sebagainya), maka saya memutuskan untuk membawa tambahan 100 buku lagi. Jadi total menjadi 160 buku yang harus diangkut ke Gejayan. Saya membayangkan, bagaimana kalau barang dagangan itu tidak laku terjual di Yogya nanti. Mesti diangkut kembali ke Jakarta lagi! Apa boleh buat.
.

Apalah artinya Rp. 100 ribu

Seratus enam puluh buku itu saya bagi menjadi 8 pak. Masing-masing berisi 20 buku. Cukup lumayan juga beratnya. Di Setasiun Gambir ke-8 bungkus itu saya bagi-bagi kepada teman-teman seperjalanan. Mereka menerima dengan rela, bahkan ada yang berebut. Kecuali Mas Imam Santosa bisa berkelit, mengelak. Mungkin sebagai mantan wartawan — tukang ngapusi — ia sudah mencium akal bulus saya. Sedangkan Mas Pieter Hutahaean (‘S9), Mas Naryoko (’62) dan Mas Tjipto Sumarjanto (’64) beruntung tidak kebagian jatah.

Akhirnya sesudah semua duduk santai di gerbong eksekutif yang ber-AC, segera saya umumkan bahwa setiap jinjingan bernilai Rp. 100 ribu. “Kalau hilang atau rusak menjadi tanggung jawab pembawanya,” kata saya tegas.

Mas Wurjanto (52), Mas Tjahjono (53), Mas Adhi Prabawa (69) dan Mas Yan (74) yang duduk mengelompok saling berhadapan, nampak tersenyum-senyum. Mungkin sadar bahwa mereka sudah kena jebak. Begitu juga Mas Made Suartha (73) dan Mas Djoko Sujono (73) yang juga kebagian jinjingan. Mereka juga tersenyum-senyum. Tapi apalah artinya seratus ribu perak bagi mereka! Kecil, kecil sekali!
.

Di gerbong mana pun jadi

kaMas Tjipto Sumarjanto betul-betul orang yang pantang mundur. la sekeluarga datang di Setasiun Gambir belum mempunyai karcis, sedangkan keberangkatan kereta api tinggal 30 menit lagi. Padahal waktu itu kebetulan lagi liburan sekolah. Penumpang membludag. Pesanan tempat sudah habis beberapa hari sebelumnya.

Saya betul-betul bangga melihat semangat Mas Tjipto sekeluarga untuk menyaksikan akhir pengabdian Realino yang tinggal beberapa saat lagi. Akhirnya mereka berhasil memperoleh karcis lewat calo. Entah dengan harga berapa. Tempat duduk mereka pun terpencar-pencar di beberapa gerbong. Puteri remajanya, mBak Bintang Binawati, masih beruntung. Mendapat tempat di gerbong eksekutif, berdekatan dengan Oom Hutahaean.
.

Bernostalgia naik andong

Ketika keluar dari Setasiun Tugu, kami tidak menduga sama sekali bahwa Mas J.B. Soepardjono (56) dan Mas P.C. Surjanto “Nagur” (56) datang menjemput dengan satu minibus. Selintas terasa keharuan di hati karena masih ada teman yang begitu setia menunggu kedatangan kami. (Mas Surjanto sudah 3 hari turun dari pertapaannya di lereng Gunung Telomoyo dan berada di Yogya khusus untuk melepas kangen dengan teman-teman seasrama. Kalau Mas Pardjono sih sudah biasa “ngetem” cari penumpang. Kan kantornya di Wisma Antara dekat Setasiun Gambir. Red.)

Sesaat kemudian terdengar panggilan dari Bagian Penerangan setasiun bahwa Mas Imam Santosa ditunggu petugas “Jiwa Sraya” Yogyakarta. Rupanya Sang Boss di Jakarta, Mas Marthin Sumual (’56), sudah mengontak anak buahnya supaya rombongan “Sentimental Journey” dijemput. (laporan untuk Mas Marthin: mobil Kijang “Jiwa Sraya” Yogya kalau dilepas koplingnya mesti “ndredeg” kaya orang buyuten. Mbok cepat diganti to, Mas! Target Yogya tahun lalu kan tercapai dan “prospek” juga cukup banyak di sana! Ah, sok tahu saja KABAR ini, ya! Ada yang bekas PDL kok Mas Dirsar! Red.)

Tadinya Mas Marthin memang terdaftar sebagai peserta “SJ”, tetapi berhubung tanggal 30 Juni itu bertepatan dengan kedatangan permaisuri Mas Marthin dari menunaikan ibadah haji, terpaksa dengan berat hati ia membatalkan rencananya kumpul-kumpul di Gejayan.

Akhirnya sebagian besar rombongan terangkut, walaupun berdesak-desakan, dalam 2 minibus. Beberapa orang terpaksa cari jalan sendiri. Mas Tjipto sekeluarga memilih naik taksi. Mas Wurianto. Mas Tjahjono dan Mas Adhi Prabawa bernostalgia nark andong ke Gejayan. Rp. 5.000,- ongkosnya! (rencana penjemputannya sih sebenarnya sudah diatur rapi. Mas Senthir berjanji mau ikut menjemput di Setasiun Tugu dengan kendaraannya. Tetapi sampai saat rambongan yang harus dijemput tiba, Mas Senthir belum juga kelihatan batang hidungnya. Nongol-nongai sudah jam 20.00 di Gejayan. Tahu begitu, Mas Pardjono kan dapat meminjam kendaraan lain. Dalam hal meminjam-minjam dan meminta-minta, kapan saja dan di mana saja, ia selalu berhasil, karena memang itu spesialisasinya. Apalagi ia selalu mengantongi “kartu per(e)s”, senjata ampuh untuk pekerjaan semacam itu. Red.).
.

Wah, Realino lagi semrawut

Mereka yang sudah puluhan tahun tidak mampir ke Realino seperti saya, pasti akan terperangah. Realino yang dulu melegakan, menyegarkan dan menggiurkan……. sekarang, waduuuh sumpeknya.

Sepanjang tepi Jalan Gejayan sudah penuh dengan bangunan, sampai jauh ke utara. Tanah yang dulunya terbentang luas di depan asrama kini sudah jadi kompleks IKIP Negeri. Di sebelah lapangan bola di belakang asrama sudah berdiri Kampus Sanata Dharma. Mrican sekarang memang sudah menjadi kota satelit baru.

Ketika Romo Stolk muncul, ia masih mengenakan jas kamar. Tumpukan kotak dan barang-barang tergeletak tanpa aturan di pintu gerbang tengah, di samping refter selatan. Baik refter selatan maupun refter utara kini sudah berubah fungsi menjadi ruang pertemuan.

Di lapangan basket terlihat alat-alat elektronik seperti pengeras suara, lampu sorot dan lain-lainnya tengah dipersiapkan oleh para calon alumni Realino (mahasiswa penghuni asrama terakhir). Sederetan meja makan juga sudah dipersiapkan untuk jamuan makan malam. Memang Realino lagi semrawut, lebih-lebih persiapan mahasiswa untuk boyong ke pemondokan baru mereka sudah dimulai sejak beberapa hari sebelumnya.

Namun dengan hati yang lapang Romo Stolk sudi mengantar kami menuju tempat menginap di sebelah timur Blok I, yang dulu digunakan sebagai ruang kuliah Sanata Dharma. Sekarang gedung itu sudah dihubungkan langsung dengan Blok I, sejak dibukanya dinding penyekat di samping tempat cuci pakaian.
.

Tanpa seprei, tanpa sarung bantal….. OK

Satu-satunya alumnus yang menginap di Realino bersama sekeluarga Iengkap hanyalah Mas Sutjipto Sumarjanto. Mas Tjipto bersama isterinya, mBak Umi Respati, 2 orang puterinya, Wisjnu Bintang Binawati dan Nike Kurniasari, serta seorang putranya -Indra Bagas Sukma- berkumpul dalam satu kama: besar dengan tiga buah tempat tidur susun.

Petang itu mbak Tjipto terpaksa buru-buru ke toko untuk membeli seprei dan sarung bantal, karena yang tersedia hanya kasur dan bantal    tanpa seprei dan sarung. Namun wajah-wajah yang rerpancar dari seluruh keluarga ini sangat meyakinkan bahwa mereka semuanya berbahagia.

Putra-putri mas Tjipto tampak segera akrab dengan Para mahasiswa karena mereka sebaya. sehingga dengan demikian aliran persaudaraan sesama alumni Realino dapat berlangsung terus hingga generasi berikutnya.
.

Sandal sebagai tanda dilarang masuk

Saya sekamar dengan Mas Tjahjono “Jack Palance” Wibisono. Mas Djoko Sujono, Mas Yan dan Mas Wisjnusudigbio mendapat satu kamar, persis di depan kamar kami. Sedangkan Mas Made Suartha dan Mas Adhi Prabawa memilih kamar mereka dulu di Blok I.

Para alumni dari Sala menempati kamar di sebelah kiri kamar Mas Tjipto. Pagi-pagi mereka menemui saya untuk membeli buku “Apa & Siapa Realino” sebanyak lima buah. Cash and carry!

Kamar mandi ada dua buah. Satu di depan dan satu lagi di bagian paling belakang, menghadap lapangan bola. Kedua kamar mandi itu masing-masing punya kelemahan. Yang di depan jauh letaknya dari kamar tidur. Sedangkan yang di belakang, memang agak dekat, tetapi pintunya tidak ada kuncinya. Ya, apa boleh buat! Taruh saja sandal di depan pintu, sebagai tanda bahwa di dalam lagi ada orang. Sungguh, suatu nostalgia yang amat mengesankan.
.

Kisah kasih

jam 19.00 acara ramah tamah dimulai. Hadirin dijamu dengan hidangan kambing guling yang lezat. Tikar-tikar terhampar menutupi lapangan basket dan semua duduk lesehan, melepas rindu.

Para alumni dari berbagai kota muncul satu per satu. Saya menegur Mas Hartojo (Prof. Dr. Ir. Suhartojo), yang rupanya sudah pangling dengan saya. Padahal dia termasuk “kawula selatan” yang waktu makan pagi selalu saya incar, karena sambal yang dibawanya dari mudik rasanya sedap sekali. Dan dia selalu membangga-banggakan pacarnya…… Martha.

Malam itu dengan setengah berbisik, saya tanyakan bagaimana kelanjutannya dengan Martha. Wah, saya langsung diperkenalkan dengan isterinya. Ini lho, isteri saya…. Martha, katanya. Astaga, saya begitu kaget dan malu. Karena saya betul-betul pangling dengan mBak Martha. (memang, hampir semua yang kenal mBak Martha tiga dekade yang lalu juga pangling. Dulu cantik kok! Sekarang kok jadi…. cantik sekali! Punya uang kecil Mas Hartojo? Red.). Memang mereka pasangan yang ideal sejak masih pacaran dulu.

Dalam sekejap isteri saya sudah akrab ngobrol dengan mBak Martha. Rupanya mBak Martha ingat kenangan lama dan berkisah tentang bagaimana ia berpacaran dengan Mas Hartojo: ke mana-mana pakai sepeda butut yang akhirnya digondol maling. Memang kenangan manis tak akan pernah terlupakan. la akan selalu muncul kembali, laksana pelangi di kala bumi sehabis tersiram hujan.

.

Pantas jadi cucu

Malam itu suasana keharuan belum begitu terasa. Sebab puncak acara baru dilangsungkan besok malamnya jam 00.00. Karenanya jamuan makan malam berlangsung cukup meriah. Para mahasiswa muncul dengan segala tingkah-polahnya. Jika ada teman mereka yang membidikkan kamera, semuanya menyerbu bergerombol sambil berdesakan, disertai teriakan yang lucu-lucu.

Saya yakin semua yang hadir tentu ikut terpana dan trenyuh menyaksikan “atraksi” itu, yang mungkin 20 atau 30 tahun silam pernah mereka hayati. Makanya tepatlah apa yang dikatakan “sesepuh” Realino, Mas Sismadi (’52), yakni bahwa “dahulu kami juga seperti kamu sekalian. Tapi sekarang kalian semua pantas jadi anak-anak saya, bahkan mungkin cucu saya.”

Memang silsilah Realino telah berkembang demikian luasnya. Setiap angkatan mempunyai ciri-ciri khas tersendiri serta harkat dan martabat masing-masing. Pada zaman angkatan 50-an dan 60-an sama sekali belum dikenal video, komputer, laser disc dan lain sebagainya. Sedangkan bagi generasi sekarang, barang-barang semacam itu sudah merupakan mainan sehari-hari.

Oleh sebab itu, saya sangat menggaris bawahi apa yang dikemukakan oleh sesepuh lainnya, Mas Wurjanto (’52): “Biarkanlah tiap angkatan berkembang sesuai dengan “sikon” masing-masing dan Forum Studi Realino hanyalah sebagai wadah para alumni dan sebagai payung besar yang menaungi seluruh angkatan.”
.

Pak De Imam murus-murus

Menjelang jam sembilan Mas Im pamit mau mendahului kembali ke penginapan. Saya berusaha mencegahnya, karena acara sebentar lagi juga bubar. Tapi Mas Im sudah tidak bisa diajak kompromi. Soalnya dia kebanyakan makan sambel dan kambing guling…. jadi perutnya sudah mulai berontak.

Untung, penginapan tidak begitu jauh letaknya, tidak sampai satu kilo meter dari Realino. Nyaman lagi tempatnya. Namun selama dua malam di Mrican Mas Im terpaksa ikut repot juga, karena kedua putra saya, Avid dan Ismed, yang ikut rombongan ke Realino, numpang sekamar dengan Pak Denya, Pak De Imam. Terutama Avid, yang baru kali itu mengunjungi Jogya, keluyuran sendiri naik beca ke Malioboro dan baru pulang sekitar jam 02.00 dinihari. Wah, kalau ada apa-apa saya yang tanggung jawab, kata Pak De Imam.
.

Sakersanipun……

Sabtu malam itu acara hanya berupa Ramah tamah dan semua sibuk mempersiapkan acara pokok penutupan, sekaligus penurunan Bendera Pusaka Realino tepat jam 00.00, tanggal 1 Juli 1991.

Sambil duduk “ngariung”, Romo Stolk, Mas Sismadi, Mas Wurjanto, Mas Tjahjono, Mas Senthir yang datang dari Sala, Mas Pardjono, Mas Bambang dan adik-adik dari panitia berunding tentang acara besok malam.

Akhirnya dicapai kesepakatan bahwa acara harus disusun dan ditampilkan secara meriah untuk menjaga jangan sampai ada yang ketiduran di tikar karena bosan dan terlalu lama menunggu.

Menjelang bubar sekitar jam 23.00, Mas Bambang Ismawan diminta tampil untuk sekedar menyampaikan informasi mengenai kegiatan Forsino di Jakarta, terutama yang menyangkut terbitnya Berkala Keluarga KABAR (Keluarga Besar Realino), nama yang diusulkan oleh Mas A.Y. Rajino (’53) serta liku-liku terbitnya buku “Apa & Siapa Realino”.

Kira-kira jam 23.00 acara bubar. Tetapi para mahasiswa banyak yang begadang. Main catur, main kartu dan sebagainya. Saya bersama Mas Made Suartha, yang masing-masing bawa isteri, mengantar mereka ke Wisma LPP, numpang mobil Mas Pardjono bersama-sama dengan mBakyu Atiek Soepardjono dan Mas Surjanto “Nagur”, serta Mas Wurjanto yang kebetulan tidak menginap di asrama, tetapi di rumah almarhum mertuanya. (“Kandang macan” istilah Mas Pardjono kalau menyebut rumah mertuanya sendiri. Red.)

Demikianlah rangkaian perjalanan hidup ini yang tidak terlepas dari ketentuan Yang Maha Kuasa. Nyonya Tetty Suartha, yang keponakan Mas Imam Santoso dan tentu saja juga Mas Yoyok Ratam, ketemu jodoh orang Bali. Isteri saya, Dini Tedjaningrum yang dari Majalaya, Jawa Barat, kawin dengan orang Aceh. Namun kedua nyonya-nyonya itu yang baru ketemu sekali di Realino bisa menjadi akrab seperti dua orang kakak beradik. (Tetapi Mas Pardjono, yang sudah di”porkas” oleh semua orang tidak bakalan laku di Yogya, karena semua orang tua gadis Yogya waktu itu sudah tahu kendugalannya, berhasil juga mempersunting puteri Yogya asli, aktivis PMKRI dan pemain handal team volley putri GAMA tahun 60-an, Dra. Atiek Kadarjati. Pakai dukun mana ta, Mas? Red.).

Malam itu kami berdua kembali ke asrama. Yang seorang dari Bali dan satunya dari Aceh. Ketika beca kami sampai di depan asrama, Mas Made turun lebih dulu. “Pinthen, Mas?” tanyanya. “Sakersanipun, mangga…. !” jawab Mas Becak.

.

Tiga kali pindah tempat

Minggu sore saya dan Mas Tjahjono tertidur dengan nyenyak, setelah seharian keluar. Ma~, Tjahjono jalan-jalan ke Sala, sedangkan saya sekeluarga bergabung dengan Mas Made dan mBak Tettv naik minibus L-300 ke Borobudur dan Kaliurang. Mas Im minta didrop saja di kantor “Kedaulatan Rakyat”, ingin jumpa dengan kanca-kanca lamanya.

Di Borobudur Avid memaksa ingin naik pesawat ultra light, yang sebentar-sebentar membuat atraksi tanpa penumpang, melayang-layang di atas kompleks Borobudur. Rupanya banyak pengunjung yang …….. ngeper, sehingga para calo berteriak-teriak menggoda calon penumpang. Memang pilotnya cukup canggih membawa pesawatnya meliuk-liuk di udara.

Nasib sih memang di tangan Tuhan. Tapi jika kita sadar bahwa nasib itu ada kalanya bisa dikalkulasi untung ruginya, maka saya akhirnya sampai pada kesimpulan, bahwa naik pesawat ultra light lebih banyak rugi ketimbang untungnya. Bayangkan kalau lagi naas….. ya Wit, paling tidak cacat seumur hidup. Jika selamat bisa-bisa jadi “dumeh”, berkoar ke sana ke mari berlagak jagoan. Sebagai pimpinan rombongan, saya memutuskan….  No way, no compromise!

Ketika bangun Mas Tjahjono buru-buru ganti pakaian dan langsung pakai sepatu. Rupanya Misa untuk memuji syukur kepada Tuhan sudah dimulai dan dipimpin oleh Romo Stolk. Mas Bambang Ismawan yang terkenal disiplin, entah dari mana, tahu-tahu sudah berada di tengah-tengah pengikut Misa. Misa itu sendiri berlangsung unik, berpindah tempat sampai tiga kali. Pertama-tama di lapangan basket, kemudian di aula dan terakhir di halaman bekas Sanata Dharma di bawah naungan pohon beringin yang rindang (tidak ada hubungannya dengan kampanye menjelang Pemilu lho! Red.).

Kumandang azan dan gema nyanyian kudus Bertepatan dengan Azan Maghrib yang berkumandang dari masjid di sekitar Gejayan, saya langsung pergi berwudhu untuk kemudian shalat di kamar. Suara azan dan gema nyanyian kudus membaur di udara Realino, terdengar sayup-sayup dibawa angin.

Memang alam ini adalah satu kesatuan. Tuhan juga satu. Hanyalah jalan menuju yang Satu itu terdiri atas beberapa jalur. Maka adalah amat bijaksana jika masingmasing kita sama-sama menjaga jalur masing-masing agar terhindar dari senggolan dan tabrakan yang dapat merugikan.

Kebenaran yang mutlak juga hanya satu. Dan di jalur yang saya lalui sekarang, di situlah terpateri keyakinan saya untuk menemukan kebenaran itu. Sebagaimana juga terpaterinya keyakinan Mas Tjahjono, keyakinan Mas Bambang Ismawan dan keyakinan Romo Stolk, yang telah memilih jalur-jalur yang mereka yakini kebenarannya berdasarkan hati nurani beriman.

Oleh sebab itu amat pantang buat orang beriman untuk bersikap ragu-ragu atas keyakinannya. Jika memang telah yakin akan jalur kebenaran yang dilalui, ikutilah terus sampai ke tempat tujuan. Di sana nanti kebenaran yang hakiki itu pasti muncul.

Karenanya marilah kita saling mengucapkan salam “Damai di bumi”. Sebab di dunia ini kita semua adalah khalifah-khalifah (pemimpin) yang diserahi tanggung jawab untuk memelihara perdamaian dan kedamaian. Tentang damai di alam akhirat itu semata-mata hak Tuhan, hak Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui.

Di akhir shalat saya pun mengucapkan salam kepada seluruh alam dan penghuninya. Juga kepada asrama Realino yang saya cintai dan termasuk kepada semua sahabat di sini yang saya kasihi.
.

Air mata pun menitik tak tertahan

Malam itu adalah malam terakhir kami tidur di Realino. Sejak jam 19.00 para alumni sudah mulai berdatangan. Beberapa jam lagi, tepat puku100.00, Bendera Pusaka Realino akan diturunkan.

Kawan-kawan yang kemarin tidak kelihatan sekarang muncul satu per satu. Mas F.X. S. Har (’53) datang bersama isteri. Mereka datang di Yogya khusus untuk acara Realino, jauh dari pulau seberang di Rumbai, Pakanbaru. Mas Hardjo ini adalah pencipta bendera dan lambang Realino yang sebentar lagi akan diturunkan. Wajar apabila pada malam yang bersejarah itu dia turut langsung menatap bendera ciptaannya untuk terakhir kalinya.

Mas Handjilin (’55) hadir juga, meskipun masih dalam keadaan duka karena putranya, Sanjoyo Widyotomo, alumnus Realino juga (’88), meninggal dalam kecelakaan lalu lintas 19 Juni yang lalu. Almarhum yang hampir menyelesaikan studinya di Fakultas Tehnik UGM saat itu sedang mengikuti KKN di sekitar Prambanan. Alangkah tegarnya hati sahabat ini. Dia sanggup menghadapi kesedihan yang datang bertubi-tubi. Setelah kehilangan anak yang dikasihinya, kini akan kehilangan asrama yang dicintainya pula, tempat di mana ia dan putranya pernah bernaung untuk menuntut ilmu. Inna lillahi wa inna ilaihi ra-jiun!

Tepat jam 00.00 tanggal l Juli 1991 Bendera Pusaka Realino yang sudah berkibar hampir 40 tahun (1952-1991) akhirnya diturunkan perlahan-lahan. Romo Stolk tak kuasa menahan harunya. Air matanya menitik, membasahi bumi Realino, seiring turunnya rintik hujan yang juga ikut membasahinya.
.

Sampai jumpa….. Realino

Pagi-pagi sebelum meninggalkan Realino saya dan Mas Tjahjono berkeliling mengenangkan masa lalu. Di lapangan bola yang kini telah ditutup dengan pagar tembok, saya membayangkan masa 30 tahun silam. Di sinilah kami setiap minggu berlatih sepak bola dengan teman-teman. Terbayang wajah Sumarjanto, Wiyoko Munthalib, Louis Wangge yang ketiga-tiganya kini sudah tiada.

Apabila Blok I bertanding melawan Blok II, Herman Gadi Djou dan Tjuk Parwoto yang merupakan pemain anda? PS GAMA terpaksa kewalahan menghadapi gempurar. anak-anak Blok II yang dimotori oleh Sumarjanto, Oey Tiauw Hien, Tjahjono, Bambang Ismawan, Djandi Kaban. Wangge, Wiyoko, Suwarso, Oetoro, Syukr dar, lain-lainnya (kok banyak benar motornya? Red.)

Terbayang bagaimana Simbah Darto, Sujitno. Foyoh, Suseno, Sukaplan, Ostrika kocar-kacir digempur habis-habisan oleh anak-anak Blok II. Di bidang ini para “warga kelas satu” baru tahu diri. Baru setelah salah satu pemain top dari Jawa Timur, Atik Sugandi, masuk jadi warga Blok I anak-anak Blok I bisa sedikit menuunjukkan perlawanan. Namun sampai bongkok pun mereka tidak pernah bisa menang.

Semuanya kini tinggal kenangan. Kemudian kami kunjungi Blok II yang sudah terlepas dart orbitnva, karena dikontrak pihak lain. Saat itu renovasinya sudah hampir selesai. Saya minta izin masuk kepada Mas Tjokroprawiro yang menjaga gedung itu bersama isterinya. Ketika sampai d. atas, saya melihat suasananya masih tetap seperti dulu kala, tapi ketika saya mengintip dari jendela, karena pintunya terkunci, alangkah kaget saya! Mulai dari tangga sampai bagian depan semua kamar sudah diboboi jadi satu menjadi sebuah aula besar.

Ruang cuci pakaian di bawah sudah berubah menjadi kamar, sedangkan ruang kamar mandi yang besar sudah tidak ada lagi. Pintu masuk Blok II sudah ditutup tembok dan jalan masuknya kini dialihkan ke samping selatan, langsung ke tangga di samping bekas kamar Romo Willenborg.

Semogalah cita-cita untuk menghidupkan kembali asrama Realino tidak akan pernah padam, karena menurut Romo Stolk, Realino hanya ditutup untuk “sementara”.

Memang Realino tidak pernah hilang – ia cuma menghilang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s