Teh Celup on virtual RDC

Bermula dari posting Yudi Kroto, .. diskusi ala RDC bergulir di milis Forsino

.

Hati-hati dengan Teh Celup

Minumlah Teh, Bukan Klorin…
Sumber : milis Reader’s Digest

.

Anda gemar minum teh? Dan, sebagai manusia modern Anda tentu suka segala sesuatu yang praktis, kan? Nah, Anda tentu sering minum teh menggunakan teh celup. Selain karena suka rasa teh, mungkin Anda minum teh karena yakin akan berbagai khasiat teh. Misalnya, teh merah untuk relaksasi, teh hitam untuk pencernaan, atau teh hijau untuk melangsingkan tubuh. Namun, apa Anda terbiasa mencelupkan kantong teh celup berlama-lama?

Mungkin, pikir Anda, semakin lama kantong teh dicelupkan dalam air panas, makin banyak khasiat teh tertinggal dalam minuman teh… Padahal, yang terjadi justru sama sekali berbeda! Kandungan zat klorin di kantong kertas teh celup akan larut. Apalagi jika Anda mencelupkan kantong teh lebih dari 3 – 5 menit.

Klorin atau chlorine, zat kimia yang lazim digunakan dalam industri kertas. Fungsinya, disinfektan kertas, hingga kertas bebas dari bakteri pembusuk dan tahan lama. Selain itu, kertas dengan klorin memang tampak lebih bersih. Karena disinfektan, klorin dalam jumlah besar tentu berbahaya. Tak jauh beda dari racun serangga.

Banyak penelitian mencurigai kaitan antara asupan klorin dalam tubuh manusia dengan kemandulan pada pria, bayi lahir cacat, mental terbelakang, dan kanker. Buat yang pernah berkunjung ke pabrik kertas/pulp, mungkin tahu bahwa chlorine ini adalah senyawa kimia yang sangat jahat dengan lingkungan dan manusia, khususnya dapat menyerang syaraf dsb! Dari kejauhan pabrik mudah dilihat jika ada asap berwarna kuning yang mengepul dari pabrik, itu bukan asap biasa tapi chlorine gas.

Makanya industri ini mendapat serangan hebat dari LSM lingkungan karena hal di atas di samping juga masalah kehutanan. Kertas terbuat dari bubur pulp yang berwarna coklat tua kehitaman. Agar serat berwarna putih, diperlukan sejenis bahan pengelantang (sejenis rinso/baycline) senyawa chlorine yang kekuatan sangat keras sekali!

Kertas sama dengan kain, karena memiliki serat. Kalau anda mau uji bener apa tidaknya, silahkan coba nanti malam bawa tissue ke Studio East (diskotek) atau ke studio foto, lihatlah tissue akan mengeluarkan cahaya saat kena sinar ultraviolet dari lampu disco! Berarti masih mengandung chlorine tinggi. Kalau di negara maju, produk ini harus melakukan proses Neutralization dgn biaya cukup mahal agar terbebas dari chlorine dan dapet label kesehatan.

Tissue atau kertas makanan dari negera maju yang dapet label Depkesnya tidak bakalan mengeluarkan cahaya tsb saat kena UV. Kertas rokok samimawon, bahkan ada calsium carbonat agar daya bakarnya sama dengan tembakau dan akan terurai jadi CO saat dibakar. Di Indonesia tidak ada yang kontrol, jadi harap berhati-hati.

Saran:

Nah, mulai sekarang, jangan biarkan teh celup Anda tercelup lebih dari 5 menit. Atau, kembali ke cara yang sedikit repot, gunakan daun teh. Kembali minum teh tubruk ala kampung lagi! Pake saputangan ‘merah jambu’ lagi biar mesra! Merokok dengan daun atau cangklong lagi! atau for advance tinggalkan Rokok sama sekali Back to 60’s style….he. ..he…he

.

Minumlah Teh, Bukan Klorin…
Pls protect your families!

Iklan

10 Replies to “Teh Celup on virtual RDC”

  1. Mas dwi, saya check kualitas air minum di Calgary

    http://www.calgary.ca/docgallery/bu/water_services/water_quality/2007_water_quality_report.pdf

    Chlorine sebagai residual terdapat sebanyak 0.82 – 1.92 mg per liter. Dan seperti saya duga dalam air yang diminum setiap hari oleh orang-orang Calgary ini juga mengandung arsenic sebanyak < 0.0005 mg per liter.

    Pendapat saya, tanpa disertai dosis orang tidak bisa mendefinisikan sesuatu sebagai racun. Dengan kata lain hanya dosis semata yang bisa mendefinisikan apakah chlorine, arsenic atau semacamnya sebagai racun, obat atau minuman/makanan. Dosis arsenic <0.0005 mg per liter adalah minuman yang sehat. Tapi dosis arsenic sebanyak 460 mg dalam lambung adalah racun jahat yang bikin Munir mati, a painful death.

    Bila suatu publikasi umum mengatakan ini atau itu adalah racun atau vitamin tapi tak ada keterangan yang detail dan akurat saya kira tak perlu terlalu diperhatikan. Saya setuju dengan pendapat bung Made Toni yang saat ini sedang bertapa di Cornell bahwa janganlah gampang terpengaruh dengan berbagai issue: ini bikin itu, inyu menyebabkan inyi, dst, karena ini cuma merepoti hidup secara tidak perlu.

    Kalau soal bahaya merokok dan global warming memang sudah diteliti sampai memet oleh karena itu marilah merespon rame-rame dan tak usah terlalu memperdulikan segala macam tetek dan bengek hehe….

    SeV
    Eko Raharjo’78

  2. Saya mempunyai pendapat berbeda dengan bung Eko.Saya terpanggil untuk sharing pengetahuan saya tentang proses pembuatan paper. Begini.

    Jenis kertas. Semua kertas, seperti kertas2 tulis dan kerta2 koran bahan bakunya adalah pulp kategori serat pendek (short-fiber pulps). Sedangkan teabag paper bahan bakunya adalah ‘long fiber pulps’. Sebab harus tahan terhadap suhu panasnya air yang 100 C sewaktu mas Dwi mencelupkan teabag ke secangkir air panas dan kertas pembungkus tidak boleh berantakan.

    Long fiber pulps ini mahal sekali harganya, lebih mahal dari short-fiber pulps. Bahan baku short fiber pulps adalah kayu pinus dan kayu2 lunak lainnya, sedang ‘Manila long fiber pulps’ dibuat dari tanaman abaca ‘musa textilus’ yang secara komersial ditanam di Philipines dan Equador.

    Proses bleaching. Semua bubur kertas pulps warnanya kecoklat-coklatan. Warna ini hanya cocok untuk membuat kertas kardus pembungkus barang2 industri seperti kardus untuk rokok, kardus untuk Indomie, kardus untuk TV, dll.

    Untuk kertas tulis dan kertas koran, warna coklat ini harus diproses ‘bleaching’ agar menjadi putih. Bahan kimia yang dipakai untuk bleaching adalah ClO2 atau clorine dioxide atau cukup disebut clorine.

    Khusus untuk teabag paper harus dibleached dengan memakai metoda ECF (elemental Chlorine Free) dan TCF (Totally chlorine Free). Teabag paper tidak boleh di-bleaching’ dengan memakai chlorine, karena zat kimia ini berbahaya untuk tubuh manusia. Chlorine ini bisa menjadi motivator untuk menumbuhkan embrio2 sel2 kanker. Akibatnya kalau seseorang terus menerus minum tehh celup yang kertasnya di ’bleaching’ dengan chlorine, maka setelah puluhan tahun dia ‘potensial’ akan kena sakit kanker. Potensial saya katakan, karena bisa iya bisa tidak.

    Tekanan lembaga konsumen di Eropa dan US sangat keras sekali, agar melindungi konsumen tehh celup dari penyebab kanker. Para pengusaha tehh celup harus memakai paper yang un-bleached, yang harganya mahal sekali. Walau wajib tetapi tidak semuanya menurut.

    Bagaimana di Indonesia?

    Di tanah air tercinta hal tidak dikontrol secara ketat. Mengapa? Karena pengusaha teh celup di Indoensia adalah industri rumahan. Mereka membeli teh ‘buangan’ dari pabrik teh, terus diblending dengan berbagai macam parfum, berbentuk pasir2 kasar.. Kertas pembungkus teh membeli yang murah agar banyak untungnya. Akibatnya mereka akan mencari kertas yang murah yang masih dibleaching dengan chlorine.

    Hal ini sama dengan kasus kue jajan yang dijual dipasar tradisional yang warna-warni dan pewarnaannya memakai ‘pewarna kain’ yang murah meriah. Namanya dye stuf’. Itu semua pemicu kanker dalam tubuh manusia.

    Mas Dwi dan rekan2 Forsino,

    Saya menyarankan untuk minum tehh yang disedu di teko, karena aman. Nasib ada di tangan Tuhan, termasuk kematian. Namun apa salahnya kalau berhati-hati. Selamat menikmati teh sedu.

    Gufron

  3. Teabag paper tidak boleh di-bleaching’ dengan memakai chlorine, karena zat kimia ini berbahaya untuk tubuh manusia. Chlorine ini;bisa menjadi motivator untuk menumbuhkan embrio2 sel2 kanker. Akibatnya kalau seseorang terus menerus minum tehh celup yang;kertasnya dibleaching dengan chlorine, maka setelah puluhan tahun
    >dia ‘potensial’ akan kena sakit kanker. Potensial saya katakan, karena bisa iya bisa tidak.

    Mas Gufron, saya tidak membantah opini anda, tetapi hanya menyampaikan fakta bahwa chlorine dipakai secara rutin sebagai disinfectant dalam proses pembuatan air minum di Kanada sejak seabad lalu sampai sekarang.

    “For more than a century, the safety of Canadian drinking water supplies has been greatly improved by the addition of chlorine”. Health Canada http://www.hc-sc.gc.ca/hl-vs/iyh-vsv/environ/chlor-eng.php#th

    Silahkan mengambil kesimpulan sendiri-sendiri dari kenyataan di atas.Orang-orang Kanada dari prime minister sampai rakyat biasa seperti saya menggunakan air minum dengan standar yang sama (chlorinated drinking water).

    Tapi jangan diartikan salah sebagai saya mengatakan bahwa chlorine tidak akan pernah mendatangkan bahaya. Dalam dosis kecil chlorine justru menyehatkan air minum sebab berfungsi sebagai pembunuh bacteria dan virus (berfungsi sebgai disinfectant).

    Chlorine bisa bereaksi dengan zat organik untuk mebentuk senyawa THM (Trihalomethanes). Bila orang terekspose THMs dalam dosis yang besar dalam waktu yang lama akan menaikkan resiko penyakit kanker.

    Namun dalam segala hal orang mesti membandingkan untung dan ruginya terutama bila diterapkan secara massal dalam masyarkat, misalnya pemakaian chlorine dalam air minum. Resiko terkena penyakit infeksi (bakteri dan virus) adalah jauh lebih besar dibandingkan dengan resiko terkena kanker.

    Soal minum teh saya kira juga mesti dibedakan antara standar individual dengan standar massal (umum), orang kebanyakan. Seorang individu peminum teh kelas tinggi seperti mas Gufron saya kira pertama yang paling dipentingkan adalah aroma dan rasa. Chlorin jelas akan merusak aroma dan rasa dari teh sehingga mesti dihindari secara mutlak, kalaupun misalnya chlorin menyehatkan. Saya juga maklum bila kelompok minum teh fanatik akan mengusahakan minum teh dalam bentuknya yang paling murni, sehingga anti terhadap teh celup.

    Btw, setahu saya teh celup itu menggunakan kertas dengan warna coklat artinya unbleached paper (nonchlorinated paper). Adalah beralasan kalau orang meragukan kualitas dan keamanan produk dalam negeri, tapi saya kira juga tidak fair kalau orang asal menuduh tanpa menyajikan bukti yang solid, misalnya dengan membuktikan adanya chlorin dengan kadar yang membahayakan.

    Tekanan saya dalam tanggapan saya yang lalu adalah bagaimana kita ini mudah dibuat sewot dengan segala macam issue di internet yang tak pernah bisa dibuktikan kebenarannya secara tuntas, sementara issue yang lebih real dan mendasar tak pernah ditangani dengan serius. Lalu kita ini senantiasa jadi bangsa yang mudah diombang-ambingkan kesana dan kemari. Bayangkan kantor kepresidenan bisa sampai kapusan secara telak berturut-turut, pertama oleh issue blue energy kemudian oleh padi varietas super unggul atau apa.

    Sehari-hari saya minum green tea pakai poci, tapi kalau pengin teh dengan berbagai rasa dan aroma saya pakai teh celup, sebab praktis dan murah.

    Selamat minum teh.

    SeV
    Eko Raharjo’78

  4. Mas GS,
    Bagaimana dengan chlorin yang dipakai di kolam renang? Apakah juga sama membahayakan? Orang berenang selalu mempunyai resiko menelan air kolam renang, yang pasti ada chloor-nya? Akankah mereka mati karena kanker?

  5. Hehehe jangan gitu dong mas FBK. Siapa yang mau diingatkan pernah terminum air kolam renang terutama kolam renang Kolombo,yang punya kandungan chlorine, plus urine, plus ekstraksi dari 100 cawat (celana dalam) yang 5 hari tidak dicuci…dst dst. Zat-zat kimia ini saling berperang satu sama lain dalam tubuh kita. Hasilnya ya kita-kita ini sekarang. Saya bisa tunjuk orang, kalau marah toh saya jauh dari mereka hehehe yakni Prof Yoyong hehe… Yong berapa liter air kolam renang kolombo yang sudah kamu minum?, mas Bunadi, mas Fadjar Marsono, Adi Ismawan (sekarang dimana ya), Yong – Makua, Perdamen Kaban…. dst ….and last but not least Romo Bolsius yang masih segar sampai sekarang (dan juga Romo Giles). Cuma dua romo ini lebih pinter dari anak-anak Realino yakni berenangnya pada hari Jumat ketika kolam renang baru selesai dikuras dan diisi air baru. Namun juga berarti konsentrasi chlorinenya yang paling tinggi hehehe…

    Mas FBK, sekali lagi tergantung KONSENTRASI. Chlorine di kolam renang itu jauh lebih TINGGI konsentrasinya dibanding dengan yang ada dalam air minum. Ini dapat dipahami, sebab umumnya di air minum tidak ada cawatnya Perdamean Kaban, sedangkan di kolam renang….hehehe… silahkan jawab sendiri. Oleh karena itu sungguh sangat disarankan untuk tidak minum air kolam renang disengaja atau tidak. Untuk air minum pun kalau mungkin harus terus dikurangi kadar chlorinnya. Saya di rumah menggunakan carbon-activated filter (eg Brita filter) untuk mengurangi kadar chlorine yang ada dalam city drinking water. Ternyata dengan berkurangnya kadar cholrine rasanyapun lebih enak (luwih seger koyo banyu dari kendi).

    Salam SeV
    Eko Raharjko-78

  6. Mas FBK,

    Saya mencoba untuk membuat sedikit penjelasan agar permaslahannya jelas. Mudah2an bisa menjernihkan suasana yang mengarah ke polemik. Wah mirip RDC di Realino. Gak apa apa, saya sangat enjoy ada perdebatan seperti ini. Bisa melatih kedewasaan kita semua.

    Pertama saya akan menanggapi tulisan bung Eko. Bahwa apa yang diuraikan oleh bung Eko, bahwa drinking water di Canada dan Negara2 lain menggunakan chlorine dioxide (ClO2) untk disinfectans itu 100% benar. Chlorine dioxide (ClO2) adalah disinfectans yang sangat powerful untuk menghentikan berkembang biaknya bakteri dan virus diair.

    Kenapa dipilih Chlorine dioxida (ClO2) ? Karena harga ClO2 sebagai oxidant itu paling murah dibanding harga oxidant lainnya yang fungsinya sama yaitu bisa membunuh bakteri dan virus. Oxidant yang paling mahal adalah Ozone (O3), disusul Hydrogen peroxide (H2O2), lalu Hypochlorous acid (HOCL) dan Hypobromous Chloride (HOBr), yang paling murah adalah Chlorine dioxida (ClO2). Di Jakarta sudah ada klinik perawatan kesehatan menggunakan Ozone(O3). Air minum yang diproses dengan Ozone sudah ada dipasaran. Ada bedanya tidak yang dengan drinking water Aqua? Opini pribadi saya, hanya untuk gengsi2an.

    Mas Bambang tanya, kalau ada chlorine di kolam renang, dan terminum apa tidak berbahaya ? Saya tahu mas Bambang setiap hari berenang untuk menjaga kebugaran tubuh. Jawaban saya tidak berbahaya mas, sepanjang Chlorine dioxida (ClO2) masih dibatas angka yang aman. Untuk pre-oxidation dan menurunkan kadar organik di air, dibutuhkan 0,5 sampai 2 mg per liter Chlorine Dioxida, dan waktu untuk efektip membunuh bakteri adalah 15 menit sampai 30 menit saja. Kwalitas kolam air sangat ditentukan oleh waktu kontak time itu. Ini untuk pre-oxidation. Lalu untuk post-oxidation, dilakukan setiap hari, konsentrasinya cukup 0,2 sampai 0,4 mg per liter. Residual by produk dari konsentrasi chlorite nya kecil dan tidak berbahaya untuk kesehatan manusia. Selain kolam renang, gas Chlorine Dioxida (CLO2) pun dipakai untuk penjernihan city drinking water seperti yang diceriterakan bung Eko. Terima kasih bung Eko. Saya setuju 100%.

    Karena saya tahu maintenance air kolam renang itu besar biayanya, maka saya tidak mau membuat kolam renang dirumah, walau istri saya pernah memintanya. Saya pergi ke hotel berbintang (dulu), dan membayar sesaat saja. Sekarang di Casablanca.

    Harus dibedakan antara gas Chlorine dan gas Chlorine dioxide. Antara Cl2 dan ClO2.

    Gas Chlorine (Cl2) itu adalah senjata kimia. Pertama kali dipakai di Perang Dunia 1 oleh Jerman, yaitu ditahun 1915, di perang Ypres. Bau gas chlorine pedes dan manis, para prajurit memakai masker gas untuk tidak menghirup gas chlorine, efeknya dikulit gatal dan tenggorokan kering dan akhirnya paru2nya rusak. Gas racun chlorine (Cl2) ini lalu diganti dengan gas phoegene dan mustard yang digunakan Amerika di Vietnam.

    Di Perang Irak, Amerika pun menggunakan senjata gas Chlorine (CLO2) tepatnya dikota Anbar. Ada 3 truk berisi gas Chlorine (CLO2) diledakkan oleh Amerika, membunuh 3 orang dan mencederai +/- 400 orang Irak. Ini yang dilaporkan, yang tidak dilaporkan lebih banyak lagi. Kasus bom gas Chlorine ini terjadi Maret 2007 dan diliput CNN.

    Selamat berenang mas FBK. Aman-aman kok. Kapan2 saya ajak berenang di kolam Casablanca Apartmen untuk merasakan beda airnya. Walau sedang disewa orang Jepang, saya masih bisa berenang.

    Hidup RDC ….

    Gufron

  7. MasYudi, mas Eko, pak Bambang, Pak Gufron
    Jangan khawatir, teh celup aman kog. Kertas untuk teh celup sudah food grade,dan non klorin (ada certificate of analysis-nya). Kami pernah menguji stabilitasnya di lab pabrik ketika menggunakannya untuk mengemas produk pemanis aspartam.

    Don’t worry, be happy, nikmati saja teh celupnya.

    Salam,
    Tri H

  8. Mas FBK, itulah kecanggihan RDC. Kita mesti mampu untuk menghindari ketidak sengajaan. Sebab keyakinan saya, kebanyakan korupsi yang dilakukan di Indonesia dimulai dari ketidak sengajaan.

    Caranya: misalnya kalau dalam hal berenang mungkin perlu minum dulu air bersih yang cukup, sehingga ketika berada dalam air tidak ada nafsu lagi untuk minum. Atau dengan cara meningkatkan teknik berenang dan pernafasan, terutama dalam hal ngempet ambegan hehe….

    Wah turut lega karena kita sekarang bisa minum teh dan berenang tanpa disertai rasa takut yang tak perlu. Thanks untuk mas Hascaryo, mas Gufron, dan yang lainnya.

    Salam
    Eko Raharjo’78

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s