Spirit Realino dan Persatuan Bangsa

Dalam Globalisasi dan Perspektifnya

Oleh : Drs. Titus K. Kurniadi

.

PENDAHULUAN

Asrama Realino  di Yogyakarta, dengan SAPIENTA et VIRTUS (Kebijakan dan Kebajikan) memang unik dan luar biasa. Coba bayangkan apa yang dikatakan beberapa rekan kita, mantan penghuni asrama:

Drs. Bambang Ismawan:   “Realino itu Indonesia Kecil”, atau Indonesia Mini (bukan Taman Mini Indonesia, sebab Indonesia Mini menggambarkan semangat, spirit, yang ada didalam hati sanubari kita, sedangkan Taman Mini Indonesia adalah gambaran bentuk secara fisik).

AK Syukri Hadjat:   “Realino itu suatu pancaran kehidupan ber-Pancasila”. Lho wong sebuah asrama mahasiswa, koq bisa menjadi pancaran kehidupan ber-Pancasila? Sebuah asrama memang sebuah kehidupan, tetapi asrama yang satu ini memancarkan sesuatu, artinya ia bersinar, dan sinar kehidupan itu adalah Pancasila.

Bagaimana bisa begitu? Pada awalnya adalah sebuah Asrama Mahasiswa Katholik, dan setelah pindah ke Jl. Gelayan (tahun 1956) dengan sarana dan prasarana yang amat memadai, maka disusunlah sebuah konsep asrama dan meminjam istilah Romo Harry C. Stolk S. J. (mantan pengelola asrama): “Dari asrama Katholik ke asrama Pancasila”. Konsep asrama yang dirumuskan tahun 1957, itu tampaknya sederhana, namun dalam kesederhanaan itulah memiliki arti yang amat mendalam. Konsep yang dirumuskan oleh Romo J. Beek S. J. (alm, mantan pengelola), antara lain:

  1. Asrama mahasiswa Katholik, tetapi kira-kira 50 % penghuni asrama bukan Katholik, yaitu mahasiswa-mahasiswa yang beragama lain, dan masing-masing diberi kebebasan  untuk menunaikan ibadah, seturut agamanya masing-masing. Disinilah awal dari saling mengenal, saling mengerti dan akhirnya saling menghormati. Saling hormat-menghormati inilah yang paling utama dalam kehidupan bersama.
  2. Selain berbagai agama, juga penghuni asrama terdiri dari berbagai suku bangsa, berbagai etnis dan keturunan, berbagai disiplin ilmu, latar belakang keluarga(petani, priyayai, pedagang, dll.), latar belakang kemampuan ekonomi keluarga (yang punya, yang kurang punya, dan yang punya sedikit). Keberbagaian itulah yang menumbuhkan pengenalan, pengertian dan penghormatan.
  3. Kebersamaan, dari belajar bersama, olahraga bersama, diskusi bersama, sampai mencuci pakaian bersama.
  4. Makanan selalu cukup untuk masing-masing. Kalau ada yang ingin makan lebih banyak, itu artinya mengambil jatah orang lain. Silahkan kalau mau.

Adanya pemimpin asrama, yang membuat peraturan, yang menegakkan disiplin, memelihara ketertiban, dan memberikan gagasan-gagasan yang bermanfaat, agar para penghuni asrama, agar menjadi orang yang berpengetahuan luas, berpendidikan tinggi, bertanggung jawab dan berguna bagi masyarakat. Peran pemimpin yang memiliki visi ke depan, bijaksana dan tegas menjadi amat penting.

.

SPIRIT REALINO

Dengan konsep asrama seperti itu, maka bertumbuhlah nilai-nilai, yang kemudian berkembang, dan menjadi modal awal bagi para penghuni setelah lulus sekolah dalam upayanya untuk terjun kedalam kehidupan yang nyata. Masing-masing meniti karir dalam perusahaan dimana kita bekerja. Dalam instansi-instansi pemerintah, pusat maupun daerah, dimana kita mengabdi. Di organisasi politik, kemasyarakatan, dimana kita meng-aktualisasi-kan diri. Di dalam keluarga yang kita rintis dan bina. Kemana saja kita meniti kehidupan kita masing-masing, kita membawa serta Spirit Realino, yang telah kita miliki, sebagai asset yang berharga, sebagai bekal yang tak habis-habisnya. Bekal itu dapat memberi rasa kenyang pada saat kita lapar, memberi rasa kuat, pada saat kita lemah.

Spirit Realino telah membentuk hati nurani dan pola pikir, sehingga semua sikap, tingkah laku dan perbuatan kita, terpengaruh. Kalau lupa, ada yang mengingatkan, kalau lengah ada yang menegur, itulah spirit atau semangat Realino yang ada dalam kalbu kita masing-masing.

Kemudian, kita makin mengetahui dan mengerti, bahwa spirit Realino, ternyata merupakan nilai yang amat mulia dan tinggi, dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai yang tumbuh sebagai spirit Realino itu, kalau dirumuskan adalah sebagai berikut:

.

1. PLURALISME

Mensyukuri dan menerima dengan baik keanekaragaman bangsa Indonesia. Ada berbagai suku bangsa di Indonesia, katanya ada ± 300 suku bangsa dan kelompok etnis (keturunan), ada ± 250 bahasa/dialek. Kehidupan bersama dalam asrama Realino telah menumbuhkan rasa hormat pada perbedaan, (respect for diversity). Bukannya yang berbeda dianggap musuh, dan kalau perlu ditiadakan/dimusnahkan saja. Dan apabila diangkat ke kehidupan bangsa-bangsa di dunia ini, maka keberagaman itu ada dimana-mana, bangsa satu dengan bangsa yang lain, dan keberagaman dalam bangsa itu sendiri. Dimana ada bangsa yang homogen di dunia ini? Hampir-hampir tidak ada.

Selain suku bangsa, agama dan kepercayaan juga beragam. Di Indonesia selain 5 agama yang diakui pemerintah, yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, masih begitu banyak kepercayaan kepada Tuhan Yang  Maha Esa. Dan dalam kehidupan Asrama Realino, perbedaan agama, kebebasan menunaikan ibadah agama, saling mengerti, saling menghormati adalah hal yang biasa dan tidak menjadi masalah sama sekali. Mengapa harus menjadi masalah? Aneh.

Etnis dan keturunan juga merupakan kebergaman bangsa kita, yang ada di asrama Realino, keturunan Tionghoa, Arab, Belanda, India, bahkan yang Belanda, Jepang juga ada. Keseluruhannya dapat hidup bersama. Yang mula-mula kurang suka, makin kenal makin hilang rasa kurang suka itu. Memang ada yang lebih terampil untuk bergaul, tetapi ada juga yang kurang dapat bergaul,  tetapi dalam waktu yang singkat, beberapa bulan saja keberagaman etnis/keturunan ini langsung dapat diterima apa adanya.

Nah, itulah pluralisme, yaitu menerima dengan baik adanya berbagai suku, agama, etnis yang berbeda sifat, sikap, tingkah laku dan perbuatannya, berbeda budayanya, dan masing-masing saling menghormati, menghargai, bekerja sama, saling peduli dan hidup bersama dengan damai. Kalau ada yang makan pisang lebih dari haknya (artinya haknya orang lain), bukan karena dia Islam, atau Katholik, Tionghoa atau Jawa, Aceh atau Timor, tetapi ya si dia itu, orang itu yang makan pisang haknya orang lain. Perbuatan salah, ya tetap salah, tetapi sebatas orangnya, bukan agamanya, atau sukunya, atau keturunannya.

Pada umumnya kita meng-generalisasi-kan hal-hal yang jelek, tetapi meng-individual-kan hal-hal yang baik. Misalnya: kalau keturunan Tionghoa jadi penyelundup, maka dasar Cina penyelundup. Tetapi kalau ada seorang Susi Susanti, mempersembahkan medali emas Olimpiade 1992, yang pertama kepada nusa dan bangsanya, maka Susi memang hebat, hanya dia saja.

.

2. BHINNEKA TUNGGAL IKA

Berbeda-beda tetapi satu, walau berbeda, tetapi dapat menjadi satu. Kesadaran dan kepercayaan seperti itulah yang makin di yakini. Dalam tim bola volley, ada smasher, ada feeder. Feeder Jawa dapat memberi umpan ke smasher Sunda untuk mengalahkan lawan tandingnya. Pada dasarnya saling menghargai kemampuan masing-masing yang berbeda, kemudian saling bekerja sama untuk mencapai tujuan. Yang tidak mampu bermain, ya jangan main, tetapi menjadi supporter saja. Semuanya menjadi kesatuan yang lebih besar. Amerika Serikat juga mempunyai “e pluribus unum”, yang maknanya sama dengan Bhinneka Tungal Ika. Memang ke-Bhinneka-an, merupakan ciri khas bangsa-bangsa di dunia, pada saat ini.

.

3. DEMOKRASI

Pemimpin, betapa baikpun, pada waktunya harus berganti, pemimpin tidak boleh terus menerus, itulah inti sebuah demokrasi. Segala sesuatu indah pada waktunya, tidak mungkin indah terus menerus. Betapa baiknya kepemimpinan Romo J. Beek S.J. (alm) sebagai pemimpin asrama, ada saatnya ia diganti. Tetapi penggantian pemimpin harus berjalan dengan damai, tidak gontok-gontokan. Yang tidak suka dengan pemimpin baru tidak usah bikin ulah, tidak perlu bikin provokasi, keluar saja dari asrama.

Unsur demokrasi yang lain adalah voting atau pemungutan suara. Voting ini penting untuk menyelesaikan perbedaan pendapat. Tentu saja dimusyawarahkan dahulu untuk mengadu argumentasi, namun kalau tidak menghasilkan kesepakatan, maka voting-lah yang akan menetukan pendapat yang dipilih. Di negara seperti Swiss, dikenal berbagai referendum untuk menentukan pendapat yang akan dipilih. Yang diperlukan disini adalah kebesaran hati untuk menerima kekalahan secara sportif.

Di asrama Realino memang tidak ada voting,  atau tidak perlu voting. Sebab strukturnya tidak memungkinkannya. Tetapi pemimpin asrama menampung dan menyalurkan aspirasi dengan baik, sehingga semua masalah dapat dibahas dan diselesaikan dengan baik. Tidak ada kebuntuan menyalurkan aspirasi, maka voting juga tidak perlu.

Disebut demokrasi, karena masing-masing penghuni mengetahui dan melaksanakan hak dan kewajibannya. Demikian pula hubungan antara yang memimpin dan yang dipimpin amat dekat, baik pribadi maupun bersama.

.

4. KEBERSAMAAN

Kebersamaan (togetherness) adalah nilai yang tertanam pada penghuni asrama, selama bertahun-tahun (ketentuannya hanya selama tiga tahun). Yang paling utama adalah belajar bersama, khususnya dalam RDC (Realino Diskusi Club). Mahasiswa dilatih untuk memberikan presentasi tentang masalah tertentu, dan ada mahasiswa yang menjadi pembahas dan satu lagi sebagai moderator. Pengikut diskusi yang lainnya dapat turut serta secara aktif berdiskusi. Juga ceramah-ceramah dari tamu-tamu tertentu, yang memberikan wawasan yang lebih luas. Demikian juga pergaulan, ngobrol, sesama penghuni, dari berbagai disiplin ilmu, telah memperluas wawasan dan pengetahuan. Dalam kebersamaan itulah terjadi sharing, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Kebersamaan dalam hidup ini berawal dari rasa senasib, dan rasa seperjuangan. Itulah yang tertanam dalam kehidupan asrama. Kebersamaan inilah yang bernuansa nasional, berwawasan nusantara. Masing-masing mandiri, dapat mengatur dirinya sendiri (independent), dan secara bersama-sama, tumbuhlah kebersamaan. Dalam kebersamaan, masing-masing tetap memiliki kehormatan atau dignity.

.

5. KEPEDULIAN

Kepedulian adalah caring, peduli kepada orang lain, menyentuh etika dan moral dalam hidup bersama. Asrama mengajarkan tata krama; seperti makan bersama dengan pakaian sekolah, tata cara menerima tamu yang berkunjung ke asrama, tata tertib yang tidak mengganggu sesama penghuni. Kita belajar peduli orang lain, artinya kita tidak dapat melakukan hal-hal yang baik untuk diri sendiri, dengan mengorbankan kepentingan orang lain. Kepedulian juga nampak dalam kerja bhakti pada hari-hari tertentu, untuk membersihkan lingkungan. Demikian pula, membantu yang kekurangan, pada waktu amat dibutuhkan.

Itulah lima unsur spirit Realino yang membentuk pribadi-pribadi penghuni asrama. Semangat tersebut telah tertanam dalam-dalam pada diri masing-masing. Itulah sebabnya disebut-sebut sebagai : Indonesia kecil, maupun pancaran kehidupan ber-Pancasila, yang membentuk Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia.

.

PERSATUAN BANGSA

Nilai-nilai yang tertanam dalam spirit Realino itulah wujud nyata Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Dasar-dasar seperti itulah cikal bakal Persatuan Bangsa, Persatuan Nasional bagi seluruh bangsa Indonesia.

Persatuan bangsa atas dasar Pancasila menempatkan primordialisme (atas dasar suku, agama, keturunan, ras dsb.) harus dalam kerangka nasionalisme yang lebih tinggi yang bersifat nasional, yang atas dasar kemajemukan (pluralisme). Apabila primordialisme menempatkan dirinya sebagai yang utama, maka akan terjadi perpecahan pada bangsa ini.

Bhinneka Tunggal Ika harus disertai pengakuan yang tulus bahwa kemajemukan yang ada pada bangsa ini, akan dapat bersatu padu, untuk kepentingan bersama.

Persatuan bangsa dan kesatuan bangsa yang atas dasar demokrasi itulah cita-cita bangsa ini. Bukan demokrasi seperti yang kita kenal sebagai “demokrasi terpimpin” maupun “demokrasi Pancasila”.

Kebersamaan atas dasar senasib dan seperjuangan itu adalah unsur pemersatu bangsa. Kalau tidak senasib, ada diskriminasi, perbedaan perlakuan untuk orang atau kelompok tertentu, maka tidak akan ada kebersamaan dan persatuan bangsa. Kemudian masing-masing berjuang bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama. Senasib seperjuangan bukan sama rata, sama rasa. Yang bekerja lebih rajin, yang lebih pandai boleh menerima lebih dari yang malas dan bodoh. Ada keadilan bukan kesenjangan, ada kepedulian, bukan masa bodoh, sehingga persatuan bangsa menjadi kokoh.

Kini persatuan bangsa yang lebih mementingkan kepentingan bangsa dan negara, berhadapan dengan globalisasi, yang tidak mementingkan bangsa dan negara masing-masing, tetapi yang penting adalah universal. Adakah tempat bagai persatuan dan kesatuan bangsa dalam globalisasi?

.

GLOBALISASI

Arus globalisasi kini sedang melanda berbagai bagian dunia, dan arus tersebut terasa amat deras. Lihat saja dimana-mana di dunia ini, orang mulai menyukai makanan yang sama, minuman yang sama, cara berpakain yang sama, rumah tinggal dengan bahan-bahan bangunan yang sama. Segala sesuatu cenderung menjadi serupa dan sama.

Tentu saja perusahaan-perusahaan multi nasional yang paling siap dan maju paling depan, masuk ke semua negara dan dengan promosi yang kuat, produk-produknya diterima baik diseluruh dunia. Ada hal yang menarik dari operasional perusahaan-perusahaan multinasional itu, begini: mereka tidak mendirikan pabrik-pabrik sendiri, melainkan mitra dari negara localnya yang harus menyediakan modal berupa lahan, gedung, membeli mesin-mesin dan peralatan, serta modal kerjanya. Perusahaan multi nasional hanya membawa produk, serta cara produksi dan quality controlnya, sehingga perusahaan-perusahaan multinasional itu tidak membutuhkan modal sama sekali, semuanya orang lain yang menanamkan modalnya. Trend perusahaan multinasional adalah: sales setinggi mungkin, dengan fixed assets serendah mungkin.

Makin kecil asset setelah dikonsolidasi, makin hebat perusahaan itu. Makanya tidak heran kalau mereka dapat mendirikan sepuluh pabrik/outlet secara bersamaan di berbagai negara maupun di satu negara.

Konsep-konsep produk global, selalu rasanya nikmat, mewah, dan mudah. Dan yang mengherankan selalu disukai, khususnya para remaja.

Dalam arus globalisasi seperti itu, yang dikembangkan adalah perdagangan bebas, penanaman modal bebas, instrumen keuangan seperti valuta asing, saham dan obligasi, dan akhir-akhir ini E-Business (Electronic Business).

Dalam globalisasi, yang punya daya saing tinggi, selalu menang dari yang daya saingnya kurang. Yang kecil-kecil dari negara yang kurang daya saingnya, kadang-kadang dapat memperoleh celah-celah yang sempit untuk menembus pasar global, namun tidak bisa secara besar-besaran.

Kemudian yang turut serta menikmati arus globalisasi dari masing-masing negara sangat sedikit. Sebagian besar menjadi konsumennya saja. Dengan demikian hubungan tanpa batas negara-negara akan semakin memiliki nilai-nilai moral, etika, budaya, dan kerohanian, yang di kemudian hari akan mengurangi perbedaan budaya antar bangsa-bangsa dan manusia-manusia di dunia ini.

Dalam situasi seperti itu, ada kelompok-kelompok yang merasa dirinya terancam keberadaannya dan mulailah mereka memperkuat kelompoknya secara primordial, dan mempertentangkan perbedaan agama, budaya, etnis secara lebih tajam lagi. Dan gerakan seperti ini makin lama, makin mengglobal juga.

.

PERSPEKTIF

Indonesia dalam era reformasi ini, telah timbul berbagai aspirasi dan keinginan untuk mendapatkan bentuk-bentuk tatanan masyarakat yang baru, yang sesuai bagi bangsa dan negara kita. Sebab tatanan yang sudah ada dianggap tidak sesuai, bahkan tidak pantas untuk dilanjutkan. Aspirasi-aspirasi tersebut masih belum berhasil menemukan bentuk yang sesuai dan yang paling cocok. Tetapi di lain pihak arus reformasi ingin segera berbentuk dan keinginan tersebut demikian derasnya, sehingga terjadilah benturan-benturan di segala bidang kehidupan. Banyak pihak tidak sabar lagi untuk menunggu, mengharapkan tindakan yang sangat tegas. Sedangkan pimpinan nasional dengan pendekatan kemanusiaannya yang universal, membutuhkan waktu, apalagi pendekatan untuk menyelesaikan masalah KKN, amat menguras tenaga dan pikiran, juga membutuhkan waktu yang panjang. Di lain pihak pemikiran dan langkah-langkah elit politik, sering membingungkan orang banyak. Dalam situasi seperti ini, langkah-langkah provokasi yang dilakukan orang-orang tertentu, telah membangkitkan kebencian-kebencian, yang berwujud sebagai bentrokan-bentrokan yang memakan korban jiwa, harta, dendam, trauma, yang sangat menyakitkan dan menyedihkan. Sedangkan begitu banyak tenaga kerja di sekitar kota-kota besar (urban), yang berjumlah besar, mendambakan kesempatan kerja, yang amat tidak sebanding dengan kebutuhan. Mereka jadi amat menderita dan penderitaannya berkepanjangan. Maka meningkatlah kriminalitas di mana-mana, dan sekaligus munculnya kekerasan-kekerasan yang tidak manusiawi. Maka terusiklah rasa aman, rasa damai dan sejahtera dalam kehidupan ini.

Yang sekarang dibutuhkan adalah kebijakan-kebijakan dan langkah-langkah, yang simultan, tetapi jelas, arah dan tujuannya. Kita semua harus merasa optimis, bahwa segala kesulitan dan persoalan, akan dapat diatasi. Kita tidak boleh menyerah, “Its too soon to give up”. Bangsa dan negara kita, pernah juga mengalami kesulitan-kesulitan yang amat sangat pada awal kemerdekaan kita. Dalam beberapa tahun sejak kemerdekaan, kesulitan-kesulitan yang berat sekali, yang berasal dari dalam maupun luar, telah menghantam bangsa dan negara yang baru lahir. Kita semua memberikan hormat dan penghargaan yang tinggi kepada para pendiri negara Republik ini, yang secara cemerlang, berjuang dan membawa bangsa dan negara kita memperoleh kemerdekaannya secara utuh. Para pemimpin kita pada waktu itu telah berhasil mengatasi kesulitan-kesulitan yang amat sangat.

Nah belajar dari pengalaman yang lalu, harus berjuang bersama-sama, mengatasi kesulitan-kesulitan yang kita hadapi, untuk menuju suatu kehidupan yang lebih baik, lebih aman dan bahagia, sejahtera untuk semua.

Kebijakan-kebijakan tersebut adalah:

1.  PANCASILA

Sebagaimana dilahirkan pada tanggal 1 Juni 1945, sebagai dasar negara, pokok-pokok pikirannya masih tetap aktual pada masa kini. Maka Pancasila harus tetap menjadi dasar negara Republik Indonesia, tanpa ada yang perlu diubah. Penjabaran Pancasila kedalam Undang Undang Dasar, yang lahir tanggal 18 Agustus 1945, juga masih tetap up to date. Kalau ada  beberapa pasalnya yang perlu disempurnakan, mengapa tidak? agar lebih sesuai dengan masa kini.

.

2. POLITIK

Demokrasi yang modern, sesuai dengan peradaban bangsa-bangsa, adalah sistem dan kebijakan yang terbaik. Pilihan terbaik. Sistem otoriter tidaklah pantas untuk dipertimbangkan lagi. Pimpinan  nasional dipilih dengan cara-cara yang demokratis dan dibatasi masa pengabdiannya. Selanjutnya memilih pimpinan nasional yang baru, sebagai penggantinya, juga harus dilakukan dengan tata cara yang demokratis. Yang kalah harus menerima kekalahannya secara sportif, dan berjuang lagi untuk periode berikutnya. Berbagai pandangan dan beda pendapat diselesaikan dengan voting. Sekali lagi, yang menang jangan takabur, yang kalah jangan balas dendam.

.

3. EKONOMI

Mekanisme pasar adalah pilihan yang benar. Hanya harus dijaga oleh pemerintah agar tidak menjadi free fight liberalism. Yang besar pasti akan mengalahkan yang kecil. Cara menjaganya dengan berbagai perangkat peraturan dan undang-undang, seperti undang-undang antimonopoli, undang-undang usaha kecil dan menengah, serta kebijakan-kebijakan perpajakan, dan perburuhan.

Peranan pemerintah dikurangi dibidang ekonomi, sehingga perlu swastanisasi BUMN dan BUMD yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak. Swasta diberi peran besar dalam sistem mekanisme pasar.

Strategi pembangunan harus menetapkan pertanian sebagai pusat penggerak, jadi sektor agri bisnis dengan agro industrinya, serta pendukung-pendukungnya harus jadi prioritas utama. Petani-petani kecil, bahkan sangat kecil, harus diturutsertakan.

Peran pemerintah sebatas pada menyediakan sarana dan prasarana, baik berupa jalan raya, kereta api serta transportasi lain, waduk dan bendungan serta irigasi, tenaga listrik, maupun menyediakan ketertiban dan keamanan, kepastian hukum, perlindungan buruh, konsumen dan lain-lain. Hanya sebatas perangkat keras dan perangkat lunaknya saja. Tidak turut serta sebagai pelaku-pelaku usaha di segala bidang. Pada dasarnya pelaku usaha harus betul-betul mampu bersaing di dalam maupun di luar negeri.

.

4. GOOD GOVERNANCE dan GOOD CORPORATE GOVERNANCE

Mengelola pemerintahan dan perusahaan-perusahaan dengan baik, bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme, inilah yang paling sulit. Pemerintahan dengan birokrasinya dan pejabat-pejabat yang pendapatannya tidak sesuai  dengan kebutuhan yang nyata, adalah awal dari segalanya. Mereka terpaksa korupsi karena memang tidak cukup. Untuk itu mereka berkolusi dengan pengusaha, siapa lagi kalau bukan pengusaha, yang memiliki jiwa wiraswasta, penuh dengan gagasan dan pandai memanfaatkan peluang. Karena semua pemeriksaan, audit, itu pendekatannya formal, maka dibuatlah semua UU, peraturan, dan ketentuan-ketentuan yang memungkinkan korupsi dan kolusi dilakukan tanpa dapat dipersalahkan. Tercium baunya tetapi wujud nyatanya tidak ada.

KKN itulah yang menjadi sumber kebobrokan serta pembusukan ekonomi, sehingga kita sulit bangkit kembali dari krisis. Segala sesuatu menjadi sulit, kompleks, karena kepentingan-kepentingan pribadi maupun kelompok ini.

Dalam situasi seperti ini, barangkali harus ada yang jadi korban. Tidak mungkin semuanya diselamatkan ataupun semuanya dikorbankan. Siapa yang harus jadi korban? Yaitu yang sangat kental kriminalnya dan yang sangat mengusik hati nurani orang banyak. Jumlah korban harus cukup banyak, sehingga membuat orang menjadi takut untuk melakukannya lagi. Bersamaan dengan itu, gaji para pengelola pemerintah harus cukup untuk hidup yang wajar dan layak. Maka Good Governance dan Good Corporate Governance dapat dilaksanakan.

.

5. KEADILAN SOSIAL

Dengan hati nurani yang bersih, serta pemikiran  yang jernih, tentu dapat ditumbuhkan pemikiran-pemikiran dan kebijakan-kebijakan untuk orang lain, untuk mensejahterakan orang banyak. Sudah terlalu lama, hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, banyak yang telah kehilangan rasa kepedulian terhadap orang lain. Watak yang serakah, mumpung, harus ditinggalkan, karena bertentangan dengan hati nurani. Menjadi kaya raya bukan tujuan hidup, sebab akan berakhir dengan sia-sia, tanpa makna. Hidup yang wajar, cukup itu relatif, namun hati nurani dapat menentukan kewajaran dan kecukupan itu. Apalah artinya kaya raya, di tengah-tengah kemiskinan orang lain, tidak akan nyaman hidup ini. Menyejahterakan orang lain itu membahagiakan diri kita. Hidup jadi indah. Jangan dianggap utopia, upayakanlah dan kita akan merasakannya.

Rakyat pada umumnya telah menjadi miskin, dan miskin terus. Semua upaya pembangunan adalah untuk rakyat, tetapi rakyat tetap miskin. Mengapa? Karena rakyat tidak punya asset atau modal. Selain itu selalu terjadi pembagian hasil yang tidak seimbang. Petani, pekerja, nelayan, memperoleh bagian yang sangat kecil, tidak sepadan dengan yang mereka hasilkan. Mengapa? Karena mereka lemah, tidak memiliki posisi tawar menawar (bargaining position) yang cukup kuat. Kalau kita tahu dan sadar mereka lemah, tidak memiliki pilihan lain, apa pantas kalau mereka terus ditekan.

Andaikata pendekatan etis dan moral tidak dapat diterapkan, maka perlu ada undang-undang dan peraturan yang dapat memperkuat posisi mereka.

Yang diperlukan adalah keadilan, bukan kesenjangan, yaitu keadilan sosial, bukan kesenjangan sosial.

.

6.  WAWASAN KEBANGSAAN

Karena globalisasi tidak dapat menjanjikan yang terbaik untuk semua orang dan hanya sebagian kecil dari bangsa kita  yang dapat turut serta dan menikmatinya. Demikian pula regionalisasi (persekutuan bangsa-bangsa secara regional) akan berdampak sama. Maka masih dibutuhkan konsep kebangsaan dan wawasan kebangsaan, untuk menata dan mengatur yang terbaik untuk orang banyak.

Globalisasi tidak dapat dilawan, tetapi secara cerdik harus mampu memanfaatkannya untuk kepentingan bangsa kita. Jadi tidak hanya mengikuti arus global, tetapi pandai-pandailah mencari celah untuk kepentingan nasional. Hal ini penting untuk mempertahankan harga diri dan martabat bangsa kita.

.

SERUAN

Nah, akhirnya sampai pada sebuah seruan, kalau kita memiliki sesuatu, namun tidak dapat mengelola serta memanfaatkan atau mendayagunakan apa yang kita miliki, maka itu namanya mubazir, sia-sia. Kalau kita hanya membanggakan apa yang kita miliki, tanpa makna, itu tidak lain adalah mimpi, tanpa manfaat. Maka dari itu dengan modal awal yang kita miliki, yaitu spirit Realino yang telah tertanam dalam kalbu, hati sanubari kita masing-masing, marilah kita masing-masing atau bersama-sama untuk saling menguatkan dan menyegarkan, di tempat kita masing-masing, apa itu keluarga, perusahaan, instansi, organisasai, serta di mana saja, kita jadikan diri kita sebagai garam, dengan rasa asinnya, menggarami isi dunia yang kita cintai ini. Biarlah spirit Realino itu memancarkan diri sebagai pelita yang menerangi isi dunia ini.

Barangkali anda akan bertanya-tanya, saya ini orang kecil, saya tidak mampu, apa yang dapat saya perbuat. Nah, pilihan di tangan anda, silahkan memilih: menjadi orang yang sia-sia tanpa makna, atau berupaya sedikit demi sedikit, namun dengan yakin secara terus menerus, menjadikan hidup ini bermakna, bermanfaat untuk orang lain.

.

.

Jakarta, 10 Juli 2000

Iklan

One Reply to “Spirit Realino dan Persatuan Bangsa”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s