Refleksi Kilas Balik Forsino

Oleh: A.K. Syukri Hadjat

.

Kehadiran kawan-kawan Forsino Yogyakarta, yaitu: Mas Beni Sugiyanto (‘62), Mas Joned Haryanto Harlan (’65) dan Mas Frans Bunandi (’72), di Cimanggis kediaman Mas Bambang Ismawan (’57) menjadikan suasana tambah semarak. Hari itu tepat tanggal 1 Juni 2000 saat berkumpulnya Keluarga Besar Alumni Realino DKI atas undangan Mas Bambang dan Mbak Sylvia Kwee Ismawan dalam acara silaturahmi dan ngobrol santai.

Rupanya kedatangan kawan-kawan itu membawa suatu misi yakni menjelaskan rencana REUNI AKBAR 2000 yang akan digelar di Yogyakarta tanggal 14–16 Juli 2000. Ketiganya masing-masing berfungsi sebagai ketua, Sekretaris dan Seksi Sosial Reuni.

Namun kedatangan mereka membuat saya terkesima. Mengapa? Tidak lain karena dari pembicaraan sekilas, saya menyadari bahwa mereka bertiga baru saat itu tahu jika Yayasan FORSINO sudah berdiri sejak tanggal 26 April 1991 berdasarkan akte notaris R.N. Sinulingga No. 346 tertanggal 17 Desember 1991. Sinulingga juga Alumnus Realino angkatan ’53.

Atas kejadian itu saya berkesimpulan bahwa LANGKAH-LANGKAH PANJANG REALINO/FORSINO belum tersosialisasikan sepenuhnya. Hal ini harus diakui sebagai akibat “kelemahan” kita berorganisasi, dimana salah satu mata rantai INFORMASI belum tertata dengan baik. Mata rantai yang lemah ini harus kita benahi bersama komponen lainnya. Kita belum terlambat.

.

SEJARAH LAHIRNYA FORSINO

Dua hari menjelang Reuni Akbar Realino, berlangsung diskusi antar Alumni di gedung Bina Swadaya Jakarta tanggal 26 April 1991. Mas Bambang membacakan makalahnya berjudul FORUM STUDI REALINO yang dinilai sebagian besar peserta isinya mengandung nilai-nilai Realino yang tanpa disadari telah ikut menjiwai kita dalam berperilaku.

Nilai-nilai Realino yang dimaksud tidak lain dari KEBIJAKAN  dan KEBAJIKAN (Sapientia et Virtus) yang berwujud KEBERSAMAAN dalam ikatan pergaulan selama tinggal di asrama. Bahkan secara nasional, implementasinya bisa melampaui batas-batas kepentingan primordial, suku, dan agama.

Dengan nilai-nilai tersebut kita merasa sebagai suatu KELUARGA BESAR yang utuh walau terdiri dari beragam suku, agama, dan kebudayaan yang berhimpun dari seluruh penjuru tanah air.

Atas pengertian bersama, seluruh peserta secara aklamasi mengukuhkan FORUM STUDI REALINO (FORSINO) sebagai wadah baru Alumni Realino bertalian dengan ditutupnya Asrama Realino secara resmi tanggal 30 Juni 1991.

.

HUMAN RELATIONSHIP

Terus terang, nuansa nasional saya secara utuh tumbuh di Realino. Pertama-tama masuk Realino tahun 1958 pergolakan di daerah sedang hangat-hangatnya. Perlawanan PRRI/PERMESTA dan DI/TII terhadap pemerintah pusat masih berlangsung. Tanpa disadari situasi seperti ini ikut melatarbelakangi sikap hidup saya sehari-hari. Rasa kedaerahan dan kecurigaan terhadap orang lain masih mengental.

Saya merasa amat bersyukur kepada Tuhan karena hal itu tidak berlangsung lama. Dari hari ke hari pergaulan saya makin bertambah dengan kawan-kawan dari berbagai suku. Di sini saya mengenal sifat-sifat orang Madura, orang Timor, orang Jawa, orang Sunda, orang Toraja, orang Bali, orang Palembang, orang Manado, dan lain-lainnya. Tanpa saya sadari tumbuh rasa KEBERSAMAAN yang bermuara kepada rasa senasib dan seperjuangan.

Jika saya renungkan kembali tumbuh perasaan takjub dalam hati saya; “alangkah hebatnya ide dalam mendirikan asrama yang dilandasi BHINNNEKA TUNGGAL IKA seperti asrama Realino ini”. Sebagai seorang Muslim bersama kawan-kawan lainnya, kami merasakan sentuhan rasa saling hormat-menghormati dan harga-menghargai agama lain. Di bulan puasa Ramadhan seorang Broeder (Van Zon) menyiapkan makan sahur kami selama sebulan penuh. Jika kepada yang lain waktu makan malam tetap jam 19.30, maka kami diberi dispensasi untuk makan terlebih dahulu. Alangkah indahnya.

Sewaktu masih di Medan atau Pematang Siantar tempat saya menyelesaikan SMA, rasa simpati saya terhadap kawan-kawan dari etnis Cina tipis sekali. Mungkin itu disebabkan karena mereka kebanyakan suka menutup diri dalam pergaulan. Antar mereka digunakan bahasa leluhur, sehingga sering menimbulkan salah paham dan rasa curiga. Kalaupun berbahasa Indonesia logatnya “patah-patah” dan tidak jelas. Paramasastranya centang-perenang. Misalnya,: “Lu, sana pigi Siantal” yang maksudnya “Kau pergi ke Siantar”

Semua pengalaman di Sumatera itu berubah 180 derajat di Realino. Rasa takjub menyelimuti perasaan saya. Saat itu seakan-akan saya bertemu dengan “manusia-manusia baru” tatkala melihat dan mendengar bagaimana kawan-kawan etnis Cina di Realino berbicara, bercanda, memaki dengan bahasa Jawa sekalipun antar mereka sendiri.

Dalam masa transisi itu saya beruntung akrab dengan Mas Kho Tjong Kwie (’56) senior saya di fakultas Ekonomi GAMA. Orangnya kalem, tetapi sifatnya periang dan terbuka. Memang sejak mahasiswa dia selalu menonjol di bidang organisasi, apakah itu RDC, RBC atau Badminton Club. Dari  dia saya belajar banyak tentang hakekat pergaulan antar kawan, antar manusia, serta antar kemanusiaan (human relationship). Pelan-pelan saya mulai belajar mempraktekkan…….”nuwun sewu”. Saya teringat ajaran agama saya…….. Firman Tuhan: “Kami jadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, untuk saling kenal-mengenal, dan yang paling mulia di sisiKu ialah mereka yang paling taqwa”.

.

APA ARTINYA NAMA

Namun keakraban saya dengan Tjong Kwie terasa ada yang mengganjal. Dalam hati saya bertanya mengapa dia tidak mau menggunakan nama Indonesia, sedangkan kepribadian dan integritasnya seratus persen Indonesia! Pada suatu kesempatan tatkala kami berdua saja, saya berterus terang kepadanya: “Kwie, kenapa sih namamu tidak diganti saja dengan nama Indonesia?, Kau lahir dan besar di sini dan Kau paling doyan tempe, pecel apalagi sambal terasi”.

Saya menyadari Tjong Kwie bukan tipe orang yang mudah dipengaruhi. Otaknya berputar dulu sebelum menerima pendapat orang lain. Tak ada tampang munafik (berpura-pura) dalam dirinya.

Dia kemudian menjawab: “Tolong tunjukkan kepada saya mana yang dikatakan nama Indonesia itu. Namamu sendiri Syukri jelas berasal dari Arab. Soedarto Djacaria (’56) juga impor campuran dari India dan Arab. Paulus Sitohang (’53) – sudah almarhum – campuran Barat dan Batak.” Saya benar-benar merasa KO, dan pembicaraan kami putus sampai di situ. Namun bertahun-tahun kemudian sekembalinya saya dari Jerman Barat nama Kho Tjong Kwie sudah berganti dengan TITUS KARTIKA KURNIADI. Saya yakin Titus tidak akan pernah lupa hal itu.

.

REUNI AKBAR

Gedung SMA Kolese Kanisius di jalan Menteng Raya Jakarta seakan berubah sejenak menjadi “ASRAMA REALINO” tanggal 28 April 1991. Para Alumni Realino dari seluruh Indonesia tumplek-bleg malam itu. Mulai angkatan 1952 sampai angkatan 1989.

Tanpa disadari 37 angkatan silih berganti menjadi penghuni Asrama yang seluruhnya berjumlah sekitar 1400 mahasiswa. Sekarang mereka tersebar di seluruh penjuru tanah air, bahkan ada yang bermukim di luar negeri.

Dengan semangat kebersamaan yang ditempa selama berada di asrama menimbulkan rasa keterikatan yang tinggi. Ada rasa sense of belonging antara satu dengan lainnya. Bahkan tidak sedikit kawanyang sukses dan berhasil mencapai keberuntungan berkat kerja keras mereka, sudi membagi kebahagiaan untuk dinikmati bersama. Seorang kawan karib saya mengatakan: “Membantu kawan apalagi yang dalam kesusahan mempunyai nikmat dan rasa kebahagiaan tersendiri.”

Sulit untuk melukiskan perasaan masing-masing di saat itu. Bertemu kembali setelah berpisah puluhan tahun bukan suatu peristiwa biasa. Hal tersebut mengandung nilai-nilai yang sangat manusiawi. Terbayang bagaimana saat mengalami sepeda gembos ketika harus segera kembali ke Kampus untuk tentamen, teratasi hanya karena seorang kawan merelakan sepedanya dipakai tanpa pamrih.

Tanpa terasa air mata berlinang dan langsung berangkulan. Sekitar 300 Alumni yang sebagian besar datang membawa keluarganya berbaur menjadi satu. Tak peduli apakah dahulu pernah berseteru karena “bersaing”.

Air mata adalah salam kasih, salam cinta dan persahabatan yang tidak mungkin dipalsukan.  Seperti layaknya senyuman dan jabatan tangan yang mungkin hanya sekedar basa-basi. Air mata mengandung nilai yang sangat hakiki.

Rama C. Stolk, Pemimpin Asrama Realino yang terakhir, datang bersama 60 mahasiswa asuhannya. Mereka yang umurnya sebaya dengan anak-anak seniornya menginap di Griya Wisata Taman Mini Indonesia Indah. Mereka datang lengkap dengan Grup Band REALINO, Grup Pantomim, dan Grup Kecak “Gatot Kaca Gugur”. Di pihak senior, Mas Hardanto Sunaryo (‘59) bersama Mbak Elsye Hardanto (mantan penghuni Asrama Mahasiswi “Stella Duce”) beserta putra-putrinya ikut bergabung di pentas.

.

KEBERSAMAAN

Ketika ngobrol ngalor-ngidul di taman tempat kediaman Mas Bambang Ismawan seusai acara 1 Juni 2000, saya melemparkan topik PEMERSATU. Kawan-kawan yang masih tinggal antara lain Mas Oetoro, Mas Hardanto, Mas Didit Suhardijadi dengan pasangan masing-masing. Mas Jack Soedarto Djacaria, Mas Eddy Iswanto, dan Mbak Soemarwati Roeskamdi semua datang sendirian. Mas Beni, Mas Joned, dan Mas Frans dari Yogya ikut bergabung.

Sesuai topik di atas, saya melontarkan pertanyaan: “Apa faktor utama penyebab mengentalnya persahabatan Realino?”. Mas Jack Soedarto Djacaria langsung menjawab: ”Kebersamaan”. Tepat…. Itulah kata bertuah yang membuat kita semua selalu merasa bersaudara. Namun saya yakin tidak mudah untuk menjelaskan hakekat kebersamaan Realino itu kepada orang lain yang tidak ‘melakoninya’ sendiri di CODE atau GEJAYAN.

Untuk itu izinkanlah saya mengungkapkan pengalaman probadi ketika tinggal di asrama  sebagai usaha memvisualkan bentuk kebersamaan menurut visi saya. Kepada kawan-kawan yang lain saya harapkan masukan menurut visi masing-masing, sehingga bisa kita rumuskan bersama secara pas dan tepat.

Ketika pertama kali masuk ke asrama, saya terperanjat saat melihat tempat tidur yang akan saya tempati, kasurnya beralaskan tikar atau kasa. Dalam hati saya membathin: “Kere amat…… masa gedung asrama yang begini megah……. spreinya tikar?!” Bayangan saya tadinya kalaupun tidak waaaaah, paling sedikit……. Nyamanlah untuk tidur dan beristirahat. Terus terang saya kecewa! Namun sesudah duduk sebentar di atas tikar itu saya langsung merenung……….”Aku ini siapa?. Bathinku seakan menjawab: ”Syukri, kau itu adalah insan yang dikaruniai Tuhan dengan keberuntungan. Masih banyak orang lain yang lebih parah keadaannya”.

Astaghfirullah! Aku sadar bahwa Tuhan telah membuka hatiku melalui……..TIKAR. Sungguh Maha Bijaksana Dia! Ternyata kemudian aku menemui hal yang sama. Rupanya di Realino ini semua diperlakukan SAMA. Siapapun dia……apakah anak pejabat, anak petani, anak pengusaha atau anak bangsawan sekalipun……. Tanpa previlesi.

Begitulah pengalaman pertamaku di Realino. Selanjutnya semua berlangsung dengan mulus. Bangun pagi jam 05.30. makan malam jam 19.30. belajar maksimum sampai jam 11.00 malam, kemudian lampu kamar harus padam.

Sikap disiplin dan rasa kejujuran tertanam tanpa disadari. Kalau makan daging atau poetus berupa pisang goreng atau singkong goreng setiap orang hanya punya jatah satu potong. Boleh dobel…… asal rela jadi ‘maling’ yang akhirnya akan bertentangan dengan hati nurani sendiri.

Saya berkeyakinan setiap orang akan menemukan jatidirinya sendiri tanpa dipaksa. Kebenaran, kejujuran, dan tanggung jawab tidak bisa terlepas dari lingkungan sekitarnya. Ada contoh yang jadi panutan, ada lingkungan sekeliling yang mendukung merupakan syarat mutlak menuju keberhasilan. Dan semua itu sudah saya temui di Realino.

Namun timbul juga pertanyaan: Apakah setiap orang mampu dan sanggup menerima KEBERSAMAAN itu sebagai suatu sikap hidup di asrama?  Jelas tidak! Bagi mereka yang ragu-ragu paling kuat hanya bertahan beberapa minggu, bahkan mungkin hanya beberapa hari untuk selanjutnya angkat koper mencari pondokan lain.

.

GEBRAKAN FORSINO

Tanggal 14 Mei 1991 tercatat sebagai rapat FORSINO pertama pasca Reuni Akbar. Bertepatan hari Selasa minggu kedua setiap bulan kemudian populer dengan istilah  SELASA KAPINDO. Istilah ini punya sedikit riwayat. Semula istilah yang saya gunakan adalah SELASA LORO, karena mau gampangnya saja. Rupanya Mas Pardjono yang mengetiknya ke komputer melihat kesalahan ini. Dia memang sangat berpengalaman dan mengerti maksud saya. Baru saya sadar bahwa semua bahasa, termasuk bahasa daerah ada kaidahnya masing-masing. Tidak boleh main hantam kromo.

Waktu itu beberapa keputusan penting berhasil dirumuskan, antara lain:

  1. Keanggotaan FORSINO berdasarkan stelsel pasif, berarti semua Alumnus otomatis menjadi anggota.
  2. Mempersiapkan rombongan FORSINO untuk menghadiri upacara penutupan dan sekaligus penurunan bendera Realino tanggal 30 Juni 1991 di GEJAYAN.
  3. Penerbitan buku “APA DAN SIAPA REALINO” dipercepat.
  4. Buletin “KABAR” (singkatan Keluarga Besar Alumni Realino) atas usul Mas Radjino (’54), ditetapkan ditetapkan terbit setiap 3 bulan sekali. Kebetulan nomor perdananya direncanakan terbit tanggal 25 Juni 1991 sebelum berangkat ke Yogya.

.

MARWAH ALUMNI

Pada tanggal 29 Juni 1991 rombongan SENTIMENTAL JORNEY (istilah Mas J.B. Soepardjono, Alm) berangkat dengan KA Fajar Utama. Saya ditunjuk sebagai pimpinan rombongan. Satu gerbong eksekutif hampir penuh dengan anggota FORSINO, termasuk dua orang putra saya Iqravid Hajat (20 th) dan Ismeddin Hajat (17 th). Mereka bertepatan lagi libur sekolah dan penasaran ingin tahu bagaimana sih…….. Realino itu.  Selama ini mereka hanya mendengar cerita yang serba waaaaaah melulu dari Bapaknya.

Saya berkeyakinan bahwa saya bukanlah satu-satunya Bapak yang bersikap begitu. Mungkin banyak juga yang lain tingkah polahnya sama.  Maklum….ada rasa kebanggaan tersendiri terhadap Realino.

Saya teringat Mas Tjito Sumarjanto (’64) yang pagi itu berangkat bersama anggota keluarganya, berpencar dalam beberapa gerbong karena terlambat pesan tempat. Mereka membeli tiket melalui para calo. Hanya dia dan istrinya Mbak Umi Respati yang kumpul, sedang dua putrinya Wisjnu Bintang Binawati dan Nike Kurniasari serta putranya Indra Bagus Sukma masing-masing berpencaran.

Di asrama mereka semua menginap di sayap utara ex SANATA DHARMA. Kamar mereka mungkin dulunya sebuah lokal yang disulap menjadi sebuah kamar tidur dengan enam bed. Di situlah mereka sekeluarga berkumpul.

Ketika ngobrol dengan Mbak Umi dia mengatakan anak-anaknya pada ngotot minta ikut. Mereka penasaran karena Bapaknya selama ini selalu bercerita tentang kehebatannya dan kehebatan Realino itu sendiri. Sekarang mereka ingin membuktikan sendiri.

Oleh karena itu pada suatu kesempatan kumpul di BINA SWADAYA tanggal 9 Juni 2000 yang lalu, kepada Mas Bambang, Mas Titus Kurniadi, Mas Ari Sudarsono, Mas Hardanto, Mas Adhi Prabawa, dan Mas Eddy Iswanto, saya wanti-wanti supaya selalu menjaga “marwah” (dignity) para Alumni. Jangan hendaknya timbul kesan bahwa di REALINO ataupun FORSINO ada warga kelas satu, kelas dua dan seterusnya. Mereka semua tertawa, sedangkan Mas Bambang Ismawan mengaku baru menyadarinya sekarang.

.

BERKABUT SYAHDU

Sekitar jam 17.00 rombongan FORSINO tiba di stasiun TUGU. Mas P.C. Soerjanto (’56) yang sengaja turun dari Ambarawa menyambut kedatangan kami. Dia ditemani Mas Pardjono yang memang sudah duluan ke Yogya (mereka berdua sekarang sudah almarhum).

Menurut Mas Pardjono, tadinya Mas Senthir Martoyo (’54) dari Solo janji mau sama-sama jemput tetapi datang terlambat. Waktu menyusul ke asrama dia sudah siap mental menghadapi pisuhan Mas Par yang memang tidak ada duanya di Realino. Sungguh, keakraban Realino itu terjalin terus sampai tua. “Ruaaaaaaaar biasa!”.

Suasana gembira berkabut syahdu mewarnai malam penutupan tanggal 30 Juni 1991. Gembira karena bisa berkumpul kembali dengan kawan-kawan lama, tetapi ada perasaan sedih karean sebentar lagi asrama akan ditutup.

Almarhum Mas FX. Suhardjo (’52) khusus datang dari Riau bersama keluarganya. Dia adalah mantan Perwira TNI–AL ikut operasi membebaskan Irian Barat tahun 1963 sebagai dokter tentara. Mungkin dia salah satu yang paling terharu malam itu, karena Bendera Realino yang diciptakannya berpuluh tahun lalu sebentar lagi akan diturunkan.

Seusai menyantap hidangan pesta yang disajikan sangat istimewa karena Rama C. Stolk masih menyimpan sisa kas Realino, semua hadirin duduk lesehan di lapangan basket. Acara malam penutupan diserahkan sepenuhnya kepada FORSINO sehubungan telah dibentuknya wadah baru bagi Alumni Realino.

Mas Sismadi bergantian dengan Mas Bambang Ismawan menjelaskan sampai detil liku-liku FORSINO. Saking semangatnya Mas Sis yang selalu energik itu kerap mengacungkan tinjunya bergantian. Rupanya ada seorang yunior yang usil: “Paaaaaak, kok belum ada yang KO?”  Macam-macam saja!

Waktu berkesempatan ngobrol dengan kawan lama saya Mas Hanjilin (‘58 )  yang sengaja datang dari Solo bersama Mas Liem Sing Djong (’56), Mas Hartojo (’57) yang suaminya Mbak Martha, sungguh membuat saya terenyuh. Putranya Sanjoyo Widyotomo wafat sebelas hari menjelang asrama ditutup, dalam kecelakaan lalu lintas ketika sedang mengikuti KKN di sekitar Prambanan. Almarhum sebentar lagi akan menyelesaikan kesarjanaannya pada Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada. Termasuk langka barangkali seorang ayah dan anak sekaligus menjadi Alumni Realino. Saya kagum kepadanya disebabkan ketegaran hatinya untuk datang menyaksikan penutupan asrama yang pernah dihuninya yang kemudian dilanjutkan oleh putranya.

Acara penurunan bendera berlangsung tepat jam 00.00 WIB seiring jatuhnya hujan rintik-rintik. Sebelumnya Rama Budi pimpinan LEMBAGA STUDI REALINO menyampaikan pidato bahwa Gedung Realino tetap bermanfaat yang akan digunakan sebagai Pusat Pengembangan Studi dan Pengkajian Ilmu bagi mahasiswa pasca sarjana. Ketua asrama terakhir, Mas Kris Sitepu (’87) mengucapkan kata-kata perpisahan terakhir dengan penuh haru. Namun dia bangga karena wadah Alumni FORSINO telah dibentuk.

Pemimpin asrama terakhir Rama C. Stolk dengan linangan air mata menyerahkan Bendera Pusaka Realino kepada Mas Haji Sismadi Partodimuljo untuk disimpan di FORSINO Jakarta. Air mata berlinang kembali dan butir-butirnya jatuh membasahi bumi Realino. Sapientia et Virtus.

.

PRIORA BISNIS

“Hembusan angin hanya sekedar membuat daun dan pepohonan bergoyang, tetapi ide yang dihembuskan bisa membuat orang lain terlena”.

Selama masa kepengurusan FORSINO kurun waktu 1991-1994, aktivitas yang telah dipacu cukup lumayan. Seperti misalnya kerja sosial, ceramah dengan bobot ilmiah, seminar, rekreasi, dan terakhir bisnis. Namun bidang yang menarik untuk di “kili-kili” tentulah priora bisnis (keadaan dan kenyataan bisnis yang lalu).

Jauh dari keinginan yang bersengaja “mengangkat batang terendam”. Bukan itu tujuan kita. Tetapi pengalaman masa lalu senantiasa bisa dijadikan guru yang paling baik. Kita tidak rela FORSINO (terutama para yunior) yang kelak akan menahkodai perahu ini terbentur oleh karang-karang yang kecil. Hanya itu. Hadirnya seorang yunior FORSINO Angkatan “88 dari Yogyakarta pada rapat KAPINDO bulan Agustus 1991, membawa ide dari kelompok seniman Realino. Ide itu cukup sederhana dan masuk akal yakni ingin menggelar “pameran busana dan seni”.

Menurut mereka, pameran ini akan menguntungkan karena dari hasil survai saat itu Yogyakarta memang lagi “demam” pameran seni. Mereka hanya butuh modal sekitar dua juta rupiah dan berjanji akan mengembalikan modal utuh berikut keuntungannya.

Ide ini mendapat dukungan penuh dari FORSINO, sekalipun kas hanya terisi uang sisa dari surplus Reuni Akbar yang lalu dan telah pula dipakai untuk biaya penerbitan buku APA DAN SIAPA REALINO serta KABAR. Sehingga FORSINO hanya mampu menyediakan modal sebesar 1,2 juta rupiah.

Proses ini telah memberi pelajaran sangat berharga bagi FORSINO. Langkahnya dimulai dengan mengabaikan sama sekali persyaratan bisnis yang paling minimal. Tanpa agunan/jaminan apapun, tanpa melakukan survai yang teliti, dan semata-mata mengandalkan kepercayaan thok! Hal seperti ini memungkinkan orang untuk bersikap santai dan tidak bertanggungjawab. Memang uang yang hilang tidak banyak, tetapi cukup berarti buat FORSINO yang waktu itu baru mulai melangkah. Namun di balik semua itu ada sesuatu yang sangat ironis, yakni kegagalan itu tidak diikuti dengan sikap kesatria. Secara organisatoris tidak pernah ada laporan pertanggung-jawaban. FORSINO sepertinya diabaikan begitu saja tanpa rasa bersalah.

Selanjutnya ada juga hal-hal lain yang menjadi top isu di kalangan FORSINO, seperti misalnya masalah bisnis jahe. Tetapi itu lebih bersifat khusus karena hanya melibatkan modal pribadi yang tidak ada kaitannya dengan FORSINO sebagai institusi.

Tentang TIM SEMINAR rasanya layak diangkat sebagai suatu contoh kerja sama FORSINO yang paling solid. Semua anggota mempunyai peran dan andil dalam TIM, walaupun kadarnya mungkin berbeda. Hanya karena memegang teguh prinsip KEBERSAMAAN pergelaran seminar waktu itu berhasil mengibarkan BENDERA FORSINO dan menambah kas sekitar sepuluh juta rupiah. Hanya itu.

.

PERAN TEMAN SEKAMAR

Sebagai anggota FORSINO, pernahkan Anda membayangkan bagaimana kiranya bentuk SELASA KAPINDO jika para Ibu tidak ada. Saya yakin Anda akan sependapat dengan saya bahwa SELASA KAPINDO pasti hambar. Memang peran wanita tidak bisa diganti siapapun dan dengan apapun. Bahkan pujangga besar Umar Kayam mengatakan :”the remedy of woman is woman”. Maksudnya jika kau patah hati karena wanita maka obatnya hanyalah wanita juga!

Saya pernah mengamati hasil kolekte FORSINO beberapa kali. Jika Mbak Zaenah Sismadi absen jumlahnya selalu kecil. Sering-sering di bawah seratus ribu rupiah. Malahan setengahnya juga kadang sulit.

Tetapi jika Mbakyu-ku ini hadir hasil kolekte pasti membengkak. Pasti di atas seratus ribu. Kalaupun hasil kolekte hanya mencapai tiga atau empat puluh ribu rupiah saja sedangkan Mbak Sis ada, maka pastilah peserta rapat hanya terdiri dari Syukri Hadjat dan Almarhum Mas Pardjono beserta Tim ‘pemulung’ lainnya.

Untung saja Mas dan Mbakyu Sis termasuk anggota yang paling rajin menghadiri SELASA KAPINDO. Kalau Mbak-Mbak yang lain umumnya silih berganti saja. Seperti Mbak Nunik Sudarmono, Mbak Wuryanto, Mbak Radjino, Mbak Elsye Hardanto, Mbak Soekardi, Mbak Atiek Soepardjono, Mbak Dini Syukri, Mbak Naryoko, Mbak Djoko Suyono, Mbak Yan LFT, Mbak Rita Oetoro, Mbak Suluh Darmadji, Mbak Tini Iwan Hartono, Mbak Wiworo, Mbak Cahyono Wibisono, Mbak Winarno, Mbak Titus Kurniadi, Mbak Didiet Suhardijadi, Mbak Ari Sudarsono, Mbak Bambang Triguno, Mbak Sutanto Hadinoto, Mbak Ismuhadi, Mbak Sugiarto, Mbak Satwika, Mbak Soemarwati Roeskamdi dan lain-lainnya yang tak bisa disebut satu persatu saking banyaknya.

.

PERTEMUAN PEJATEN

Ternyata diam-diam Mas Hardanto Sunarjo dan Mbak Elsye sudah lama berniat mengundang keluarga besar FORSINO kangen-kangenan di rumahnya. Tetapi secara kebetulan FORSINO juga sudah punya rencana kumpul berdiskusi sambil menginap semalam di PUSDIKLAT BINA SWADAYA Cimanggis.

Namun Allah Yang Maha Kuasa menentukan lain. Tiba-tiba Mas Bambang Ismawan mendadak dirawat di R.S. St. Carolus. Menurut Mas Sangkil Sudarmono diduga kena demam berdarah, sehingga tidak bisa dipastikan kapan bisa keluar rumah sakit.

Dengan demikian disepakati pertemuan Pejaten akan dilaksanakan tanggal 16 April 2000 bertepatan hari Minggu, jika Mas Bambang sudah sembuh. Dan Alhamdulillah Mas Bambang segar bugar kembali setelah dirawat beberapa hari, sehingga acara kangen-kangenan bisa berlangsung.

Ternyata bukan dari Jakarta saja yang datang, malah para senior dari Bogor Mas A.J. Radjino, Mas P.C. Wiworo dan istri serta Mas Wisjnu Sudigbyo meluangkan waktunya untuk hadir.

Terlebih istimewa lagi dari Medan, Mas Jack Soedarto Djacaria yang lagi “apel” bulanan ke Jakarta muncul dengan “teman sekamarnya” Mbak Retno. Mereka terpaksa “berpisah” karena Mbak Retno dipindah ke Pusat jadi KARO UMUM di Departemen Perhubungan. Sedangkan Mas Jack tetap di Medan karena sudah pensiun dari Ditjen Perhubungan Laut.

Seingat saya selama acara kangen-kangenan FORSINO yang sempat saya hadiri baru di Pejaten bertemu dengan Mbak Sylvia Ismawan dan Mbak Ari Sudarsono. Tetapi jika saya keliru, jangan marah……..lho. Nuwun sewu!

Dalam kangen-kangenan itu ada acara pemberian cindera mata kepada Mbak-Mbak “warakawuri” FORSINO yang disponsori oleh Mas Hardanto dalam bentuk buku. Mereka masing-masing Mbak Soemarwati Roeskamdi, Mbak Atiek Soepardjono, Mbak Veronica Soekardi, Mbak Ning Winarno, dan Mbak Lies Suhardjo.

Mas Titus Kurniadi didaulat untuk menyampaikan “oleh-oleh”nya setelah ikut tur ke mancanegara bersama rombongan Presiden Abdurrachman Wahid. Hebat juga teman kita yang satu ini, diam-diam sudah bisa masuk orbit. Acara akhirnya bubar jam empat sore, tetapi masih ada tamu terakhir yang datang sangat kesorean, yakni Mas Bambang Kuncoro. Setahu saya makanan sudah habis dibagi Mbak Elsye kepada yang pulang. Mesakke……. Mas Bambang. Nuwun sewu!

.

JOKE DI CIMANGGIS

Acara silaturahmi dan ngobrol santai baru dimulai sekitar jam 10.30 WIB karena hari itu bertepatan dengan Hari Besar Kenaikan Isa Al-masih. Kawan-kawan yang beragama Katholik Roma mengadakan Misa di taman. Saya ditunjuk Mbak Sylvia jadi “tuan rumah” menerima kedatangan kawan-kawan yang tidak ikut Misa.

Saya dan istri merasa dapat kehormatan dari Mbak Sylvia karena dipercaya dengan hati yang tulus. Matur nuwuuun! Tetapi hati-hati lho, Mbak…. Waktu di asrama dulu aku sering ‘ndobel poetus. Mungkin salah satu dari para ketua yang terdiri dari Mas Sangkil, Mas Bambang pernah ngelaporin tingkahku pada Rama Beek. Kalau Mas Oetoro ndak mungkin karena dia koncoku dan selalu melindungi. Jadi aku memang ada bakat “maling”.

Sekitar seratus keluarga kumpul. Senior dan yunior berbaur tanpa ada rasa sungkan. Namun tiba-tiba saya terenyuh melihat seseorang datang dengan didorong kursi roda. Rasa ingin tahu mendorong saya untuk menghampirinya sedekat mungkin. Ya Tuhan …… berilah dia kekuatan dan kesehatan Aku berdo’a untuk Mas A.F. Dwiyanto (’56) yang pernah tinggal bersama di Blok Selatan. Dia datang bersama istrinya yang sangat setia dan didorong oleh putranya. Aku salut sama Mas Bambang Ismawan yang masih ingat padanya.

Pengalaman pahit di masa ORLA dipaparkan oleh Mas Haji Endang Sariman (’62) yang didengarkan serius oleh para hadirin. Di zaman ORLA dia pernah masuk tahanan karena dituduh antek-antek CIA yang kemudian disidangkan di pengadilan. Dia terharu apabila ingat bagaimana Rama Willenborg membelanya mati-matian tanpa peduli resiko.

Bagaimana pengalamannya di luar negeri setelah bebas juga diceritakan apa adanya, dimana dia pernah jadi kuli beneran di Amerika dan Eropa. Alangkah asyiknya membaca kisah itu jika Mas Sariman mau menuliskannya. Semoga!

Acara yang tidak kalah menariknya adalah sumbangan joke dari setiap keluarga. Karena di dalam surat undangan, Mbak Sylvia mencantumkan dengan jelas mata acara ini, maka hampir semua memang siap dengan joke masing-masing. Bahkan Mas Adhi Prabawa menyiapkan setebal satu makalah. Untung tidak dibacakan semuanya. Kalau sampai…… pasti hingga menjelang pagi acara itu belum tentu selesai.

Akhirnya tentulah puncak acara yang dinantikan setiap orang, yakni makan siang bersama. Jangan tanya masakan apa yang disajikan Nyonya rumah yang memang punya hobi masak itu. Saya dan mungkin juga yang lainnya pada bingung memilih apa yang mau disantap, sebab empat meja digelar terpisah. Tetapi saya dan Mas Sutanto Hadinoto dan beberapa kawan lainnya paling asyik di meja yang ada sayur asamnya ditambah sambal dan ikan asin istimewa. Kalau seafood dan sejenis masakan Jepang  disajikan mentah … waaah tak bisa lewat kerongkongan orang Aceh.

.

LANGKAH BERIKUTNYA

Anda bisa saja meninggalkan warisan dalam bentuk harta dan uang bagi anak cucu. Tetapi yakinkah Anda bahwa itu akan lestari? Demikian juga dengan cita-cita FORSINO apakah kita juga mampu meneruskannya kepada anak cucu kita? Jawaban untuk keduanya mungkin sama. Belum tentu!

Kearah itulah seyogyanya kita harus berpikir sekarang. Karena jika terlambat bukan tidak mungkin riwayat FORSINO lambat laun akan habis hingga semua Alumni satu persatu meninggalkan alam fana ini. Setelah “pergi”nya Mas Roeskamdi, Mas Soekardi, Mas Winarno, Mas Wiyoko Muntalib, Mas Hari Wardjono, Mas Soepardjono, Mas Hartojo, Mas Ahmad Wahib dan lain-lainnya, boleh dikatakan tidak seorangpun yang saya ketahui sempat meninggalkan catatan pengalaman mereka yang bisa dijadikan kenang-kenangan sejarah Realino. Kecuali barangkali Mas Soepardjono yang secara sekilas sempat meninggalkan”orat-oret” di Buletin KABAR  sebagai kisah-kisah yang bersifat sebagai humoria dan juga Mas Ahmad Wahib yang catatan hariannya diterbitkan dalam buku berjudul “PERGOLAKAN PEMIKIRAN ISLAM”.

Sangat memilukan dan alangkah tragisnya jika perjalanan panjang Realino yang hampir setengah abad itu dengan jumlah Alumni lebih dari 1400 orang, terputus begitu saja. Padahal kita maklum bahwa perjalanan panjang itu sarat dengan muatan NUANSA KEMANUSIAAN.

Kita belum terlambat apabila sejak sekarang sudi dan mau berpikir ke arah itu. Kita bisa menghimbau dan menyuguhkan umpan balik (feed-back) kepada semua kawan-kawan yang sekarang masih exist, untuk mulai menuliskan pengalamannya masing-masing walau secara singkat. Insya Allah tulisan-tulisan itu dapat diusahakan terbit dalam bentuk buku.

Tidak perlu berpikir terlalu “jauh” apakah buku itu bisa laku dijual atau tidak. Sebab sasaran pokok kita untuk langkah pertama adalah dibaca di kalangan kita sendiri. Kita menulisnya sendiri, menerbitkannya sendiri secara gotong-royong. Dan lebih “semarak” lagi jika yang membelinya juga…….kita sendiri.

Jika ide ini bermanfaat menurut penilaian Anda mari kita rencanakan bersama bagaimana implementasinya.

.

Jakarta, 23 Juni 2000

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s