Detik-detik terakhir Asrama Realino

Imam Santosa Ratam

Minggu, 30 Juni 1991

penutupanRangkaian upacara penutupan Asrama Realino dimulai dengan Misa bersama tepat jam 17.00. Misa ini unik sekali, tidak seluruhnya dilangsungkan dalam satu tempat. Sebagian dilangsungkan di kapel, sebagian di lapangan voli, sebagian lagi di kebun belakang, di bawah pohon beringin yang rindang. Mungkin ini ide Romo Stolk yang petang dan malam itu memang kelihatan emosional sekali. Misa usai jam 18.30.

Jam 19.00 para alumni yang tidak ikut Misa juga sudah mulai berdatangan. Tidak hanya dari Yogya, tetapi juga dari Sala, Jakarta (rombongan khusus “Sentimental Journey” dengan kereta api), bahkan juga dari daerah “udik” Rumbai, Pakanbaru, yakni Mas Hardjo “Gule” alias Mas F.X. S. Har, karikaturis terkenal sejak tahun 50-an dan kini bertugas sebagai dokter pada perusahaan minyak Caltex. (Koreksi dari Redaksi: Mas Hardjo dan keluarga ikut menghadiri Misa).

Malam itu Romo Pemimpin Asrama menjamu para tamu dengan santap malam istimewa. Bukan pesta kamar, tetapi pesta lapangan voli, karena acara santap malam itu diadakan di lapangan voli Blok I. Dan aneh bin ajaib, makanan yang dinikmati oleh sekitar 200 orang hadirin itu, tidak habis. Suatu kejadian sangat langka bagi Asrama Realino! Ada makanan kok sampai tersisa. (Padahal dulu, kalau ada sebutir kacang peyek “gogrok” dan jatuh di bawah meja saja, mesti dicari sampai ketemu oleh pemiliknya. Red.) Tetapi malam itu benar-benar lain suasananya.

Mungkin karena sebagian alumni sudah menjadi bapak-bapak yang sudah banyak pantangannya. Tetapi mungkin juga semua kehilangan selera makan, karena larut dalam keterharuan, menghadapi detik-detik terakhir sejarah asrama tercinta.

.

Cita-cita Rama Stolk

romo-stolkSelesai santap malam, pemimpin terakhir Asrama Realino, Romo Harry C. Stolk SJ, didampingi Pengurus Asrama Realino terakhir menyampaikan sambutannya.

“Saya mempunyai dua cita-cita,” kata Romo Stolk. “Yang pertama, kalau suatu ketika Realino harus mengakhiri eksistensinya seperti sekarang ini, jangan dikatakan Realino menjadi merana. Sampai jam 00.00 nanti Realino harus tetap hidup dengan segala keanehannya.”

“Yang kedua,” sambungnya, “Realino janganlah dihapus, tetapi hendaknya ditingkatkan dan dicarikan suatu bentuk baru yang lebih serasi dengan tuntutan zaman. Maka saya gembira dengan lahirnya Lembaga Studi Realino atau LSR sebagai kelanjutan Realino.”

“Dengan demikian malam ini saya pulang (ke mana Romo? Red.) dengan merasa cukup bahagia karena saya mendapat anugerah, yaitu saya boleh mengantar Realino sampai akhir…. “

Romo Stolk mengakui bahwa sampai saat itu ia belum berhasil menemukan terjemahan yang tepat untuk kata-kata Latin “sapientia et virtus”. Tetapi ia yakin °’kita semua menyadari dan dapat menghayati bahwa yang dimaksud dengan semboyan itu adalah kebijakan berdasarkan iman kepada Tuhan, yang membawa kita memiliki sifat kesatria dalam kebaktian dan pengabdian kepada masyarakat, serta yang mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan diri sendiri.” (Bangsa Romawi kuno dulu malah menganggap “sapientia” sebagai salah satu “virtus”, bahkan yang paling utama di antara °virtus-virtus” (virtutes) lainnya.

Orator dan filosof besar Cicero pernah bilang: “Princeps omnium virtutum illa sapientia….” Romo Stolk pasti masih ingat tulisan-tulisan dalam bahasa Latin karangan M. Tullius Cicero yang dipelajarinya waktu masih duduk di gymnasium lebih dari setengah abad yang lalu. Red.). Romo Stolk mengakhiri sambutannya dengan minta maaf karena selama 39 tahun mungkin Realino belum pernah menghidangkan santapan sesedap hidangan malam itu.

Sambutan berikutnya diberikan oleh Ketua Pengurus Asrama Realino, Masri Kris Sitepu. la berkata antara lain: “…..kita semua, terutama angkatan yang terakhir ini yang sempat merasakan akhir hayat Realino, tentu merasa sangat bersedih melihat ditutupnya Realino. Tetapi karena ditutupnya Realino merupakan awal kelahiran tunas baru, yaitu Lembaga Studi Realino, maka kita semua harus merelakannya… !

Acara berikutnya diisi dengan penjelasan Romo Budi, Pimpinan Lembaga Studi Realino, mengenai lembaga yang akan dipimpinnya itu. Menurut Romo Budi, Realino akan dijadikan pusat pengembangan, penelitian dan kajian ilmu serta bimbingan ilmiah bagi mahasiswa pasca sarjana. (Konon, Ordo Jesuit di Indonesia bahkan sudah bersiapsiap menjadikan Realino sebagai titik tolak bagi berdirinya sebuah universitas Katolik yang besar di bawah asuhan cendekiawan-cendekiawan Jesuit, semacam St. Thomas Aquino University dan Atteneo University dl Filipina atau The American University of Beirut di Lebanon. (Red.)

.

Selingan

Sebagai selingan. para aiumni dihibur dengan musik yang dimainkan oleh “The Realino Boys”. Cowok semua. tentu saja! Maksudnya sih menghibur. Tetapi lagu-lagu yang mereka sajikan hampir semua bernada sendu. Menambah sedih saja. Tak ketinggalan mereka memamerkan band khas Realino masa kini, yang instrumen-instrumennya terdiri atas alat-alat dapur. Baik dirigen, pemain, penyanyi dan penarinya main sekenanya saja. Tetapi terdengar dan kelihatan harmonis juga. Apalagi lagu dangdutnya!

Acara selingan ditutup dengan tarian “rock ‘n roll” oleh pasangan cowek (cowok berpakaian cewek) dan cowok. Yang muda tergelak tertawa-tertawa. Yang tua-tua cuma bisa geleng-geleng kepala.

Mengisi menit-menit terakhir yang tingga130 bilangannya, tampil pimpinan Forsino, yakni Mas Sismadi, Mas Bambang Ismawan didampingi Mas Syukri Hadjat. Mereka simpuh bersila di atas tikar di hadapan hadirin untuk menjelaskan segala sesuatu mengenai Forsino.

Mengenai semboyan “Sapientia et virtus” berkata Mas Sismadi: “…saya sudah meneliti apa arti kata-kata sapientia dan virtus itu dalam Kamus Latin-Indonesia (susunan K. Prent, J. Adisubrata dan W.J.S. Poerwadarminta. Red.). Ternyata “sapientia” berarti hal mampu menguasai, mengerti, kearifan, kebijakan, pertimbangan hati nurani. Sedangkan “virtus” maknanya keperwiraan, kepahlawanan, keunggulan, ketetapan hati, keteguhan, keutamaan, kekuatan dan lain-lain …. pokoknya yang baik-baik. Jadi “sapientia et virtus” kita artikan ‘pertimbangan hati nurani untuk bertekad kuat mengabdikan diri bagi kepentingan manusia di atas kepentingan sendiri’.

“Dulu pernah saya menanyakan kepada Rama Beek,” Mas Sis melanjutkan obrolannya, “mengapa Rama Beek tidak mendirikan universitas saja? Mengapa malah membangun asrama mahasiswa?”

“Lebih baik kita merangkul semua mahasiswa, tidak pandang suku, agama, golongan, aliran, daerah, untuk kita tumbuhkan menjadi manusia-manusia yang berguna, menjadi pemimpin-pemimpin yang baik dalam masyarakat,” kata Mas Sis mengutip jawaban Rama Beek hampir 40 tahun lalu. (Seharusnya ditambahkan juga “tidak pandang warna kulit”. Setuju ta Mas Senthir! Red.)

“Cita-cita almarhum inilah yang harus kita teruskan,” tegas Mas Sismadi.
Menjawab permintaan alumni yang masih mahasiswa agar Forsino menyelenggaraakan kursus-kursus praktis di bidang manajemen di Yogyakarta, Mas Sismadi menyatakan bahwa ia akan membantu sepenuhnya gagasan itu, bahkan ia sanggup menjadi tenaga pengajar. (Honornya untuk kas Forsino ya Mas!).

“Apakah Anda semua tahu apa arti Sis-ma-di? Artinya adalah sistem manajemen dinamis. Ini memang kudangan orang tua saya,” Mas Sis menjelaskan. (Bukan sistem malima dinamis Mas? Red.)

.

Anggota tertua

Sementara itu Mas Bambang Ismawan mengingatkan bahwa Forsino secara teratur mengadakan pertemuan sebulan sekali, yakni setiap Selasa ke-2 tiap bulan, jam 17.00 di Jl. Gunungsahari III/7, Jakarta Pusat. la mengharapkan siapa saja anggota Keluarga Besar Realino yang saat itu berada di Jakarta hadir.

“Mungkin kami bisa membantu Anda, tetapi mungkin juga Anda bisa membantu kami,” kata Mas Bambang. Mas Bambang mengeluh bahwa dari alumni yang seluruhnya berjumlah 1363, baru kira-kira 300 orang yang terdaftar. “Itu pun belum semua lengkap dengan fotonya,” keluhnya lagi.
Begitu Mas Bambang selesai memberikan penjelasan, Rama Stolk langsung berdiri dan menyatakan diri sebagai anggota Forsino. “Sampai tadi saya kira sayalah anggota yang tertua,” komentar Mas Sismadi, “Sekarang ternyata ada anggota baru yang lebih tua dari saya.”

.

Detik-detik terakhir

Jam menunjukkan 10 menit menjelang tengah malam. Suasana benar-benar mencekam dan menekan. Tiba-tiba Mas Sis berdiri seraya berteriak: “Mari kita bersama-sama menyanyikan lagu Realino!” Dan berkumandanglah yel dan lagu Realino. Untuk terakhir kalinya di bumi asrama tercinta.

Suasana hening kembali. Semua lampu dipadamkan. Kecuali lampu sorot yang menerangi pusat tempat upacara. Rama Stolk berdiri dan dengan suara terse ndat-sendat ia mengajak segenap hadirin berdoa menurut kepercayaan masing-masing. “Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Baik atas rakhmat yang dilimpahkanNya kepada Realino. Dengan tulus ikhlas kita menyerahkan kembali kepadaNya dan mohon agar la melimpahkan berkatnya kepada Lembaga Studi Realino….”

.

Jam 00.00

Terdengar komandan upacara meneriakkan aba-aba “siap” dan pemberian hormat kepada Bendera Pusaka Realino. Terompet kematian pun melengking-lengking, menyayat hati. Suara terompet yang biasa kita dengar di makam pahlawan saat jenasah diturunkan ke liang lahat. Tiga orang anggota Pengurus Asrama Realino menurunkan tiga bendera, satu di antaranya adalah Bendera Pusaka Realino.

Perlahan-lahan ketiga bendera turun dan akhirnya dilipat. Berjuta rasa bergejolak dalam kalbu masing-r.iasing. Air mata menetes tidak tertahankan lagi. Hujan rintik-rintik pun turun. Namun kita semua ikhlas menyerahkan kembali Realino kepada Tuhan. Kita berterima kasih kepadaNya.

Kemudian Romo Stolk menyerahkan Bendera Pusaka kepada Mas Sismadi. Dengan tersendat-sendat dan menahan keluarnya air mata, Romo Stolk berkata: “Bapak Sismadi, terimalah Bendera Pusaka Realino ini dan jaga baik-baik semangat Sapientia et virtus!”

Dengan penuh semangat, meskipun diguyur hujan gerimis, Mas Sismadi menjawab: “Kami akan tetap menjunjung tinggi panji Realino dan kami akan tetap mengobarkan semangat Sapientia et virtus.”

Setelah penyerahan Bendera Pusaka kepada Forsino, tampil ke depan Kris Sitepu, Ketua Asrama Realino yang sekarang, menyerahkan bendera Realino kedua kepada Lembaga Studi Realino, yang diwakili oleh Rama Stolk. Akhirnya Rama Stolk sebagai pimpinan terakhir menerima bendera ketiga. Dengan suara bergetar dan sambil mencium bendera, Rama Stolk berseru: “Terima kasih, Realino…. !”

Usai sudah upacara resmi penutupan Asrama Realino. Malam dan pagi harinya, para mahasiswa sisa penghuni asrama berbondong-bondong mengangkut kopor-kopor mereka menuju tempat pondokan mereka yang baru. Sebelum beranjak pergi, mereka masih tercenung, memandang gedung tua yang tidak terawat lagi itu. Gedung yang telah menghasilkan putera-putera Realino menjadi pemimpin di berbagai bidang pembangunan bangsa dan negara. Menduduki jabatan penting di bidang pemerintahan, ekonomi, sosial-budaya, kesehatan, pers, hukum dan lain-lainnya dengan sukses, sebagai produk pendidikan dan pembinaan Realino yang berlandaskan Sapientia et virtus.

Kepada pengurus asrama terakhir, panitia dan mahasiswa penghuni terakhir, segenap alumni mengucapkan terima kasih. Dan penghargaan khusus bagi Romo Beek dan Romo Stolk sebagai pemimpin pertama dan terakhir.

Selamat mengabdi dan berbakti kepada agama, bangsa dan negara!

.

  • Imam Santosa Ratam adalah alumni Realino 1963
  • Naskah ini dikutip dari Buletin “Kabar” Edisi Khusus No. 2 Th. I Agustus 1991
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s