Udiiiik, oh… udiik!

Oleh : Didiet Soehardiyadi

.
Pada dies natalis asrama Realino tahun 1963, bersama mas Hardanto kami diutus ke Jakarta untuk mencari tambahan dana. Pagi-pagi berangkat dari statiun Tugu dan sorenya tiba di Gambir. Dari sini kami langsung ke rumah sekaligus kantor pendiri Realino, Romo Beek di Jln. Gunung Sahari 88.

Kedatangan kami yang memang sudah agak malam, cukup mengejutkan Romo Beek. Singkat cerita kami memberitahukan maksud kedatangan kami. Setelah mendengarkan penuturan kami, Romo Beek berkomentar, “Kok enak, yang mau pesta orang Yogya, kok orang Jakarta yang harus mbayarin”. Romo menambahkan, “Bahkan untuk tidur pun Romo tidak punya tempat. Kalau mau tidur, ya silakan tidur sambil berdiri”.

Mendengar itu kami tidak putus asa, kami terus menjelaskan dan membujuk Romo. Akhirnya Romo melunak juga, dan bahkan mendukung niat kami. Diberikannya beberapa nama dan alamat yang memungkinkan dimintai sumbangan. Bukan itu saja, Romo bahkan meminjamkan skuter Lambreta-nya untuk operasi kami selama di Jakarta. Dan, malam itu, atas perintah Romo, Chris Hanggi, sekretaris Romo Beek, mengantar kami ke asrama mahasiswa marga siswa di Jl. Sam Ratulangi.

Dengan fasilitas itu kami berdua beroperasi di Jakarta yang memang agak asing bagi kami. Nah, pada suatu sore, setelah seharian berputar-putar kami berhenti untuk makan dan minum di sebuah restoran yang cukup besar di Cikini Raya dekat kebun binatang. Sambil melihat daftar menu, kami berharap mendapatkan makanan dan minuman yang belum pernah kami rasakan. Akhirnya, ketemulah nama “es horn”, dan langsunglah kami pesan minuman itu.

Setelah pesanan disajikan, kami berdua menjadi terheran-heran dan termanggu-mangu, apa benar ini es yang dipesan? Sepertinya kok benda asing yang disajikan, lalu bagaimana minumnya? Padahal tadi inginnya bisa segera minum minuman yang segar sumyah.

Daripada bingung terus, akhirnya Mas Danto meminta kami untuk mutar-mutar ke seantero restoran untuk melihat-lihat siapa tahu lagi ada tamu yang sedang minum es horn. Tapi dasar apes, setelah berkeliling ruangan hasilnya, nihil! Tidak ada yang minum es horn!

Apa akal…. ? Ya…, terpaksalah tanya di counter. Akhirnya, tahulah kami bagaimana cara “menyantap” es horn, bukan “meminum” es horn. Oalaah, dasar udiiiik, dik…dik….dik!

Iklan

One Reply to “Udiiiik, oh… udiik!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s