Uang Asrama Realino Tahun 50’an

OIeh J.B. Soepardjono

Ketika Asrama Realino lahir di Jl. Code (sekarang Jl. Amat Jajuli) No. 2, Yogyakarta, tahun 1952, uang asramanya Rp. 200/bulan, yang kemudian naik menjadi Rp. 225/bulan, ketika asrama itu pindah ke Gejayan, Sleman, pada tahun 1956. Berapa itu nilainya sekarang? Atau bagaimana kira-kira perbandingannya dengan uang asrama menjelang akhir sejarah Asrama Realino, yang Rp. 45 ribu setiap bulannya? Agak susah menjawabnya! Nilai rupiah merosot terus. Dan kita sudah beberapa kali mengalami tindakan moneter.

Mungkin membikin perbandingan antara harga-harga pada waktu itu dan harga-harga pada waktu sekarang akan sedikit menolong. Harga emas misalnya! Harga emas 22 karat pada tahun ‘50-an berkisar antara Rp. 18 dan Rp. 20 per gram, dibandingkan dengan harga sekarang Rp. 21 .000,-/gram. Jadi pada tahun ‘50-an uang asrama kira-kira senilai 21 gram emas. Sedangkan menjelang penutupan asrama, uang asrama sebesar Rp. 45 ribu senilai 2 gram emas lebih sedikit. Jadi 10 banding 1! Sangat mahal memang. Juga untuk ukuran waktu itu. Di rumah-rumah “gedongan” saja, Kotabaru dan Sagan misalnya, tarif pondokan waktu itu belum melampaui Rp. 100/bulan (Uang kuliah waktu itu Rp. 240,-/tahun).

Nilai Tukar Dolar
Bagaimana kalau diukur dengan nilai tukar atau kurs dolar? Kurs dolar waktu itu adalah US $1 = Rp. 11.40,-. Ini kurs resmi. Kurs bebas tidak ada, karena perdagangan valuta asing waktu itu menjadi monopoli pemerintah. Ada juga pasar gelap, seperti di Pasar Baru, Pintu Air dan Tanjung Priok (Jakarta), tetapi transaksinya harus dilakukan dengan hati-hati benar dan secara sembunyi-sembunyi. Kalau tertangkap petugas, berat sangsinya. (Bahkan seorang Menteri Luar Negeri kita ditangkap tepat pada waktu mau menaiki tangga pesawat, yang akan membawanya ke luar negeri, karena dicurigai membawa mata uang asing sebanyak US $5000 tanpa izin. Dan perkaranya sampai ke pengadilan!) Kurs dolar di pasar gelap dapat 3 atau 4 kali dibandingkan dengan kurs resmi.

Uang asrama Rp. 200 atau Rp. 225 kira-kira sama dengan US $17.50 atau US $19.50. Sedangkan uang asrama terakhir Rp. 45 ribu berdasarkan kurs dolar sekarang kira-kira sama dengan US $23. Jadi lebih mahal uang asrama terakhir? Tunggu dulu! Jangan lupa. nilai dolar juga mengalami kemerosotan terus menerus. Sebagai contoh: tahun ‘50-an kalau kita mendapat tugas belajar di luar negeri, Amerika Serikat misalnya, $17.50 dapat untuk hidup 6 hari. Sedangkan sekarang dengan $23 kita hanya dapat hidup sehari di sana. Bahkan di beberapa tempat untuk sehari pun $23 tidak lagi cukup.

Sedikit selingan, loncat cerita: tahun ‘50-an sampai beberapa tahun kemudian, mendapat tugas belajar di luar negeri seperti mendapat SDSB saja. Meskipun bukan hadiah utama yang Rp. 1 milyar. Bayangkan saja! Bea siswa paling kecil (Colombo Plan) adalah $180/bulan. Lebih beruntung kalau kita memperoleh sponsor yang lebih “generous”: Ford Foundation ($240) atau Rockefeller Foundation ($320) misalnya. Di Amerika Serikat waktu itu kita sudah dapat hidup dengan $80-$ 100 sebulan. (termasuk untuk sewa tempat tinggal). Selebihnya kita tabung. Kalau kita tinggal di sana 2 atau 3 tahun, lumayan kan?

Harga mobil “baru gres” atau “brand new” antara $2000 dan $2500. Tergantung tipenya. Asal jangan milih merek yang “neka-neka”. Cadillac misalnya. Ongkos angkut ke Indonesia sekitar $700. Sedangkan “used car”, yang sudah berumur 4 atau 5 tahun, harganya antara $600 dan $700. Ongkos angkutnya $500. Dan harga mobil di Indonesia pada waktu masih sangat tinggi. Jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga rumah. Misalnya kita pulang membawa mobil berumur 1 atau 2 tahun dan sesampainya di Indonesia mobil itu kita tukarkan dengan mobil yang 4 tahun lebih tua, kita akan memperoleh kelebihan uang yang cukup untuk membeli rumah cukup besar di Kebayoran Baru, meskipun bukan yang di pinggir jalan raya benar. Ini sekedar untuk menggambarkan betapa masih tingginya nilai dolar waktu itu.

Bagaimana sekarang? Mahasiswa pasca sarjana, yang mendapat tugas belajar di Anierika Serikat, dewasa ini mendapat bea siswa $800 lebih sedikit. Ini pas-pasan sekali! Untuk sewa kaman/apartment saja sudah sekitar $400. Bahkan dapat jauh di atas jumlah itu di daerah-daerah mahal, seperti New York, Washington, Boston, Los Angeles dan sebagainya. Belum untuk makan dan keperluan-keperluan lain. Dan jangan mimpi bawa pulang mobil! Karena sudah dilarang sejak tahun 1970.

Harga-Harga Lain
Tahun ‘50-an — juga tahun ‘60-an — gedung bioskop di Yogya belum sebanyak sekarang ini. Hanya 6 buah yang tergolong bagus. Artinya pantas buat nonton bersama pacar (waktu itu istilah paean belum lahir. Istilahnya waktu itu “yang”. Kalau pacaran disebut “yang-yangan”). Keenam gedung bioskop itu adalah Rahayu, Rex (sekarang Ratih), Indra, Senisono, Soboharsono dan Luxor (sekarang Permata). Harga karcisnya: kelas III atau “kelas kambing” Rp.1,-. stales Rp. 2,10.-, dan loge atau balcon Rp. 3,50.- Penghuni Asrama Realino biasa nonton di kelas yang mana? Tergantung! Kalau tanggal muda (uang kiriman baru datang), di stales. Kalau tanggal tua di kelas kambing. Baru kalau bersama “yang-nya, duduk di loge atau balcon (dulu di Indra ada kelas IV-nya, terletak di belakang layar. Jadi baik gambar maupun teksnya nampak terbalik semua. Harga karcisnya Rp 0,50.-).

Di samping keenam gedurig bioskop itu, masih ada 2 gedung bioskop lagi dengan kondisi yang lebih merakyat. Satu di Pathuk, kira-kira di belakang Indra. Harga karcisnya rata-rata Rp. 1,-. Kemudian masih ada Bioskop Wetan Beteng di Jl. Kintelan (sekarang Jl. Brig. Jen. Katamso). Ada 2 kelas di sana: kelas satu Rp. I,- dan kelas dua Rp. 0,50.-. Gedung ini dindingnya gedhek dan lantainya dan pasir. Slide pengumumannya pun unik: selain Dilarang merokok”, juga “Dilarang nginang (makan sirih)” dan “Dilarang kencing di dalam”.

Itulah harga karcis bioskop tahun ‘50-an, ketika uang asrama Realino Rp. 200,- – Rp. 225,-. Bagaimana keadaannya pada waktu uang asrama Rp. 45 ribu? Sekarang Bioskop Wetan Beteng sudah berubah menjadi gedung pertunjukan ketoprak. Pathuk entah bagaimana nasibnya. Senisono sudah berubah fungsi menjadi pusat kegiatan para seniman Yogya, yang akhir-akhir mi dihebohkan akan dibongkar dan akan dijadikan taman. Kelima sisanya masih tetap berfungsi sebagai gedung bioskop. Harga karcisnya? Soboharsono: Rp. 600,- untuk pertunjukan pagi atau sore dan Rp. 800 untuk pertunjukan malam. Keempat lainnya sudah dilengkapi dengan penyejuk hawa (AC) dengan harga karcis ratarata Rp. 1.250,-.

Tetapi sementara itu sudah bermunculan banyak gedung-gedung bioskop baru. Harga karcisnya bervarisasi. Yang paling mahal Empire Theatre – Rp. 3.750,-. Memang agak sulit membuat perbandingan, karena sangat bervariasinya harga karcis dewasa ini. Tetapi berdasarkan angka-angka di atas, kita dapat mengkira-kira sendiri.

Bagaimana dengan harga-harga makanan? Tahun ‘50-an harga bakmi atau nasi goreng di rumah makan Cina di Yogya “nyeringgitan” atau Rp. 2,50,- satu pining munjung. Sekarang Rp. 1.750,- atau Rp. 2.000,-. Dulu dengan uang asrama sebulan (Rp. 200,- atau Rp. 225,-) kita bisa dapat 80 atau 90 porsi. Dengan uang asrama terakhir (Rp. 45 nibu) kita hanya bisa dapat 26 porsi.

Satu lagi untuk perbandingan! Bakmi Jawa “ngisor waru” Pasar Mrican masih tetap ada. Dulu tahun ‘50-an harga sepiringnya: biasa Rp. 1,-, istimewa (pakai telor) Rp. 1.20,-. Sekarang: biasa Rp. 500,-, istimewa Rp. 700,-. Uang asrama dulu cukup untuk membeli 200 atau 225 piring. Uang asrama terakhir hanya cukup untuk membeli 90 pining.

Apakah semua itu lantas berarti bahwa penghuni Asrama Realino tahun ‘50-an semua berasal dan keluarga berada. Sama sekali tidak! Banyak dan mereka harus membiayai studi mereka sendiri atau paling sedikit mencari penghasilan untuk memperingan beban orang tua. Dengan senibu satu macam jalan: berikatan dinas, memperoleh bea siswa, mengajar kesana-kemani, ikut mengawasi atau mengoreksi ujian, jadi ilustrator majalah, menulis artikel dan banyak macam lagi.

Itulah beberapa “facts and figures” yang mungkin dapat membantu mempermudah kita membayangkan berapa kira-kira nilai uang asrama sebesar Rp. 200,- – Rp. 225,- pada tahun ‘50-an itu. Dan bagaimana pula kira-kira perbandingannya dengan uang asrama pada saat menjelang ditutupnya asrama tercinta kita.

Tentu banyak orang bertanya, mengapa meskipun uang asramanya sangat mahal dan peraturan-peraturannya terkenal sangat ketat, Asrama Realino selalu menarik minat banyak mahasiswa. Juga mereka yang kekuatan keuangannya relatif terbatas. Banyak alumni yang menjawab: mereka ingin menyerap dan memanfaatkan sistem pembinaan dan bimbingan kejiwaan serta cara belajar yang ditawarkan oleh Asrama Realino, di samping fasilitas-fasilitas yang sangat memadai (untuk ukuran waktu itu) yang tersedia di sana. Dan tentu masih banyak lagi daya tarik yang dimiliki Asrama Realino, yang tentu berbeda bentuk dan sifatnya untuk masing-masing peminat.

Iklan

5 Replies to “Uang Asrama Realino Tahun 50’an”

  1. `Hi Bapak2 & Ibu2,

    Saya mau tanya, apakah ada yang tahu berepa tepatnya harga emas 23 karat pada tahun 1952..?
    Mohon bantuannya karena saya membutuhkan sekali data2 tersebut.

    Salam kenal & Terima kasih banyak,
    \ D 3 NY \

  2. Sahabat Forsino, sedikit mengingat masa lalu, sekitar 30 tahun yang lalu ya.

    Harga supermie dulu sekitar 25,- per bungkus, sekarang indomie sekitar 1,250.00 per bungkus. Dihitung kurs supermie perubahan harga sudah menjadi 50 kali dalam 30 tahun.

    Dengan demikian kalau biaya kost dan hidup seorang pelajar per bulan di Yogya saat ini katakanlah 1 juta maka jika dibagi 50 untuk jaman kita saat itu adalah 20,000,-/bulan.

    Mungkin saat itu 20.000,-/bulan buat Realinowan masih OK karena biaya asrama waktu itu saya perkirakan sekitar 10-12 ribu/bulan atau dengan kurs indomie sekitar 500-600 ribu saat ini karena sisanya bisa untuk wakuncar di asrama Sy atawa yang lain.

    Bagaimana dengan dolar Amerika ? tolong jangan buka wikipedia tetapi diingat saja, maka feeling saya waktu itu sekitar 1 USD= Rp. 300,-

    Dengan demikian ongkos hidup saat itu sekitar USD. 70.00/bulan sedangkan sekarang sekitar USD. 100.00/bulan. Nilai dolar tidak naik 50 kali karena dolar juga mengalami kemrosotan.

    Silakan sahabat Forsino meralat jika ada ingatan harga bensin, ampyang geplak atau yang lain yang lebih bagus.

    Salam,
    AW

  3. dear mas AW,

    Ikut sharing… waktu sy masuk asrama, biaya bulanan Rp. 12.500,- (dua belas ribu lima ratus) dan SPP 1 semester di UGM untuk fakultas (IPA) Rp. 18.000,- Artinya biaya bulanan saya di Realino saat ini hanya bisa beli rokok 1 bungkus lebih. he..he…Anggap aja rokok Rp. 10.000/pack.

    Nenek saya naik Haji ke Mekkah tahun 1979, beliau beli oleh oleh tasbeh 2 real/buah. Saya dan Istri ke Mekkah 30 tahun kemudian (2009), harga Tasbeh masih 2 real. he..he….Tasbehnya made in China People Republic. Kualitas lebih kurang sama.
    Sajadah made in Turkey masih sekitar 15 Real. tahun 2009, sajadah masih sekitar 15 Real (kualitas buat oleh-oleh)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s