Sweet Memory

Oleh : Soetanto Hadinoto

.

Kenangan manis yang kiranya sulit dilupakan ini terjadi sewaktu penulis masih sebagai mahasiswa dan tinggal di asrama mahasiswa Realino, Yogyakarta. Berikut beberapa peristiwa yang penulis kenang.

  • Pertama : Sebagai seorang muslim yang taat, maka setiap bulan puasa selalu menunaikan ibadah selama satu bulan. Pada malam hari sekitar kurang lebih jam tiga pagi melaksanakan sahur. Sewaktu membangunkan makan sahur tersebut terasa agak repot karena sebagian besar penghuni asrama beragama Katholik. Muncul ide, membangunkan sahur dengan cara bersiul di depan kamar teman yang akan sahur. Kalau mengetuk pintu kamar, khawatir akan menganggu teman lainnya yang masih nyenyak tidur. Namun, penulis clan teman-teman, merasa bersyukur serta berterima kasih sekali kepada Bruder Van Zhon dan para pelayan yang menyediakan makan sahur di ruang makan.
  • Kedua : Peraturan di Asrama Realino yang demikian ketatnya, antara lain pada jam 18.00 para penghuni sudah harus berada di ruang kamar clan di mejanya sendiriĀ¬sendiri untuk belajar. Walaupun sudah mahasiswa, ternyata Pastur Willemborg masih keliling kamar untuk mengadakan pengecekan. Pada pukul 19.30 sampai pukul 20.30 acara makan malam bersama di ruang makan sambil mendengarkan radio di ruang Aula clan kemudian pukul 20.30 sampai pukul 22.00 harus belajar lagi. Setelah jam 22.00 lampu kamar harus dimatikan semua dan penghuni asrama harus tidur. Maklum mahasiswa ada yang belum bisa tidur, sedangkan lampu kamar sudah mati. Di antara teman yang belum bisa tidur tersebut kadang-kadang membuat “jebakari” kepada pastur yang mengadakan pengawasan ke kamar-kamar tersebut. Jebakan itu berupa kaleng yang dilengkapi dengan karet gelang dan di atas kaleng diberi uang logam. Begitu Pastur lewat tengah malam, kaleng akan berbunyi nyaring. Jika sudah begitu, senang rasanya bisa ngerjain. Pagi harinya Pastur Willemborg memanggil penghuni kamar untuk dimintai pertanggungjawaban dan yang membuat ulah pada malam hari tersebut dimarahi.
  • Ketiga : Pukul 5.00 bel asrama berbunyi tanda bagi penghuni asrama untuk bangun tidur. Setelah bangun ada yang senam dan ada yang mencuci pakaian di ruang cucian yang sudah disediakan. Di sinilah tukar menukar informasi terjadi dan saling canda terjadi.
  • Keempat : Kadang-kadang setelah makan siang ada di antara penghuni asrama termasuk penulis yang menunggu di depan ruang makan Pastur dan Bruder. Apa gerangan yang ditunggu? Yang ditunggu adalah keluarnya pelayan dari ruang Pastur dengan membawa “sisa sup”. Memang perlu dimaklumi, kalau orang Belanda makan sup dahulu sebelum makan, tapi kalau kita makan dulu baru “menyantap sup”. Sisa sup ini dibagi-bagi sehingga dapatnya ya sedikit-sedikit.
  • Kelima : Setiap seminggu 2-3 kali penulis bersama teman-teman pergi ke tempat tukang setrika di luar asrama, berjalan kaki pada sore hari dengan membawa pakaian yang telah dicuci. Pulangnya kadang-kadang membeli gorengan singkong, tempe, atau tahu bacem.

Kenang-kenangan indah ini sulit penulis lupakan dan ternyata disiplin asrama tersebut dengan pengawasan para Pastur dan Bruder sangat membantu kelancaran tugas penulis sampai ke puncak karier di Bank BRI.
Bila dikaji secara mendalam falsafah pendidikan yang diterapkan dengan leadership tersebut, sangat membantu mahasiswa untuk menyelesaikan studinya. Namun, bagi mahasiswa yang tidak disiplin, misalnya masuk asrama lebih dari jam 22.00 tanpa izin tertulis dari Pastur, maka dapat menyebabkan dikeluarkan dari asrama. Selain itu, penghuni juga diberikan kesempatan mengikuti RDC (Realino Discussion Club) untuk melatih berdiskusi dan beradu argumentasi dengan sesama mahasiswa dari berbagai fakultas yang dipimpin oleh Pastur. Belum lagi fasilitas musik berupa biola, piano, paduan suara dan fasilitas olah raga mulai dari bulu tangkis, volley, basket, angkat besi, serta lapangan sepak bola. Tak terlupakan juga saat penulis menjadi tukang cukur di asrama. Beberapa teman menjadi obyek “uji coba” cukur rambutnya termasuk pastur Willemborg.

Demikianlah pengalaman-pengalaman di atas tetap menjadikan kenangan manis yang selalu membangkitkan semangat untuk berkarya, semangat untuk berbagi cerita kepada teman-teman, juga kepada 4 (empat) orang anak dan para menantu serta 9 (sembilan) orang cucu yang tersayang.

Untuk mengisi waktu dan menjaga kesehatan penulis sampai saat ini masih melaksanakan olah raga jalan kaki pagi bersama istri dan kadang-kadang bermain golf. Selain itu, juga menyibukkan diri sebagai “MC” (bukan Master of Ceremony, tetapi “Momong Cucu”) dan ditambah kegiatan di Kantor.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s