SAPIENTIA et VIRTUS versi ARISTOTELES


.

Oleh : Androe (83)
.

Sapientia et virtus yang biasa diterjemahkan sebagai Kebijaksanaan dan Kebajikan (Keutamaan), mempunyai relevansi tinggi bagi masyarakat Indonesia yang dirasakan hingga kini justru atmosfir sosial yang ada diisi oleh nilai-nilai sebaliknya; seperti egoisme pribadi-kelompok sempit, primordialisme, aji mumpung, hedonisme serta kondisi sosio-kultural yang tidak siap menjadi amburadul terkena angin kapitalisme dan adanya pertarungan-pertarungan antar kelompok demi kekuasaan – privelese-privelese – fulus.

Bagi segenap persona yang pernah tinggal di asrama yang bernama Realino di Yogakarta, semboyan sapientia et virtus tentu merupakan sesuatu yang tidak asing lagi (familiar), meskipun entah sungguh dimengerti ataupun tidak. Tulisan berikut ini mencoba ikut andil dalam sedikit mengupas makna dari semboyan tersebut dengan referensi utama dari Aristoteles (384-322) SM, seorang fisuf besar Yunani kuno, dari bukunya yang berjudul Etika Nikomacheia. Pembahasan akan dimulai dengan mencari arti makna Kebahagiaan dan diikuti perihal Keutamaan dan Kebijaksanaan serta diakhiri dengan Rangkuman dan Penutup.

Kebahagiaan
Salah satu pertanyaan yang sangat mendasar adalah apa yang dicari seseorang dalam hidupnya? Tiap rencana, tindakan mempunyai suatu tujuan. Seseorang bekerja dengan tujuan untuk memperoleh nafkah agar dapat menghidupi diri. Ada suatu tujuan yang dicari bukan demi dirinya sendiri melainkan untuk suatu tujuan lain, pula tujuan kedua itu dicari untuk tujuan berikutnya, demikian seterusnya. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa suatu tujuan mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada tujuan sebelummya. Apakah itu tujuan yang tertinggi/terakhir yang dicari bukan untuk tujuan lain melainkan demi dirinya sendiri, berswasembada dan sempurna?

Masyarakat umum sering menganggap bahwa uang atau kekayaan sebagai tujuan tertinggi, pada kenyataanya; adapula yang menyatakan kehormatan sebagai sasarannya. Mari kita mencoba melihat satu per satu:
i. Kekayaan, benarkah ia menjadi tujuan tertinggi? Kekayaan dapat dipakai untuk membeli ini-itu, bepergian ke sana – ke mari, biaya mengembangkan diri, membeli kenikmatan; jadi nyatalah kekayaan tepatnya sebagai suatu SARANA untuk mencapai suatu tujuan tetapi bukan tujuan demi dirinya sendiri.
ii. Kehormatan, dalam hal ini ada dua aspek yaitu fihak yang dihormati dan fihak yang menghormati. Pernyataan ini mengandung posisi yang lemah karena tergantung pada fihak lain (fihak yang menghormati), yang dapat berubah-ubah. Lebih tepatnya adanya KEUTAMAAN-KEUTAMAAN dalam diri seseorang yang menyebabkan adanya aspek penghormatan. Jika keutaman hilang, misal karena suatu musibah maka mengandung resiko hilangnya pula aspek penghormatan.

Bagi seorang filsuf, dalam hal ini Aristoteles, ia menyatakan bahwa KEBAHAGIAAN-lah yang merupakan suatu tujuan yang dicari demi dirinya sendiri . Kebahagiaan bernilai bukan demi suatu nilai yang lebih tinggi lainnya, melainkan demi dirinya sendiri (jadi memiliki nilai tertinggi). Kebahagiaan diartikan sebagai hidup yang bermutu, bermakna dan kelakuan yang baik. Kebahagiaan dicapai dengan memfungsikan komponen yang khas manusiawi yaitu akal budinya. Dengan mengembangkan diri, karena manusia identik dengan realisasi hidupnya dalam tindakan-tindakan dan tidak berhenti dengan perenungan-perenungan; sehingga pula memiliki keutaman-keutamaan dalam hidupnya.

Keutamaan dan Kebijaksanaan
Bagaimana seseorang untuk dapat mengerti dalam memilih tindakan yang tepat dalam menghadapi hidup nyata ini? Mari kita melihat distingsi antara pengetahuan dan pengertian yang tepat. Pengetahuan yang tepat hanya mungkin bagi objek-objek alam yang tetap – tak berubah-ubah – ada kepastiannya seperti dalam ilmu pasti dan fisika. Pengetahuan itu disebut episteme. Sedang manusia adalah objek yang tidak pasti: mempunyai sikap batin, cita-cita, minat, kelakuan-kelakuannya sendiri yang tidak dapat dipastikan. Bidang ini masuk dalam etika dan episteme tidak cocok. Etika menyediakan semacam visi dan perspektif. Orang yang memiliki perspektif itu akan menemukan bagaimana ia harus bertindak dalam situasi konkret. Perspektif itu disebut pengertian yang tepat (orthos logos). Bertindak secara etis berarti bertindak menurut pengertian yang tepat.

Mari kita sekarang masuk ke pembahasan mengenai keutamaan dan kebijaksanaan. Menurut Aristoteles, keutamaan adalah sikap-sikap batin yang dimiliki manusia. Ia membedakannya menjadi dua macam yaitu keutamaan intelektual dan keutamaan etis; yang pertama merupakan sikap akal budi dan yang kedua sikap kehendak. Pada keutamaan intelektual, Aristoteles membedakannya menjadi lima keutamaan yaitu: sophia (kebijaksanaan I), nous (kemampuan mengaktifkan logos), phronesis (kebijaksanaan II), episteme (ilmu pengetahuan), dan techne (keterampilan).

Bahasa Yunani menpunyai dua kata untuk apa yang dalam bahasa Indonesia disebut kebijaksanaan. Sophia, dalam bahasa Inggeris tepatnya dengan wisdom, adalah kebijaksanaan orang yang hatinya terangkat ke tingkat alam adiduniawi – orang yang bijaksana karena tahu tentang realitas yang paling mendalam. Sedang phronesis (prudence) adalah kemampuan orang untuk mengambil sikap dan keputusan bijaksana dalam memecahkan pelbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari – kebiasaan bertindak berdasarkan pertimbangan yang tepat dalam bidang masalah baik dan buruk bagi manusia. (bagi Plato, phronesis mengalir dari sophia).

Menurut Aristoteles phronesis tak dapat diajarkan, seperti etika sendiri juga tidak. Seperti berbicara mengenai keadilan, diandaikan bahwa seseorang sudah menyadari bahwa “adil” itu pada dirinya sendiri mempunyai nilai etis-positif, baru orang tersebut dapat diajak berunding untuk mencapai hal-hal yang adil. Jika seseorang buta akan suatu nilai tersebut atau tak mengerti bahwa “adil” itu sesuatu yang bernilai, maka niscaya ia tak akan memperhitungkannya. Demikian pula berlaku bagi nilai-nilai lain seperti: rasa malu, kesetiaan, fairness. Di sini terdapat suatu “lingkaran hermeneutis”: kita hanya dapat diajari meningkatkan kehidupan etis apabila telah menyadari-mengalami-membiasakan diri-tahu apa itu kehidupan etis.

Kemantapan untuk bertindak secara etis didukung oleh KEUTAMAAN-KEUTAMAAN ETIS. Kepribadian moral yang kuat adalah kepribadian yang memiliki keutamaan. Berkenaan dengan topik ini, Aristoteles membahas sekurang-kurangnya sebelas keutamaan yaitu: keberanian, penguasaan diri, kemurahan hati, kebesaran hati, budi luhur, harga diri, sikap lemah lembut, kejujuran, keberadaban, keadilan dan persahabatan. Keutamaan-keutamaan dipahami sebagai sikap seimbang dan justru karena itu menunjukkan kematangan dan kekuatan perkembangan pribadi; seperti keberanian terletak di tengah antara nekad dan pengecut, berbudi luhur terletak antara altruisme dan egoisme.

Rangkuman dan Penutup
Menurut Aristoteles, tujuan hidup yang tertinggi dan dicari demi dirinnya sendiri adalah kebahagiaan. Kebahagiaan diartikan sebagai hidup yang penuh mutu, bermakna dan berkelakuan baik. Kebahagiaan dicapai dengan memfungsikan bagian/komponen yang khas manusiawi yaitu sisi akal budinya atau rasional (hewan dominan instingtualnya), yaitu dengan mengembangkan diri (tidak pasif) hingga berkembangnya dimensi sapientia et virtus yang menghantar seseorang pada kebahagiaan itu sendiri.

Pembahasan ini dapat mengingatkan kembali – mengkonfrontir pengalaman semasa tinggal di asrama dan dampaknya hingga kini; sekaligus sebagai bahan refleksi-diskusi terlebih dalam rangka menyambut pesta emas Realino. Kita ditantang, apakah pengalaman warga Forsino (Forum Komunikasi Realino) yang warganya berjumlah relatif sangat sedikit dibanding total jumlah penduduk Indonesia; dapat dan berani untuk menawarkan diri atau ikut andil memberikan pencerahan pada persoalan-krisis bangsa ini. Dalam skala lebih kecil pada lingkungan keluarga, tempat tinggal, profesi dan kelompok-kelompok lain.

HIDUP SAPIENTIA ET VIRTUS serta BHINNEKA TUNGGAL IKA

Iklan

2 Replies to “SAPIENTIA et VIRTUS versi ARISTOTELES”

  1. Sapientia et Virtus

    Androe, sekalipun hak asasi dicabut selama sebulan, berpuisi di ketinggian gerbang ketika mahasiswi Atmajaya dan Sadhar lewat, membuat kita grogi dan tidak enak, kita masih juga mau melakoni perkenalan. Meski hanya satu setengah tahun di Realino, saya bangga karena pernah menjadi penghuninya. Teman saya Wiji, Kris, Budiain, Purwanto dan F.X. Budianto Renyut pasti sudah jadi orang semua. Salam buat semua saja, yang masih saya ingat Tri (Geologi UPN), Tri Hascaryo (Teknik Kimia UGM), Budiman Tanurejo, Bang Beny, Sabam, Harlen Sinaga, Bang Ucok Kastorius, Goram dan Alex Yesnat.

    Permenungan kecil yang Anda bagikan akan menjadi bermakna bagi saya, jika saya terus berupaya menjalani petualangan di “macro cosmos” ini dengan semangat Sapientia et Virtus.

    Terima kasih Androe.

    Salam

    Goris.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s