Quo Vadis Alumni Realino

Oleh: Beni Sugiyanto

PENDAHULUAN
Alumni Realino dalam pengertian ini adalah mereka-mereka yang pernah tinggal di Asrama Realino kurun 1952-1989. Dari catatan yang ada, jumlahnya 1413 orang. Karena asrama itu sendiri ditutup, jumlah ini tidak akan bertambah, bahkan akan semakin berkurang karena meninggal dunia. Tercatat sudah ada 25 orang meninggal dunia (data 2000).

Bila usia saat masuk rata-rata sekitar 20 tahun, maka alumni Realino saat ini akan berkisar antara 31 tahun dan 68 tahun, yaitu usia saat mulai karir berkembang sampai saat pensiun atau memasuki tahap lansia. Mereka berdomisili tersebar ke seluruh pelosok Nusantara, bahkan di luar negeri dengan profesi yang beragam. mereka juga terdiri atas berbagai suku, etnis, agama, dan kepercayaan. Dengan kondisi seperti itu, maka kepentingan masing-masing alumnus juga akan sangat beragam dari satu personil ke personil lainnya, dari satu kota ke kota lain, dan dari kelompok umur tertentu dengan kelompok umur lainnya.

Dengan kondisi seperti itu, bila kita ingin bersatu mengaktualisasikan idealisme kita, mulai dari mana, apa daya rekat untuk persatuan itu, apakah cukup hanya karena kita pernah tinggal se-asrama?

Dasar pemikiran dan pemecahan masalah
Untuk mencoba menganalisa problematik tersebut, kita gunakan pola pikir “Where are we now, where are we going to go, dan how to get there? Untuk melihat kondisi kita saat ini (where are we now) kita gunakan SWOT Analysis (Strength, Weakness, Opportunity, and Threat).

.

APA KEKUATAN KITA?

  1. Kita beranggotakan lebih dari 1000 orang profesional yang praktis tersebar di seluruh Nusantara, bahkan ke luar negeri.
  2. Kita pernah tinggal di asrama dengan pola asuhan yang sama dan telah terbiasa dengan perbedaan-perbedaan, baik suku, etnis, profesi, agama, ataupun ras.
  3. Mengingat pola bersama tadi kita mempunyai nilai bersama yang menyebabkan kita ingin tetap berkomunikasi satu sama lain, setidak-tidaknya pada angkatan-angkatan yang sama atau hampir sama.
  4. Pada umumnya alumni berada pada tingkat sosial ekonomi yang menguntungkan, yang lebih memungkinkan untuk peduli pada orang lain.
  5. Saat ini kelompok-kelompok alumni telah berdiri dan berkembang di beberapa kota seperti Jakarta, Semarang, Solo dan Yogyakarta, yang dapat dipakai sebagai model.
  6. Kita memiliki figur-figur yang dapat diharapkan mampu membina kelompok alumni di kota-kota dimana saat ini kelompok tersebut belum berdiri.

.

APA KELEMAHAN KITA?

  1. Banyak kawan-kawan yang kurang responsif terhadap alumni tertentu.
  2. Alamat tidak diketahui dengan jelas.
  3. Tidak pernah ada updating data.
  4. Komunikasi hampir tidak ada diantara warga alumni tertentu.
  5. Belum/tidak ada inisiator untuk mencoba membentuk kelompok alumni, khususnya di kota-kota dimana kelompok alumni belum berdiri.
  6. Banyak yang belum merasa adanya manfaat dari pertemuan alumni.

.

PELUANG YANG TERBUKA SAAT INI

  1. Dengan adanya reuni diharapkan menimbulkan stimulan untuk mendirikan kelompok-kelompok alumni khususnya di kota-kota yang belum terbentuk.
  2. Ada sharing experiences antara kelompok-kelompok yang ada, yang diharapkan mampu menstimulir berdirinya kelompok-kelompok baru.
  3. Dari kegiatan persidangan/diskusi di reuni, diharapkan dihasilkan kegiatan yang memperkaya alumni.
  4. Dengan berkembangnya keakraban di antara alumni memudahkan timbulnya ide-ide dan gagasan baru.

.

HAMBATAN YANG MASIH MUNGKIN TERJADI

  1. Kurangnya respon terhadap kegiatan alumni
  2. Kurangnya jumlah anggota di suatu daerah/kota
  3. Dana alumni yang tidak tersedia.
  4. Kegiatan alumni yang dirasa kurang bermanfaat/tidak menyentuh kepentingan anggota
  5. Ada sementara anggota alumni yang masih disibukkan dengan masalah-masalah ekonomi.
  6. Ada sementara anggota alumni yang sangat disibukkan dengan karir dan tugas-tugas.
  7. Pengurus/inisiator yang dipandang rendah/bukan grupnya oleh alumni.

Dalam kekuatan dan kelemahan tadi sebenarnya kita mau kemana, ingin berbuat apa, mau mencapai apa (where are we going to go?). Dengan melihat struktur alumni dengan segala problematikanya di atas, menurut hemat penulis alumni Realino menginginkan hal-hal yang berbeda-beda satu dengan lainnya.

Keinginan-keinginan itu antara lain :

  1. Bagi yang berusia 60 tahun ke atas lebih-lebih yang sudah pensiun mereka akan lebih senang menikmati sisa hidupnya tanpa kerja keras, tetapi mereka pasti masih senang bertemu dan bergaul dengan sesama teman.
  2. Bagi yang grup usia lanjut tetapi masih aktif bekerja, penulis percaya mereka masih senang bertemu dan bergaul dengan teman-teman lama. Kedua grup ini potensial untuk membina kelompok alumni.
  3. Bagi yang masih dalam jenjang karir yang menanjak tentu juga ada yang suka bergaul dan bertemu dengan kawan-kawan lamanya, meskipun prosentasenya akan lebih kecil dibanding kelompok pertama dan kedua. Mereka yang suka berorganisasi cenderung suka berkumpul dengan grup atau kelompok-kelompok alumni ini.
  4. Bagi yang secara ekonomis kurang beruntung, memang agak lebih sulit mengajak berkumpul karena faktor psikologis dan biaya. Kegiatan yang dapat memberikan bantuan dalam menambah income akan sangat menarik pada grup ini.
  5. Pada dasarnya alumni akan lebih sreg bila bertemu dengan kelompok-kelompok alumni yang angkatannya tidak berbeda jauh karena dulu mereka pernah dekat atau bahkan akrab.
  6. Para alumni juga akan lebih senang bertemu dengan sesama alumni yang mempunyai kepentingan, honi, profesi, atau bisnis yang sama.
  7. Untuk berkumpul juga akan sangat dipengaruhi oleh jarak tempat tinggal para alumni. Makin dekat jaraknya akan lebih mudah berkumpul.

Atas dasar pemahaman akan keinginan dari para alumni tadi, maka bagi inisiator yang akan mencoba mengembangkan kelompok alumni, perlu membuat/ mengidentifikasi alumni sekaligus mengenali keinginan-keinginannya. Bila telah teridentifikasi dan kelompok alumni berhasil dibentuk, maka barulah kelompok tadi mencoba secara bertahap mendekati keinginan kelompok, yaitu :

  1. Berupaya menciptakan paguyuban yang akrab dan solid, yang memungkinkan masing-masing anggota menyalurkan aspirasinya.
  2. Kegiatan disamping bermanfaat untuk anggota diupayakan juga bermanfaat untuk masyarakat lain.
  3. Akan lebih baik bila dapat bermanfaat untuk bangsa dan negara
  4. Kegiatan sebaiknya yang bisa dicapai (attainable), layak (feasible), bermanfaat, dalam bentuk loose organization (tidak rigid)
  5. Berusaha mewariskan nilai Realino kepada generasi penerus.

Outcome dari kegiatan alumni ialah penyebarluasan nilai Realino kepada masyarakat kepada perkumpulan-perkumpulan alumni. Pertanyaan berikutnya perlu dijawab: how to get there, bagaimana mencapainya? Cara mencapai tujuan di atas dapat dipakai model-model yang saat ini sudah ada kemudian disesuaikan, ditingkatkan dan diberdayakan. Keadaan itu ialah:

  1. Di kota-kota dimana kelompok alumni cukup banyak (misalnya di atas 50 orang), perlu dibentuk kelompok alumni. Yang diperlukan adalah seorang/beberapa orang inisiator yang tidak jemu-jemunya mengorganisir pertemuan-pertemuan.
  2. Kelompok ini dapat dikembangkan sesuai kebutuhan, misalnya dapat dimulai berdasarkan angkatan-angkatan tertentu yang lebih mengakrabkan, untuk kemudian berkembang ke angkatan-angkatan lainnya atau sesuai hobi atau kepentingan-kepentingan bersama yang lain.
  3. Dalam kesempatan reuni saat ini dimana datang kawan-kawan dari berbagai kota akan sangat bermanfaat bila saling berkonsultasi untuk memungkinkan mendirikan kelompok-kelompok alumni di daerah-daerah dimana kelompok dimaksud belum ada.
  4. Bila kelompok ini sudah berdiri, perlu dibinda supaya pertemuan-pertemuan itu memberi manfaat kepada anggota, model-model pertemuan seperti Jakarta, Semarang atau Yogyakarta dapat dipakai sebagai contoh.
  5. Komunikasi antar kelompok perlu dipikirkan untuk diadakan di kemudian hari.
  6. Pengembangan kegiatan yang besifat business-like, atau income-generating harus dimulai dengan sangat hati-hati, mengingat kegagalan dari kegiatan semacam ini dapat berakibat friksi antar anggota, bukan keakraban seperti yang diharapkan. Untuk kelompok-kelompok alumni yang sudah solid kegiatan business-like atau kegiatan sosial yang besar dapat saja dikembangkan.
  7. Bila kelompok-kelompok alumni sudah merambah setidak-tidaknya 3 kota besar, rasanya perlu dikembangkan paguyuban yang bersifat lebih luas/bersifat nasional. Dimana kelompok-kelompok yang solid dan berkembang dapat memberikan pengalaman-pengalamannya kepada kelompok-kelompok yang lebih muda, reuni berkala dapat merupakan sarana komunikasi yang sangat baik.
  8. Sarana komunikasi, setidak-tidaknya daftar yang up to date perlu dibuat dan di-update secara berkala oleh pusat paguyuban/forum studi/forum komunikasi.
  9. Pengembangan kegiatan yang bersifat capital intensif dapat dikembangkan secara situasional dan kasuistik dan harus selalu dihindari terjadi friksi akibat kegagalan proyek. Kehati-hatian memang tidak perlu selalu mematikan kreativitas.

.

KESIMPULAN

Komunitas alumni Realino perlu menyebarluaskan semangat Sapientia et Virtus kepada keluarganya, khususnya generasi penerusnya, dan sejauh mungkin kepada komunitas lainnya, yang sangat relevan dengan kondisi bangsa saat ini yang sedang menuju disintegrasi karena perbedaan.

Cara menyebarkannya disamping melalui profesi kita masing-masing di masyarakat, juga dapat melalui wahana kelompok alumni yang namanya terserah kepada sidang alumni. Untuk itu perlu dibentuk kelompok-kelompok alumni yang sejauh mungkin dapat menjangkau seluruh warga alumni. Juga dengan telah terbentuknya kelompok alumni di Jakarta, Semarang, dan Yogyakarta yang sudah mulai terkonsolidasikan sebaiknya juga dibentuk kelompok alumni tingkat nasional yang lebih terkoordinir. Kegiatan yang diadakan sebaiknya yang realistik, terjangkau, sesuai need anggota, dan menghindari friksi karena salah urus.

Sasaran terakhir: memasyarakatkan konsep Sapientia et Virtus.

Semoga Sukses!

Iklan

One Reply to “Quo Vadis Alumni Realino”

  1. mas beny, barangkali secara nasional perlu gebrakan adanya program ‘kembali kedesa’ kita reuni didesa miskin, membantu mereka dengan pengobatan, pertanian, peternakan selama 3 sd 7 hari tentunya membawa bekal dan dana yg sudah dipersiapkan, semacam Abri masuk desa, memperbaiki jembatan, karena seluruh alumni dulu sudah pernah kkn, barangkali tidak susah, hanya dengan aksi sosial begini sapientia et virtus bisa di implementasikan. salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s