Profesional (Guru) : Integritas Berkelanjutan

Oleh Y. Bayuntoro

Di antara karya besar Plato, Republic-lah yang paling terkenal dan dianggap karya agung hingga kini. Dalam buku tersebut Sang Filsuf memperkenalkan negara ideal yang diidamkannya, dimana dalam negara itu pendidikan memperoleh tempat yang paling utama, dan mendapat perhatian khusus atau istimewa. Tak heran bila J.J. Rousseau menilai buku Republic sesungguhnya bukan karya tulis politik akan tetapi suatu pemikiran agung bidang pendidikan.

Plato hldup pada massa Athena berada pada ambang kehancuran. Sparta menaklukkannya lalu membatasi kekuasaan Athena hanya dalam wilayah Attica saja, sedang dari faktor dalam para penguasa yang korup (lebih lengkapnya 1(1(N) dan sistem demokrasi yang mengarah ke anarki semakin mempercepat keruntuhan negara kota tersebut. Plato menyaksikan bagaimana norma-norma hidup dan standar moralitas semakin kehilangan tempat dan tengah-tengah kehidupan Athena, begitu juga kebajikan, kebaikan serta keadilan semakin tersingklr oleh hasutan dan fitnahan orang jahat yang mampu mengutak-atik kekuasaan dan kekuasaan yang mengutak-atik kejahatan. Kebenaran hendak dibungkam untuk suatu vested interest, dan salah satu korban yang membuat begitu kecewa adalah kematian Socrates, gurunya. Plato menyaksikan kebobrokan masyarakat yang begitu parah takkan dapat diperbaiki dengan cara apapun kecuali lewat pendidikan.

Pola pencerahan pendidikan tersebut rupanya berputar kembali dalam perjalanan suatu bangsa mengarungi cakram waktu. Dalam menyikapi kehancuran akibat Perang Dunia II, Kaisar Jepang menghadapi puing-puing reruntuhan dengan mulai membangun bangsanya dan sektor pendidikan. Pertanyaan kaisar bukan berapa tank yang masih tersisa akan tetapi berapa guru yang masih hidup. Tiga generasi kemudian orang bisa berbangga dengan prestasi mereka. Kenyataan tersebut mudah-mudahan menjadi pengalaman hingga kemajuan teralami oleh bangsa ini.

Bila pemberdayaan pendidikan telah menjadi kesepakatan suatu bangsa, agar bidang ini terangkat menjadi program unggulan pembangunan, maka diperlukan anggaran yang signifikan pada tataran makronya dan tentu saja profesionalitas guru pada dataran mikronya. Keperluan akan pengajar yang profesional menjadi kebutuhan yang tak bijaksana ditawar-tawar lagi. Akan tetapi apa itu profesional?

“Saya adalah Dokton Polan, ah]i burung betet betina”, demikian dalam abad sepesialisasi ini seorang memperkenalkan diri. Jadi tidak lagi ahli Zoologi, atau ahli burung, bukan juga ahli betet, melainkan ahli betet betina. “Ceritakan, Dok, bagaimana membedakan burung betet betina dan burung betet jantan!”
“Burung betet jantan makan cacing betina dan burtmg betet betina makan cacing jantan…”
“Bagaimana membedakan cacing jantan dan cacing betina?
“Wah itu di luar profesi dan keahlian saya. Saudara harus bertanya kepada seorang ahli cacing.”(Jujun, 1994)

Kencendemungan yang semakin kuat ke arah spesialisasi dalam segala bidang pekerjaan banyak merñmbulkan kelompok yang mengklasifikasikan dirinya sebagai sebuah profesi. Kita tidak hanya mengenal istilah profesi untuk bidang pekeijaaan seperti guru, kedokteran, militer, pengacara dan semacamnya, tetapi meluas sampai mencakup seperti manajer, wartawan, pelulis, penyannyi, artis, petinju dsb. Lain terjadilah kebingungan terhadap pengertian itu. Kebingungan ini timbul karena banyak orang yang profesional belum tentu termasuk dalam pengertian profesi.

Profesionai memang mengacu pada salah satu bidang pekerjaan atau tugas. Untuk menjadi profesional orang memerlukan suatu keahlian. Lengkapnya profesional adalah orang yang kompeten dan efisien, dengan kemampuan untuk bekerja keras, tetapi sekaligus menikmatinya, jadi yang krasan dalam pekerjaannya. Bidang profesi merupakan kerja pokok tempat ia mencari nafkah yang membedakan dan sekedar hobi. Akan tetapi tidak semua ahli itu profesional.

Profesional memang mensugestikan tidak dipengaruhinya oieh pandangan religius dan ideologis. Ia melakukan pekerjaannya dengan tidak terganggu oleh hubungannya dengan keluarganya (tidak KKN). Profesional berarti tidak ada “masalah” yang tidak dapat dipecahkan, Ia bekerja dengan kepala dingin dan diliputi kepercayaan din. Pandangan ini menempatkan profesional pada gambaran yang ideal.

Akan tetapi sebaliknya profesional bukanlah sebuah sifat yang terpisah dan kepribadian yang dapat kita parkir dalam garasi apabila kita sudah pulang ke keluarga dan baru kita bawa apabila menuju tempat kerja. Maka profesional saja menjadi perlu dilengkapi dengan integritas kepribadian yang membawanya tidak mengkotak-kotak, melainkan ia bersikap dan bertindak sebagai diri sendini, konsekwen dan sama dalam berbagai dimensi kehidupan menurut pola pergaulan yang tidak dibuat-buat baik pergaulan antar-pribadi, pekerjaan, berpolitik maupun berolah raga.

Profesionalis perlu melengkapi dengan integritas intelektual. Integritas intelektual menjadikan seseorang tidak puas pada sekedar kesan dan perasaan ataupun kebenaran yang setengah-setengah. Ia ingin tahu bagaimana duduk masalah yang sebenarnya. Ia menuntut pertanggungjawaban atas suatu pendapat atau pernyataan dan bersedia memberikannya. Ia cuniga apabila dalam lingkungan ilmuan orang mengganti debat dengan dialog, dan diskusi tajam dan konflik dengan seruan agar rukun. Karena dalam bidang kebenaran kata kerukunan sening menjadi bungkus korupsi mental. Di samping itu tentu saja integritas moral dan religius.

Pendidik profesional selalu berusaha untuk melengkapi semua integritas di atas yang memang perlu untuk syarat keprofesiannya. Lebih jauh guru akan selalu menjadi sorotan dan keterkaitan pada kualitas pendidikan yang dicerminkan melalui kualitas lulusan siswa-siswi suatu sekolah. Kualitas yang rendah cenderung dialamatkan pada guru sebagai penyebab utama. Kelemahan unsur-unsur yang lain seperti input siswa, sarana, kesejahteraan, kurikulum, sistem penilaian dan lain-lain seperti kesempatan belajar dan pengembangan din secara lebih leluasa sering tidak terlihat dan terabaikan.

Profesional dalam din seorang pendidik bukan lagi sebagai kata benda akan tetapi menjadi kata keija sehingga apa tujuan pendidikan pasti bukanlah sekedar memberi lapangan keija bagi banyak orang yang tidak terampil apapun kecuali mengajar. (Alumnus 1982)

“Man Making”
We are all blind unless we see
That in the human plan
Nothing is wort the making
If it does not make the man!

Why build these cities glorious
If man Unbuilded goes?
In vain we build the work unless
The builder also Grows!

(Edwin Markham)

Kepustakaan:
1. Lunadi, A.D., Pendidikan Orang Dewasa, Gramedia Pustaka Utama: Jakarta 1993
2. Keraf, Sony, A. & Haryono Iman, Robert, Etika Bisnis, Kanisius: Yogyakarta 1995
3. S. Suriasumantni, Jujun, Filsafat Ilmu Pustaka Sinar Harapan Jakarta 1994
4. Magnis Suseno, Franz, Benfilsafat dan Konteks, PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta 1992
5. Rapan, J.H., Dr.,Th.D.,Ph.D., Filsafat Politik Plato, Rajawali Pers: Jakarta 1996
6. Suyanto, Berdayakan Sektor Pendidikan, Opini Kompas 9 November 1999

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s