Mengembara Menuju Bahagia

ULANGAN RDC 43 TAHUN YANG LALU
“Mengembara Menuju Bahagia – Rovering To Success”

Oleh: R. Darmanto Djojodibroto
-Djalmo moro, Djalmo mati- *)
.


Lebih dari empat puluh tiga (43) tahun yang lalu di RDC (Realino Discussion Club) saya menyajikan makalah yang topiknya akan saya ajukan lagi pada RDC kita kali ini. Saya ajukan topik yang sama oleh karena masih relevan untuk dipikirkan mengingat bangsa Indonesia memerlukan modaliti untuk membentuk karakter warga masyarakat. Moderator/pimpinan sidang RDC saat itu Romo H.C Stolk, SJ.

Saya masuk menjadi warga Realino pada 25 Nopember 1963, mendapat giliran tugas-wajib menyajikan makalah dalam RDC kemungkinan pada akhir tahun 1964 ataupun awal tahun 1965. Topik yang saya ajukan adalah masalah KEPANDUAN (Boyscout), judul makalahnya “Mengembara Menuju Bahagia – (Rovering to Success)”. Pengumuman akan ada RDC dengan judul itu saya tempelkan di papan pengumuman di depan refter.
.
.

Halaman 8 dari Pedoman Asrama Realino yang saya dapatkan dari Pemimpin Realino Romo H.C. Stolk, SJ saat saya mulai menjadi warga Realino pada 25 Nopember 1963, tertera tandatangan Romo dan stempel Asrama Realino.

*) Tulisan Djalmo moro, Djalmo mati  saya tempelkan  di pintu kamar, saat saya telah jadi bapak-buah.
Pembicaraan makalah RDC kali ini saya bagi dalam tiga (3) episode:

o    Periode sebelum tahun 1961 sampai 1964/1965
o    Periode pemerintahan pak Harto
o    Periode  pasca pemerintahan pak Harto
.
.

Periode sebelum tahun 1965
Ketika berumur 8 tahun saya diarahkan oleh bapak saya untuk masuk kepanduan Hizbulwathan (HW), bergabung dalam kelompok pandu athfal (pemula, cub scout) sampai saya berumur 10 tahun. Episode ini berlangsung di Banjarmasin dan Kediri. Ketika pindah ke Malang, selama tiga tahun saya tidak menjadi pandu. Barulah di tahun 1957 saya kembali tertarik lagi menjadi pandu dan bergabung ke Pandu Rakyat Indonesia pada pasukan perintis (scout troop, verkenner) kelompok Malang 3.  Anggota pasukan perintis ini adalah remaja berasal dari bermacam-macam sekolah, ada yang dari SMP Negeri I, SMP Negeri III, SMP Katholik, Taman Dewasa (SMP nya Taman Siswa), SGB (Sekolah Guru B), SMA Negeri IIIB, SMA Negeri IIB, SMA Negeri IA/C,  SMA Kristen dan STM Negeri. Dalam pasukan ada empat regu terdiri dari tujuh orang remaja per regunya. Saya menjadi Kepala Regu Singa, Pemimpin pasukan kami mas Kien Iskandar (kami memanggilnya Rakanta) seorang mahasiswa FKIP Universitas Airlangga di Malang yang dulunya bernama PTPG (Perguruan Tinggi Pendidikan Guru), kemudian menjadi IKIP Malang.  Kepanduan dibubarkan oleh Pemerintah pada tahun 1961, masyarakat dilarang mendirikan organisasi yang menyerupai kepanduan. Pemerintah kemudian mendirikan Pramuka tetapi saya tidak berminat menjadi pramuka.

Makalah yang saya bawakan dalam RDC 43 tahun yang lalu mengemukakan perbedaan antara kepanduan dan pramuka, dan menggolongkan Pemerintah yang membubarkan kepanduan adalah pemerintah totaliter. Dalam sejarah tercatat ada lima pemerintahan yang melarang berdirinya kepanduan (scouting banned) yaitu, pemerintah Nazi Jerman, pemerintah fascis Musolini, Pemerintah komunis USSR dan satelitnya, Pemerintah balatentara Nippon dan Pemerintah RI di tahun 1961.  Oleh karena Pemerintah saat itu dipimpin oleh Bung Karno, keruan saja pemikiran saya ditentang oleh peserta sidang RDC yang mencintai kepemimpinan Bung Karno. Perbedaan antara kepanduan dan pramuka yang saya kemukakan saat RDC lebih dari 43 tahun yang lalu adalah Sbb.:

  • Menjadi pandu adalah kemauan dari pribadi remaja, mereka memilih kelompok yang disukainya sesuai dengan nuraninya. Sebagai contoh ketika saya diarahkan bapak saya untuk menjadi pandu HW saya ikuti saja oleh karena saat itu saya baru berumur 8 tahun, pokoknya masuk pandu; namun ketika saya telah bisa memilih kelompok yang lebih menarik, saya minta ijin bapak saya untuk tidak masuk HW dan diperkenankan masuk Pandu Rakyat. Anggota pasukan kelompok saya berasal dari bermacam sekolah seperti yang telah saya sebutkan di atas.

Menjadi pemimpin kelompok pandu adalah atas kesukarelaan mengorbankan waktu didasari niat membimbing remaja yang lebih muda, tanpa mendapat imbalan apapun dari pihak lain, hanya kepuasan batin yang dapat dinikmati oleh pelakunya.

Menjadi pramuka ditunjuk atau ditugaskan oleh guru, anggota kelompok pramuka hanya dari sekolah itu saja, pemimpin kelompoknya juga guru sekolah itu. Guru yang tidak layak memimpin permainan mungkin saja bisa tertunjuk oleh Kepala Sekolah untuk bertugas  memimpin pramuka yang juga muridnya.

  • Uniform pandu mempunyai arti tersendiri yang dapat menarik selera para remaja. Baju dari kain dril yang tebal dilengkapi dengan buah baju yang kuat untuk sewaktu-waktu dapat digunakan sebagai tandu (draagbaar). Warna uniform tidak mencolok agar tidak mudah terdekteksi ketika sedang mengintai (bila perlu mimikri), apa yang dikenakan di badan tidak boleh dibuat dari bahan yang memantulkan sinar. Kacu pandu seragam hanya untuk kelompoknya tetapi tidak seragam untuk seluruh organisasinya, kacu pandu bisa untuk bebat, topi pandu dari anyaman bambu (buatan Tangerang) bentuknya seperti topi polisi Canada untuk melindungi diri dari sengatan matahari selain itu juga dapat digunakan sebagai pelampung mengurangi beban berat badan ketika ada yang tenggelam di air. Membawa tongkat pandu sepanjang 160 Cm. Semua yang dikenakan di uniform pandu ada manfaatnya.

Uniform pramuka pada awal kelahirannya, baju putih celana khaki, kacu pramuka seragam (warna putih di batasi strip merah), memakai songkok (kupiah), membawa tongkat pendek sepanjang senapan LE. Bila berbaris menggunakan aba-aba berbaris militer. Tongkat sepanjang senapan tadi disimulasikan sebagai senjata, jadi ada aba-aba berbaris – pundak senjataaaaa grak. Ketetapan MPRS mengharuskan menghapus Baden-Powellisme. Pramuka mau meniru pioneer dan komsomol – Vsesoyuzny Leninsky Kommunistichesky Soyuz Molodyozhi.

  • Kepanduan mempunyai Janji Pandu dan Undang-Undang Pandu sedangkan pramuka mengubahnya menjadi Tri Satya dan Dasadarma yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Presiden.
  • Kepanduan Indonesia bergabung dalam persaudaraan pandu sedunia, pramuka malah keluar dari persaudaraan pandu sedunia seiring dengan keluarnya Republik Indonesia dari Perserikatan Bangsa Bangsa.

Setelah RDC selesai, Pimpinan Sidang Romo Stolk memberi jabat tangan. Tak terkira saat itu Romo mengulurkan tangan kirinya untuk jabat tangan, saya langsung menyambutnya dengan tangan kiri juga. Ternyata di saat remajanya Romo Stolk adalah seorang padvinder (pandu).

Mengenai jabat tangan kiri (left handshake), kepanduan meniru cara bersalaman bangsa Afrika Ashanti, mereka mengatakan bahwa pada kebanyakan orang yang tidak kidal (right handed), tangan kiri lebih sedikit berbuat dosa dan kesalahan. Di tahun 2004 saya dan isteri mengunjungi Romo Stolk di Girisonta bersama anak dan menantu. Anak saya bertanya apakah Romo Stolk juga pandu koq bersalamannya dengan tangan kiri. Saya bilang dia seorang padvinder. Ketika saya bertamu ke Romo Stolk saat beliau bertugas membimbing novice di Kampung Ambon Jakarta di tahun 1980-an, anak saya masih kecil, dia tidak memperhatikan bahwa saya dan Romo Stolk  berjabat tangan dengan tangan kiri.

Iklan

7 Replies to “Mengembara Menuju Bahagia”

  1. saya sangat bangga dan salut kepada Kakak…
    kapan saya bisa seperti kakak, walau saya saat ini ikut terlibat dalam kepramukaan disalah satu ambalan dan untuk hobi saya itu saya tak mendapatkan honor sedikitpun, namun ada secercah harapan agar ambalan kami dapat berkembang.
    untuk itu sudi kiranya Kakak mengirimi saya buku karya Baden Powell versi terjemahan indonesia..
    seblumnya saya ucapkan terima kasih…
    Salam Pramuka…

  2. Kuching, 28 Juli 2009

    Saya punya banyak buku tentang kepanduan. Saya bersedia mengirim satu buku “Memandu Untuk Putera” terjemahan dari buku “Scouting for Boys” tulisan Bapak Pandu, Chief Scout of the World.

    Saya sangat senang dan bersyukur Anda telah mau mengorbankan waktu Anda untuk kepentingan remaja.

    Saya sekarang bermukim di Kuching. Buku yang akan saya berikan ada di Yogya. Apabila saya ke Yogya saya akan kirimkan kepada Anda.

    Saya juga ada menulis buku tentang kepanduan, kalau Anda memerlukan bisa saya kirimkan liwat e-mail.

    Salam Tiga Jari
    Be Prepared

    R. Darmanto Djojodibroto

  3. Madiun, 7 September 2012
    salam kenal kak.
    saya seorang yang ingin belajar lebih jauh tentang kepanduan. saya -mungkin- bisa dikatakan seorang pramuka yang beraliran traditional scouting. akan tetapi gugus depan saya masih kurang bisa menerima scouting dengan style seperti ini. oleh karena itu, demi memperkuat pengetahuan saya, sudi kiranya kakak berkenan mengirimkan soft copy ataupun hard copy buku-buku asli karangan chief scout of the world, Baden Powell Gilwell baik yang berjudul “Aids To Scouting”, “Rovering To Succes”, “Scouting for Boys”, “Jungle Of Book” maupun “Education of Love In Place Of Fear”.terima kasih sebelumnya.
    Salam Tiga Jari
    Thank You, God Bless You and Love You
    Imron Rosidi

  4. Pengalaman di kepànduan lebih mengasyikan dan kenang2an tersendiri sampai istilah pandu diganti pramuka. Kepanduan sifatnya sukarela sehingga tidak setiap murid mau jadi pandu, beda dengan pramuka yang sifatnya wajib.
    buku Mengembara Menuju Bahagia saya baca tahun 1961 ,judul asli Rovering to succes.
    saya jadi pandu di Parkindo sampai dibubarkan oleh bung Karno, suatu kenangan yang manis jaman remaja dan banyak pengalaman2 yang berguna setelah saya makin dewasa.
    Salam tiga jari, Be Prepared !

  5. Ada beberapa novel2 terjemahan mengenai kepanduan di Belanda kira2 tahun 50 an yang diterbitkan NK (Noordf Kolf), diantaranya berjudul Bersiap dan Berbagai pengalaman regu bajing, saya cari di penjual buku2 lama tapi belum dapat.
    Kalau buku Rovering to succes karya Lord Baden Powel of Gilwel, saya sudah punya download nya.
    Pramuka mengadopsi kepanduan tapi kayanya agak hambar, semangat petualangan yang diajarkan Baden Powel dalam kepramukaan tidak terasa.
    Salam tiga jari, Be Prepared !

  6. luar biasa kak broto……sy membaca baris demi baris tentang pengalaman broto selama menjadi pandu…luar biasa kak….iaaaa kak, kebetulan sy di wartir juga kak…kita banyak kehilangan makna2 pembinaan seperti yang kak broto katakan………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s