Gagasan dan Pemikiran Romo Beek

Beberapa Butir Penuturan Harry Tjan Silalahi pada Pertemuan dengan Alumni Asrama Realino, tanggal 5 Agustus 2003, di Jl. Tanah Abang III/27 Jakarta


Hari Tjan Silalahi & Istri bersama alumni Realino saat peringatan haul Pater J. Beek di Girisonta

Pada tanggal 5 Agustus 2003, 10 orang alumnus asrama Realino yang tergabung dalam FORSINO (Forum Komunikasi Realino) mengadakan pertemuan dengan mengambil tempat di JI. Tanah Abang III/27 Jakarta Pusat. Beberapa alumnus tersebut antara lain: Drs. Titus K. Kurniadi, Bambang Ismawan, Bambang Triguno, Syukri Hadjat, dan dr. Kris Gautama.

Pertemuan termaksud didahului temu-muka dengan Bapak Harry Tjan Silalahi guna bertukar-fikiran berkaitan dengan in memoriam 20 tahun Pater Joseph G. Beek, SJ yang adalah pendiri sekaligus pembina Asrama Realino di Yogyakarta. Turut hadir pada pertemuan tersebut yaitu Arief Priyadi dan Yos Suparno.

Pada kesempatan itu Bapak Harry Tjan Silalahi menyampaikan beberapa hal sebagai berikut:

1.    Pater Beek, seorang biarawan yang tergabung dalam ordo Serikat Yesus, adalah sosok manusia yang memiliki kepribadian unik sekaligus menarik: tegas, disiplin, realistik, logis, konsekuen, sportif dan saleh. Dalam banyak hal pantas diteladani, meskipun ada pula sikapnya yang barangkali kurang disenangi oleh sementara orang yaltu keterusterangannya, dan dikesankan adanya “keangkuhan intelektual”. Sikap demikian nampak sekali ketika bersentuhan dengan orang-orang yang dia anggap plin-plan, “bodoh”, tidak matang pola pikirnya dan sebagainya, di mana Pater Beek menunjukkan ketidaksukaannya dan ketidaksabarannya.

2.    Sebagai anggota Serikat Yesus, Pater Beek patuh secara organisatoris terhadap kebijakan Pimpinan Serikat (Profinsial). Kepindahannya ke Jakarta boleh dikatakan melanjutkan visi dan misi pendidikan yang pernah dirintisnya di Yogyakarta dengan Asrama Realino-nya itu. Di Jakarta dia ditugasi menjadi Sekretaris Nasional “Kongregasi Maria”, suatu lembaga pendidikan kerasulan awam asuhan Serikat Yesus. Oleh Pater Beek, kegiatan kongregasi yang hanya mengenai spiritual saja dinilai tidak cukup, terlalu sempit. Maka beliau mengadakan perubahan-perubahan yang cukup mendasar, disesuaikan dengan kebutuhan awam. Karena kegiatan itu perlu didukung oleh peserta dengan kadar intelektualitas yang memadai, maka dimulailah dengan Kongregasi Maria bagi para saijana dan mahasiswa.

3.    Perubahan-perubahan dimaksud seiring dengan tuntutan situasi di negeri ini, di mana kemudian Kongregasi Maria mengembangkan wawasannya di bidang tanggungjawab kemasyarakatan, dan membekalinya dengan semangat kerohanian yang tinggi. Lalu diselenggarakanlah khalwat (pengasingan diri, semedi) atau “retreat” (mengundurkan diri secara spiritual guna menemukan jati diri) secara khusus bagi para sarjana dan mahasiswa selama sebulan. Kegiatan inilah yang kemudian dikenal dengan “khasebul”, singkatan dari “khalwat sebulan”.

4.    Apa yang dilakukan Pater Beek pada dasamya tidak keluar dari lingkaran kebijakan ordo Serikat Yesuit. Di waktu kemudian ada pertanyaan, bagaimana kelanjutan khasebul itu sepeninggal Pater Beek? Kegiatan itu kemudian diserahkan kembali kepada Serikat Yesus.

5.    Pater Beek sangat menghargai pada anak yang mempunyai kelebihan secara menonjol atau luar biasa, seperti antara lain: anak yang i~akal selcali, anak yang suka berontak, anak yang berani mengambil resiko, anak yang mempunyai semangat lebih dan lain sebagainya. Pater Beek hampir-hampir tidak berminat untuk memberi perhatian terhadap anak yang biasa-biasa saja, yang lemah atau melempem. Dia punya keyakinan, dari kenakalan yang luar biasa itu bisa digali secara maksimum benih positifnya, bisa digembleng untuk diubah menjadi orang yang bermanfaat dan positif.  Meskipun demikian, Pater Beek juga mengakui tidak semua anak binaannya menjadi orang yang baik. Sebab ada pula yang mengecewakan, dan itu dia anggap sebagai sebuah resiko. Dalam menjalankan kegiatannya, Pater Beek tidak membekali diri atau orang lain dengan “ajaran tersendiri” melainkan ajaran cinta kasih sebagaimana diajarkan oleh Yesus. Dan segala langkah yang ditempuhnya berpulang pada semangat cinta kasih itu.

6.    Menurut Pater Beek, setiap orang mempunyai kebebasan menentukan pilihan politiknya. Dia sangat tidak suka terhadap seseorang (tokoh) yang memaksa orang lain harus mengikuti pilihan politiknya, atau begitu mudah mengatasnamakan atau terlalu berani menyatakan diri mewakili sesuatu komunitas, terutama komunitas agama Katolik. Tak jarang Pater Beek berkomentar dengan nada ketus: “… sejak kapan kamu mewakili…….?”;  “….sejak kapan ada ketentuan seperti itu?”, dan sebagainya. Menurut Pater Beek, pilihan politik itu harus dilakukan secara tidak bodoh, tapi dengan perhitungan. Karena itu Pater Beek merasa tidak tepat apabila umat Katolik diharuskan memilih Partai Katolik saja dalam pemilihan umum, sebab secara riil dan rasional pilihan itu tidak akan bermanfaat untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik.

7.    Pater Beek membatasi kegiatannya hanya pada wilayah filosofi dan spiritual, bukan politik praktis. Pembekalan wawasan ideologi berdasar pada semangat cinta kasih. Pater Beek bukan politikus, pengetahuannya tentang politik praktis pasti jauh ketinggalan dengan para aktivis politik. Pater Beek merasa tidak berkepentingan untuk bertemu muka dengan tokoh seperti Ali Moertopo, Soedjono Hoemardani dan lain-lainnya, sebagaimana dulu sering diisyukan. Sampai akhir hayat, Pater Beek tidak pernah bertemu dengan tokoh-tokoh itu.

8.    Terhadap anak binaannya, Pater Beek tidak lebih dari hanya sebagai penasehat. Pembekalan wawasan atau nasehat berkisar pada semangat cinta kasih, dengan menanamkan kesadaran mengenai tugas awam Katolik. Menurut Pater Beek, awam Katolik seharusnya tidak hanya melakukan tugas “manus longga” saja, suatu tugas yang pada dasarnya merupakan kepanjangan tangan hirarki, membantu tugas-tugas imam secara langsung. Tugas itu baik-baik saja dilakukan, tetapi sebenarnya tugas pertama dan utama yang berbeda dengan tugas “manus longga” dan perlu dilakukan oleh awam Katolik, adalah tugas “kerasulan awam”. Sekedar gambaran, boleh-boleh saja Wanita Katolik menjahit bantal, menyiapkan lilin dan lain sebagainya untuk keperluan Misa Kudus. Tetapi sebenarnya Wanita Katolik harus berbuat lebih dari itu, melakukan sesuatu yang lebih berarti, misalnya memikirkan anak-anak miskin. Dalam hal seperti inilah Pater Beek sering ditentang oleh mereka yang tidak mampu memahami pola pemikirannya. Meskipun sekarang, apa yang dipikirkan oleh Pater Beek beberapa puluh tahun lalu. itu tidak hanya sekedar disadari saja oleh awam Katolik melainkan telah dipraktekkan.

9.    Pater Beek termasuk orang yang genius, tapi sedikit pemalu. Banyak buah pikirannya, misalnya tentang keadilan, kesejahteraan rakyat, demokrasi, hubungan agama dan negara, juga kritiknya terhadap Nasakom, barangkali memberi inspirasi pada penulispenulis/scholar anak didiknya pada masa itu dan generasi selanjutnya.

10.    Melihat sosok Pater Beek yang unik, menarik dan cemerlang pemikirannya, maka keinginan FORSINO membuat buku tentang Pater Beek merupakan gagasan yang baik. Mudah-mudahan dapat digali bahan-bahan yang lebih luas dan mendalam.

11.    Untuk peringatan 20 tahun wafatnya Pater Beek, orang-orang yang pernah dibina beliau  mengadakan acara peringatan bersama berupa ziarah ke makam Girisonta, Ungaran, Jawa Tengah pada tgl. 20 September 2003, yang dihadiri oleh para alumni Realino dari berbagai kota.

06/08/2003

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s