Prof. Dr. Djokomoeljanto dan Gondok Merapi

Gondok lebih berbahaya dan menggelisahkan dibanding yang tampak dari fisik penderita. Di daerah gondok endemik, kaitannya erat dengan kematian bayi, kematian ibu hamil, dan sebagainya. Di Indonesia, yang paling besar adalah berkurangnya kemampuan mental akibat gangguan karena kurang iodium atau lazim disebut “Gaki.”

Penelitian tim Universitas Diponegoro (Undip) bersama Universitas Leiden 1973 menunjukkan, kondisi di daerah endemik dengan yang tidak, sangat berbeda. Orang normal di daerah gondok endemik ternyata tidak normal. Maka masalah kemunduran mental menjadi masalah nasional dalam menghadapi gondok endemik, mengingat terdapat sekitar 40 juta penderita gondok.

Upaya mengatasi “Gaki” sudah lama dilakukan di Indonesia. Publikasi tentang gondok sudah ada sejak tahun 1920, diperkuat berbagai penelitian berikutnya. Itu termasuk penelitian Prof. Dr. Djokomoeljanto, ahli “Gaki” yang aktif memerangi gondok yang menjadi komitmen Indonesia pada dunia internasional.

Sudah hampir 30 tahun menggeluti gondok, Prof. Djoko sadar masih banyak yang harus diperbuat untuk memenuhi niat pemerintah yang ingin mengatasi gondok sampai tahun 2000. Padahal tak ada data ataupun peta yang bisa meyakinkan dunia global. Untuk itu, selaku konsultan gondok endemik pada Departemen Kesehatan, ia merasa kewajiban moral memenuhi komitmen negara. Sejak tahun lalu, diawali di enam propinsi dibuat peta prevalensi GAKI disusul hingga akhir tahun ini 27 propinsi memiliki peta itu.

“Ini penting karena tanpa data dan peta, tak mungkin dunia percaya ada usaha pengentasan gondok endemik”, ungkapnya.

Setelah peta dibuat, makin nampak bahwa “Gaki” masih perlu penanganan lebih serius. Di Jawa Tengah saja, dalam periode 10-15 tahun penurunan prevalensi belum drastis. Bahkan pada daerah survei 1980/1990 masuk non-endemik, prevalensinya tergolong cukup tinggi, misalnya Kabupaten Cilacap (16,6%).

Keadaan lebih parah di Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Maluku, yang prevalensinya sangat tinggi. Di NTT misalnya, Kabupaten Timor Tengah Utara mencatat 87% dan Sumba Barat 75%.

Keadaan itu baru secara umum dan dari data anak sekolah, sedang pada ibu hamil dan menyusui lebih tinggi, sehingga memungkinkan melahirkan anak yang tidak sempurna. “Ini tentu memprihatinkan, apalagi dikaitkan dengan semboyan dua anak cukup yang tidak hanya pada jumlah, tapi harus juga pada kualitas”, katanya.

Perhatian Prof. Djokomoeljanto makin tercurah pada “Gaki” mengingat penanggulangan defisiensi iodium merupakan jalan terbaik mengatasi kekurangan kecerdasan. Namun, memerangi gondok dengan pemberian garam untuk semua orang bukan hal yang mudah, meski merupakan cara tepat karena pemberian garam bisa menjangkau semua orang.

Persoalannya, kehendak pemerintah memproduksi garam iodium baru disambut PN Garam, sementara sebagian garam konsumsi diproduksi di luar PN Garam. Tidak heran jika banyak beredar garam tanpa iodium, dan di Jawa Tengah yang memenuhi syarat belum mencapai 50%.

Itulah sebabnya, melalui kerjasama dengan Kimia Farma clan Pusat Penelitian Gizi Bogor diproduksi kapsul iodium sekitar 10 juta/tahun clan tetesan untuk air minum. Upaya ini merupakan alternatif menurunkan “Gaki” secara drastis. Namun, inipun, memerlukan disiplin tinggi sehingga selalu kembali pada pemakaian garam yang dibutuhkan semua or­ang.

Dikaitkan dengan upaya menekan berkurangnya kecerdasan, perlu diperhatikan konsentrasi pemberian iodium pada anak-anak sejak dalam kandungan hingga usia tiga tahun, yaitu masa pertumbuhan saraf pusat. Begitu pula soal cara terhadap wanita hamil dan menyusui yang harus ditujukan pada wanita usia subur karena akan terhambat jika mengharap laporan adanya ibu hamil.

Berbagai gagasan hasil penelitiannya menunjukkan pola yang tepat clan bisa diterima sebagai program nasional. Karena itulah ia pantas meraih berbagai penghargaan, yaitu dari Undip untuk penelitian gondok endemik (1982), dari Ikatan Dokter Indonesia Pusat untuk penelitian (1985), dan Eijkman Medal Award dalam Karya Kesehatan Tropik dari Belanda (1996).

Menguasai secara tepat cara mengatasi gondok bagi Prof Djoko, tak lepas dari keakrabannya dengan penduduk di lereng Merapi sejak 30 tahun silam. Keakraban itu terus membayangi pria kelahiran Boyolali, Jawa Tengah, 20 Februari 1937 itu, untuk menjawab kegelisahan penduduk lereng Merapi. Ini tergambar pada film Kelabu di Lereng Bukit produksi tahun 1984 clan ia terlibat sebagai pelaku.

Meski demikian, awal mengakrabi gondok baru dimulai tahun 1969 ketika bersama Prof. Haryono mempelajari nutrisi di National Institute of Nutrition di Heyderabad. Sekembalinya, WHO menugaskan semua peserta merencanakan sesuatu yang bermanfaat bagi negara masing-masing. Waktu itu terpikir olehnya untuk berbuat sesuatu bagi masyarakat di sekitar tempat tinggal orang tuanya yang hingga akhir hayatnya bermukim di Melondo, Magelang, Jawa Tengah.

Awalnya, pemilihan ini agar sekaligus bisa menjenguk orang tua sekali seminggu, meski data prevalensi belum tersedia. Namun, ia tak kehabisan akal untuk menentukan pilihan lokasi. Dalam perjalanan menelusuri lereng Merapi, putra sulungnya yang belum sekolah diminta menghitung jumlah penderita gondok yang dijumpai. Sedang anak nomor dua, menghitung semua orang yang terlihat di perjalanan.

“Dengan sederhana bisa dihitung jumlah penderita dibagi jumlah penduduk yang dijumpai dikalikan seratus, diperoleh persentase penderita. Nah, itulah prevalensi,” ujarnya mengenang masa lalu.

Sejak tahun 1970 ia mulai meneliti gondok lebih mendalam, dan setiap Rabu tidak praktek karena ke lapangan sejak pagi hingga malam. Dana diperoleh dari mengeruk kocek sendiri setelah disetujui istrinya, Antonia Sartini, BA. Jumlahnya cukup besar, karena untuk meneliti sekitar 200 kelurahan, dibutuhkan peralatan lengkap.

Sepeda motor merek Honda selalu dinaikkan di atas jip jika mendatangi desa yang tak terjangkau kendaraan roda empat. Untuk dokumentasi digunakan film 8 mm dan tustel untuk foto slide berwarna yang harus dicuci di luar negeri dan foto hitam putih. Dengan peralatan yang saat itu belum digunakan peneliti lain, data yang diperoleh sangat akurat karena bisa menggambarkan setiap perubahan melalui foto dan film.

Pengorbanannya ternyata memberi manfaat. Dokumentasi miliknya terlihat oleh peneliti gondok di lembah Mulia, Irian Jaya, pada Lokakarya Kesehatan Masyarakat di  Surabaya. Ia kemudian diajak meneliti bersama dan dicarikan sponsor belajar di Belanda hingga meraih doktor dengan pengajuan disertasi di Undip.

Sejak meneliti gondok hingga sekarang Prof. Djoko seperti punya ikatan batin dengan penduduk desa lereng Merapi. Karena itu, dengan upaya membebaskan mereka dari gondok endemik berarti ia ikut meningkatkan kecerdasan warga di sana. Selama bergaul ia tahu pasti banyak pengalaman penduduk akibat turunnya tingkat kecerdasan.

la sadar, sukses itu menghambat yang lain. Misalnya, hubungan dengan ketujuh anaknya yang sejak awal sepenuhnya diserahkan kepada istrinya. Ketika menanyakan alasan mereka tidak mengikuti jejak jadi dokter, ia tidak heran ketika hanya mendapat jawaban, “Bapak tak pernah memberitahu untuk apa ia menjadi dokter.”

Tugas profesi dan kemasyarakatan menyita waktunya sejak lulus dokter di Undip Januari 1964 setelah meraih Drs. Med di Universitas Gajah Mada. Apalagi setelah lulus spesialis (1979) dan meraih doktor (1974) kemudian Guru Besar FK-Undip sejak 1985. Kedekatan dengan keluarga mulai dirasakan setelah melepas jabatan Direktur Pascasarjana Undip awal Mei lalu setelah memasuki usia 60 tahun.

Meski demikian, perhatian Prof. Robertus Josef Djokomoeljanto – demikian nama lengkapnya – pada masyarakat penderita gondok masih lekat. Setidaknya hingga akhir tahun ini ia bisa menyelesaikan tugas menyusun peta prevalensi seluruh Indonesia yang selama ini tidak pernah ada. (wgt/dth).

Alumnus Realino 1955
Sumber : Kompas, 10 Juni 1997

Iklan

3 Replies to “Prof. Dr. Djokomoeljanto dan Gondok Merapi”

  1. Dear teman2 semua yang mempunyai masalah dengan gondok tiroid atau cancer tiroid, sebaiknya pastikan dengan thyroid scan untuk memastikan suatu pembesaran kelenjar gondok saja atau ada tumor/cancer,bila perlu lanjutkan biopsi jarum. Bila hanya pembesaran gondok saja, bisa diobati tanpa operasi bedah yaitu dengan metode radioablasi bs sembuh,sudah terbukti seperti di USA,Australia,Singapura,efektif,nyaman pengobatannya dan murah. Kita di Indo sdh bisa sejak lama.
    Bila suatu cancer ganas juga bisa dibersihkan sampai bersih cancernya dengan dosis besar radioablasi, dibuktikan dengan scan pasca terapi ablasi dan kadar tumor marker utk cancer tiroidnya. Jangan putus harapan karena kedokteran modern bisa mengatasinya.Salam sehat semua.dari: ekopurnomodr@gmail.com

  2. Met Pagi Pak, di daerah saya di Desa Lemahbang, Kecamatan Kismantoro, Wonogiri banyak ditemukan penderita gondok hingga mengakibatkan keterbelakangan mental. Tapi kayaknya kok belum masuk peta gondok Jateng ya pak?.. padahal juga sangat menunggu penanganan medis dari pemerintah Jateng,… Trims

  3. dusun sidowayah di kec. Jambon, dan desa Karangpatihan Kec Balong Ponorogo mrpkn daerah kantong gondok/kretin. thn 2008 Seksi Gizi Dinkes dan UNDIP sdh melakukan pemetaan dgn hasil yg sdh dipublikasikan. Semoga penentu kebijakan di Ponorogo bisa menindak lanjuti dlm bentuk intervensi yg tepat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s