Kalau Bisa Sehat, Kenapa Harus Sakit?

Kesehatan bukan segalanya tetapi tanpa kesehatan segalanya tidak ada artinya (health is not everything, but without health, everythng is nothing). Itulah kata-kata mutiara yang selalu didengung-dengungkan Drs. Titus K. Kurniadi, Ketua Umum Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI).

Dengan mengutip buku dr. Handrawan Nadesul berjudul “Sehat itu Murah” (2007) bahwa hampir tak ada penyakit yang tak dapat dicegah, Titus pun makin yakin hampir semua penyakit dapat dicegah. “Syaratnya tentu saja daya tahan tubuh harus kuat untuk menghadapi penyakit,” katanya pada Lokakarya “Menuju Lanjut Usia Sehat” di Jakarta, Rabu lalu.

Salah satu caranya adalah dengan menerapkan Pola Hidup Sehat yang terdiri dari :

1. Pola makan yang sehat dan alami yang berasal dari sumber nabati.
2. Olahraga yang teratur setiap hari.
3. Istirahat yang cukup 7- 8 jam per hari.
4. Mengelola kejiwaan dengan harmonis.

Sakit dan penyakit, menurut Titus, paling banyak terjadi sebagai akibat kesalahan sendiri karena menjalankan pola hidup yang tidak sehat. Bagaimana dengan penyakit keturunan? Tentu saja masih ada, katanya, tetapi sedikit. Bagaimana dengan usia yang makin lanjut? Masih ada juga, katanya, tetapi tidak banyak. Bagaimana dengan penyakit yang disebabkan lingkungan? Ada juga tetapi sekali lagi sedikit jumlahnya.

Dengan pengalamannya sendiri itu pria berpostur tinggi besar itu kemudian menuliskannya dalam sebuah buku berjudul, “Kalau Bisa Sehat, Kenapa Harus Sakit?”

Perubahan hidup Titus berawal setelah ia membaca buku karangan Rev. George H. Malkmus berjudul “You don’t have to be sick” (www.hacres.com) pada 2003. Kemudian sejak 15 Mei 2003 hingga sekarang Titus mempraktikkan pola makan sehat yang ketat itu setiap hari sampai sekarang.

Ingin tahu pola makan sehari-hari yang dipraktikkan Titus :

1. Pagi hari setelah bangun tidur, ia meminum 1 sendok makan Barley. Makan paginya berupa buah atau oatmeal atau roti whole wheat. Sekitar pukul 10.00 pagi ia mengonsumsi jus sayur yang terdiri dari brokoli, seledri, tomat, timun, asparagus dan campuran sayuran lainnya.
2. Makan siang. Menu utamanya adalah Salad yang dicampur sayur masak sebagai dressing dilengkapi tahu, tempe dan beras merah. Kemudian pukul 16.00 ia meminum jus wortel.
3. Makan malam. Menu sama dengan makan siang. Bagaimana bila perut masih terasa lapar? Ia mengganjal perutnya dengan mengonsumsi buah-buahan. Kemudian diselingi minum air putih dan teh hijau.

Sedangkan bahan makanan yang harus dihindarkan atau dikurangi, menurut Titus, adalah sebagai berikut :

1. Semua produk hewani.
2. Gula pasir.
3. Garam meja.
4. Minyak goreng.
5. Nasi putih dan roti putih.
6. Rokok.
7. Alkohol.
8. Hormon.

Ringkasnya makanan tersebut di atas masih boleh dikonsumsi tetapi,”Jangan sering-sering dan jangan banyak-banyak,” pesannya.

Pada dasarnya, Titus ingin mengembalikan fungsi makan untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit bukan untuk mencari yang enak untuk dikonsumsi.

Meski umur di tangan Tuhan, namun kesehatan sesungguhnya berada di tangan kita masing-masing. “Yang penting bukan kuantitas kehidupan melainkan kualitas kehidupan. Bukan hidup sampai usia berapa melainkan menjalani sebuah kehidupan yang bermakna.” ia menambahkan.

Kesimpulannya, mencegah lebih penting daripada mengobati. Bagaimana pendapat Anda?

Titus K. Kurniadi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s