In Memoriam Pater J. Beek

20 tahun wafatnya Pater J. Beek bertepatan pada 20 September 2003 yang akan datang. Momentum ini mempunyai arti khusus bagi murid-murid beliau yang kini tersebar di berbagai lapisan masyarakat.

Sebagai seorang pendidik yang dinamis dan mempunyai pandangan jauh ke depan, Pater J. Beek dengan jeli melihat permasalahan kultural Bangsa Indonesia. Kemajemukan bangsa yang merupakan suatu dilema berkepanjangan, namun di sisi lain hal tersebut merupakan suatu kunci kekuatan tersendiri bagi Bangsa Indonesia.

Bertolak dari kenyataan itu, Pater J. Beek di dalam pengabdiannya untuk membimbing para mahasiswa menuju jenjang kepemimpinan, menyadari bahwa “Bhinneka Tunggal Ika” adalah kata kunci untuk mengatasi dilema tersebut.

Di jalur inilah dengan penuh kesadaran dan tantangan, namun disertai tanggung jawab, Pater J. Beek meretas jalan bahwa Asrama Realino yang tadinya dirancang khusus untuk mahasiswa Katholik dirombak menjadi asrama PANCASILA.

Dengan demikian terbukalah jalan pintas, dimana seluruh Suku Bangsa, Budaya, dan Agama berkesempatan untuk berbaur menjadi satu.

Atas pemikiran itu, pada tanggal 24 Juni 2003 yang lalu bertempat di Gedung CSIS Jalan Tanah Abang III, beberapa alumni Asrama Realino yang tergabung dalam FORUM KOMUNIKASI REALINO (FORSINO) telah bertemu dan bertukar fikiran dengan DR. J. Kristiadi salah satu Kader Pater J. Beek di Jakarta yang kini meroket sebagai pengamat politik yang bergengsi. Ketika Pater J. Beek masih di Asrama Realino, beliau masih di Sekolah Dasar.

Pada pertemuan itu tercatat beberapa aspirasi yang dikemukakan para hadirin, antara lain:

1.    Sismadi Partodimulyo
“Ketika sudah sama-sama di Jakarta, Rama pernah mengajak saya untuk aktif bersama memperjuangkan Orde Baru. Ketika saya tanyakan di jalur mana kita akan berkiprah dan siapa Tokoh-Tokoh partner kita, maka jelas bagi saya bahwa pada waktu itu Rama berada dalam satu orbit dengan Jenderal Ali Murtopo cs.”

2.    Bambang Ismawan
“Ketika Rama sudah mulai lemah dan sakit tercetus ungkapan kekecewaan: ‘Mengapa bangunan politik Orde Baru melenceng jauh dari apa yang saya cita-citakan dalam strategi penegakan demokrasi’ Jika ada waktu, di lain kesempatan lebih banyak hal-hal yang saya ungkapkan.”

3.    Syukri Hadjat
“Mengisahkan pengalamannya ketika membantu Rama untuk menyebarkan brosur stensilan tentang taktik dan strategi menghancurkan PKI yang waktu itu masih memperoleh angin segar dari Bung Karno”

4.    Bambang Triguno
“Saya akan berusaha menghubungi J.B. Oetoro untuk mendapatkan fakta-fakta otentik mengenai sepak terjang Rama dalam mendiskreditkan PKI.”

5.    Bambang Kuntjoro
“Supaya perjuangan Rama dapat dibukukan untuk kemudian diseminarkan secara luas kepada masyarakat.”

6.    Leo Sugoto
“Ada suara-suara sumbang dari pihak tertentu yang menuduh Rama merupakan salah seorang arsitek untuk memarginalisasikan golongan Islam di zaman ORBA.”

7.    Androe Sudibyo
“Bagi generasi muda banyak fakta-fakta yang diungkapkan terutama mengenai penumpasan G-30-S/PKI dimana Orde Baru telah berbuat sewenang-wenang.”

8.    Kris Gautama
“Akan menyediakan waktu untuk mengumpulkan data-data otentik mengenai perjuangan menegakkan Orde Baru dan penumpasan G-30-S/PKI.”

Jakarta, Juli 2003
Syukri Hadjat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s