Bambang Ismawan’, Pengabdi Rakyat Kecil

NYARIS tak terlihat perubahan pada wajah Marcel Bira, meski untung besar. Siang itu ia menjual sapi seharga 1,3 juta rupiah. la mendapat harga Rp 800.000,00. Bila dijual dengan harga normal, sapi yang beratnya 381 kg itu paling tinggi laku Rp1,1 juta karena harga sapi sama seperti miliknya berkisar Rp 3.200,00-Rp 3.400,00/kg hidup.

Untung besar itu ia raih karena menjualnya melalui lelang ternak Desa Inpres Tertinggal yang digelar Pemda Nusa Tenggara bersama Persatuan Pedagang Hewan In¬donesia (Pepehani). Lelang diadakan sehubungan dengan kunjungan peserta seminar dan lokakarya IDT di Kupang. Penawar tertinggi bukan dari Pepehani, melainkan Drs. Bambang Ismawan, peserta dan pengurus YAE (Yayasan Agro Ekonomika) yang melaksanakan seminar dan lokakarya bersama Pemda se-Nusa Tenggara.

Justru Bambang Ismawan yang tampak gembira dan puas bisa memberi harga yang lebih baik. Apalagi keuntungan yang diperoleh M. Bira sekaligus melepaskannya dari kemiskinan. Dengan tetap memiliki seekor sapi, Bira tidak tergolong miskin. Salah satu kriteria miskin dan menjadi warga IDT di Nusa Tenggara ialah jika tidak memiliki ternak sapi. Ismawan memang akrab dengan rakyat miskin. Setidaknya 33 tahun dari hidupnya ia abdikan untuk masyarakat kecil. Kegiatannya selaku Sekretaris YAE terlibat kegiatan IDT, juga tak jauh dari sana.

Kedekatan dengan rakyat miskin, tampak dari caranya menghadapi mereka. Pada saat lelang sapi di Kupang misalnya, ia seolah hanya ingin menaikkan harga agar pedagang membeli dengan harga tinggi. la sendiri bahkan siap membayar dengan harga tertinggi.

Begitu pula ketika disambut tarian selamat datang di salah satu desa IDT di Kupang, ia tak bisa berdiam diri ketika selendang tenun NTT dikalungkan ke lehernya. Tubuhnya yang tinggi kekar digoyangkan mengikuti irama seperti dilakukan wanita penari yang menyambutnya. la memberi kesan ikut merasakan kegembiraan masyarakat desa itu.

Buat Bambang Ismawan yang sekian lama menggeluti LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) semua itu merupakan bagian dari kehidupannya. Apalagi kini ia memimpin Bina Swadaya, salah satu LSM terbesar di Tanah Air di samping terlibat kegiatan sosial termasuk YAE yang banyak membantu pemerintah daerah berupaya meningkatkan kesejahteraan rakyat.

“Pada awalnya tak terpikir untuk mengabdi pada lembaga swadaya hingga saat ini. Apalagi sejak mahasiswa saya lebih banyak bergaul di kalangan elite dan tertarik pada dunia politik, walau tidak pernah tertarik aktif di partai politik,” ujarnya.

Meski demikian, sejak mahasiswa masalah orang kecil selalu menyentuh perasaannya, sehingga membuka diri untuk mempelajari dan ikut berbuat sesuatu. Sejak tahun 1963/1964 ia terlibat gerakan sosial ekonomi meski harus mencari yang tidak berbau kepanjangan aliran politik atau agama tertentu. Yang utama baginya ialah gerakan sosial ekonomi dengan aspek kemanusiaan seluasnya.

la mengaku sikap politik harus ia punyai dengan proses yang jelas, dan selalu bertanya pada diri sendiri. la juga membayangkan visi agar ada kesempatan untuk ikut memperbaiki sebagian besar nasib rakyat. Di sisi lain, ia sadar kegiatan itu harus selalu melihat kenyataan, agar tidak terjebak pada upaya jangka pendek yang mungkin mengaburkan tujuan jangka panjang.

ISMAWAN yakin, memperjuangkan rakyat kecil tidak bisa dalam waktu pendek. Untuk itu, yang utama ialah mencari sahabat dan teman sebanyak-banyaknya. “Untuk bisa membantu mengatasi kondisi yang begitu sulit. LSM harus pandai membawa diri. “Kami tak punya apa-apa kecuali cita-cita, lalu membangun Bina Swadaya sebagai komitmen terhadap rakyat kecil, ” tegasnya.

la tak memungkiri jika dalam praktek LSM bermacam¬macam. Ada yang mewujudkan kegiatan dengan kegiatan advokasi yang ia nilai sah-sah saja. Ismawan dan teman¬temannya memilih “LSM pembangunan”. Baginya, banyak hal yang belum beres, dan untuk menolong orang kecil, tak perlu menunggu kondisi jadi lebih baik.

Ismawan memilih bergiat di LSM karena melihat essensi keberadaan LSM yang membedakan politiknya dengan partai politik. Partai politik harus memperjuangkan kepentingan rakyat pada kondisi yang bagus, sedang LSM segera melaksanakan apa yang bisa dilakukan tanpa menunggu. LSM harus yakin melakukan hal-hal yang konkret dengan tulus sebagai sarana untuk mengajukan alternatif perubahan. “Bagi kami itu lebih balk daripada teriak minta perubahan,” tegasnya.

Meski demikian, LSM yang dibinanya lebih diusahakan agar mandiri, tidak bergantung pada bantuan luar. Untuk itu, kegiatannya selalu mengahrapkan partisipasi masyarakat yang dibantu semaksimal mungkin. Ini dikaitkan dengan imbalan masyarakat yang dilayani, untuk menentukan tingkat keseriusan mereka. Tidak mengherankan jika banyak usaha Bina Swadaya yang bisa diperoleh dengan memberi imbalan. Sebutlah misalnya penerbitan buku dan majalah atau pendidikan, meski nilainya tidak besar. “Untuk mendidik masyarakat kecil, jika tak mampu jangan diminta membayar mahal, tapi setelah mampu jangan dianggap tidak mampu,” ungkapnya.

SEBAGAI mahasiswa ekonomi Universitas Gajah Mada Yogyakarta, pada awalnya ia cendrung menekuni kegiatan politik. Sewaktu menunggu hasil ujian dan skripsi, tahun 1964 pada usia 26 tahun ia menjadi pengurus Ikatan Petani Pancasila. Sambil bekerja di semarang, tahun 1965 ia terpilih sebagai Ketua Umum IPP Pusat yang membuatnya semakin “tejebak” untuk memperhatikan rakyat kecil. Apalagi waktu itu ia merasa kemampuannya terbatas, sehingga bekerja keras memahami tugas yang diemban dengan belajar banyak dari petani dan pengurus lain yang seumur ayahnya. la pun menempuh pendidikan S2 untuk lebih memahami tugasnya sebagai LSM.

Pada awalnya ia juga punya cita-cita menjadi petani besar, punya ranch. Kemudian ia merasa malu punya pikiran seperti itu terutama setelah bertemu pastor Belanda yang suka keluar masuk desa memberi ceramah ke Gunung Kidul mengatasi paceklik atau hama tikus. Sejak itu ia ingin tahu lebih banyak dengan mengikuti pertemuan, kunjungan ke desa-desa dan lain-lain. Justru itu yang membuatnya semakin iri pada garapan yang penuh pengabdian, kejelasan sikap politik, tapi sepi dari pamrih, (jauh dari kepentingan pribadi).
Secara politis, menurut Bambang Ismawan, LSM dan partai politik tak berbeda dalam membela atau membantu rakyat kecil. Bedanya, LSM tak punya agenda terselubung. Artinya, LSM tak punya kepentingan politik. Tapi LSM punya dimensi ekonomi yang memerlukan upaya untuk dikembangkan menjadi keahlian dan bekerja secara profesional.

SEPERTI profesi lain, LSM dikembangkan agar hidup dari usahanya dan tak tergantung bantuan luar negeri sehingga bisa mempertahankan sikap independen. Namun, LSM tetap perlu mitra aktor pembangunan, karena yang diperjuangkan begitu rumit dan mensejarah. Dalam hal ini, ia melihat pemerintah sebagai aktor pembangunan yang paling besar, mitra yang paling potensial dan penting.

Kini, melihat perkembangan LSM yang dipimpinnya, banyak yang menyebutnya sebagai konglomerat LSM. Tapi baginya bukan masalah, apalagi jika makna konglomerat lebih ditegaskan pada jaringan usaha untuk kepentingan orang banyak.

Lelaki kelahiran Lamongan, Jawa Timur, 7 Maret 1938 dan ayah dari dua anak ini, sulit menjelaskan mengapa dulu memilih bergiat di LSM. Bahkan 20 tahun pertama tak mudah baginya untuk menjelaskan jika ia bekerja untuk orang banyak dan kepentingannya ada di dalamnya.

“Ketika ditanya mertua pun, susah menjelaskan. Tapi sekarang, saya cukup mengerti apa yang saya jalankan,” ungkapnya. (Dirman Thoha)

Bambang Ismawan, alumnus Realino 1957
Kompas, Selasa 14 Januari 1997

Iklan

One Reply to “Bambang Ismawan’, Pengabdi Rakyat Kecil”

  1. Kalau ada yang memiliki keprihatinan yang sama seperti pak Bambang, lalu apakah harus mulai dari nol lagi? Maksud saya, kayaknya perlu ada semacam sekolah atau setidak-tidaknya buku (bila belum) tentang “Seluk-beluk Membangun Lembaga Swadaya Masyarakat”. Dengan adanya sekolah/buku ini banyak orang bakal terbantu terlibat dalam pemberdayaan masyarakat, tanpa terjatuh dalam masalah teknis yang sama dalam hal kelembagaannya atau persoalan teknis lain. Dengan demikian apapun visi dan strategi pemberdayaan masyarakat, soal pelembagaan visi dan strateginya dapat sama efektifnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s