Pembibitan Atlet di Akar Rumput

Oleh: Eko Raharjo (alumnus 78)*

Salah satu kelemahan menyolok di Indonesia dalam bidang olah raga adalah semakin melunturnya lifestyle dan budaya masyarakat dan keluarga dalam berolah raga. Sehingga tidak banyak muncul atlet-atlet baru yang sudah cukup siap. Dengan kata lain, kendati dengan dukungan populasi yang demikian besar pembibitan dari akar rumput tidak terjadi di Indonesia. Pembinaan olah raga di Indonesia boleh dikata hanya mengandalkan pada pemusatan latihan nasional dimana ini sangat mahal dan sering menuntut pengorbanan yang besar dari para atletnya seperti harus meninggalkan sekolahannya.

Kelebihan negara-negara maju barat adalah selalu mepupuk lifestyle dan budaya masyarakat dan keluarga untuk menghargai olah raga, sehingga meskipun jumlah penduduknya kecil selalu mampu memunculkan atlet-atlet baru yang sudah disiapkan sejak dalam keluarga dan lingkungan masyarakatnya. National training program di negara Barat lebih merupakan pematangan dan pembentukan kekompakan tim, tidak lagi harus memberikan latihan-latihan dasar teknik maupun physical conditioning. Untuk negara-negara tertentu yang punya ambisi di ajang Olympics tentu saja disertai dengan fokus pada R & D.

Alasan bahwa masyarakat negara maju sudah mapan ekonominya sehingga bisa aktif dan mandiri dalam pembinaan olah raga adalah tidak betul. Sebab keaktifan dan kemandirian olah raga di masyarakat Indonesia pernah terjadi justru pada masa lampau dimana ekonomi masyarakat tidak sebaik sekarang.

Pembinaan atlet-atlet kaliber dunia seperti Tan Joe Hok, Liem Swie King, Hastomo Arby, Edi Hartono pertama-tama adalah tidak datang dari nasional training center di PBSI (dan juga tidak dari PB Djarum) melainkan dari keluarga dan masyarakat lingkungan masing-masing. Saya kira hampir semua atlet-atlet top Indonesia di masa lampau dari cabang olah raga manapun pertama-tama muncul lewat pembibitan dari lingkungan keluarga atau masyarakat asalnya.

Orang dari Kudus akan tahu bahwa sebelum Liem Swie King bergabung dengan PB Djarum, ayahnya (Liem Dhiam Poo) sudah membuatkan lapangan badminton di halaman belakang rumahnya dimana Liem Swie King berlatih dengan keluarga dan teman-teman. Konon Liem Dhiam Poo masih ikut memberi istruksi kepada Liem Swie King dari pinggir lapangan meskipun sudah ditangani pelatih profesional dari PB Djarum. Untuk Edi Hartono yang adalah teman masa kecil saya, skill olah raganya, pertama-tama dipupuk lewat berbagai kegiatan olah raga di kampung. Pengembangan ketrampilan psikomotorik sedini mungkin melalui berbagai aktifitas olah raga dan permainan adalah esensial sebagai dasar dari perkembangan atlet-atlet top.

Bangsa yang maju selalu tidak melupakan untuk pertama-tama membangun playground (taman bermain) dan lapangan olah raga untuk bermain dan kegiatan olah raga anak-anak. Di Jerman dan di Kanada kita bisa mendapati taman-taman bermain dan lapangan olah raga untuk umum tidak saja jumlahnya sangat banyak melainkan juga pada lokasi-lokasi yang sangat strategis yang mudah dijangkau. Ini tidak berarti bahwa negara-negara tsb tidak mementingkan pengembangan tempat-tempat bisnis. Justru sebaliknya, investasi pada kesehatan fisik dan mental penduduk melalui olah raga dan rekreasi pada jangka panjang akan berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi negara.

Sebaliknya pertumbuhan ekonomi yang tidak disertai dengan visi yang baik justru sering mengorbankan aspek kehidupan lainnya. Di Indonesia, banyak taman bermain, lapangan dan gedung olah raga dikorbankan untuk kepentingan pembangunan mall, hotel atau tempat-tempat bisnis lainnya. Di Kudus pada masa lalu siapa yang tidak akrab dengan lapangan Ploso tempat Liem Swie King menggembleng fisik dengan berlari keliling sampai mendekati 100 putaran? Namun lapangan Ploso sudah lama raib dan berubah menjadi Mall Matahari. Orang Jateng mana yang tak tahu GOR Simpang Lima dimana Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Hastomo Arbi, Djoko Santoso, Edi Hartono, Heryanto Arbi, dst, berlaga mati-matian untuk menjadi yang terbaik? Gedung tsb telah lama berubah menjadi Hotel dan Mall Citraland.

National training center dengan program dan manajemen yang baik tentu saja selalu diperlukan mengingat tuntutan profesionalisme dan kerasnya persaingan internasional. Namun hendaknya disadari ini tidak bisa menggantikan pembibitan dan pembinaan olah raga sejak dini yang dimulai dari dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Pertama-tama diperlukan suatu kebijakan nasional untuk menyelamatkan taman-taman bermain dan fasilitas-fasilitas olah raga umum dari kepentingan bisnis jangka pendek. ‘Sport and Recreation’ hendaknya menjadi titik pusat dari perencanaan perkembangan kota. Hal lain yang perlu dipikirkan adalah mengintegrasikan pembibitan dan pembinaan olah raga dengan sistem sekolahan. Atlet-atlet nasional Indonesia hendaknya merupakan juga orang-orang yang terdidik sehingga tidak akan pernah lagi terjadi seorang pemenang medali emas di SEA Games terpaksa berkarir sebagai tukang becak.

Eko Raharjo,
Calgary 2011

*Eko Raharjo

This entry was posted in Kolom Eko Raharjo, Serbaneka. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s