Oleh Freddy Hariwinoto (1979)
Rasanya sebagian besar warga pernah melihat udang yg ukurannya sangat kecil, kadang ada di pasar-pasar tradisional, sering juga ada di supermarket. Nah udang ini ternyata menjadi senjata andalan untuk memancing ikan sebagian nelayan Tanjung Pasir, KamaL, Dadap dan sekitarnya.
Tidak diragukan memang spt yang saya alami ketika beberapa tahun yang lalu saya masih keranjingan mancing ikan-ikan dasar dan ikan-ikan permukaan.
Pak Sirat, seorang nelayan yg namanya tersohor di wilayah Tanjung Pasir yang mendemonstrasikan penggunaan rebon itu, pantas sj beberapa kali keberangkatan tertunda karena menunggu rebon yg blm diperoleh dari pasar2 setempat.
Bagi nelayan setempat, tanpa rebon sama saja tidak mancing, dan sugesti mereka mengatakan pasti gagaL… Aneh juga.
Nah, bagaimana cara penggunaan rebon itu? Kan ukurannya sangat halus? Bahkan ada yg sebesar jarum jahit?
Mereka sudah mempunyai cara tersendiri saudara, di warung-warung sekitarnya ternyata sudah banyak yang menjual alat penebar rebon di dasar laut, bentuknya seperti lonceng asrama tetapi kecil, kira-kira sebesar setengah kepalan tangan, anda tahu kan lonceng? Tetapi salah satu sisi pinggir dibuat lubang (agak di atas).
Nah di atas lonceng tersebut dipasang sungut atau tanduk berbentuk huruf “v” horizontal. Dan di kedua sungut tersebut diikat senar sekitar 1 meter masing2 panjangnya dan diujung senar dipasang mata pancing yg kecil.
Pada saat akan “action” lonceng diisi rebon hingga full dan agak dipadatkan. Demikian juga mata pancing halus tsb di pasang rebon, atau bulu2 ayam halus. Lalu action…!
Lonceng diulur dengan kecepatan konstan hingga mencapai dasar, lalu di sentak-sentak dg keras, dengan demikian rebon akan menyebar didasar laut, tak ayal berbagai kan ramai memakan berebutan rebon tersebut walaupun tdk tampak dari permukaan, nah dalam kondisi itu pasti termakan juga rebon yg ada di mata kail ataupun bulu2 ayam tsb, maka tdk di nyana, nelayan tak henti2nya menarik ikan kembung como ukuran rata2.. 3 jari dg panjang satu setengah jengkal, dan sekali tarik 3 hingga 4 ekor. Selang beberapa saat dapat bonus juga ikan kuwe dan bawal yg lumayan besar.
Tergiur dg nelayan tsb maka salah seorang rekan ingin mencobanya, tetapi beberapa kali celupan nihil…saya pada saat itu hanya memperhatikan kesibukan pak Sirat tsb, dan rupanya pak sirat juga memperhatikan pancingan sy, setelah diangkatn, maksud ingin mengganti umpan pak sirat menginstruksikan agar jarak antara pemberat dan mata pancing jgn terlalu dekat, benar juga setelah jarak dijauhkan hingga 3 depa, barulah ikan2 dasar memakan dg gencar, sementara pak sirat asyik dg kembung nya.
Dalam hati bertanya, mengapa jika jarak pemberat dg umpan dekat ikan tdk nyenggol?? Owh rupanya sy mndapat jawaban dari analisa sendiri yaitu krndaras laut berkarang tdk rata, jd kemungkinan umpan masuk kedalam celah2 karang shg tdk terlihat oleh pemangsa, jadi jika saudara2 ingin mancing di laut yg dalam, buatlah jarak antara bandul dan mata kail cukup panjang. Beda dg di empang atau kolam…… Bersambung
Demikian juga di Jepang, UU Guru ada sejak 1974 dan UU Sertifikasi pada 1949.