Menggalang Kembali Solidaritas Kebangsaan

Tulisan Eko Raharjo (78)

Di Indonesia, toleransi dan pluralitas sepertinya telah menjadi magic words yang sanggup mengundang simpati. Sehingga koran Kompas dengan bangganya memposting berita adanya 5 tempat ibadah yang dibangun berdampingan dimana para umatnya hidup dengan penuh toleransi. Tentu saja ini bukan hal yang buruk. Namun kita perlu mengajukan pertanyaan kritis, apa dampak membangun berbagai tempat ibadah secara berlebihan terhadap kehidupan masyarakat umum?. Bukankah ini hanya mencerminkan adanya kesenjangan antara segelintir masyarakat elit yang hanya memikirkan kebutuhan akheratnya, sementara dalam kehidupan nyata sehari-hari mayoritas masyarakat berada dalam himpitan masalah dan ketidaktentuan nasib masa depan?

Sementara beberapa tahun ini pertumbuhan ekonomi di Indonesia semakin membaik, rakyat kebanyakan semakin tidak mampu untuk membayar beaya pendidikan yang membumbung tinggi. Dapat dipastikan di masa depan hal ini akan berakibat semakin menurunnya taraf hidup rakyat. Kerusakan dan pencemaran lingkungan alam yang semakin parah tidak hanya telah menyebabkan sejumlah besar masyarakat hidup dalam lingkungan yang tidak sehat dan tidak nyaman tetapi juga mempersulit usaha mereka dalam mencari nafkah. Ini adalah masalah-masalah pokok bangsa yang perlu penanganan yang serius. Runyamnya, para elit pejabat justru sibuk melakukan selfservice dengan memberi uang tunjangan jabatan kepada diri sendiri dengan jumlah yang ‘ngaudzubilah’ besarnya.

Bertahun tahun media di Indonesia teperangkap dalam permainan kelompok Muslim fundamentalis seperti FPI, yang tidak hanya kecil jumlahnya namun juga tidak punya kecerdasan dan resources yang cukup untuk membuat perubahan apapun di Indonesia selain tindakan-tindakan pelanggaran hukum. Ini tidak berarti kasus-kasus intoleransi dan persekusi yang dilakukan oleh kelompok fundamentalis terhadap kelompok minoritas boleh diabaikan. Namun sedemikian besarnya perhatian media terhadap kelompok fundamentalis seperti FPI sehingga melalaikan masalah yang jauh lebih besar, yakni menipisnya solidaritas kebangsaan, dimana bangsa Indonesia menjadi terpecah-belah karena adanya kesenjangan pendidikan, kesenjangan pelayanan kesehatan, kesenjangan lingkungan hidup nyaman dan sehat, dst.

Adanya kesenjangan yang menyolok dalam bidang pendidikan saat ini merupakan hal yang perlu dikawatirkan. Seleksi penerimaan mahasiswa jenjang S1 yang mempersyaratkan puluhan sampai ratusan juta rupiah di perguruan-perguruan tinggi negeri membuktikan bahwa solusi masalah pendidikan yang ada tidak berorientasi pada kepentingan seluruh lapisan masyarakat. Di era reformasi ini politik diskriminasi yang ada sejak Orba tidak diputus, melainkan dilestarikan dalam bentuknya yang paling buruk. Suatu sistem yang hanya memajukan kelompok elit saja tidak diragukan akan mengoyak solidaritas kebangsaan dan melahirkan perpecahan.

Kesenjangan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang merupakan kebutuhan esensial kemanusiaan terlihat lebih menyolok, yakni dengan memisahkan kelompok masyarakat miskin (melalui program Jamkesmas). Penyelenggaraan pelayanan kesehatan kelas dua pada hakekatnya adalah suatu bentuk pemecahan terhadap bangsa yang satu, dimana merupakan indikator dari menipisnya solidaritas kebangsaan. Privatisasi pelayanan kesehatan yang berorientasi ke profit malah tampak semakin marak di Indonesia meskipun dari hasil studi di USA menunjukkan bahwa swastanisasi pelayanan kesehatan semakin menaikkan budget kesehatan dan jumlah kematian, tetapi tidak meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat (data dari riset mengenai sistem pelayanan kesehatan di USA).

Saya menyadari banyak orang merasa kawatir bila issue toleransi dan pluralitas dikesampingkan. Hemat saya, dalam masyarakat yang sehat, toleransi terhadap perbedaan sudah ada secara alamiah dan akan terus berkembang sesuai dengan berkembangnya pandangan manusia mengenai dunia. Selama ratusan ribu tahun, evolusi mahluk manusia telah memprioritaskan gen-gen altruistik untuk diabadikan. Manusia terlahir sudah memiliki rasa emphaty, belas kasih, toleransi yang diperlukan untuk menunjang keberlangsungan hidupnya. Tanpa diajari, manusia (dan juga binatang) akan merawat bayi dan anak-anak, menghargai orang tua dan berbelas kasih kepada yang sakit dan malang. Menggalang kerja sama dan solidaritas sosial sesungguhnya juga merupakan sifat alamiah yang dimiliki manusia demi survival.

Mengapa sementara dalam masyarakat di negara maju seperti Kanada toleransi, kerja sama dan solidaritas sosial terus berkembang, di Indonesia tampak semakin menipis? Ini karena menyempitnya kesempatan masyarakat Indonesia untuk tumbuh dan berkembang secara alamiah. Pendidikan anak-anak di Indonesia terlalu banyak diberi muatan segala macam pelajaran mengenai akherat tetapi menomer duakan pemahaman mengenai dunia nyata. Akibatnya, manusia Indonesia tumbuh dengan lebih menghargai hal-hal akherat yang tidak kasat mata (tak bisa diamati) daripada hal-hal duniawi yang kasat mata, yang bisa diamati, diraba, yang punya keindahan, yang punya perasaan, yang bisa dipahami dan dikembangkan secara nalar. Etika dan moral kemanusiaan Indonesia tidak lagi bertumpu pada sifat-sifat alamiah kemanusiaan tsb melainkan digantikan dengan dogma dan simbol-simbol keagamaan.

Keputusan pengadilan Indonesia baru-baru ini terhadap pembunuh biadab di Cikeusik menunjukkan bahwa rasa keadilan di Indonesia tidak lagi bertumpu pada rasa keadilan kemanusiaan melainkan rasa keadilan ketuhanan. Bukan mereka yang menganiaya dan membunuh manusia yang dihukum berat melainkan yang menganiaya dan membunuh tuhan. Pergeseran rasa keadilan yang bertumpu pada dogma agama tsb, tidak pas bila biang keladinya kita tuduhkan kepada kelompok Muslim fundamentalis seperti FPI yang tidak punya posisi dan power untuk membentuk moralitas masyarakat. Hemat saya, tanggung jawab lebih berada pada mereka yang punya posisi memberi kotbah di mesjid Istqlal, gereja Kathedral dan tempat-tempat ibadah lainnya, dan kepada guru-guru agama yang mengajar di pondok, seminari dan di sekolahan-sekolahan di seluruh Indonesia. Sekedar menyalahkan FPI menunjukkan lebih lanjut bahwa kita semua sudah terbiasa lari dari realita.

Orientasi kehidupan yang sangat njomplang ke akherat telah pula menyebabkan manusia Indonesia menyia-nyiakan karunia keindahan alam. Keindahan alam dan lingkungan hidup nyata di dunia boleh rusak, asalkan keindahan surga dalam benak mereka tetap terpelihara. Ajaran bahwa semua binatang diciptakan untuk kepentingan manusia menyebabkan tak ada rasa bersalah bila seluruh binatang di muka bumi ini punah dikonsumsi dan bahkan kalaupun dengan cara-cara biadab. Bahwa binatang juga punya kesadaran akan dirinya, punya rasa takut dan sakit tidak muncul dalam kesadaran manusia Indonesia sehingga tidak ada beban moral untuk melindungi binatang dari penderitaan dan kepunahan. Bagi saya, merupakan tragedi kemanusiaan yang menyedihkan bila manusia tidak pernah berusaha untuk benar-benar memahami karunia keindahan alam dunia yang luar biasa tetapi sudah menuntut keindahan di akherat.

Solidaritas kemanusiaan di Indonesia pun terkoyak-koyak oleh berbagai dogma dari berbagai agama yang tidak hanya berbeda tapi sering bertentangan satu sama lain. Bahkan meskipun satu agama, penghayatan (umat) akan ketuhanan juga bisa sangat berbeda. Pembunuhan biadab di Cikeusik menunjukkan kepada kita bahwa penghayatan ketuhanan sanggup melenyapkan solidaritas kemanusiaan sama sekali dan sekaligus memberi motivasi untuk membunuh sesamanya secara biadab namun penuh kebanggaan. Betapa dahsyat distorsi moral kemanusiaan yang bisa ditimbulkan!. Merupakan masa depan yang suram bagi keadilan di Indonesia ketika pengadilan negara memberi putusan hukuman yang sangat ringan kepada para pelaku pembunuhan biadab di Cikeusik.

Saatnya sekarang masyarakat dan media di Indonesia menggeserkan fokus perhatian untuk lebih menggalang solidaritas kemanusiaan dan kebangsaan. Masyarakat perlu diberi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara alamiah sesuai fitrahnya sebagai satu species, satu nenek moyang, satu genome, satu proses evolusi, dan satu lingkungan geografis dan kebangsaan. Pendidikan anak-anak di sekolahan hendaknya hanya berorientasi pada pemahaman terhadap kehidupan nyata di dunia dengan mengembangkan penalaran kritis dan bertumpu kepada kemajuan ilmu pengetahuan. Pemahaman yang lebih baik terhadap kehidupan dan lingkungan alam dunia dan jagad semesta hanya akan semakin menajamkan sifat-sifat alamiah kemanusiaan yang mudah terkagum akan keelokan, cinta akan keindahan dan selalu mengusahakan kemajuan dan kebaikan bersama. Hendaknya hanya prinsip-prinsip kebangsaan Indonesia dengan dosis yang wajar yang boleh diberikan kepada anak didik demi menggalang tumbuhnya solidaritas nasional yang sehat.

Bangsa Belanda dengan lingkungan geografis yang berada di bawah permukaan laut telah berhasil dalam membangun negaranya karena penggalangan solidaritas kebangsaan yang kuat sebagai satu bangsa yang mempunyai kesamaan masalah, nasib dan cita-cita. Sebaliknya, bangsa Mayan yang raja dan kaum elitnya mengisolasi diri dari segala macam problem, seperti penggundulan hutan, kekeringan, dan kelaparan yang dialami oleh rakyat kebanyakan hanya bisa bertahan sesaat sebelum terjadinya kekacauan dan kerusuhan yang meluas yang berakhir dengan kolaps berantakannya bangsa tsb. Masyarakat Indonesia yang bhineka dengan kesadaran telah memilih Indonesia sebagai lingkungan geografis dan ranah kebangsaannya di dunia (bukan di akherat), oleh karena itu setiap elemen bangsa hendaknya selalu aktif menumbuhkan solidaritas kebangsaan, penyadaran akan kesamaan masalah yang dihadapi, pengusahaan solusi untuk semua dan tanggung jawab bersama dalam pemeliharaan dan penggunaan kekayaan alam Indonesia.

Dirgahayu Republik Indonesia!

Eko Raharjo

Bermukim di Calgary, Canada

This entry was posted in Serbaneka. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s