The Last Empu

kerisTulisan Eko Raharjo, 1978

Keris tidak pernah menjadi perhatian saya sampai saya berkunjung kerumah MNG (Mas Ngabehi) Mandoyo Citro, abdi dalem keraton Yogya pada tahun 2003 dan membeli dua bilah keris, satu untuk anak saya. Dengan cepat saya sudah melupakan benda tsb. Ketika saya berkunjung lagi ke Yogya bulan Januari 2005, saya janji pada diri sendiri untuk tidak beli keris lagi. Namun “mak jegagig”, di Gabusan, Bantul, saya ketemu dengan orang tua yang mengaku sebagai empu. Rasanya saya pengin merespons dengan baris dalam lagunya Shania Twain: “So, you are an empu? That don’t impress me much!……”

Jiwo Diharjo demikian nama bapak tsb bersikeras menarik perhatian saya dengan menunjukkan silsilah keluarganya. “Saya adalah generasi ke 19 dari empu di jaman Majapahit”. Yang pertama adalah empu Suponariyo, kedua Supoanom, selanjutnya Supodigdo, Suposepuh, Nyai Ageng Pandhe, Mas Ayu Kadarsih; yang dari jaman Mataram: Empu Brojoguno, Empu Betrang, Mandaliko, Cindhe Amoh, dst sampai kerajaan terbagi menjadi Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Untunglah tidak keseluruhan 18 empu pendahulu pak Jiwo disebutkan semua. Namun tak mau lupa, pak Jiwo menyebutkan Mas Darmaji anak bungsunya sebagai penerus profesinya sebagai keris maker.

Singkat cerita saya akhirnya bersama empu Jiwo Diharjo, tidak cuma seharian di pasar seni Gabusan, Bantul, namun sampai ikut dan tidur di rumahnya di desa Banyu Sumurub, Imogiri. Baru saya sadari, soal perkerisan merupakan satu dunia tersendiri. Tidak soal hocus-pocus, mambo-jambo, melainkan soal seni, budaya, karakter, mentalitas dan spiritualitas manusia Jawa/Indonesia. Pamor dalam keris misalnya adalah suatu seni amalgama yang tinggi yakni mencampurkan meteorites yang punya kandungan nickel tinggi dengan besi dan baja. Ada ratusan jenis pamor yang menyimbolkan alam pikiran dari sang empu atau pemilik keris, derajat, kewibawaan, kebijaksanaan, kemakmuran, keselamatan, kedigdayaan, dst.

Tidak kurang mempesonanya adalah Dapur (paras) dari keris. Nagasasra, Singabarong, Kalanadah, Carangsoka, Sempana Kalenthang, Tilam sari, Tilam Upih atau kombinasi. Tilam Sari Urubing Dilah adalah keris lurus Tilam Sari dengan ujungnya berombak seperti lidah api. Kombinasi dapur, pamor dan jumlah luk (lengkung, ombak) memberikan variasi yang hampir tak terbatas. Masih ada lagi yang disebut Wondo yakni temperamen dan pesona dari keris. Pernah lihat Monalisa di musium Luvre, Paris? Kan kelihatannya seperti menyimpulkan senyum misterius. Demikian pula, keris bisa menyiratkan suatu kesan kenes/kemayu, galak, dingin, keji, dst. Konon Wondo dari keris tergantung juga dari karakter empunya dan tangguhnya yakni asal/jaman waktu keris dibuat apakah dari jaman Mataram, Tuban, Pajajaran, Majapahit, dst.

keris dapur nogo sosroMasih ada lagi bagian yang disebut pakaian keris. Ini juga merupakan bidang kesenian lain lagi. Ada berbagai gaya dan corak dari pakaian keris. Ada Ladrang, ada Gayaman, ada gaya Surakarta ada Yogyakarta. Ada yang dengan Warangka (sarung) logam yang disebut pendok dan ada yang kayu atau gading. Kombinasi dari berbagai hal ini membuat keris arguably merupakan seni senjata tradisional yang paling kompleks dimuka bumi ini.

Paling akhir adalah penggunaan warangan (arsenicum) dalam perkerisan. Banyak terjadi misconception mengenai penggunaan warangan pada keris. Kebanyakan orang mengira adalah dengan tujuan jahat yakni agar keris menjadi senjata beracun yang membuat korbannya sekarat kesakitan sebelum menemui ajalnya. Dari sinilah mungkin kesatria Jawa memperoleh nama buruk sebagai kesatria yang licik dan kejam. Ternyata warangan adalah sekedar dipakai untuk perawatan keris karena arsenicum yang bereaksi dengan besi, baja dan meteorites (nickel) memberikan peraduan warna yang indah yakni warna hitam legam pada besinya, kelabu pada bajanya dan putih, lively bright, pada pamornya. Dosis warangan tidak punya andil apa-apa dalam proses kematian korban. Kalau ada keris yang di lumuri racun, yang digunakan adalah wisa kelabang, ketonggeng, kalajengking atau wisa ular. Namun keris dengan lumuran wisa akan cepat menjadi rusak.

Dapat dibayangkan hanya dengan kesungguhan, ketekunan, passion dan skill yang luar biasa tinggi seseorang mampu membuat Tosan Aji (senjata pusaka) macam keris. Keseriusan, passion, ketekunan, kesenian dan skill yang tinggi boleh jadi merupakan karakater dan mentalitas asli manusia Jawa/Indonesia. Merupakan misteri dan teka-teki tersendiri bahwa kebanyakan manusia-manusia Jawa/Indonesia tsb sekarang berubah menjadi sedemikian korup, cheap dan ignorant. Mungkinkah empu Jiwo Diharjo merupakan the last Javanese/Indonesian yang masih mewarisi karakter luhur masa lalu?

S e V

Eko-78 (email, 28-8-2007)

2 Tanggapan ke “The Last Empu”


  1. 1 Apriadi Ujiarso Agustus 1, 2009 pukul 1:55 pm

    om,

    Tahu nggak ya mbah Jiwo diharjo itu, kalo keris sudah termasuk intangable world heritage? Setelah wayang, keris sudah memiliki status intangable world heritage, tapi adakah maknanya bagi para empu pembuat keris?

    Kalo boleh menebak, sehabis beli keris om Eko ini terus beli batik tulis nan halus itu di sekitar Girilaya …

    salam,
    uus

  2. 2 Eko Raharjo Agustus 2, 2009 pukul 4:04 pm

    Wah saya nggak tahu apakah mbah Jiwo tahu atau tidak mengenai hal ini. Yang jelas saya nggak tahu sama sekali mengenai hal ini. Apakah ini berarti Unesco punya program untuk membantu pengrajin keris untuk melestarikan tradisi ini? Ataukah keris kuno tertentu menjadi tidak boleh diperjual belikan?. Di Jepang saya kira ada larangan untuk membawa pedang Katana keluar negeri. Apakah Indonesia akan diberlakukan aturan macam ini?


Tinggalkan Balasan