Email mas Eko Raharjo (22 Agustus 2007)
Kalau teringat akan teman ketika di Asrama Realino yang bernama Dardjami tidak bisa tidak aku jadi ketawa sendiri. Secara fisik Dardjami seperti mahasiswa dari Klaten lainnya tidaklah spesial. Namun yang khas adalah ketawanya yang besar dan terkekeh memperlihatkan sepasang gigi taringnya, dan perutnya yang bundar bergoncang-goncang.
Malem minggu Dardjami hampir selalu dapet dijumpai di asrama, sebab ia masuk dalam kelompok anak Realino loser dimana tidak becus menggaet satupun cewek dari asr Syantikara. Dalam asr Realino kelompok ini cukup besar jumlahnya, tak punya pacar dan duitnya pun cekak. Mereka ini kerjanya cuma luntang-lantung di ruang rekreasi. Dardjami tiba-tiba muncul dengan berita mengejutkan: “Hei ada truk masuk ke Batik Semar (toko batik di Gejayan)”. Kontan anak-anak asrama pada berhamburan menuju pasar Gejayan, ada yang bersepeda, naik motor atau cuma berlarian.. Tentu saja sampai disana tidak ada kejadian apa-apa.
Bahwa anak asr realino Realino selalu saja kelaparan bukanlah hal yang aneh sebab makanan disuguhkan dalam ukuran nano. Bedanya anak-anak lain umumnya pada pasrah akan nasibnya tapi Dardjami tidak. Ia mau menunggu dengan sabar sampai lewat jam 2 pm dimana menurut kitab UU makanan di Realino semua makanan yang tak terjamah selewat jam tsb halal hukumnya untuk dijarah. Suatu hari Dardjami bilang wah aku tidak bisa tidur siang tadi. Kenapa? tanyaku. Badanku panas karena makan 13 potong ayam heh heh heh…….. ngakunya sambil terkekeh-kekeh.
Suatu kali Dardjami, Yoyong dan aku pergi ke Tlogohadi yakni suatu dusun di Sleman untuk mencari rumah Henricus. Agar memperoleh pandang yang luas maka kami menyusuri tanggul tinggi yang juga adalah jalan rel kereta api. Tahu-tahu kami sampai pada jembatan gantung yang luar biasa tinggi. Yoyong langsung memilih turun dan menyebrang lewat jembatan biasa yang rendah. Darmadji tetap maju terus. Rupanya pridenya sebagai anggota menwa dari fak Kehutanan membuatnya menerima tantangan tsb. Inilah yang bikin Yoyong dan aku tertawa terpingkal-pingkal. Dardjami menyebrang dengan merangkak, lambat dan muka pucat, sementara itu dibelakangnya ada simbok-simbok dengan menggendong bakul, menyingkap kainnya dan berjalan sigap
menyalib dia.
Kami kelompok loser di asrama realino juga sering berkelakuan impulsif di malem minggu yakni tanpa juntrung apapun tiba-tiba berombongan bersepeda ke pantai Samas. Tentu saja punya problem besar dengan logistik. Agus anak dari Sragen yang membawa bekal sekaleng ikan tuna jadi rebutan. Namun segala kekurangan dan kelaparan tsb menjadi sirna sama sekali ketika pagi harinya matahari bersinar dengan cerah dan membawa kehangatan. Semua anak asrama dengan cuma mengenakan cawat saja bermain dengan ombak dengan riang gembira.
Bukanlah Dardjami kalau tidak punya story. Ia nampaksangat enjoy sekali sampai-sampai kebablasan ke tengahdan nampak kesulitan untuk berenang kepinggir. Anak-anak lain sudah pada kawatir. Namun keajaiban terjadi, segulung ombak besar datang dari tengah samudera mendorong Dardjami kembali kepinggir pantai. Dardjami selamat, utuh tak kurang suatu apa…cuma…cawatnya sudah tidak pada tempatnya. Kami semua terbahak-bahak sambil menuding pada lele hitamnya Dardjami yang gandul-gandul.
S & V

Salam jumpa mas Eko Wargonyo. Hah.. hah.. hah.. cerita sampeyan lucu tenan. Kalau lele di Calgary tentu kebanyakan putih-putih ya…
Salam,
Tri Hascaryo – 82
Ya hitam juga!, tapi nggak pakai mangkak hehehe… Salam jumpa kembali dik Tri Hascaryo. Apa ada angkatan 1978 disini? Kok kesanku Forsino agak sepi? Apa disini juga ada jam bukak, jam tutup, Vil-sel, Vil-ut?
Aku pilih yang di Vilsel saja, yang di pojok barat sebab bisa nggodain cewek-cewek IKIP. Apakah ada kepengurusan seperti dulu? kalau ada aku mau pinjem kunci hehehe…
Apa Rm Bolsius masih juga jadi pimpinan? Wah aku pernah diskors je
. Kenangan dengan beliau adalah tiap hari Sabtu diboncengkan vespa. Enak sekali diboncengkan beliau sebab tidak kena angin dan pulangnya mampir ke Mirota di Kota Baru. Cuma aku nggak beli apa-apa di sana wong nggak jual blanggreng (blanggem) hehehe….
Yah banyak cerita yang bisa aku share tapi mau kenal-kenal dulu lah sebab kan banyak mbah-mbah senior disini. Apa “cah anyar” perlu pakai buku kenalan seperti dulu? Wah jadi inget Parulian Sinaga yang sulitnya setengah mati untuk kasih kenalan
Salam
Eko Raharjo
Hallo Mas Eko….,
Aku (slebor) nongkrongin disini udah lama tapi ga ada satu pun kawan2 aku kenal paling2 si Liasta lainnya banyak senior dan yunior yang aktif. Karena aku orangnya tidak sensitif……hehe, jadi jadi penonton aja selama ini.
Ternyata masih ada kawan2 yang aku kenal juga. Sekarang ada dimana ini mas,
aku sekarang di Banda Aceh kebetulan lagi ngerjain proyeknya Bank Dunia P2DTK/SPADA (Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus) di 17 Kabupaten, pengelolaanya dibawah BRR. Gimana kawan-2 yang lain suka ketemu nggak? Sering2 aktif disini mas biar aku juga bisa ikutan nimbrung.
Salam
Bambang Supriyatno/Slebor Angkatan 1979
Hei, hallo there
).
Bambang Supriyatno, masih suka main bola? Aku bayangkan kamu masih seperti dulu ramah suka tertawa (ngga ngenyek lho
Bagus sekali dan ikut bangga ada alumnus realino yang terlibat dalam pembangunan kembali Aceh. Aku pernah mengikuti laporan dari Calgary Red Cross mengenai pembangunan di Aceh pasca tsunami. Wah terharu juga.
Aku sekeluarga (yes payu rabi
) nyangkut di Calgary, Canada, dan sekarang sudah tinggal disini hampir 14 tahun. Keluar (atau dikeluarkan)dari jabatan dosen FK Undip kemudian sejak 1998 jadi research associate di dept of Molecular Biology & Biochemistry at U of C.
Di Canada nggak pernah ketemu alumni Realino ketemunya cuma sama beaver, moose, grizzly, etc
Kenapa ya angkatan 78 dan sekitarnya tidak banyak saling berkomunikasi? Tahunya mengenai Forsino juga aku ngga sengaja. Ngga ada yang ngenalin, tapi pokoknya PD saja. Wong yang paling memalukan sudah pernah dialami kok yakni ngajak dance cewek pada malam inaugurasi cah anyar, ceweknya ngga dengar (ngga mau) aku pura-pura garuk-garuk kaki
Salam
Eko