Oleh: Yan FT Xelo (1975)
.
Ini cerita lama. Mungkin anda pernah baca, mungkin juga belum. Mungkin hoax, mungkin juga real story. Jaman haree genee, susah juga bedain mana hoax mana real. Yang hoax dianggap real, yang real bisa dikira hoax. Tapi, kalaupun hoax, kayaknya sih kagak bakal dituntut juga sih, lha wong cuma intermezzo ajah. Apa boleh buat, tahi kambing katanya bulat-bulat. Disimpen jadi obat. Dimakan (taneman) jadi kuat. Mau?
Seorang kawan saya tinggal di kampung di pedalaman Lampung. Di sana ndak kenal macet sih, karena sepi lalu lintasnya. Melewati hutan yang masih cukup lebat. Transportasi mengandalkan motor sepeda yang utama. Jalan antar desa sudah lama rusak berat. Banyak lubang banyak pula genangan. Mana suka ketemu pohon tumbang melintang di tengah jalan pula. Jadi kalau bepergian naek motor kudu ekstra hati-hati.
Pernah sekali waktu kawan saya tu berdua naek sepeda motor, mau balik kampung sehabis belanja di pekan (pasar) di kota. Lewat jalan penuh lubang dengan genangan air keruh soklat warnanya. Rupanya semalam habis hujan lebat pula. Dari jauh nampak seseorang bermotor juga, jalannya kenceng sekali. Kawan kita sudah antisipasi dengan berhenti dulu, sebab ada lubang besar yang harus dihindari.
Eh, dasar tu orang naeknya motor gaya trailer (tukang ngetrek pake motor trail), jadi lubangpun dia terjang saja. Tentu saja airnya terciprat ke muka kawan kita dan kawannya. Keduanya basahlah pasti sekujur tubuhnya, dan belepotan lumpur pula mukanya. Kawan yang memboncengkan melihat ke arah si trailer yang masih ngebut kencang sekali dan berteriak coba lebih kencang lagi: AWASSSSSSSS….. BABIIIIIII…….!!!
Si trailer rupanya dengar teriakan kawan kita, dia berpaling sambil tetap ngebut, balas teriak lebih keras dan sengit lagi: KALIAN YANG BABIIIIIIII….!!!
Gubrakkkssss!
Koq?
Rupanya tadi waktu lewat di balik tanjakan, ada bangkai babi celeng segede gajah nongkrong di tengah jalan. Mungkin bekas tertabrak truk semalam. Terpaksa kawan kita tu balik lagi menolong si trailer. Karena memang begitulah adat di sana, tolong-menolong sesama masihlah kental. Tapi, alih-alih berterima kasih, si trailer malah mengomel-omel panjang dan bersungut-sungut.
Trailer: “Kenapa kalian tadi tak memperingatkan aku?”
Kawan: “Sudah, jeh!” (wong Cerebon rupane kawan kita satu ni.)
Trailer: “Kapan?”
Kawan: “Lha, tadi saya sudah teriak, awass… babiiii…!!!”
Si trailer cuma meringis kesakitan dan merongos kemaluan. Mesam-mesem salah tingkah. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, rasanya. Sangatlah tengsin-nya bukan alang kepalang. Hehehe…. makanya sabar sikit, jangan gampang gusar-lah, bung. Orang kasih ingat malah dibalas dengan makian. Begitulah kiranya ya.
Moral of the story: teliti sebelum membeli ya!
Salam dendeng celeng,
Yan (1974)
BSD City, Tangerang Selatan


0 Tanggapan ke “Awas, Babiiii!!!”