Arsip untuk Februari, 2009



Akira Nakatsuji

akira-2Oleh Gufron Sumariyono (63)

Teman-teman, sahabat saya orang Jepang yang ini bernama Akira Nakatsuji. Dia mulai bersahabat dengan saya ketika tinggal di Realino.Tahun 1968, waktu itu Akira berumur 21 tahun, mendapat beasiswa dari Pemerintah Indonesia untuk belajar bahasa Indonesia di UGM. Dia tinggal di asrama Realino Yogya dari 1968 sampai 1970. Sebelumnya dia tinggal di rumah bangsawan Yogya (GPH ) yang setiap hari berbicara bahasa Jawa.

Dia bingung. Kesulitan hari pertama tinggal di Realino, dia tidak bisa tidur karena di tempat tidur dan kasurnya penuh dengan “kutu busuk”. Oleh bapak buahnya lalu diajarin agar kasurnya dijemur di luar dan kutu busuknya diuber dan diburu lalu dipithes-pithes sampai mati. Tempat tidur yang terbuat dari besi, “kutu busuk”nya dibakar dengan lilin dan hal itu dikerjakan berdua dengan kakak buah, sambil tertawa-tawa cengengesan. Selama dua hari menjemur kasur itu dia senang setengah mati, geli dan lucu bagi dia.

Lanjutkan membaca ‘Akira Nakatsuji’

Perjuangan Sesudah Bebas

Bagian ketujuh dari rangkaian tulisan Gufron Sumariyono (63)

.

Misterius!

Itulah yang bisa disimpulkan dari proses keluarnya Sariman dari Penjara Wirogunan. Begitu sidang pengadilan dibuka, lalu seperti biasa panitera pengadilan membacakan tata tertib dan ringkasan sidang terdahulu. Waktu sidang akan dimulai, ketua sidang pengadilan, yaitu Ketua Hakimnya minta diskors, karena akan membacakan telegram yang barusan diterima. Isinya yaitu menghentikan sidang perkara tuduhan Sariman sebagai agen CIA, atas perintah Presiden RI dan Pemimpin Besar Revolusi. Alasannya Sariman bukan agen CIA. Selesai dibaca, lalu Ketua Hakim menutup sidang dan bubar. Aneh sekali!

Koran lokal di Yogyakarta, seperti KR dan lain-lain keesokan harinya memuat berita ini. Tempatnya di halaman yang tidak strategis. Kecil, singkat dan tidak menyolok. Masyarakat dan tokoh2 politik lokal di Yogya maupun tokoh ormas2 tidak ada yang protes, tidak ada yang ribut-ribut. Pemberitahuan ke pimpinan Realino pun dilakukan melalui telpun dari staf di Pengadilan Negeri Yogyakarta. Suasana politik di tanah air memang sedang memanas pada awal 1965. Para mahasiswa yang aktif di ormas2 politik setiap hari berkumpul di markasnya masing-masing. Mereka diminta berjaga-jaga dan menunggu berita baru dari markas pusat Jakarta, walau setiap hari mendapat briefing pimpinan di Yogya.

Lanjutkan membaca ‘Perjuangan Sesudah Bebas’

Sidang Pengadilan

Bagian keenam dari rangkaian tulisan Gufron Sumariyono (63)

.

lp-wirogunanDari Maret 1964 Sariman meringkuk di balik jeruji penjara Wirogunan Yogyakarta. Bagi Sariman waktu berjalan dengan sangat lambat sekali. Mula-mula Sariman susah bergaul dengan para penghuni penjara. Sebagian besar dari mereka adalah penjahat yang dihukum karena melakukan tindak pidana. Sariman dipenjara karena ulah lawan politiknya, bukan karena tindak pidana.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan dijalani tanpa ada kejelasan kapan mau disidangkan perkaranya. Sementara itu Romo Willemborg dengan penuh kasih dan sayang menjenguk Sariman seminggu sekali sambil membawakan makanan.

Lanjutkan membaca ‘Sidang Pengadilan’

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »