.
Mereka yang suka meromantisasi kemelaratan di perkampungan slum kemungkinan besar tak pernah mengamati dari dekat kehidupan di sana. Kehidupan di perkampungan kumuh apakah di India, Brazilia, Nigeria atau Indonesia selalu dipenuhi dengan abuse, kekerasan, kriminal dan imoralitas. Walaupun demikian, saya setuju bahwa setiap kehidupan selalu memiliki romantikanya masing-masing tak terkecuali kehidupan di perkampungan slum sekalipun.
Kisah kehidupan yang digambarkan dalam movie Slumdog Millionaire bagi saya sangat credible. Tentu saja embel-embel millionaire merupakan pesan sarkastik yang sangat mengena dari Danny Boyle. Sebab dalam kehidupan nyata, kebanyakan anak-anak perkampungan slum akan berakhir di tahanan, bunuh diri atau dibunuh. Baru-baru ini saya mengenali seorang wanita di Kawasan Pasar Kembang, Yogyakarta, yang masih menjajakan seks sejak hampir 30 tahun yang lalu ketika saya tinggal di sebelah rumahnya di suatu perkampungan slum di tepian Kali Code.
Dapat dibayangkan betapa kerasnya kehidupan seorang wanita dengan umur yang hampir 60 tahun yang bekerja sebagai street prostitute. Saya juga mendengar bahwa anak laki-laki dari ibu tsb, yang ketika masih kecil sering bermain dengan saya, baru saja mati bunuh diri, dan kabarnya terlibat dalam sindikat pengedaran narkotik. Ketika masih tinggal di perkampungan slum tsb saya juga tahu bahwa keperawanan anak gadis merupakan komoditi bisnis yang sangat menguntungkan. Boleh dikata hampir setiap elemen abuse dan kekerasan yang dikisahkan dalam Slumdog Millionaire bisa saya jumpai di sana.
Sesungguhnyalah agak berlebihan kalau kata romantis diterapkan dalam kehidupan di perkampungan slum. Namun tak dapat diingkari bahwa ketahanan rata-rata orang disana terhadap kerasnya kehidupan sungguh sangat mengagumkan. Saya sering berpapasan dengan seorang ibu yang mengangkut pasir dan batu berat di punggungnya dari bawah Kali Code yang masih menegur saya secara ramah dan sopan. Seorang penarik becak yang tidak bekerja karena penyakit asmanya kumat masih mengajak saya main sekak (chess). Tetangga lain, seorang prostitute emiritus, sering saya lihat “ngudang” cucunya dengan penuh ceria dan kata-kata yang sarat dengan harapan.
Terlebih lagi sikap anak-anak di sana. O boy, o boy… mereka ini luar biasa resilience terhadap kerasnya kehidupan yang mereka alami. Kebanyakan dari mereka mengidap penyakit atau cacat di tubuhnya, ada yang jalannya terseok karena polio, ada yang agak tuli karena congek yang kronis, ada yang kudisan, kurap, dll. Dan sarana bermain yang dimiliki mereka pun sangat minim. Namun ini semua tak pernah mematahkan spirit mereka dalam bermain. Mereka ini luar biasa pemberani, dan tidak pernah berpikir dua kali untuk ambil resiko yang paling berbahaya sekalipun. Saya kira setiap anak di sana sudah tahu bahwa pikiran kedua bagi mereka tak pernah ada.
Satu tingkah laku yang menyolok dari mereka adalah inkompatibilitas mereka terhadap polisi. Kadang-kadang saya mengajak anak-anak di sana berjalan-jalan untuk melihat keramaian kota Yogya. Bila seorang anak melihat polisi maka secara spontan akan berteriak “Awas Polisi” dan anak-anak yang lainpun segera merunduk untuk berusaha menyamarkan diri. Tentu saja anak-anak ini belum pernah sekalipun berurusan dengan polisi. Dari mana lagi kalau tidak merupakan warisan pengalaman turun-temurun dari orang-orang tua mereka yang senantiasa di kejar-kejar oleh polisi.
Ketika tinggal di sana, saya tidak pernah diperas, diancam atau memperoleh perlakuan buruk lainnya dari masyarakat di sana. Rupanya mereka memilah-memilah mangsa. Saya tidak dimasukkan dalam rantai makanan di sana. Ini karena keberadaan saya di sana adalah sebagai volunteer yang bekerjasama dengan grup dari Rm Mangunwijaya. Cuma pada waktu itu saya yang satu-satunya tinggal berbaur dengan masyarakat disana. Saya menyewa satu bilik dari rumah milik bapak Gemali salah seorang preman yang paling ditakuti di sana. Tetangga-tetangga dekat saya kebanyakan berprofesi sebagai penjaja seks.
Tak sekalipun wanita-wanita Pro ini yang mencoba menawarkan barang dagangannya kepada saya (meskipun dengan discount
). Sebaliknya mereka berusaha sedapat mungkin bertingkah laku sopan terhadap saya. Tak pernah sekalipun saya menjumpai perlakuan tak senonoh seperti yang diperagakan oleh Britney Spears di tempat umum. Namun saya harus mengaku saya menunjukkan respek besar terhadap wanita-wanita tsb. Atau mungkin lebih tepatnya rasa keder. Saya hanya membatasi diri untuk berurusan dengan anak-anak mereka. Kecuali terhadap satu prostitute part-timer yang mempunyai anak yang masih bayi.
Perlu diketahui bahwa pada waktu itu saya masih seorang laki-laki yang masih muda. yang mudah merasa isin (atau ngisin-ngisini). Suatu kali saya mengunjungi rumah Mbak Jum untuk memeriksa kesehatan anak bayinya. Mbak Jum menyambut kunjungan saya dengan sangat ramah dan menyuguhkan hidangan sepiring bakwan udang dan teh manis. Di tengah-tengah pecakapan, tanpa permisi, Mbak Sum mengeluarkan buah dadanya yang montok untuk menyusui anaknya. Ini membuat saya tersipu-sipu. Ketika Mbak Sum mengeluarkan buah dada sebelah kanan, saya berpaling ke gambar Pres Suharto yang tergantung di dinding, ketika mengganti dengan buah dada sebelah kiri saya ganti berpaling ke gambar Wapres Adam Malik. Untunglah, Mbak Sum tak mengeluarkan dua buah dadanya sekaligus sebab saya tak menjumpai gambar Harmoko di manapun.
Bersambung.
SeV
Eko Raharjo 78

0 Tanggapan ke “Romantika Perkampungan Slum”