Eko Raharjo (Agkatan 1978)
.
Di tengah malam di bulan Agustus tahun 2006 ketika sedang cari makan di Malioboro, saya melihat segerombol anak-anak jalanan yang sedang bersenang-senang. Salah satu dari mereka mengajak saya untuk bergabung. Seperti terkena magnet, saya langsung menghampiri mereka. Ternyata mereka adalah anak-anak jalanan dari perkampungan slum di Code. Namun tidak ada satu pun dari anak-anak tsb yang saya kenal. Saya kira sewaktu saya tinggal di perkampungan slum di Code anak-anak ini belum dilahirkan. Atau mungkin mereka ini dari lokasi perkampungan slum lain seperti di sebelah selatan bawah jembatan Gondolayu.
Sebenarnya mereka ini tak sesuai lagi disebut sebagai anak-anak sebab usia mereka rata-rata sudah lebih dari 18 tahun. Namun tak satupun dari mereka yang tampak perduli dalam merawat diri. Rambut mereka tak tersisir, pakaian kumal dan badan mereka kotor tak terurus. Seorang dari mereka menyodori saya secawan kecil congyang (minuman keras) yang saya tenggak sedikit, sekedar untuk tidak menyinggung perasaan. Saya kira nostalgia pernah tinggal di perkampungan slum di Code telah membuat saya punya simpati terhadap anak-anak ini. Namun harus saya akui bahwa sulit bagi saya untuk menikmati happy-hour dengan mereka. Cara guyonan mereka terasa aneh, sangat fisikal sekali, seperti saling dorong dan tendang satu sama lain secara keras. Dan ada satu anak, entah karena apa, matanya melotot ke arah saya terus-terusan.

Komentar Terakhir