Arsip untuk Februari, 2009

Romantika Perkampungan Slum (2)

ekoraharjoEko Raharjo (Agkatan 1978)

.

Di tengah malam di bulan Agustus tahun 2006 ketika sedang cari makan di Malioboro, saya melihat segerombol anak-anak jalanan yang sedang bersenang-senang. Salah satu dari mereka mengajak saya untuk bergabung. Seperti terkena magnet, saya langsung menghampiri mereka. Ternyata mereka adalah anak-anak jalanan dari perkampungan slum di Code. Namun tidak ada satu pun dari anak-anak tsb yang saya kenal. Saya kira sewaktu saya tinggal di perkampungan slum di Code anak-anak ini belum dilahirkan. Atau mungkin mereka ini dari lokasi perkampungan slum lain seperti di sebelah selatan bawah jembatan Gondolayu.

Sebenarnya mereka ini tak sesuai lagi disebut sebagai anak-anak sebab usia mereka rata-rata sudah lebih dari 18 tahun. Namun tak satupun dari mereka yang tampak perduli dalam merawat diri. Rambut mereka tak tersisir, pakaian kumal dan badan mereka kotor tak terurus. Seorang dari mereka menyodori saya secawan kecil congyang (minuman keras) yang saya tenggak sedikit, sekedar untuk tidak menyinggung perasaan. Saya kira nostalgia pernah tinggal di perkampungan slum di Code telah membuat saya punya simpati terhadap anak-anak ini. Namun harus saya akui bahwa sulit bagi saya untuk menikmati happy-hour dengan mereka. Cara guyonan mereka terasa aneh, sangat fisikal sekali, seperti saling dorong dan tendang satu sama lain secara keras. Dan ada satu anak, entah karena apa, matanya melotot ke arah saya terus-terusan.

Lanjutkan membaca ‘Romantika Perkampungan Slum (2)’

Romantika Perkampungan Slum

Eko Raharjo

.

Mereka yang suka meromantisasi kemelaratan di perkampungan slum kemungkinan besar tak pernah mengamati dari dekat kehidupan di sana. Kehidupan di perkampungan kumuh apakah di India, Brazilia, Nigeria atau Indonesia selalu dipenuhi dengan abuse, kekerasan, kriminal dan imoralitas. Walaupun demikian, saya setuju bahwa setiap kehidupan selalu memiliki romantikanya masing-masing tak terkecuali kehidupan di perkampungan slum sekalipun.

Kisah kehidupan yang digambarkan dalam movie Slumdog Millionaire bagi saya sangat credible. Tentu saja embel-embel millionaire merupakan pesan sarkastik yang sangat mengena dari Danny Boyle. Sebab dalam kehidupan nyata, kebanyakan anak-anak perkampungan slum akan berakhir di tahanan, bunuh diri atau dibunuh. Baru-baru ini saya mengenali seorang wanita di Kawasan Pasar Kembang, Yogyakarta, yang masih menjajakan seks sejak hampir 30 tahun yang lalu ketika saya tinggal di sebelah rumahnya di suatu perkampungan slum di tepian Kali Code.

Lanjutkan membaca ‘Romantika Perkampungan Slum’

Realino Memberikan Kesadaran kebangsaan

Oleh Eko Raharjo

Saya kira tidak ada yang meragukan bahwa manusia merupakan mahluk yang suka berkomplot seperti srigala atau serangga. Ada bani Israel, ada bani Arab, ada bangsa Jerman, bangsa Inggris, bangsa China, dst. Wajarlah kalau saya juga termasuk dalam satu bangsa yakni bangsa Indonesia dan punya satu negara yang disebut negara Indonesia dan satu bahasa yang disebut bahasa Indonesia. Cuma yang bagi saya rada aneh adalah kata Indonesia bukan berasal dari bahasa Indonesia dan bukan pula dari bahasa daerah, seperti Jawa, Minang, Batak, Dayak, dst.

Di waktu kecil bila mendengar nama Indonesia di benak saya tidak pernah terbayang suatu negara kepulauan yang amat luas dengan aneka ragam penduduk, melainkan sebuah radio listrik di rumah saya yang kuno, besar dan suka nyetrum. Sebab dari sanalah kata-kata Indonesia secara rutin dikumandangkan, seperti: “Inilah siaran Radio Republik Indonesia”. Saya kira orang lain juga punya masalah pemahaman identitas kebangsaan seperti saya. Karena saya tahu kebanyakan orang pada waktu itu cuma mengenal kesatuan tetangga sekitar saja.

Lanjutkan membaca ‘Realino Memberikan Kesadaran kebangsaan’

Halaman Berikutnya »