Oleh: A.K.SYUKRI HADJAT
Tatkala Peter J.Beek S.J. tahun 1952 diserahi tugas untuk memimpin Asrama Mahasiswa Katholik REALINO di Yogyakarta, dia agak tersentak dengan keadaan yang dijumpainya.
Dia terperanjat karena ternyata peminat yang terbanyak sebagai penghuni justru datang dari kalangan mahasiswa non Katholik. Sedangkan para Pastor Paroki yang punya ide dan rupanya direstui oleh Mgr.Sugiyapranata S.J. menginginkan agar para mahasiswa Katholik yang kuliah di Universitas Gajah Mada hendaknya dapat bernaung dalam sebuah asrama yang bernafas Katholik.
Awal tahun 50-an itu suasana pondokan di Yogyakarta pada umumnya sangat memperihatinkan. Keberadaan Yogya sebagai bekas kota perjuangan yang belum sempat berbenah diri, mendadak berubah menjadi suatu kota pelajar dan mahasiswa.
Dari segala penjuru tanah-air para pelajar datang berbondong-bondong menuntut ilmu di sini, sedangkan fasilitas untuk pondokan belum memadai dan masih ala kadarnya. Terutama penerangan listrik yang terbatas mengakibatkan banyak mahasiswa belajar dengan cahaya yang buram.
.
Mengendapkan primordialisme
Kenyataan ini menyadarkan Pater Beek yang dengan kejeliannya melihat bahwa tidaklah tepat apabila sikap primordial dijadikan dasar bagi pembinaan generasi muda dan calon intelektual bangsa di masa mendatang. Faktor keterbukaan harus menjadi aksentuasi yang mutlak untuk dikembangkan.
Dia lantas mengusulkan suatu konsep agar Asrama Realino dikembangkan berdasar prinsip Pancasila. Dengan prinsip itu diharapkan Realino menjadi terbuka dan seluruh mahasiswa yang memerlukan pondokan bisa terhimpun dari seluruh pelosok Nusantara tanpa ada pembedaan suku, ras, agama dan adat istiadat.
Gagasan yang sempat membingungkan pihak paroki ini justru muncul dari seorang pastor “Belanda totok” yang datang ke Indonesia tahun 1936 dan sampai akhir hayatnya (1917-1983) telah sukses beradaptasi terutama dengan kultur Jawa.
Cetusan ini dinilai mengandung resiko bagi pengelolanya sehingga menimbulkan pro dan kontra. Sebab tidak diragukan bahwa keterbukaan itu akan mengundang suatu interaksi di kalangan penghuni. Terutama penetrasi keimanan jelas merupakan hal yang paling rawan. Sebab di kedua pihak baik Katholik maupun non Katholik sama-sama berpeluang untuk terimbas oleh suatu “peresapan” halus melalui pergaulan yang akrab.
Ternyata retorika dan jenialitas Pater Beek mampu membendung keragu-raguan tersebut dan dengan mantap dikembangkannya suatu nuansa baru “keterbukaan” yang bertujuan mengendapkan unsurunsur negatif primordialisme.
.
Pancaran hidup ber-Pancasila
.Mahasiswa dari hampir semua suku, agama, budaya dan adat istiadat pernah berbaur disini. Suasana yang begitu heterogen justru mendorong penghuninya untuk bersikap menjadi lebih dewasa dan bijaksana ditambah bimbingan positif dari pimpinan asrama.
Di sini dapat dikatakan telah tercipta suatu “masyarakat kecil” Indonesia yang dengan penuh kesadaran mempersiapkan diri sebagai calon-calon pemimpin di masa depan. Kemajemukan telah memperkaya sikap dan mental mahasiswa dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan yang murni.
Pergolakan daerah sekitar tahun 1958 yang merupakan akibat dari politik kotor PKI, ternyata menimbulkan sikap simpati dan antipati di kalangan masyarakat. Bahkan di lingkungan kampus suasana pro dan kontra sering tidak bisa dihindarkan. Bentrokan-bentrokan fisik antar ormas ekstra universitas bahkan sering terjadi.
Namun suasana panas ini tidak pernah berhasil “menghangatkan” Realino. Sikap “Sapientia et Virtus” atau “Kebijakan dan Kebajikan” yang menjadi semboyannya dan yang dilandasi oleh Pancasila berhasil meredam suhu yang meningkat itu.
Selama 7 tahun (1952-1959) Realino di bawah Pater Beek telah memantapkan dirinya sebagai “wadah penggemblengan masyarakat Pancasilais”. Sekalipun di saat itu di luar lingkungannya terjadi gejolak-gejolak yang membahayakan Pancasila itu sendiri.
Memang kemudian Realino berkali-kali mengalami penggantian pimpinan tetapi ia tidak pernah bergeser dari missinya semula yang telah ditanamkan oleh Pater Beek.
Dari sudut pandang ini barangkali tidak terlalu berlebih-lebihan apabila dikatakan bahwa Realino merupakan salah satu embrio dari Eka Prasetya Panca Karsa yang oleh kekualan Orde Baru dicanangkan melalui ketetapan MPR di tahun 1978 untuk memantapkan penghayatan Pancasila bagi seluruh bangsa Indonesia.
.
- Syukri Hadjat, muslim asal Aceh, Alumni Realino Angkatan 1958


0 Tanggapan ke “Pater Beek dan Realino”