Arsip untuk Agustus, 2008

Anak-anakku sekolah di Rossal #3

.

Nama wali murid atau Guardian Parent dari anak-anakku selama sekolah di Rossall adalah Bill Taylor dan istrinya Carol. Siapakah Bill dan Carol Taylor ? Mengapa mereka begitu baik hati, mau menemui kami di hotel Fleetwood,  naik mobil 1,5 jam dari rumahnya. Saya masih terheran-heran, karena kami tidak ada hubungan apa-apa dengan Carol dan Bill itu “dudu sanak dudu kadang dudu Realinowan” kok mau membantu seperti itu. Bill dan Carol ketemu kami di hotel di Fleetwood dan mengobrol selama kira-kira sejam, karena sudah waktunya makan malam, kami diajak makan malam, di restoran China di kota Lytham Sint Anne’s melewati kota Blackpool, cukup jauh juga kira2 20 mile dari Fleetwood. Disitu kami baru tahu latar belakang mereka berdua. Bill dan Carol setiap tahun dua kali ke Indonesia, karena bisnis mereka berdua dibidang kayu dan rotan. Bisnis ini sudah berlangsung selama lebih dari 10 tahun lamanya. Mereka sudah mengunjungi pabrik2 plywood, woodworking, dan rotan di Sumatra Utara, Jambi, Riau, Lampung, Palembang dan juga di Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan. Mereka hapal semua pabrik plywood, woodworking dan rotan terletak dikota mana, siapa yang punya berapa kapasitasnya.Trading Company miliknya Carol dan Bill ini sebagai salah satu (dari tiga atau empat)  importir di UK yang mengimport plywood, woodworking dan rotan furniture made in Indonesia untuk dipasarkan di UK. Mereka sering mendapat bantuan dari kawan2 Indonesia. Sahabat saya pak Suharsono, salah satu Direktur perusahaan plywood di Jakarta menilpun Bill dan Carol untuk menolong saya, karena pak Harsono sering membantu Bill dalam bisnis kayu dan rotan.

Alhamdullilah .. Datang pertolongan pada saat kami sangat membutuhkan sekali.

Bill waktu itu sudah berusia 61 tahun dan Carol 53 tahun. Pasangan suami istri dari Inggris ini tidak punya anak. Dirumah mereka punya dua anjing jenis pudel kecil mungil (mungil, matanya bulat, rambut sering dicukur, lucu sekali..) yang selalu dibawa-bawa kemanapun mereka pergi.

Ketika Bill dan Carol melihat Rahma dan Dhani, langsung mereka suka dan bersedia menjadi Guardian Parent anak-anakku. Subhahanallah .. alhamdullilah .. Pertemuan pertama berlangsung dengan sangat hangat, akrab dan penuh persaudaraan. Mereka menasehati agar kami tidak perlu kawatir, mereka akan menjaga Rahma dan Dhani seperti menjaga anaknya sendiri. Hati orang tua mana yang tidak berbunga-bunga mendengar sendiri ucapan yang sangat sejuk itu.

Dhani 2007

Sejak Januari 1997 kedua anakku resmi sekolah di Inggris, di Rosall School, yang gedung2nya sudah 165 tahun dan terletak dimuka pantai menghadap ke Irlandia, anginnya kencang sekali.  Bagian dalam gedung masih dipelihara dengan seksama dan bersih. Rosall masih menjaga tradisi dan budaya British.
Impianku terkabul menyekolahkan anak-anak ke Inggris.

Rahma masuk Advance Level kelas 1  (equal dengan   SMA kelas 1). Dhani masuk  ke  Internasional  School  selama 6 bulan, dan bulan September baru  masuk ke reguler  kelas. Setiap Sabtu sore, Guardian Parent Bill dan Carol datang ke Rossall untuk menemui Rahma dan Dhani, kadang2 anak-anak dibawanya menginap dirumah mereka di Widnes dan dikembalikan ke asrama Rossall hari Minggu malam. Waktu ada liburan seminggu, anak2ku dijemput dan menginap di rumah Guardian Parent mereka. Senin sampai Jumat anak-anak bekerja magang diperusahaan mereka. Rahma disuruh sebagai data entry di komputer, sekali-sekali diajak menemui clientnya. Dhani disuruh bekerja di gudang, tugasnya mengangkati dan memindahkan furniture rotan dari gudang ke mobil untuk diangkut ke toko outlet. Setiap malam Dhani mengeluh badannya pegel-pegel dan kakaknya Rahma memijit pundak dan lengan tangan sambil menghibur adiknya disuruh sabar. Setelah seminggu liburan mereka pulang ke Rossall dan masing2 anak diberi GBP 40 sebagai honornya. Surprised buat anak2.

Ada kemiripan antara Rossall dengan Realino. Sama-sama didirikan oleh pastor Katholik. Sama-sama mengetrapkan disiplin waktu untuk kegiatan sehari-hari. Diajarkan menghargai hak orang lain. Para guru benar2 masih menjaga tradisi dan budaya British di Rossall dengan sungguh2. Dari Senin sampai Jumat anak2 tidak boleh keluar dari asrama, hanya boleh keluar hari Sabtu dan Minggu.  Pengawas di Rossall tinggalnya di gedung asrama dengan keluarganya, karena mereka adalah guru dari Rossall. Anak2 diajarkan mandiri mulai dari mengatur kamar tidurnya, yang diisi 4 orang dengan 1 orang senior sebagai bapak buahnya.

Di Rossall ada mushola yang disediakan untuk murid2 yang beragama islam, umumnya dari Brunei, Malaysia, Yaman, Mesir, Indonesia, Pakistan, Yordania.  Ekstra kurikuler sangat beragam dan lengkap sekali. Rahma belajar menyanyi koor dan solo, olahraganya berenang di kolam yang airnya panas. Dhani bermain sepakbola, pingpong, badminton dengan kawan2nya, untuk musik Dhani belajar menabuh drum dengan pelatih drum profesional.

Menu makan di Rossall sangat bagus, ada ahli gizi yang digaji untuk mengatur menu. Menu siang dan malam selalu disediakan protein hewani (ayam/beef/ikan) yang cukup dan dimasak ala British, permulaan nya anak2ku kurang selera, namun karena tidak ada pilihan lain, daripada kelaparan maka makan juga. Susu segar di asrama disediakan tanpa ada batasnya, anak-anak boleh minum susu sepuas-puasnya. Buah-buahan disediakan tanpa batas boleh makan sepuas-puasnya, umumnya apel peer atau jeruk.

Tahun 1997 berlalu dengan lancar tanpa ada masalah yang berarti. Mereka berdua menyenangi kehidupan yang baru di Rossall, belajar segala macam tentang hidup dan kehidupan. Anak2ku sudah bergaul dengan bangsa lain ada Inggris, ada Malaysia, ada Brunei, ada Itali, ada Yordania, ada China Taiwan, ada China daratan, ada Jepang. Anak2ku menikmati 4 musim di Inggris, suhu yang dingin di musim winter tanpa salju dan angin kencang diganti suhu panas di musim summer dengan banyak hujan. Anak2 kelihatan lebih sehat dan yang menonjol adala spirit untuk hidup tinggi.

Tahun 1998 terjadi multi krisis di Indonesia, akan saya tulis ditulisan berikutnya.

Anak-anakku sekolah di Rossal #2

.

Di bulan Januari 1996, saya bertemu dengan pak Rudy Pesik mantan boss saya di IBM Indonesia. Dalam pertemuan itu beliau menceriterakan tentang keluarganya yang saya kenal baik. Putri pertama beliau sedang sekolah di Cambridge College di UK, ‘A’ level first year kira-kira sama dengan kelas 1 SMA di Indonesia. Disitu disediakan asrama dan sistim pendidikannya masih tradisional British.

Pak Rudy mendorong saya untuk mengirim anak2 saya untuk sekolah di Inggris. Rudy begitu antusias dan menjawab pertanyaan saya tentang sekolah di Inggris. Saya memang mempunyai keinginan akan menyekolahkan anak2ku ke negara yang berbahasa Inggris. Rencana pribadi saya dan dorongan dari pak Rudy membuat saya semangat mengurus kepergian anak2 untuk sekolah di Inggris.

Pebruari 1996, saya  ke kantor British Council di Jakarta, dan mendapat 3 nama college yaitu di Cambridge college, Shrewsbury college dan Rossall School. Brosur yang lengkap dari ketiga college, semuanya sudah ditangan. Setelah dipelajari pilihan jatuh ke Rossall School lokasinya di Fleetwood. Alasan saya karena ada English Summer Class, dari Juni sampai Agustus, dan ada International School yang muridnya semuanya student dari luar negeri.

Akhir Juni 1996, kami sekeluarga berangkat ke Inggris. Anak pertama Rahma, masih berumur 15 tahun, baru tamat SMP. Anak kedua Dhani, umurnya 12 tahun,  dia baru naik dari kelas 1 ke kelas 2 SMP Lab School Rawamangun. Kedua anakku akan mengikuti kursus bahasa Inggris di English Summer Program di Rossall. Saya dan istriku Nur hanya seminggu di Inggris, dan kami pulang duluan, meninggalkan kedua buah hatiku di Fleetwood. Perjalanan dari Fleetwood ke Manchester memakan waktu 1,5 jam melewati pemandangan pedesaan Inggris, ada padang rumput yang hijau dengan sapi2 berkeliaran ada tanaman sayur sepertinya brokoli, ada kebun apel dan ada hutan pinus. Pokoknya pemandangan desa yang subur loh jinawe. Diperjalanan baru saya dan istri menyadari betapa beraninya kami berdua melepas kedua anak sekolah di  Fleetwood. Yang jauh sekali dari Jakarta. Routenya adalah Fleetwood – Manchester – London – Singapore – Jakarta. Dari Mancester ke London naik pesawat BA menempuh kira 1 jam, sama dengan Jakarta ke Yogya. Dari London ke Singapore 14 jam non stop. Kami berdua kesepian sekali. Baru kali ini mengalami suatu keadaan dirumah tanpa anak

Akhir Agustus 1996, Dhani  pulang sendirian dari Fleetwood. Ada staf dari Rossall School yang mengantar dan  menyerahkan Dhani kepada petugas BA di Manchester Airport. Sistim mengawal anak umur 12 tahun seperti Dhani, di British Airwys memang bagus sekali. Dia dikawal dan diopenin oleh staf BA. Setiap transit Dhani di-estafetkan ke staf BA yang lain. Di Heathrow Airport di London dan di Singapore Airport.

Saya dan istriku menjemput Dhani di Cengkareng. Dari jauh terlihat Dhani sehat2 dan percaya diri sekali, tidak ada rasa kekawatiran atau ketakutan pada diri Dhani kecil. Begitu keluar dari bea cukai, istriku langsung memeluk dan mencium Dhani yang kecil sambil berlinang airmata, perasaan istriku sebagai ibunya Dhani campur aduk, bangga, gembira dan mensyukuri Rahmat Allah. “Oh Dhani anakku sayang, kamu pemberani sekali” hanya kata2 itu yang diucapkan istriku, selanjutnya kami hanyut dalam tangisan yang penuh emosi kegembiraan. Dari Fleetwood ke Cengkareng butuh waktu selama 24 jam, dengan transit 2 kali menunggu pesawat di 3 airport.

Besoknya Dhani sekolah seperti biasa dikelas 2 SMP. Disekolah Dhani berceritera kalau pulang dari Manchester sendirian tidak ada temannya, tetapi bisa sampai dengan selamat karena sistim BA untuk mengawal anak kecil sangat bagus sekali. Pengalaman di Heathrow Airport membuat Dhani hati-hati, karena hampir saja hilang waktu pindah dari terminal 4 ke Terminal 1, yang jaraknya jauh dan melewati terowongan untuk mencapai bus stop. Beruntung staf BA nya waspada dan menarik Dhani keluar dari bis yang salah.

Rahma, 15 tahun, mulai September sekolah di Rossall International School, rencananya akan di RIS setahun, baru kemudian dicampur dengan yang regulair. Selama 4 bulan pertama banyak pengalaman yang diperoleh Rahma. Jauh dari ortu, tidak ada orang Indonesia, yang ada orang Inggris semua. Rahma cepat akrab dengan 4 cewek asing, dari Thailand, dari China, dari Jepang dan dari Italy. Semua Inggrisnya masih plegak pleguk.

Pertengahan Desember 1996 Rahma pulang ke Indonesia untuk liburan akhir tahun. Rahma juga pulang sendiri dengan sistim yang sama yaitu ada staf Rossall yang menyerahkan Rahma ke staf BA di Manchester Airport, lalu di-estafetkan setiap kali transit. Saya dan Nur menjemput Rahma di Cengkareng. Kali ini emosi kami berdua dapat kami kendalikan dengan baik.

Setiap hari Rahma berbicara dengan memakai bahasa Inggris. “Papah, kakak Rahma bahasa Inggrisnya bagus ya dan lancar sekali. Wah … kalau begini Dhani bisa kalah nih” kata Dhani di suatu malam setelah mengetuk pintu kamar ortunya dan masuk lalu curhat kepada saya dan istri. Kami bertiga lalu berdiskusi, rupanya Dhani minta disekolahin juga ke Rossalll School.  Malam itu juga saya meyakinkan istri agar memberi izin supaya melepas Dhani, 12 tahun, sekolah di Inggris. Sebuah keputusan yang sangat berat, karena pasti membuat rumah sepi. Sebagai orang tua pasti punya rasa kawatir kalau terjadi hal2 yang negatip dengan anak2 di Inggris. Kami terus menerus berdoa sampai kami mempunyai keyakinan bahwa Allah akan menjaga kedua anak kami.

Besoknya saya ke SMP Lab School Rawamangun, untuk minta Surat Keterangan Pindah ke Rossal. Semua guru2nya Dhani terheran-heran. Dalam seminggu kami mengurus visa dan apply ke Rossall School. Minggu kedua semua dokumen beres.

Maka pertengahan Januari 1997, kami sekeluarga berangkat lagi ke Inggris untuk mengantar Rahma dan Dhani sekolah di Rossall. Dari Manchester Airport kami menyewa mobil Avis dan kami pakai selama kami di Inggris. Karena musim winter, kami membawa mantel dan jaket musim dingin, membuat mobil penuh barang.

Guru-guru di Rossall ramah sekali, kami diajak ngobrol dengan Dean of Rossall. Semuanya menghibur saya dan istri agar tidak usah kawatir. Sistim di Rossall memungkinkan untuk menjaga anak2 dengan sebaik-baiknya. Untuk menjaga anak-anak mereka minta ada wali murid yang disebut Guardian Parent untuk mewakili saya dan istri dalam segala hal. Guardian Parent ini akan bertemu dengan staf pengajar sebulan sekali untuk melaporkan perkembangan Rahma dan Dhani. Kami mencari dan akhirnya bisa bertemu dengan suami istri orang Inggris yang bersedia menjadi Guardian Parent untuk Rahma dan Dhani, mereka tinggal di Widnes dekat Liverpool.

.

Bersambung ke bagian ke-3

Anak-anakku sekolah di Rossal #1

Oleh; Gufron Sumariyono
Bagian 1

.

Rossall adalah salah satu dari sekolah menengah swasta di UK yang masih menyediakan asrama bagi murid2nya, sebagian murid2 yang lain pulang ke rumah masing2, karena orang tua mereka memang tinggal dekat Rossall. Rossall School terletak di kota Fleetwood, district Lancashire, Propinsi North West England. Dari Manchester Airport, kira2 berjarak 120 km, naik mobil ke arah Utara kira2 1,5 jam (lewat freeway) sampai di kota Preston, lalu belok kiri memakai jalan biasa menuju kota Fleetwood. Daerah Lancashire adalah sebuah provinsi di England yang jadi penghasil pertanian dan peternakan yang utama seperti susu, keju, daging sapi, ayam, babi dan domba. Hasil pertaniannya meliputi kentang, oats, barley, sugar beat dan wheat. Curah hujannya cukup tinggi, tidak ada snow di musim winter, tetapi anginnya selalu kencang karena terbuka menghadap ‘Iris Sea’. Penduduknya ngumpul di kota seperti Fleetwood, Cleveleys, Blackpool, Preston, ini termasuk kota2 yang kecil, disini enak kok tidak ada rasialisme, sebagian kecil (kira2 4-5%) turunan atau imigran2 dari Commonwealth countries seperti India, Malaysia, dan Afrika. Sebagian besar penduduk asli Inggris. Banyak pensiunan yang memilih tinggal di daerah ini.

Rossall School dibangun tahun 1844,  jadi sudah 163 umurnya, merupakan sekolah yang unik karena masih mempertahankan sistim pendidikan yang sangat tradisionil, yaitu sistim British, yang sudah mulai ditinggalkan. Rossall masuk dalam Top 100 ISN in England. Di Rossall ada Nursery penampungan untuk balita, Taman Kanak2, Elementary, GCSE atau etara SLTP, dan A-Level atau setara SLTU.

Semua murid-muridnya berseragam, celana dan jasnya biru tua marine dengan memakai dasi strip-strip, kalau musim dingin ada rompi merah menyala. Sebagian guru2nya tinggal di Rossall bersama keluarganya istri dan anak-anaknya. Ada 10 bangunan asrama yang masing2 dihuni sekitar 40 anak dari SD, GCSE dan A-Level. Lalu diasrama itu ada pemimpin asrama yang bertanggung jawab istilah nya pastoral care.

Jumlah murid sekitar 660 an, 400 anak Inggris dan 260an anak dari luar Inggris, umumnya dari negara2 Commonwealth, umur murid dari 2 tahun sampai 18 tahun, Jumlah guru ada 77-80. Perbandingan guru dan murid rata2 1 : 10.

Bangunan2-nya dari luar memang terlihat kuno, maklum sudah lebih dari 150 tahun lebih umurnya, tetapi setiap tahun setiap bangunan dikontrol oleh pejabat pemda Lancashire untuk pengamanan kebakaran, dan harus memiliki dan memperoleh Certificate.

Luas kompleknya 161 acres (+/- 64,4 ha) terletak ditepi pantai ‘Irish Sea’ menghadap ke pulau Irlandia. Setiap hari ada ferry yan berlayar menuju ke kota Douglas, Isle of Man , pulau kecil terletak diantara Inggris dan Irlandia, dari situ bisa dilanjutkan ke Belfast ibukota Irlandia. Kira2 5 km dari sekolah Rossall arah keutara ada pelabuhan ikan, namanya Fleetwood, makanya restoran di Cleveleys dan Fleetwood  disitu terkenal dengan menu ‘Chip and Fish’  ikannya memang segar2 dan pasti tanpa formalin, dengan harga relatif murah.

Di selatan Rossall School kira-kira 10 km ada kota Blackpool, sebuah kota pariwisata yang terkenal di Inggris bagian Barat merupakan holiday destination, karena banyak Holiday flat yang bisa disewa mingguan dan bisa masak sendiri. Dari Fleetwood ke Blackpool bisa naik kereta api zaman baheula yang memang sengaja dipertahankan untuk atraksi turis.

Ketika anak-anak saya masuk Rossall, Rahma berumur 15 tahun, baru tamat SMP Al Azhar. Sedang Dhani (laki2) berumur 13 tahun, Dhani baru naik kelas 2 SMP Labs School IKIP Rawamangun. Bagaimana kisah mereka berdua masuk Rossall? Nantikan ceritera bagian ke-2.

.

Halaman Berikutnya »