Arsip untuk Juli, 2008

SAPIENTIA et VIRTUS versi ARISTOTELES


.

Oleh : Androe (83)
.

Sapientia et virtus yang biasa diterjemahkan sebagai Kebijaksanaan dan Kebajikan (Keutamaan), mempunyai relevansi tinggi bagi masyarakat Indonesia yang dirasakan hingga kini justru atmosfir sosial yang ada diisi oleh nilai-nilai sebaliknya; seperti egoisme pribadi-kelompok sempit, primordialisme, aji mumpung, hedonisme serta kondisi sosio-kultural yang tidak siap menjadi amburadul terkena angin kapitalisme dan adanya pertarungan-pertarungan antar kelompok demi kekuasaan – privelese-privelese – fulus.

Bagi segenap persona yang pernah tinggal di asrama yang bernama Realino di Yogakarta, semboyan sapientia et virtus tentu merupakan sesuatu yang tidak asing lagi (familiar), meskipun entah sungguh dimengerti ataupun tidak. Tulisan berikut ini mencoba ikut andil dalam sedikit mengupas makna dari semboyan tersebut dengan referensi utama dari Aristoteles (384-322) SM, seorang fisuf besar Yunani kuno, dari bukunya yang berjudul Etika Nikomacheia. Pembahasan akan dimulai dengan mencari arti makna Kebahagiaan dan diikuti perihal Keutamaan dan Kebijaksanaan serta diakhiri dengan Rangkuman dan Penutup.

Kebahagiaan
Salah satu pertanyaan yang sangat mendasar adalah apa yang dicari seseorang dalam hidupnya? Tiap rencana, tindakan mempunyai suatu tujuan. Seseorang bekerja dengan tujuan untuk memperoleh nafkah agar dapat menghidupi diri. Ada suatu tujuan yang dicari bukan demi dirinya sendiri melainkan untuk suatu tujuan lain, pula tujuan kedua itu dicari untuk tujuan berikutnya, demikian seterusnya. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa suatu tujuan mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada tujuan sebelummya. Apakah itu tujuan yang tertinggi/terakhir yang dicari bukan untuk tujuan lain melainkan demi dirinya sendiri, berswasembada dan sempurna?

Masyarakat umum sering menganggap bahwa uang atau kekayaan sebagai tujuan tertinggi, pada kenyataanya; adapula yang menyatakan kehormatan sebagai sasarannya. Mari kita mencoba melihat satu per satu:
i. Kekayaan, benarkah ia menjadi tujuan tertinggi? Kekayaan dapat dipakai untuk membeli ini-itu, bepergian ke sana – ke mari, biaya mengembangkan diri, membeli kenikmatan; jadi nyatalah kekayaan tepatnya sebagai suatu SARANA untuk mencapai suatu tujuan tetapi bukan tujuan demi dirinya sendiri.
ii. Kehormatan, dalam hal ini ada dua aspek yaitu fihak yang dihormati dan fihak yang menghormati. Pernyataan ini mengandung posisi yang lemah karena tergantung pada fihak lain (fihak yang menghormati), yang dapat berubah-ubah. Lebih tepatnya adanya KEUTAMAAN-KEUTAMAAN dalam diri seseorang yang menyebabkan adanya aspek penghormatan. Jika keutaman hilang, misal karena suatu musibah maka mengandung resiko hilangnya pula aspek penghormatan.

Bagi seorang filsuf, dalam hal ini Aristoteles, ia menyatakan bahwa KEBAHAGIAAN-lah yang merupakan suatu tujuan yang dicari demi dirinya sendiri . Kebahagiaan bernilai bukan demi suatu nilai yang lebih tinggi lainnya, melainkan demi dirinya sendiri (jadi memiliki nilai tertinggi). Kebahagiaan diartikan sebagai hidup yang bermutu, bermakna dan kelakuan yang baik. Kebahagiaan dicapai dengan memfungsikan komponen yang khas manusiawi yaitu akal budinya. Dengan mengembangkan diri, karena manusia identik dengan realisasi hidupnya dalam tindakan-tindakan dan tidak berhenti dengan perenungan-perenungan; sehingga pula memiliki keutaman-keutamaan dalam hidupnya.

Keutamaan dan Kebijaksanaan
Bagaimana seseorang untuk dapat mengerti dalam memilih tindakan yang tepat dalam menghadapi hidup nyata ini? Mari kita melihat distingsi antara pengetahuan dan pengertian yang tepat. Pengetahuan yang tepat hanya mungkin bagi objek-objek alam yang tetap – tak berubah-ubah – ada kepastiannya seperti dalam ilmu pasti dan fisika. Pengetahuan itu disebut episteme. Sedang manusia adalah objek yang tidak pasti: mempunyai sikap batin, cita-cita, minat, kelakuan-kelakuannya sendiri yang tidak dapat dipastikan. Bidang ini masuk dalam etika dan episteme tidak cocok. Etika menyediakan semacam visi dan perspektif. Orang yang memiliki perspektif itu akan menemukan bagaimana ia harus bertindak dalam situasi konkret. Perspektif itu disebut pengertian yang tepat (orthos logos). Bertindak secara etis berarti bertindak menurut pengertian yang tepat.

Mari kita sekarang masuk ke pembahasan mengenai keutamaan dan kebijaksanaan. Menurut Aristoteles, keutamaan adalah sikap-sikap batin yang dimiliki manusia. Ia membedakannya menjadi dua macam yaitu keutamaan intelektual dan keutamaan etis; yang pertama merupakan sikap akal budi dan yang kedua sikap kehendak. Pada keutamaan intelektual, Aristoteles membedakannya menjadi lima keutamaan yaitu: sophia (kebijaksanaan I), nous (kemampuan mengaktifkan logos), phronesis (kebijaksanaan II), episteme (ilmu pengetahuan), dan techne (keterampilan).

Bahasa Yunani menpunyai dua kata untuk apa yang dalam bahasa Indonesia disebut kebijaksanaan. Sophia, dalam bahasa Inggeris tepatnya dengan wisdom, adalah kebijaksanaan orang yang hatinya terangkat ke tingkat alam adiduniawi – orang yang bijaksana karena tahu tentang realitas yang paling mendalam. Sedang phronesis (prudence) adalah kemampuan orang untuk mengambil sikap dan keputusan bijaksana dalam memecahkan pelbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari – kebiasaan bertindak berdasarkan pertimbangan yang tepat dalam bidang masalah baik dan buruk bagi manusia. (bagi Plato, phronesis mengalir dari sophia).

Menurut Aristoteles phronesis tak dapat diajarkan, seperti etika sendiri juga tidak. Seperti berbicara mengenai keadilan, diandaikan bahwa seseorang sudah menyadari bahwa “adil” itu pada dirinya sendiri mempunyai nilai etis-positif, baru orang tersebut dapat diajak berunding untuk mencapai hal-hal yang adil. Jika seseorang buta akan suatu nilai tersebut atau tak mengerti bahwa “adil” itu sesuatu yang bernilai, maka niscaya ia tak akan memperhitungkannya. Demikian pula berlaku bagi nilai-nilai lain seperti: rasa malu, kesetiaan, fairness. Di sini terdapat suatu “lingkaran hermeneutis”: kita hanya dapat diajari meningkatkan kehidupan etis apabila telah menyadari-mengalami-membiasakan diri-tahu apa itu kehidupan etis.

Kemantapan untuk bertindak secara etis didukung oleh KEUTAMAAN-KEUTAMAAN ETIS. Kepribadian moral yang kuat adalah kepribadian yang memiliki keutamaan. Berkenaan dengan topik ini, Aristoteles membahas sekurang-kurangnya sebelas keutamaan yaitu: keberanian, penguasaan diri, kemurahan hati, kebesaran hati, budi luhur, harga diri, sikap lemah lembut, kejujuran, keberadaban, keadilan dan persahabatan. Keutamaan-keutamaan dipahami sebagai sikap seimbang dan justru karena itu menunjukkan kematangan dan kekuatan perkembangan pribadi; seperti keberanian terletak di tengah antara nekad dan pengecut, berbudi luhur terletak antara altruisme dan egoisme.

Rangkuman dan Penutup
Menurut Aristoteles, tujuan hidup yang tertinggi dan dicari demi dirinnya sendiri adalah kebahagiaan. Kebahagiaan diartikan sebagai hidup yang penuh mutu, bermakna dan berkelakuan baik. Kebahagiaan dicapai dengan memfungsikan bagian/komponen yang khas manusiawi yaitu sisi akal budinya atau rasional (hewan dominan instingtualnya), yaitu dengan mengembangkan diri (tidak pasif) hingga berkembangnya dimensi sapientia et virtus yang menghantar seseorang pada kebahagiaan itu sendiri.

Pembahasan ini dapat mengingatkan kembali – mengkonfrontir pengalaman semasa tinggal di asrama dan dampaknya hingga kini; sekaligus sebagai bahan refleksi-diskusi terlebih dalam rangka menyambut pesta emas Realino. Kita ditantang, apakah pengalaman warga Forsino (Forum Komunikasi Realino) yang warganya berjumlah relatif sangat sedikit dibanding total jumlah penduduk Indonesia; dapat dan berani untuk menawarkan diri atau ikut andil memberikan pencerahan pada persoalan-krisis bangsa ini. Dalam skala lebih kecil pada lingkungan keluarga, tempat tinggal, profesi dan kelompok-kelompok lain.

HIDUP SAPIENTIA ET VIRTUS serta BHINNEKA TUNGGAL IKA

Scientia, Sapientia, Virtus

.

.

.

.

Oleh : Dami N. Toda
(dikirim menjelang Haul Romo Beek, September 2003)

.
Poro Saderek yang berhaul ke makam Romo Beek di Ungaran,

Doa Stef Baloi Bago dan saya dari Jerman diwakilkan saja nanti ya pada kalian — semoga poro saderek SV yang ke Ungaran juga dikaruniai dari Atas rahmat khusus. Dari jauh haul kalian kami sertai secara ruh hari itu. Generasi saya di Realino tak kenal Romo Beek kecuali melihat “pesona” karakter matanya dilukis (-foto) karya Mas Samsulhadi (?) terpancang di ruang reakreasi Villa I dahulu (entah di mana sekarang dipajang lukisan foto yang memukau itu). Namun Romo-Beek-isme selalu menantang dan menjadikan warna permenungan saya tak tenang, berkabut abu-abu hingga saat ini.

Dari cerita-cerita yang masuk telinga di Realino tentang tokoh Beek ini – dan kesaksian kebersamaan kita hingga kini di Forsino – kita (awam lintas (supra) etnik-agama yang dicita-dan diwujudkan Romo Beek dengan moto “Kebijaksanaan (Sapientia) dan Kebajikan (Virtus)”) mustinya sudah mampu tiba pada kesimpulan: Bahwa cita-cita dan pewujudan nyata tokoh ini mendirikan Kompleks “Asrama Realino” dan “Kashbul” di Jakarta — suatu ide dan bentuk wujudan yang sangat luhur suci dan benar-benar dibutuhkan bangsa/negara RI kita! Adanya “Forsino” kita kini membuktikan “bukan gedung Asrama” yang dimaksudkan Romo Beek tetapi “Gedung Persatuan Ruhani Manusia” Indonesia yang bijaksana dan bajik tak lekang oleh waktu. Kalau “Forsino” ibarat “Tugu” rohani visi pembangunan manusia bangsa Romo Beek — maka sewajarnya haul ke makam Romo Beek memulangkan renungan apa yang kita lakukan terus memahatkan tugu “Sapientia et Virtus” itu ke dalam sejarah bangsa ini. Saya dengar ide Romo Beek (walaupun seorang pastor Yesuit): di Asrama Realino hanya boleh diterima 40% mahasiswa beragama Kristen, 60% harus non-kristen (Islam-Hindu dll.), warga Realino harus terdiri dari bermacam etnik seluruh bangsa, dan warga-warga UGM yang berprestasi studi, aktif dan cerdas — agar siap akhlak menjadi pemimpin bangsa yang “Sapientia et Virtus”. Walaupun lembaga Romo Beek ini di tengah pusat kebudayaan tinggi Jawa, namun salah sebuah pasal “UU Realino” menegaskan: bahasa resmi Realino ialah “Bahasa Indonesia”.

Peraturan/disiplin asrama Realino pun keras (termasuk gerbang asrama sudah tutup jam 20.45 — untuk visi membentuk pemimpin yang tidak berkarakter lemah, santai dan kompromis (maaf diri). Didirikan Romo Beek klub-klub “Akademi” Realino untuk forum melatih berpresentasi ilmiah/ceramah/debat dengan formalitas berpakaian dasi dan tatakrama sidang yang tertib. Walaupun ia rohaniwan Katolik Romo Beek tidak mulai dengan “menjual” label agama atau isyu agama di Realino.

Saya menduga kilas balik Achmad Wahib (FIPA) yang setelah meninggal menjadi terkenal dengan “Catatan Achmad Wahib” dianggap sebagai sumbangan ide pembaru pemikiran Islam di Indonesia sebagai salah satu model resepsi (kilas balik) pribadi warga Realino teladan dan jujur. Sapientia et Virtus. Fasilitas-fasilitas visioner seperti alat-musik orkes klasik, lapangan tenis, basketball, badminton, sepak bola — disiapkan Romo Beek. Luar-dalam fasilitas itu ternyata paling nyata mengukuhkan tali “persaudaraan” kukuh dengan semangat kasih mengenal/menerima satu sama lain.

Bukankah cita dan wadah “Membangun Manusia Pembangun” dikonsentrasikan Romo Beek merupakan sebuah pikiran dan aksi REFORMATOR besar yang sangat visioner? Itulah dasar kepiluan saya yang menjadi memuncak pada waktu menjenguk kembali Realino tahun 1998 sambil membawa serta anak sulung. Melihat fakta yang selama ini hanya mendengar dari jauh berangsur runtuhnya cita-cita Romo Beek. Benar tak sampai hati melangkahi bekas- Realino yang bukan lagi wadah “membangun manusia pembangun” berobor “Sapientia et Virtus’ bagi bangsa (yang supra -etnik-agama-aliran/isme)!

Sewaktu pertama kali diterima tinggal di Realino (1 November 1962) dengan bayaran Rp 870 per bulan saya memang agak kritis, mengapa Asrama Realino hanya membesarkan moto “Sapientia et Virtus”? Setahu saya (karena saya eks-seminaris) moto konvensional terdiri atas tiga kata: “Scientia (Ilmu Pengetahuan), Sapientia (Kebijaksanaan), Virtus (Kebajikan)” — mengapa Realino ‘meninggalkan’ wacana “Scientia”? Diam-diam kemudian saya benarkan kesimpulan dasar pemikiran Romo Beek: Untuk sempurna menjadi manusia makna mutu “Sapientia et Virtus” itulah yang tertinggi — Indonesia tidak membutuhkan label gelar dan rumus formal “Scientia” sebagai nilai terpenting tetapi “Kebijakan dan Kebajikan” seorang Raja Salomon. Hanya manusia bijak dan bajik mampu menghidupi makna “amor et caritas” (cinta-kasih).

Moga-moga sepulang haul dari Ungaran Romo Beek mengirim pesan visioner kita-apakan “Forsino” selanjutnya — hanya untuk menjadi wadah “kongkouw-kongkouw” mengenang runtuhan Realino atau melankoli rembang petang seorang “Growing Old Joe” yang makin mendengar “the gentle voices calling ‘Old Black Joe’?

Salam hangat,
Dami N. Toda

Realino (1952 – 1991) riwayatmu kini…


Oleh Harry C. Stolk, SJ

U.N.G.M., Universitas Nasional Gadjah Mada, lahir dalam kancah revolusi: tanpa fasilitas yang memadai, tetap dengan semangat yang menggelora. Ruang kuliah dipinjam, terpencar dari Ngasem dan Pagelaran sampai Jetis. Mahasiswanya pun hanya beberapa ribu, kewalahan mencari pondokan. Sebenarnya “kota pelajar” belum siap menjadi “kota universitas”. (Toko) buku masih langka; listrik pas-pasan; penerangan jalan pakai lampu 25 watt; malam han bisa ‘ditilang’ bila naik sepeda tanpa membawa sumbu sebagai pengganti ‘berko’.

Dalam situasi sederhana penuh tantangan seperti itulah REALINO Iahir. Kabarnya atas desakan para pastor paroki yang (terutama) prihatin atas keadaan di pondokan remang-remang. Merekalah minta kepada ‘Rama Kanjeng’ Soegijapranata, SJ agar didirikan dua asrama: untuk mahasiswa dan untuk mahasiswi Katolik. Pimpinan rama-rama SJ dan suster-suster CB sanggup memulai ‘proyek misi’ yang baru ini. Maka tahun 1952 rama Yoop Beek, SJ yang belum satu tahun penuh enersi muda bekerja di Seininani Menengah ditunjuk menjadi Pator Mahasiswa Yogyakarta, Direktur Kongregasi Maria Mahasiswa dan Moderator PMKRI sambil memulai suatu asrama untuk mahasiswa Katolik. untuk yang terakhir ini diberinya seorang pembantu kawakan, bruder Yakobus van Zon, SJ, yang dalam tahun duapuluhan menangani pembangunan kompleks Misi di Ambarawa dan sesudah ‘Zaman Gegeran’ coba membangun kernbali kompleks Muntilan. Untuk sementara waktu asrarna boleh rnernakai separuh gedung di Jalan Code (Amat Jajuli) No. 2, yang bagian utaranya digunakan Seminari Tinggi. Disitulah, pada tanggal 3 Juli 1952, ASRAMA REALINO mulai membuka pintu bagi 34 mahasiswa U.N.G.M. sebagai angkatan pertarna.

Mengapa pada tanggal itu, dengan nama ‘aneh’ (yang oleh lidah jawa kadang dipermak “Ria-lena”)? Sejak 1947 (ketika ia bersama Yohanes de Britto, SJ dinyatakan ‘Santo’) umat Katolik pada tanggal itu rnemperingati Bernardinus Realino, SJ. Ia seorang Italia, hidup 4 abad yang lalu (1530-1616), namun dianggap cocok sebagai pelindung dan panutan bagi warga asrama yang diberi sernboyan (entah sejak kapan dan oleh siapa) “SAPIENTIA ET VIRTUS”, kebijakan dan kebajikan. Sebab Bernardinus Realino itu semula menjadi seorang sarjana hukum cerdas yang dengan sukses meniti karirnya. Pada umur 34 tahun, selaku pejabat dan pemerintah kota Ferrara, ia sudah dinilai begitu ‘bijaksana’ hingga diutus mewakili kotanya dalam perundingan dengan kota Napoli. Disana Ia bertemu dengan seorang kawan S. Ignatius yang mengajaknya menjalani latihan rohani. Realino menemukan arah “kebijakannya’: ia masuk Serikat Jesus, menjadi imam, rektor, pelayan umat yang tak kenal lelah

Dari ASRAMA “KATOLIK” ke ASRAMA PANCASILA
Ketika membuka REALINO Pater Beek belum mempunyai konsep jelas. Oleh pembesarnya ia hanya diberi pengarahan singkat ini: “Zie dat je er wat van maakt” (coba mengembangkannya dengan baik). Menurut pengakuannya sendiri pengalaman empat tahun pertama (1952-1956) di jalan Code amat menentukan. Seperti Gajah Mada begitupun REALINO berkembang sebagai “anak zaman”, yang coba menanggapi dua tantangan sekaligus dan masyarakat yang diwarnai proses “Nation-building” dan dan “teologi baru” yang muncul di Gereja Katolik menuju konsili Vatikan II. Mula-mula Pater Beek terperanjat. Dibukanya suatu asrama Katolik, yang datang mendaftar justru banyak mahasiswa yang bukan Katolik”. Interaksi antara mahasiswa yang berbeda agama (dan berbeda suku/kebudayaannya) ternyata sangat menguntungkan kedua belah pihak, tetapi mengandalkan prinsip seleksi yang ketat dan bimbingan pribadi yang kontinyu. Baru 27 November 1957 ia sempat merumuskan konsepnya secara tertulis. Lebih tegas lagi, dalam makalah (untuk sidang KWI, 1960) diusulkannya: “Supaya di tiap-tiap kota Universitas Negeri didirikan asrama bagi mahasiswa dan universitas tersebut yang penghuninya 25-30% terdiri dari mahasiswa Katolik yang unggul dan istimewa sifatnya (sebagai inti) dan 70-75% terdiri dan mahasiswa yang bukan Katolik (dan bersifat tertentu)’.

Gagasan ini sudah dikongkritkan mulai 1956, ketika “ASRAMA REALINO UNTUK MAHASISWA U.N.G.M.” pindah ke bangunan baru di Jalan Gejayan, dan melandaskan peraturannya pada (1) Ketuhanan Yang Maha Esa dan (II) Rasa Tanggung Jawab, seperti penuh semangat suci dirumuskan dalam MUKADIMAH (lihat hal. 11). Dengan demikian REALINO menjunjung tinggi PANCASILA sebagai ‘asas tunggal’ jauh sebelum diundangkan Pemerintah! ‘Kerukunan umat beragama’ pun dihayati benar, bila dalam ibadah puasa Bruder van Zon dengan tekun menjamin bahwa para warga yang melaksanakannya dapat (bangun dan) ‘sahur’ dan ‘buka puasa’ pada waktunya.

Di kompleks Jalan Gejayan itu para warga menempati dua unit, masing-masing dengan 20 kamar, 4 x 4 m (melanjutkan pengalaman ‘darurat’ di bilik-bilik Code dahulu) untuk 3 mahasiswa yang berbeda agama, suku dan fakultasnya Bhineka Tunggal Ika! Sistim ‘pengurus’ dan ‘ketua kamar’ memungkinkan latihan kepemimpinan dan mengesankan adanya ‘demokrasi’. Tetapi itu sesuai masanya berwujud demokrasi terpimpin’, dan tiada seorangpun meragukan bahwa ‘pemimpin besar REALINO’ ialah Pater Beek! Kendati ia kini diberi seorang wakil pemimpin untuk vila selatan, yakni Rama Drs. FX. Willenborg Widodo, SJ, SH (1956-1965). Dengan kedatangan beliau dua unsur pembinaan baru memeriahkan kehidupan asrama : REALINO mulai mempunyai koor/paduan suara, bahkan boleh membanggakan suatu orkes!

“Proyek Realino” berkembang dengan mantap, walaupun pertengahan tahun 1959 Pater Beek dipindahkan ke Jakarta (Direktur Nasional Konggregasi Mania, lantas pendiri ”Khasebul”) dan diganti oleh Rama Dr. Floribertus Wignyaprasetya, SJ/O. Carm. (1959-1961), kemudian oleh Rama Piet Teeuwisse, SJ (1961-1962). Untuk pastoral Mahasiswa Katolik yang diluar Realino disediakan tenaga khusus, Rama Paul de Chauvigny de Blot, SJ (1962-1974) yang juga perintis dan koordinator pertama kuliah-kuliah agama tingkat universiter dan sebagai “Pastor para tapol” mulai melibatkan para mahasiswa dalam pelayanan sosial (1965-1976). Sedangkan juga Sekretaniat PMKRI dan Konggregasi Maria Mahasiswa dipindahkan dad Realino ke Margasiswa (1964) oleh pemimpin ke-4, Rama Harry C. Stolk, SJ (1963-1966). Sehingga di tengah segala ketegangan dan pergolakan politik tahun 1965-1966 REALINO sanggup membuktikan din sebagai “Asrama Pancasila” yang utuh, akrab, tak tergoncangkan.

Pancaroba : Si ‘Anak Zaman’ mencari jatidiri baru
REALINO lahir dan bertumbuh dalam masa ‘Orde Lama’, dipacu oleh retorik Bung Karno yang menuntut kita berpikir ‘progresif revolusioner’. Mungkin gagasan Pater Beek sebenarnya juga sedikit terlaIu maju dan berani. Konsepnya tentang ‘Kerasulan Intelektual’ melalui asrama yang serba terbuka itu kurang dipahami dan kurang dihargai oleh banyak imani dan uskup yang masih terpikat pada bentuk asrama Katolik yang tradisional. Sehingga terjadilah bahwa pada tahun 1967, ketika seIama enam bulan Rama Mr. Jan Van Wayenburg, SJ menjadi pemimpin sementara asrama muncul usul serius agar karya itu dibubarkan saja.

Usaha itu berhasil ditanggulangi oleh pemimpin ke-5, Rama Johan Casutt, SJ (1967-1971) yang memberi impuls baru melalui proyek kerjasama REALINO-UGM, yakni pembuatan saluran air minum di lereng Merapi. Khabarnya, proyek ini, selain dikemudian hari memberi inspirasi kepada usaha “Dian Desa”, juga mempengaruhi pelaksanaan program KKN di semua perguruan tinggi. Jelas sudah, satu kali (terakhir?) ini REALINO masih sempat menghayati tujuan Ia semula didirikan, yakni menunjang, menggenapi dan ‘menggarami’ dunia universitas Yogyakarta.

Tetapi dunia itu sudah tidak Iagi terbatas pada UGM saja. IKIP Negeri (dan STO) yang semula berinduk padanya, tetap merupakan lahan REALINO. Sejak didirikan, IKIP Sanata Dharma selama beberapa tahun (1955-1960) terwakili, dan mulai 1974 mahasiswanya kembali diterima sebagai warga asrama, seperti halnya mahasiswa Atmajaya sejak 1969. Disusul dengan mahasiswa UPN (sedari 1980) dan ISI (1988). Dinamika kehidupan Realino mendapat tambahan dimensi baru interaksi antar mahasiswa dan 6 PT terkemuka di Yogya. Tetapi itu lebih bersifat kuantitatif. Secara kualitatif, REALINO yang tetap hanya 100 warga saja, tidak dapat berdampak banyak terhadap 35.000 rekan mahasiswa yang tersebar di 6 kampus itu. Apalagi karena REALINO sendiri mengalami sekedar ‘krisis kepemimpinan’.

Setelah Rama Drs. Artur Depoortere, SJ (1971-1973) yang terpaksa merelakan Unit III menjadi pusat aneka kegiatan Rama de Blot, pemimpin asrama berganti-gantian. Rama Gerard Koelman, SJ. (1973-1974) dan Rama Drs. H. Sussso de Lima de Prado, SJ (1974-1975) melihat jumlah warga menyusut sampai 40 mahasiswa, karena vila selatan dibutuhkan untuk menampung suatu extension dan seminari Mertoyudan. Nyaris tamat sudah niwayat asrama kita yang tercinta, kalau tidak Rama Lukas Alamsyah, SJ [1975-1978] sanggup menghidupkan kembali.

Kira-kira pada waktu itu “Mukadimah” serta peraturannya dirumuskan kembali dalam “Pedoman Asrama Realino”. Lebih sistematis, tetapi dengan mempertahankan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika sebagai dasar dan landasan. Sedangkan semboyan “Sapientia et Virtus” dijabarkan dalam dwi-tujuan semangat pengabdian dan nasa tanggung jawab yang besar. Akhirnya Rama Drs. Ernest Bolsius, SJ (1979-1984) menemukan kata kunci baru untuk menjelaskan jatidiri REALINO yang berumur 30 tahun ‘Mikrokosmos’ . Maksudnya masing-masing kampus berkembang menjadi ibarat makrokosmos dimana mahasiswa bisa saja bersembunyi dalam massa dan kehilangan jatidiri, scdangkan di mikrokosmos REALINO mereka dituntut membuka diri dan dengan demikian membina suatu kepribadian cendekiawan yang utuh.

Dalam perputaran zaman REALINO, si ‘anak zaman’ yang semula extrovert, terarah pada menyumbangkan semangat ‘kebijaksanaan dan kebajikan’ kepada UNGM, lama kelamaan tampak semakin introvert, cenderung menjadi tempat berteduh dari kesibukan akademis, menjadi pondokan!

Normalisasi Kampus – Abnormalisasi REALINO
Secara jujur kita mungkin harus mengakui bahwa REALINO berjaya ketika atau selama dunia universiter Yogyakarta masih ‘abnormal’, dalam anti sarana dan prasarana belum tersedia, bahkan Universitas Nasional kebanggaannya, Gajah Mada, belum mempunyai kampus. Dalam banyak hal REALINO sempat menjadi perintis, sebagai Asrama Pertama, mempunyai perpustakaan yang lumayan untuk menunjang studi, begitupun beberapa mikroskop dan sebuah kerangka manusia sungguhan yang masih sulit dicari di fakultas; dilengkapi dengan benmacam lapangan olahraga, dst.

Ia pun Lembaga pendidikan yang melatih para penghuni untuk hidup tertib dan bertanggungjawab; yang melalui aneka kegiatan wajib seperti RDC (Realino Discussion Club), fungsi ‘bapak buah’ dan khususnya interaksi antara suku, agama dan disiplin ilmiah yang berbeda-beda berusaha menggembleng para warga menjadi calon pemimpin yang “berpengetahuan luas, berpendidikan tinggi, bertanggungjawab, dan berguna bagi masyarakat”. Sehingga warga Asrama berperan dalam kodema-kodema dan dewan mahasiswa UGM serta dalam organisasi mahasiswa ‘extra’, dan REALINO mempunyai dampak tenhadap kehidupan univensitas serta ‘nama’ di Yogyakarta.

Duapuluh tahun kemudian situasi berubah total. Gajah Mada didampingi oleh puluhan perguruan tinggi. Masing-masing dengan kampus yang mentereng dan fasilitas lengkap dan mutakhir. REALINO kalah mutlak tidak mampu bersaing dalam perkembangan ini yang sesungguhnya “normal” dan sehat bagi suatu kota universitas. Lebih susah lagi: REALINO seakan kehilangan kreativitasnya tidak tahu apa yang masih dapat dirintisnya, apa yang masih dapat disumbangkannya. Apalagi sesudah Pemerintah meiaksanakan “Normalisasi Kampus”. Kehidupan akademik diatur sangat ketat; organisasi “ekstra” dikeluarkan dari kampus, “politik praktis” dilarang dan kegiatan extra kunikuler lainya sebagian besar diambil alih oleh lembaga-lembaga intra universitas di bawah pembinaan/pengawasan langsung dan staf pimpinan universitas/fakultas.

Mahasiswa tidak diberi banyak ruang untuk bernafas bebas, selain… dengan memakai kedok “ibadah”: rekoleksi, tarawih, persekutuan doa. Dunia mahasiswa dipecahbelah menurut ikatan (primordial) pada suatu gereja, masjid, atau vihara. Suatu pengkotakan yang memupuk fanatisme agama. Semua perubahan itu mengakibatkan “abnormalisasi REALINO”. Acara-acara rutin, dan RDC sampai Dies, terbentur pada jadwal akademis yang semakin ketat dan “canggih” (tes tengah semester, tes sisipan, tugas paper berkelompok dls), lagipula tidak sinkron sehingga sulit mengadakan acara bersama. Kegiatan penunjang seperti olahraga, drama, bhakti sosial, latihan kepemimpinan dst semakin banyak diselenggarakan pula oleh masing-masing fakultas (dan biasanya dengan budget lebih tinggi). Lebih fatal lagi polarisasi mahasiswa menurut “kubu” gereja dan masjid menyebabkan REALINO diisyukan “proyek misi” yang membahayakan iman mahasiswa beragama Islam. Mulai tahun delapan puluhan mereka tidak (berani) lagi masuk REALINO. Tercipta semacam “lingkaran setan” (!) di mana sedikit demi sedikit Asrama Pancasila menjadi Pondokan Katolik…. Niscaya pondokan semacam itulah paling tidak diperlukan di Yogya, dimana satu-satunya industri justru usaha pondokan! Tambahan pula, di bawah tekanan disiplin akademis di kampus semakin banyak mahasiswa mengingini kebebasan di luar kampus itu. Mereka tidak betah tinggal di asrama dengan peraturan tata-tertibnya .

Apakah ASRAMA REALINO “has outlived itself”? Makin banyak orang mulai berpendapat demikian. Ketika rama Drs. Mikael Windyatmaka, SJ ditunjuk sebagai direktur asrama (1985-1987) Ia kiranya sudah dibekali instruksi bahwa diperlukan perubahan drastis. Dengan enersi muda ia bertindak cepat: merumuskan konsepnya, memugar, mengubah dan menambah fasilitas. Dan sayang menimbulkan salah paham. Para warga belum/tidak slap menerima programnya. Ternyata mereka mendambakan seorang bapa pembimbing tradisional, bukan seorang “pimpro”.

Dari “Asrama Mahasiswa” ke “Lembaga Studi” REALINO
Bapa pembimbing yang didambakan pana warga itu mereka peroleh juga ketika rama Dr. Paul Wiryono Pniyotamtomo, SJ diangkat (1987-1988). Seakan-akan akhirnya cita-cita pater Beek terpenuhi pula; sebab Ia sendin alumnus UGM yang menjadi dosen di Fakultas Pertanian. Ia akrab dengan dunia universitas dan, karena spesialisasinya, akrab pula dengan problematik masyarakat desa. REALINO dapat diberi sesuatu “plus” lagi, yakni merintis onientasi ke seluk-beluk kehidupan orang kecil di pedalaman. Tetapi seusai satu tahun beliau ditugaskan ke Dili, menjadi Rektor Universitas Pemda Timor Timur.

Penggantinya, Rama Damianus Ediwinarto, SJ (1988-1989) diberi petunjuk bahwa warga baru, angkatan 1989, diterima untuk tinggal hanya dua tahun saja di asrama. Dengan kata lain nasib REALINO sudah diputuskan. Untuk memimpin proses ”phasing out” rama Harry C. Stolk, SJ ditugaskan kembali. Dicobanya membangkitkan semangat para warga agar asrama kita tercinta ini tidak “mati merana” melainkan meninggalkan kenangan indah akan 39 tahun pembinaan MAHASISWA REALINO. Bersama wakil pemimpin, Bruder Petrus Tugimin, SJ, SP (1987-1990) mereka masih sempat menaklukkan semua gunung di Jawa Tengah, melambangkan harapan agar Realino jangan dibubarkan melainkan ditingkatkan!

Tanggal 30 Juni 1991 ASRAMA MAHASISWA REALINO ditutup. Untuk sementara waktu. Sebab sesuai dengan pesan rama Provinsial, Dr. C. Putranta, SJ pada malam Dies ke-39 “Karya yang selama 39 tahun berdampak sebagus ini tidak boleh pupus dengan begitu saja; harus mengalami peningkatan sebagai bagian integral dan proyek pelayanan akademik lebih menyeluruh yang diberi nama LEMBAGA STUDI REALINO”.

Berita penutupan (sementara) REALINO mengejutkan banyak orang. Tetapi ada hikmahnya. Seolah baru sekarang disadari betapa besarnya pengaruh REALINO pada kepribadian dan masa depan kita yang sedikit banyak “dibentuk” olehnya. Betapa banyaknya jasa REALINO yang telah mengajar kita saling menghargai dan menghormati dalam suasana persahabatan yang adalah satu-satunya dasar untuk menggalang kerukunan sejati antar umat beragama. Seolah baru sekarang kita merasa sungguh “kehilangan”. Bukan kehilangan tradisi “pesta kamar” atau “makan dobël” melainkan kehilangan sumber acuan dan kebanggaan kita sebagai ALUMNI REALINO.

Terkenanglah rekan-rekan yang telah menerima pahala surgawi atas “kebijaksanaan dan kebajikan”-nya di dunia, antara lain Bp. Roeskamdi, SH, Hakim Agung yang disegani karena ketekunan dan kejujurannya, Drs, Liem Djiet Kak (Aditya Latuhayat), yang dengan kelompok “Seniman Sinting” membangun tradisi kesenian kreatif yang berkembang di REALINO sampai “Gatotkaca Gugur” (kecak-beling pada Dies dan Reuni terakhir); sdr. Ahmad Wahib yang suka berdiskusi tentang agama dan kiranya dan pengalamannya di asrama mulai menyadari “Aku bukan Wahid. Aku adalah me-Wahid … ). Ya, aku bukan aku. Aku adalah meng-aku, yang terus-menerus berproses menjadi aku” (catatan harian, 1 Desember 1969).

Kini gilirannya REALINO harus ME-REALINO. Harus berproses menuju pelayanan akademik yang lebih menyeluruh dan lebih sesuai dengan kebutuhan zaman tanpa menyangkal masa lampau serta buah hasilnya. Maka begitu diputuskan bahwa asrama akan ditutup untuk nanti ditingkatkan menjadi “Lembaga Studi” begitu sekelompok alumni di Jakarta sepakat meningkatkan pula ikatan antar alumni menjadi FORUM STUDI REALINO. Demi pengamalan Sapientia et Virtus, untuk dengan segenap hati dan segala kemampuannya menunjang LEMBAGA STUDI REALINO yang didirikan ordo Serikat Jesus. Kerjasama ini antara rama-rama Jesuit dengan alumni REALINO dapat merupakan suatu “terobosan” yang tak kalah pentingnya seperti didirikannya Asrama Mahasiswa REALINO 39 tahun yang lampau!

.

Pada tanggal 30 Juni 1991,
“ADA MALAM REMBULAN
DIBALIK AWAN,
ADA REALINO MEMBARA
DALAM KENANGAN”

PENUH HARAPAN.

Halaman Berikutnya »